Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 69


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama aku kembali dinas setelah cuti seminggu karena menikah. Status yang berubah tidak banyak membawa perubahan dalam kehidupan kami. Rutinitasku juga masih sama, hanya sekarang lebih sering memasak daripada dulu. Untuk urusan kebersihan diserahkan kepada Asisten Rumah Tangga yang suamiku sewa harian.


Menu pagi ini simple aja, nasi goreng Teri dengan telor mata sapi, kami bukan tipe yang ribet dalam makanan dan bukan juga tipe pemakan makanan resto kecuali sushi hehehe karena lebih enak beli.


"Bi, tolong makannya di Tata di meja ya, Saya bangunin bapak dulu." pamitku pada Bibi ART-ku yang dijawab dengan anggukan kepalanya.


"Hon......bangun, Hon.......... bangun yuk, sarapan dulu, aku dah mau berangkat dinas. Kalau kamu masih ngantuk nanti aku setir sendiri aja ya."


Kukecupi mata Stanley agar segera terbuka, benar saja setelah berkali kali kecupan dia membuka matanya yang terlihat masih sangat mengantuk.


Dengan manjanya Stanley hanya bergeser, memindahkan kepalanya ke pangkuanku sedang matanya kembali terpejam.


"Eh Hon ...... kok malah tidur lagi, ayo temenin aku sarapan udah mau berangkat lho aku."


Akhirnya Stanley mau bangun juga dan menemaniku sarapan, serta mengantarku ke Zein Hospital.


"Yank, siapa si yang atur jadwal kok bisa biasanya minggu masuk?" ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya tidak suka aku berangkat dinas.


"Hon, aku ni dokter lho, tenaga medis resikonya ya gini ga da libur sebenarnya yang ada hanya ganti Shift aja. Justru kemarin kemarin aku suka santai karena lobbynya Sammy ke HRD."


"Nanti aku ke HRD deh kukasih tahu siapa kamu sebenarnya biar mereka bebasin kamu dinas tiap weekend!" tegasnya yang membuatku kesal.


"Hon please jangan macem macem, aku ga mau kebijakan kaya gitu ah, lagian kita udah sepakat ga buka siapa kita sebenarnya." ujarku sambil mengelus tangan Stanley merayu agar tak melaksanakan ide gilanya.


Stanley tak menjawab, hanya menoleh sekilas kemudian fokus kembali ke setirnya. Aku jadi kesal sendiri karena sejujurnya aku memang lupa mengatur agar jatah liburku selalu di hari Minggu.


Duh Stanley kenapa si jadi bad mood keterusan gitu, diem aja lagi. Tiba tiba ponselku berbunyi, telepon dari nomer Tak dikenal, aku mengerutkan kening, jangan jangan cewek yang maki maki aku.


Aku menoleh ke Stanley yang masih diem aja, tapi dering ponselku tak berhenti juga. Akhirnya kuputuskan untuk mereject saja.


"Siapa yang telpon kok dimatiin?" tanyanya dengan nada ketus.


Aku tetap diam enggan menjawab sekalian membalas perlakuan Stanley yang mendiamkanku tadi. Dalam hati geli juga baru nikah seminggu udah ngambekan gini ditinggal kerja, padahal waktu pacaran ga pernah rewel, cemburu iya tapi ngambek ga pernah.


Tiba tiba Stanley menghentikan mobilnya di pinggir jalan, aku menatapnya bingung. Hah segitu marahnya suamiku ampe tega mau turunin dipinggir jalan gini, pikirku.


Stanley melepas sabuk pengamanku dan membalikkan badanku menghadapnya, "Mana ponsel kamu yank? Kenapa ga jawab siapa yang telpon?"


Aku tetap diam, dia kembali bicara, tangannya menangkup kedua pipiku. "Oke, aku minta maaf karena udah diemin kamu yank, please jangan mbales kaya gini aku ga kuat!" pintanya memelas.


Kuserahkan ponselku, segera Stanley mengecek siapa yang meneleponku, "Nomer tidak dikenal lagi, nomernya beda sama yang kemarin."

__ADS_1


Dia mencoba menghubungi kembali nomer tersebut tetapi hanya dijawab operator.


"Yank, lain kali kalau nomer nomer aneh tlp lagi tolong kamu angkat ya terus kamu record pembicaraan kalian." katanya lagi yang hanya kujawab dengan anggukan.


"Yank kok masih diem aja si marahannya mau dilanjutin nih? Kamu ga peka banget si yank, aku ngambek karena harusnya kan minggu ini masih jatah libur malah kamu dinas."


Sebenarnya aku sudah susah payah menahan tawa karena merajuknya lucu sekali. Stanley kembali menangkup pipiku memaksaku menghadap wajahnya.


Karena tak sanggup akhirnya kusemburkan tawaku, kutangkupkan tanganku juga di pipinya, "Maaf ya Hon, aku yang lupa atur schedule waktu pengajuan cuti."


"Kamu kan janji Hon apapun bisa diomongin kenapa milih ngambek dan diam? Jadi deh aku telat kan nih, tu udah ditelponin dari Rumah Sakit Hon." kataku sambil mengecup singkat bibirnya, dan segera meminta Stanley ngebut.


---------------------------


"Lhoo Sam, kita bareng? Kirain dah beda jadwal." tanyaku sambil ngos ngosan karena lari dari parkiran depan.


"Gue emang lebih banyak ngantor sekarang cuma kalo da yang butuh digantiin ya gue turun. Tadi IGD bilang lu belum sampe sampe jadinya gue disini."


"Iya Sam maafin ya tadi sodara lu ngambek jadi aja telat gue." terangku sembari manyun.


Sam sudah mengangkat tangan bersiap mengacak rambutku, tapi aku menghindar sambil meledeknya, "Eits... satu meter jaga jarak."


"Awas ya lu, kalau butuh jaminan ntar gue tolak." ancamnya sambil mengacungkan kepalan tangan.


Sammypun kemudian menatapku serius, "Stan ngambek kenapa? Kurang cutinya?"


Aku mengangguk, "Sam, kalau gue hamil boleh ga berhenti dinas, gue bantu lu di kantor aja."


"Stan pengen gue banyak waktu dirumah, terutama kalau udah punya anak, karena nanti dia bakal bantu papi juga kan jadi double job gitu kalau gue juga pas dinas malem bisa bisa anak kita jadi anak Oma atau parah lagi anak babysitter."


"Gue mengerti si kekhawatiran dia makanya gue ngalah aja, kalau di Kantor kan jam kerjanya jelas Sam, boleh ya?" rayuku dengan pasang wajah sok imut.


"Woi ga sah sok imut lu, bolehlah tinggal atur aja toh Rumah Sakit punya keluarga lu sendiri, ga salah kalau nanganin kantornya, benar begitu dokter Gabrielle Angela Zein?" ujar Sammy yang membuatku terperangah, jangan jangan dia tahu lagi kisahku.


Aku melongo sambil menatap mata Sam, sekolah minta penjelasan apa maksud omongannya. Sammy tertawa puas melihat ekspresi terkejutku yang sedikit bodoh, "Gue udah tau kalau spupu gue yang sebenarnya itu elu Gab, anak yang sengaja ditukar hihihi, asli gue kira itu cuma ada di sinetron ternyata kejadian di deket gue."


Kututup wajahku, malu punya kisah hidup gitu amat kaya sinetron hehehee.


"Ga sah malu Gab, sinetron juga biasanya asal muasal idenya dari kejadian nyata disekitar kita kan." hibur Sammy sambil tertawa.


"Sam, tapi maaf gue ga mau bertukar tempat gue serem masuk keluarga Zein. Biar aja kaya gini udah nyaman kok."

__ADS_1


"Iya tenang aja rahasia aman. Dan lu bakal seneng banget karena bentar lagi Dicta juga pindah kesini dan gue juga dah kepikiran sama kaya Stan kalau dia hamil stop dinas, pilihannya naik ke kantor atau di rumah aja sekalian."


IGD jam ini masih cenderung sepi dan Ada 3 dokter muda atau biasa disebut Ko-Asisten, jadi aku dan Sammy bisa ngobrol panjang.


"Dok, ada yang cari tu diluar." kata seorang dokter muda sambil menunjuk arah pintu masuk. Aku sedikit memicingkan mata sebab jaraknya terlalu jauh dari mejaku.


Kuberi orang tersebut lambaian tangan sebagai isyarat untuk masuk menemuiku.


Ternyata Nadine dengan seorang pria yang kuketahui teman band Alva, siapa namanya ya aku lupa hehehehe.


"Hai Nad, mau kontrol ya? Tumben mampir kesini? Sorry ni bukan ngusir tapi sebaiknya kalian jangan lama lama disini." kataku mengingatkan.


Nadine mengangguk, "Gab, kenalin ini Rizal, ayah dari bayi gue."


Aku mengangguk sambil mengucapkan namaku , "Gaby!"


"Rizal! Ehm.... dok, eh Gab ehm..." Rizal terlihat gugup dan tak nyaman.


"Ya gimana Zal? Ada yang bisa aku Bantu? Panggil Gaby aja!"


"Ehm.... Gab, gue mau minta maaf sebab gue dah teror elu ama spupu lu."


What??? Jadi teror WA itu ulah dia, ish aneh banget si kenal juga barusan, runtukku dalam hati.


"Maafin Rizal ya Gab, dan maafin gue juga yang ga sengaja bohongin elu karena gue juga ga tau kalau bakal gini ceritanya. Gue lebih sering lakuin ama Alva jadi gue pikir ini anak dia, gue ga maksud bohongin elu Gab!"


"It's okay Nad, gue udah maafin kalian kok. Owh ya kalian udah nikah ya, selamat ya." kataku sambil menunjuk cincin berlian di jari Nadine.


"Eh iya makasih, selamat juga buat lu ama Stanley ya, semoga cepet dapet momongan ya. Ya udah kita ke Obgyn dulu ya Gab. See you bye....."


Sepeninggalan mereka aku jadi teringat telepon tak bernama, udah pasti bukan Nadine, batinku.


"Dok bed 1, pasien wanita, 45tahun, terpleset di toilet, kehilangan kesadaran, denyut lemah." aku segera berlari menuju ranjang yang dimaksud, bertindak dengan cekatan memeriksa pasien karena hilang kesadaran, aku menduga terkena stroke.


IGD makin siang makin rame, semua siaga kondisi apapun yang dialami pasien, kami tenaga medis harus siap sedia, maka alasan yang tepat jika hamil aku lebih memilih di kantor saja.


-------------------------


Siapa ya sebenarnya penelepon gelap itu dan apa yang dimau, ada 2 nomer tak dikenal yang menelepon. Apakah dari satu orang atau dari orang yang berbeda? Penasaran????


Haloo readers hari ni aku jujur agak hilang konsern karena harus revisi bab sebelumnya cukup menyita waktu tapi akhirnya bisa up juga. Semoga kalian tetep mau nunggu ya sabar membaca dan pantang menyerah buat tinggalin Author jejaknya. Jangan lupa Like Vote and Comments ya sayangkuh....

__ADS_1


Terima Kasih😘👍🙏


__ADS_2