
------ Nadine POV ------
Aku melihat pintu kamar Alva terbuka dan aku berpikir ini kesempatan bagus untuk mendekatinya. Samar samar aku mendengar Alv bercakap dengan seseorang, kemungkinan besar dia Alex.
"Lex tapi gue ga mau nikah sama Nadine Lex, gua ga cinta sama dia. Kalau memang bayi itu anak gue tapi gue ga usah nikah sama dia bisa ga Lex? Please Lex gue ga benci Nadine cuma gue ga bisa cinta dia atau lebih tepatnya emang gue ga mau buka hati buat dia." ujar Alva merengek rengek seperti anak kecil ke Alex yang tetap dengan sabar memeluknya, memberi ketenangan.
Hatiku sangat amat sakit mendengar semua ucapan Alva. Tak terasa air mata sudah tumpah menutupi pandanganku, aku segera berbalik dan berlari keluar dari kamar Alva. Sialnya ...... karena pandanganku buram terisi air mata, tanpa sengaja aku menendang guci yang ada di dekat pintu kamar Alva.
Prang......... aku begitu kaget, mataku bersitatap dengan Alex dan juga Alva, bergegas aku kembali lari masuk ke kamarku tanpa menghiraukan mereka.
Di kamar aku tumpahkan semua sakit hati dan kekecewaanku. Aku begitu bahagia saat mengetahui diriku mengandung benih Alva, aku berharap seiring dengan berjalannya waktu Alva mau menerimaku, ternyata semua cuma khayalanku saja.
Bahkan saat Gaby sudah melepaskannya pun ternyata Alva tetap tak dapat berpaling kepadaku. Dia bahkan sangat tertekan dan tidak bahagia melihat kenyataan bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah. Ternyata kisah pria yang akan luluh saat mengetahui wanita yang tidak dicintainya mengandung anaknya hanya ada di sinetron.
Aku sungguh bingung bagaimana melanjutkan hidup jika Alva benar benar tidak menginginkanku. Seiring berjalannya waktu agency pasti bakal tahu kalau aku hamil di luar nikah. Sudah dapat dipastikan mereka akan membatalkan kontrak kerjaku.
Aaaaaarrrrrrggggghhhhh................ saat ini aku hanya bisa menangis dan menangis, orang tuaku saja tidak peduli lagi padaku bahkan ayahku sendiri yang menjerumuskanku awalnya. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan.
Tok..... tok..... tok.....
Ceklek.........
"Nadine, hei kenapa nangis? aku masuk boleh ya?" muncul kepala Gaby dari arah pintu meminta ijin masuk dan aku iyakan.
"Nad besok kita cek kandungan kamu ya, apapun yang terjadi tolong jangan pernah kamu berpikir untuk melakukan hal hal yang bodoh. Kamu harus sayang sama anak ini, jangan bikin anak ini menanggung akibat dari kesalahan kalian."
Aku menatap lekat pada Gaby, perempuan yang membuat Alva tak dapat berpaling. Masalah cantik itu selera tapi aku bisa bilang diriku lebih cantik darinya, masalah bodypun aku lebih oke. Tapi apa gunanya kecantikan fisik kalau tak dapat membuat Alva mencintaiku bahkan justru dia hanya memanfaatkan fisikku sebagai pemuas nafsu.
"Hei Nad, kenapa menatapku seperti itu? Kamu marah sama aku? Kamu sakit hati sama perkataan Alva? Maafin Alva ya, pahami situasi bahwa semua ini berat buat kalian berdua, jadi nikmati aja jalani dengan lapang dada."
Aku tak bergeming masih menatapnya sambil berpikir apa sebenarnya tujuan Gaby bersikap baik pada Alva yang telah mengkhianatinya dan bahkan padaku yang menjadi biang kerok dari semua ini. Terbuat dari apa si hati dan pikirannya? Atau sebenarnya dia hanya pura pura baik ya? Segala pertanyaan dan pikiran pikiran negatif berkeliaran diotakku.
"Nad..... Nadine do your hear me? Hai.... halo.....Nad!" aku tersentak mendengar panggilan yang naik satu oktav berikut tepukan di bahuku.
"Eh ..... hai.... Gab.....," jawabku dengan suara bergetar dan geragapan.
Gaby tersenyum kepadaku, raut wajahnya terlihat lega, "Nad kamu melamun ya? Percaya sama aku, aku bukan musuh kamu!"
Air mata kembali mengalir dengan deras tanpa dapat kuhentikan, aku terisak isak dadaku sakit sekali rasanya. Gaby memeluk dan mengelus punggungku.
"Maaf........" sungguh berat mengucap satu kata itu untukku. Gaby hanya mengangguk sambil terus mengelus punggungku.
__ADS_1
"Aku bodoh, aku menggunakan tubuhku untuk merayu Alva, kami tidak pernah membicarakan komitmen apapun tapi dengan mudah aku serahkan tubuhku berkali kali, aku berpikir jika aku hamil maka dia akan menerimaku menyerah pada cintaku."
"Tapi........ aku mendengar semuanya, Alva tertekan, dia frustrasi karena kehadiranku dan anakku. Bukan ini yang aku mau Gab, mungkin aku terlalu naif, tapi aku tidak sekedar mengagumi Alva, aku mencintainya." aku terus mengungkapkan semua beban pikiranku sambil terus menangis.
Aku rasa mengungkapkan semua pada Gaby adalah tepat sebab aku memang tidak memiliki seseorang yang dapat dipercaya seperti saudara atau sahabat. Relasiku dan teman teman terjalin hanya karena sebuah keuntungan jadi mereka akan ada disaat membutuhkanku dan sebaliknya.
"Aku melihat dan mendengar semuanya Gab, betapa Alva tidak menginginkanku, dia cuma cinta sama kamu, aku benar benar ga da artinya. Aku tahu aku kotor karena Alva bukan orang pertama tapi aku jamin dia adalah yang terakhir menjamahku Gab."
"Memang salahku tidak minum pil KB tetapi karena aku berpikir bisa mengikatnya dengan memiliki anak. Tapi ternyata aku salah besar, apapun yang aku lakukan tidak dapat membuatnya memilihku."
Gaby masih diposisinya yaitu memeluk dan mengelusku, aku berhenti bicara rasanya lelah sekali. Melihatku terdiam, dia membawaku duduk di ranjang dan merebahkan tubuhku.
"Sekarang kamu tenang ya, maafin Alva yang belum bisa buka hati buat kamu, bukan berarti dia ga menerima anak kalian. Aku yakin lambat laun dia bisa melihat dan merasakan ketulusanmu."
"Buatku Nad, kalau Alva sungguh mencintaiku maka dia tidak akan mungkin melakukan itu berkali kali denganmu. Alva hanya belum sadar akan perasaannya atau dia masih memendam rasa bersalah padaku sehingga dia belum mau menerimamu."
Aku hanya diam dan berusaha berpikir dengan positif mencerna semua perkataan Gaby, tetapi hati kecilku tetap percaya bahwa Alva hanya mencintai Gaby maka tidak akan mungkin menerimaku.
"Gab, kenapa kamu begitu mudah memaafkan Alva tapi ga bisa menerima dia kembali? Dan kenapa kamu juga baik sama aku?"
Gaby menghela nafas, mungkin bosan dengan pertanyaan yang hampir sama dari orang lain juga, tetapi aku sungguh penasaran.
"Aku tahu kalau aku mengultimatum agar dia tidak lagi berhubungan dengan satu perempuanpun maka Alva akan lakukan, tapi dia lakukan hanya demi aku tidak marah bukan karena kesadaran bahwa kalau kita sudah berkomitment maka harus dapat menjaga sikap pada lawan jenis."
"Apalagi menerima fakta bahwa kalian berhubungan tidak hanya dua kali tetapi berulang kali, aku percaya dia mencintaiku tulus tetapi tidak dapat menjaga dirinya sendiri jelas hubungan ini tidak sehat. Aku melihat tubuh kalian bersatu dengan mata kepalaku sendiri Nadine, bayangkan bagaimana bisa aku tetap bersama dia."
" Aku bukan malaikat, aku bukan orang suci, aku juga punya sisi egois, dan point pentingnya ternyata aku ga bisa menerima Alva yang seperti itu. Dari semua kisah Alva baru dengan kamu Nadine dia jatuh sampai melibatkan hubungan fisik."
"Dan aku baik sama kamu karena ga da alasan aku buat benci kamu, semua yang terjadi aku terima sebagai jalan takdir Tuhan. Mungkin rancanganNya untuk aku kembali sama Stanley memang harus belok belok dulu seperti ini."
Aku paham semua yang Gaby ungkapkan, pun mungkin kalau aku diposisi dia aku ga bisa terima lelaki yang sudah berbagi tubuh dengan wanita lain didepan mata kepalanya sendiri. Sungguh jahat hatiku teganya menyakiti sesamaku perempuan hanya demi merebut cinta laki laki.
Aku amat lelah rasanya, menangis dan meluapkan beban ternyata melelahkan. Aku mencoba memejamkan mata mungkin tidur akan membuatku lebih baik.
---------------------------------------
Ternyata Nadine sangat mencintai Alva, cinta memang tidak salah yang salah adalah cara manusia mendapatkan cinta itu. Dan aku tidak dapat juga memaksa Alva membalas cinta Nadine karena itu sudah diluar tanggung jawabku.
"Gimana Nadine? Dia pasti sedih mendengar semua yang Alva katakan?" tanya Alex yang memang sudah menungguku keluar dari kamar Nadine. Ya... tadi Alex segera menelponku ketika mereka melihat Nadine lari meninggalkan kamar Alva dan tak sengaja menabrak guci pajangan.
"Yah.... reaksi yang wajar sebetulnya, apalagi kondisi hamil pasti sensitivitasnya meningkat Lex. Alva gimana?"
__ADS_1
"Dia baik baik saja sekarang, lu mau ketemu?"
aku mengangguk dan berjalan masuk kamar Alva.
"Halo Alv......" sebuah senyum manis yang beberapa waktu lalu selalu menghias hari hariku sekarang muncul kembali.
Alva memberiku kode untuk mendekat ke meja kerjanya, rupanya dia sedang menulis lirik lagu.
"Kamu habis cek Nadine ya? Bayinya ga papa kan?" ada nada cemas dalam suaranya, menurutku ini pertanda baik.
"Kamu jangan salah paham Gab, aku mengkhawatirkan anak itu karena benar katamu bahwa kemungkinan besar dia juga anak aku."
Aku tersenyum, "Ga kok justru aku senang kamu mengkhawatirkan dia. Besok kita ke rumah sakit yuk, cek kandungan Nadine. Sejak dia testpack dia belum benar benar cek ke Obgyn lho."
"Oke, tapi sama kamu kan? Aku ga mau berduaan aja sama dia. Aku selalu pengen marah setiap liat dia Gab, dia bikin aku kehilangan hartaku." emosinya kembali tidak stabil.
"Hei Alv, tenang donk. Aku kan udah janji akan bantu kamu, besok aku tunggu kamu di Rumah Sakit ya? Kamu dateng aja skitar jam 9:30, aku udah daftarin ke klinik Obgyn."
"Alv janji sama aku buat ga sakitin Nadine, inget kamu juga menikmati lho kebersamaanmu dengan dia so kamu ga boleh egois hanya menimpakan kesalahan sama Nadine. Setiap emosi kamu mulai naik, kamu harus inget sama bayi di perut Nadine dia anak kamu. Janji Alv?" aku julurkan kelingkingku yang disambut tautan kelingking Alva.
"Oke aku janji ga sakitin dia, aku terima dia disini hanya karena kamu dan anak itu."
Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan, apapun alasan Alva yang penting dia ga usir Nadine. Dan lambat laun Alva akan mau menerima mereka.
#
#
#
#
Perasaan Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah cara kita untuk meraih rasa Cinta itu.
Terkadang Tuhan juga harus memberi kita rasa Patah Hati supaya kita terlepas dari orang yang salah.
Pergi dan temukan Cinta pada orang lain adalah cara yang tepat untuk lepas dari orang yang salah.
****** To Be Continue ******
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘
__ADS_1