
****** Bali ******
Akhirnya tiba juga hari dimana spupuku Brandon akan mengikat janji setia bersama Clara, perempuan yang sudah berpacaran dengannya dari SMA. Yahh sodaraku yang satu ini memang bibit unggul sekali, selain tampan, cerdas juga sangat setia. Memang hubungan Brandon dan Clara tidak selalu mulus ada juga pertengkaran yang membuat mereka nyaris berpisah tetapi mereka berdua mau saling introspeksi sehingga kekacauan yang terjadi dapat diperbaiki kembali. Dari Brandonlah aku banyak belajar arti suatu hubungan yang dewasa, maka aku bisa menjalankan ilmunya pada hubunganku sendiri. Kunci dari suatu hubungan sesuai petuah Brandon adalah, pertama Percaya, kedua Komunikasi, dan yang ketiga mau menerima kekurangan pasanganmu.
"Haloooo para bridesmaids, are you ready? sebentar lagi kita akan memasuki gereja dan kalian jangan lupa posisi masing masing ya. Kalian akan berjalan bersama pasangan kalian masing masing setelah mempelai pria dan wanita bertemu diteras depan gereja. Mengerti?" serempak kami menganggukkan kepala menanggapi petuah dari petugas WO yang mengatur jalannya upacara perkawinan.
Kami ber8 sebagai bridesmaids dan Clara berjalan lebih dahulu bersiap di teras depan gereja Saint Sylvester Uluwatu Bali, menunggu Brandon dan groomsmen nya.
Kami semua berbaris sesuai posisi yang telah ditetapkan pihak WO. Aku dan Dicta berdiri desebelah kanan dan kiri Clara karena memang kami adalah orang terdekat mempelai jadi mendapat tempat istimewa hehehe. Beberapa saat kemudian terdengar alunan musik dan suara merdu yang amat kukenal, sesaat hatiku bergetar.
You by my side, that's how I see us,
I close my eyes, and I can see us.
We're on our way to say, I Dooo
My secret dreams have all come true.
I see us now, your hand in my han
This is the hour, this is the moment.
And I can hear sweet voices singing,
Ave Maria
Oh my love, my love,
Can this really be?
That some day you'll walk,
__ADS_1
Down the Aisle with me.
Let it be, make it be,
That I'm the one for you.
I'll be yours, all yours,
Now and forever.
I see the church, I see the people,
Your folks and mine happy and smiling,
And I can hear sweet voices singing,
Ave Maria, Ave Maria, Ave Maria.
Stan berbisik kepadaku dengan tangan masih menggenggam tanganku, "Hei Gaby.... long time no see. Kamu ga risih kan jadi pasanganku saat ini?"
Aku hanya tersenyum dan memberi kode untuk Stan melepas tanganku karena kami sudah sampai di tempat duduk.
"Ya ampun tanganku jadi nyaman hahaha, abis kangen banget Gab bertahun-tahun ga ketemu kamu. Ada kesempatan baik ya ga kusia-siain pegang tanganmu." kekehnya puas sambil melepas tanganku.
Kami kembali fokus pada upacara Sakramen Perkawinan Brandon dan Clara. Ditengah kotbahnya, pastor bertanya kepada Brandon, apa arti cinta menurut dia dan mengapa dia memilih Clara.
"Menurut saya cinta itu suatu anugerah karena datangnya tanpa direncana tetapi cinta juga seperti tanaman yang harus terus dirawat supaya subur. Saya memilih Clara karena anugerah itu hadir saat saya bersamanya, kenyamanan yang tidak saya dapat rasakan pada wanita lain."
Ya Tuhan so sweet banget si pemikiran Brandon, batinku. Semoga hatiku cepat dapat memutuskan anugerah mana yang harus kuambil karena aku nyaman dengan keduanya, eh.... hahahaha. Tak sadar aku jadi tersenyum senyum sendiri karena teringat perkataanku yang super PD tadi.
Tibalah saat dimana mempelai mengucapkan janji setianya. Kedua tangan mempelai saling berjabat diatas sebuah Injil.
__ADS_1
*Dihadapan Imam dan para saksi, Saya, Christophorus Brandon Saputra, mulai hari ini dan sepanjang hidup saya, menjadikan engkau Fransisca Clara Christanto sebagai isteri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang dan akan menjadi ayah yang baik bagi anak\-anak yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Demikian janji saya demi Allah dan Injil suci ini.
Dihadapan Imam dan para saksi, Saya, Fransisca Clara Christanto mulai hari ini dan sepanjang hidup saya, menjadikan engkau Christophorus Brandon Saputra sebagai suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang dan akan menjadi ibu yang baik bagi anak\-anak yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Demikian janji saya demi Allah dan Injil suci ini*.
Aku benar-benar terharu karena setelah masa pacaran yang sangat lama, mereka akhirnya sampai pada tahap ini. Tahapan dimana mereka berani menerima tantangan hidup dengan permasalahan dan tanggung jawab yang makin kompleks.
Yah... perkawinan bukanlah akhir sebuah perlombaan tetapi justru awal dari tantangan baru dimana aku dan kamu menjadi kita, maka lawan tandingnya justru diri kita sendiri. Dalam sebuah perkawinan maka menaklukkan ego kita adalah mutlak untuk keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga kita sendiri.
Begitulah uraian Brandon kepadaku dan Dicta tentang sebuah perkawinan. Kami ber3 memang sangat dekat, bukan saja karena usia yang tidak berbeda jauh dan profesi yang sama sama dokter, bedanya Brandon adalah dokter spesialis. Tetapi karena sedari kecil kami tumbuh bersama, ayah kami adalah kakak beradik 3saudara yang hubungannya sangat harmonis bahkan mereka memiliki usaha bersama. Saking tidak ingin berpisah maka mereka ber3 membeli rumah yang bersebelahan, maka dari itu aku, Brandon dan Dicta selalu bersama dari kecil.
Brandon yang 4tahun lebih tua dari dariku dan Dicta, sedari kecil memang sudah seperti bapak-bapak pemikirannya hehehe terlalu dewasa untuk seorang anak kecil. Tapi justru disitulah kekuatan Brandon sehingga menjadi panutanku hampir dalam segala hal. Bahkan ketika Brandon memilih menjadi seorang dokter daripada pengusaha, itu juga yang akhirnya membuatku tertarik mengikutinya menjadi seorang dokter.
Ingatanku melayang pada percakapanku dan Brandon melalui telpon bbrp hari setelah kejadian Alva, yah siapa lagi sumber beritanya kalau bukan Dicta hehehe. Saat mendengarkan cerita dan perasaan hatiku, Brandon mengingatkanku untuk bertindak bijaksana agar tidak lebih dalam menyakiti hatiku sendiri, gimanapun Alva yang memberikan kekuatan saat aku terpuruk pasca kepergian Stanley. Dia menyarankan untuk aku memahami perasaanku dulu, apakah rasa cinta itu masih ada dan tanyakan apakah hatiku bisa memaafkannya dan menerima kesalahannya, sebab tidak ada manusia yang sempurna. Setiap hubungan yang berakhir dengan alasan apapun pasti ada sebab akibat dari kesalahan kedua pasangan itu.
"Hei Gaby, kamu melamun?" tanya Stanley tiba-tiba sambil menggoyang goyangkan tanganku sebagai upaya menyadarkanku dari lamunan. Aku terkejut karena ternyata keasyikan melamun sampe ga sadar kalau upacara pernikahan sudah selesai. Segera kukumpulkan nyawaku sambil tersenyum, "Sorry Stan, terbawa suasana tadi sampai ga sadar, eh kamu mau ngomong apa tadi?"
"Hah, ga ngomong apa-apa kok cuma mau gandeng tanganmu aja, karena kita harus mendampingi mempelai lagi." jawabnya sambil tersenyum dan langsung menarikku berdiri, menggandeng tanganku berjalan menuju depan altar karena akan sesi foto.
"Suatu saat aku yakin giliran kita yang berjanji setia disini. Sejauh apapun kamu terbang kalau udsh capek silahkan pulang ke aku ya." bisiknya lembut ditelingaku, yang membuatku speechless dan tetiba otakku sulit mencerna gimana maksud perkataannya tadi. Stanley yang melihatku menatapnya bingung hanya terkekeh tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.
"Ga sah dipikir sekarang, jalanin aja!" terangnya kemudian dan kuberi hadiah anggukan persetujuan. Yah... memang lebih baik dijalanin aja mengikuti arus air tentunya dengan tetap berhati-hati agar tidak tenggelam terseret air itu sendiri.
"Gab, demam lu? Ngapain bengong trus senyum sendiri trus ngliatin Stanley, naksir lagi lu?" bisik Dicta yang ada disebelah kananku sambil kuberi hadiah langsung yaitu cubitan. Dicta tertawa senang melihatku kesal dan meleletkan lidahnya meledekku.
Sesi fotopun berlangsung dengan meriah bersama para sahabat dan kerabat kami. Kemudian dilanjutkan dengan pencatatan pernikahan secara sipil bersama petugas dari catatan sipil.
Setelah semua selesai, mempelai dan bridesmaids serta groomsmen berkumpul di halaman depan greja, membuat video dan foto-foto kenangan serta menerbangkan balon balon yang sudah diikatkan kertas kertas harapan kami masing-masing. Aku memandang greja Saint Sylvester ini, sambil berharap suatu saat akan merasakan sendiri berjanji setia disini, hahahaha bahkan sampe memilih gerejapun tanpa sadar aku terkontaminasi oleh Brandon.
*********To Be Continue*********
__ADS_1