Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 2


__ADS_3

Akhirnya air mataku benar-benar tumpah tak tertahankan lagi. Saat ini aku ada di balkon apartement Dicta, kukuras emosiku, manangis teriak dan meraung agar sesak di dadaku mereda. Yah inilah caraku setiap menghadapi tekanan dan masalah yang berat.


Aku selalu memilih tenang di awal dan menghadapinya, baru kemudian mengambil waktu sendiri untuk meluapkan emosi negatifku. Tidak seperti kbanyakan teman yang akan memilih pergi ke bar atau club untuk minum minuman beralkohol.


Bagiku meredakan masalah dengan alkohol sama dengan bunuh diri karena pada akhirnya justru berpotensi semakin memperburuk atau bahkan menambah masalah baru. Tapi bukan berarti aku kenghakimi bahwa mereka yang mencari kesenangan disana bersalah, karena kembali lagi itu hanyalah sebuah pilihan hidup.


Setelah menangis dan berteriak, berangsur- angsur nyeri di dadaku hilang berganti dengan rasa lapar dan haus yang amat sangat.


"Dict, gue laper, delivery pizza dunk say, please!" kataku pada spupuku itu sambil berjalan ke arah kulkas dan mengambil cola dingin. Dicta hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol tanda setuju dan segera memesan lewat aplikasi online.


Sambil menunggu pesanan kami datang, aku mengecek HPku, ada banyak panggilan dan Chat WA dari Alvaro. Sungguh aku tidak menyangka dalam kurun satu minggu saja hubungan yang dibangun 3tahun langsung kandas. Apapun trik yang digunakan Nadine pada Alvaro, kesalahan terbesar tetap ada pada kami berdua.


Kalau saja Alva bisa lebih menjaga dirinya terutama dalam bergaul, maka kemungkinan Nadine tidak akan memiliki celah untuk melakukan tipudayanya. Dan andai saja aku bisa lebih pintar membagi waktu untuk memperhatikan Alva dan sekaligus menunaikan tugasku, mungkin semua tidak akan terjadi.


Yah sekali lagi itu hanya segala kemungkinan yang terjadi pada kami, namun pada kenyataannya garis hidup berkata lain. Aku harus merasakan kembali luka pengkhianatan , bahkan lebih parah dari sebelumnya.


Flashback On


drt.... drt.... drt....


Aku melihat ID pemanggil Stanley is calling, segera aku angkat panggilannya. Belum sempat aku angkat bicara, Stan sudah nyerocos duluan, "Yank, tolong temuin aku sekarang ya di cafe XXX, ada hal penting yang kita harus omongin!"

__ADS_1


Sesampainya di sana, aku segera menghampiri kekasih hatiku itu.


"Hai Stan...." sapaku sembari mencium pipi kiri kanannya dan memeluknya penuh kerinduan. Yah sudah skitar seminggu ini kami memang sulit bertemu.


Aku menangkap kegelisahan dalam diri kekasihku ini, seperti ada hal buruk yang akan disampaikannya. Oh Tuhan....... ada apa ini, batinku. Tak lama seorang pelayan datang membawakan waffel dengan ice cream rasa coklat dan choco mint favoriteku yang ternyata sudah Stanley pesankan.


Sebenarnya aku sangat penasaran apa yang akan dibicarakan, tetapi aku memilih menikmati makananku dulu saja untuk membangun moodku. Kami menikmati makanan masing-masing dalam diam. Kebingunganku dan diamnya Stanley membuat suasana sangat canggung, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan kami.


"Stan, are you okey? Jangan bikin aku takut donk, dari tadi kamu diem aja!"


Tak segera menjawab, terdengar helaan nafasnya seolah sedang melakukan inhale exhale untuk mengontrol dirinya.


Aku tersenyum untuk membantu menenangkannya, "Kita udah janji Stan untuk membicarakan apapun jika salah satu dari kita memiliki masalahkan?"


Aku hanya bisa membelalakkan mata terkejut saat membaca undangan pernikahan tersebut atas nama Stanley dan Arizka Wijaya.


Tidak menunggu reaksiku, Stanley kangsung bercerita tentang peristiwa kecelakaan yang melibatkan dirinya 3 bulan lalu.


Tanpa sepengetahuanku ternyata korban kecelakaan yang melibatkan Stanley adalah Arizka Wijaya, anak dari pengusaha besar Wijaya Group.


Dia mengalami kelumpuhan dan keluarga Wijaya dengan kekuasaannya membuat Stanley harus bertanggung jawab dengan menikahi Arizka. Dan jadilah minggu depan pernikahan tersebut akan dilangsungkan.

__ADS_1


Jangan tanya gimana rasanya hatiku, hancur tersambar geledek, sesak dadaku. Tanpa sadar aku sudah menangis dalam pelukan Stanley. Kami berdua menangis melepaskan beban di hati dan sekaligus kerinduan dari kami masing-masing.


Mungkin rasanya ga sesakit ini andai dari awal aku diberi tahu, walau pada akhirnya tetap sama sama kehilangan tapi waktuku untuk mempersiapkan hati lebih panjang.


"I love you Stan, apapun yang nantinya kamu hadapi, please kamu harus bahagia ya. I'm proud of you, selalu jadi lelaki bertanggung jawab. Aku pamit!"


Flashback off


Ternyata 3tahun kemudian aku kembali harus melepaskan orang yang kucintai walau dengan masalah dan jalan yang berbeda. Dan seperti yang selama ini aku tekankan saat berpisah dengan MANTANku, please be happy. Aku juga harus bisa pura-pura lupa sama sakit hatiku biar aku bahagia.


Langkahnya selalu sama, aku akan pura-pura lupa bahwa aku sakit hati, biasanya aku rela jaga malam dan menyibukkan diri di RS tempatku mengabdi. Dan biasanya dengan banyaknya waktu produktif maka rasa sakit lambat laun menghilang sampai akhirnya aku benar benar bisa menerima jalan Tuhan untukku ini.


Aku hanya berharap torehan luka Alva kali inipun dapat aku kubur walau mungkin durasi waktunya akan lebih lama karena kedalaman lukanyapun jauh diatas rata-rata. Aku tertawa miris karena pikiranku mulai kacau sampai menyamakan luka hati sama seperti perhitungan matematika hehehehe.......


Aku mungkin sangat marah dan kecewa pada Alva, tapi aku juga tidak menampik bahwa perasaan Alva padaku selama ini tulus, maka tindakannya terjebak dengan Nadine justru aku sebut sebagai bencana buat Alva sendiri. Aku memang tersakiti tapi entah mengapa perasaanku tidak dapat membencinya.


"Gab, woii pizza lu udah dateng nih, makan dulu gih, buat pura pura lupa sama Alva juga lu butuh energi yang banyak!" ujar Dicta sambil terkekeh geli meledekku. Akupun ikut tertawa dengan gombalan recehnya yang selalu ampuh membuatku tegar menghadapi kondisi terburuk sekalipun.


"Dict, itu jatah lu boleh ga buat gue juga, energi gue abis Dict 3 tahun jagain jodoh orang lain!" kataku sambil dengan cueknya mencomot pasta carbonaranya Dicta. Terdengar tawa menggelegar Dicta menanggapi pernyataan absurdku.


*Sesuram apapun warna hidupmu, ingatlah bahwa akan ada Pelangi yang muncul mewarnai kembali hatimu.

__ADS_1


************To Be Continue*************


__ADS_2