
Tring......
Stanley : hai kamu, masih jaga?
Aku mendengar bunyi WA masuk di hpku, kulihat jam di dinding menunjukkan pk 02:35 hooaamm........ jam segini WA emang ni anak ga tidur pa.
Gaby : hai juga kamu, lagi istirahat. jam segini
kamu belum tidur atau kbangun?
Stanley : kebangun kangen kamu 😘
Hahahaa aku geli membaca balasan Stanley, sengaja tak kubalas biar dia penasaran hehehe. Aku melanjutkan tidurku, kami memang harus pandai pandai mengatur waktu atau mencuri waktu untuk sekedar istirahat atau makan, sebab terkadang saking pasien banyak sampe ga sempet makan.
Stanley : tidur lagi ya kok ga bales? oke see u
Aku hanya melihat sekilas dan memilih menutup mata kembali, menangani korban seksual harrasment tadi sangat menguras tenaga dan trutama emosi. Sebagai sesama wanita rasanya ikut marah kesal tetapi sebagai dokter harus bisa menahan emosi negatif itu jangan sampai meledak. Dalam kondisi terburuk, pasien butuh dukungan ketenangan bukan emosional.
***********************
IGD pk. 05:00 kembali ramai dengan beberapa pasien dari satu daerah yang sama dengan diagnosis keracunan makanan. Rasa kantuk dan lemas hilang sekejap berganti dengan semangat untuk menolong para pasien tersebut.
"Pastikan mereka semua tidak dehidrasi, ambil sampel muntahnya dan cek ke lab. Saya liat kondisi mereka semua cukup stabil, tanda tanda vital juga baik. Tinggal kita tunggu hasil lab aja, zat apa yang bikin keracunan." jelasku panjang lebar pada perawat yang bertugas mencatat.
"Oke dok siap!" jawabnya sambil berjalan kembali ke mejanya.
"Morning dok. Ngopi yuk!" kaget aku ternyata dokter Indra sudah muncul saja di depanku dan tanpa basa-basi menarik tanganku menuju coffee shop. Aku yang sedang lelah hanya menurut saja tanpa perlawanan hehehe.
Sesampainya di sana, aku langsung duduk membiarkan dokter Indra memesan kopi dan cake untukku, karena dia memang sudah hafal kesukaanku. Aku memilih memejamkan mata sejenak menyenderkan punggung ke sofa.
"Minum dulu Gab, cakenya fresh from the oven tuh, ayo sikat biar kamu kuat!" perintahnya yang membuatku tertawa.
__ADS_1
"Dok, kenapa si baik terus sama aku? Kalau dokter terlalu baik sama aku, jadi jauh jodoh lho dok, cewek yang mau deketin dokter jadi drop karena disangka mereka kamunya udah ada cewek.
Sesaat dokter Indra menghela nafas, "Serius kamu mau tahu banget atau mau tau aja?"
"Yeee sama aja kali tu, aku serius mau tau!" tegasku dengan pasang tampang serius.
"Oke, sekarang aku jujur, urusan kamu terima atau ga itu beda perkara."
"Kamu itu gadis kecil pemberani yang belain aku waktu dibully sama kakak kelas, kamu inget? Waktu itu kamu masih SD tapi berani banget nglawan anak SMP yang bully aku."
Aku mengerutkan dahi berusaha mengingat kejadian itu.
"Sejak saat itu aku diam-diam menyukaimu, tetapi saat aku lulus SMP, aku pindah keluar pulau mengikuti ayahku yang berpindah tugas. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita kembali di RS ini."
Ooo....... ternyata gitu ceritanya, aku baru ingat saat aku SD tidak sengaja melihat kakak kelas SMP yang terluka karena dikeroyok 3 temannya. Saat itu sebenarnya aku sangat takut tetapi aku menguatkan hatiku, aku berteriak-teriak meminta pertolongan sampai akhirnya ada seorang guru yang mendengarku dan pada saat kami mendatangi kakak itu, para pengroyok telah kabur melarikan diri.
Lalu saat pak guru membawa kakak tersebut ke UKS akupun mengikutinya membantu membersihkan luka dan memberi obat. Setelah selesai kemudian aku pamit pulang, tak kusangka bantuan yang bahkan aku sendiri sudah melupakannya tetapi nyatanya amat berharga untuk orang lain sampai dia mengingatku bertahun-tahun.
"Oooo...... maaf dok!" cicitku tiba-tiba merasa ga enak hati karena ga bisa bales perhatiannya.
"Hei, kok malah minta maaf. Ga salah apa-apa kok minta maaf Gab." balasnya sambil memasang senyum yang sebenarnya sangat indah dan sedap buat dipandang. Yah jujur saja dokter Indra ini ganteng dan banyak penggemar, cuma entah kenapa ga da getaran spesial di hatiku.
"Aduh dok jangan manis-manis ngapa, aku takut diabetes dok." candaku yang bikin kami jadi ketawa geli sendiri hahaha.
"Manis gini aja ga bikin kamu bergetar Gab, gimana kalo asem, pasti kamu males ngomong sama saya." ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya yang tentunya kuhadiahi ketawa riang. Hahaha entah mengapa hari ini dokter Indra terlihat imut.
"Gab, mau ga kamu coba dulu jalan sama saya. Kalau hatimu tetap ga timbul getaran apapun buat saya maka saya akan menyerah dan belajar menerima dokter Ellen." pintanya dengan tatapan mata sendu.
Hah.... aku mlongo ga menyangka akan mendapat tembakan jenis seperti itu. Mendengar polosnya dokter Indra malah bikin aku jadi sedih karena tidak dapat membalas perasaannya padaku.
Ehm.... harus jawab gimana ya, jujur aku bingung. Kalau aku iyain apakah ga bikin dia sakit hati saat aku tetap ga bisa membalas perasaannya? Lagipula sepertinya dokter Indra hanya terbawa kenangan masa lalu deh, ga benar benar suka sama aku.
__ADS_1
"Ehm.... jalan dalam artian gimana ya dok?" tanyaku memberanikan diri untuk memperjelas maksud dan tujuannya.
"Ya kita coba habiskan waktu berdua istilah anak mudanya PDKT gitu Gab, kalau kamu tetap pada pendirianmu ga bisa terima saya lebih dari kakak atau sahabat ya it's oke. Saya bakal trima apapun hasil akhirnya."
Ya Tuhan..... betapa beruntungnya aku bisa kenal banyak orang baik yang sayang juga sama aku, tapi ternyata sedih juga kalau hati ini ga bisa kasih balasan yang setimpal. Kalau aku coba jalan sama dokter Indra trus Ellen gimana ya, ntar dibilang pagar makan taneman lagi gue. Ishh bingung ah mending ngadepin pasien dengan macem macem penyakit daripada ngadepin penyakit BuCin hahaha.
"Dok boleh nanya tentang perasaan dokter ke Ellen ga? Dia kan baik pintar cantik dan perhatian luar biasa sama dokter, kenapa ga dokter terima aja?"
Ish absurd banget si pembicaraan gue, kenapa malah nanya tentang Ellen, ampun deh Gaby Gaby, kesalku dalam hati. Duh semoga dokter Indra ga kesinggung, mana aja coba lagi serius nembak cewek trus ceweknya malah nanyain perasaan ke cewek lain. Hahaha ada dan itu gue, ya ampun Gaby kelakuannya, rutukku masih sibuk bercengkrama dalam hati.
"Gab..... halooo kok malah ngelamun?" tepukan lembut dipipiku menarikku dari alam bawah sadar ke dunia nyata. Tangan dokter Indra yang masih bertengger dipipiku seketika bikin aku jengah, reflek aku menyingkirkan tangannya.
"Lho dokter Indra, Gaby, kalian ngapain?" entah dari mana datangnya dokter Ellen sudah ada di meja kami. Terlihat api cemburu di matanya, kaya gunung merapi mau meledak aja.
"Eh... la.. lagi ngopi ama nyemil aja kok dok, kebetulan tadi dokter Indra ketemu saya pas selesai jadwal saya di IGD. Sini gabung aja dok." jawabku sedikit gagap karena kaget dengan tatapan mata Ellen yang menusuk jiwa itu.
Mendengar perkataanku dokter Indra langsung melotot , " Eh maaf ya dokter Ellen, saya lagi ada sedikit urusan pribadi sama dokter Gaby jadi saya sedang ingin berdua saja biar obrolan kami ga terganggu. Maaf ya dok mungkin lain kali kita bisa ngopi bareng."
Giliran aku yang melotot ke dokter Indra memberi kode agar mencegah dokter Ellen pergi, tapi dengan cueknya dia mengalihkan pandangan mata dariku. Dokter Ellen yang sudah sangat kesal terlihat tidak dapat menahan amarah, segera bangkit dan berjalan keluar coffee shop.
"Tega banget si dok, dia pasti marah dan cemburu. Jahat ih dokter!" omelku saking kesalnya.
"Kok saya yang disalahin, itu kan salah kamu Gab, saya yang ajak kamu mau ngobrol berduaan malah dengan sengaja kamu nyuruh Ellen gabung!" tegasnya tidak mau disalahkan. Aku hanya bisa mendengus kesal sambil mengusap kasar wajahku. Ampun deh Gaby pagi pagi dah cari musuh aja sih batinku kesal. Sedangkan dokter Indra malah tertawa happy banget.
"Kamu tuh aneh Gab, saya sama Ellen kan ga da hubungan khusus jadi hak saya dunk mau ajak ngobrol siapa, kalau dia cemburu ya itu juga hak dia, saya ga bisa larang."
"Jadi gimana Gab, kamu mau ga kasih saya kesempatan? Setidaknya saya ga akan nyesel melepas kamu karena sudah berusaha keras."
Setelah cukup lama berpikir, aku mengangguk sebagai tabda setuju, menyadari betapa selama ini, aku memang tidak pernah memberinya kesempatan karena aku yakin banget hatiku tidak untuk dia. Tapi aku juga ga munafik, bersama dokter Indra aku merasa nyaman seperti interaksi antara aku dan Brandon.
Yah... setidaknya walau hatiku tidak bisa memberi lebih, tetapi aku bisa menyayanginya layaknya adik kepada sang kakak. Akhirnya kami sepakat untuk memberi kesempatan kepada diri kami masing masing untuk saling mengenal lebih dalam.
__ADS_1
******To Be Continue******