Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 73


__ADS_3

"Kamu ke Kantor jam brapa hari ni Hon? Kamu pasti capek ya jemput aku pagi pagi gini. Terus semalem kamu ditemenin makan ama siapa?" tanyaku entah kenapa penasaran dengan apa yang Stanley lakukan saat aku dapat jadwal dinas malam kemarin.


Stanley tertawa dan mengecup bibirku dengan gemas, "Duh sayangnya aku ni kenapa nanya kok rentetan gitu kaya kertas ujian aja isinya pertanyaan semua?"


Aku melongo takjub, ini laki kesambet apaan ya sampe bisa ngereceh gini, wah wah wah kemajuan pesat nih. Wakakakaka cowok yang melamar aja ga romantis eh bisa bisanya nge-joke receh gitu hahaha.


Kutempelkan tangan di dahi Stanley, mengecek suhu tubuhnya, "Kamu baik baik aja kok ga demam kenapa bisa ngeluarin joke receh gitu Hon? Semalem kamu makan apa bisa renyah gini becanda biasanya juga.........


"Tapi suka kan?" potongnya seraya mulai merapatkan tubuhnya padaku.


Aku tertawa dalam hati, pasti mau ngajak olah raga ranjang inih. Lelah sebetulnya karena smalem pasien kaya air bah ga surut surut, tapi balik lagi kalau pasangan yang meminta itu wajib diturutin.


"Suka banget Hon, aku jadi ngeliat kamu kaya lebih manusiawi gituh hehehe."


"Hah...... emang selama ini kamu liat aku Kaya setan? Nakal ya kamu!" serunya sambil mencubit pipiku.


Aku tertawa senang, seketika tawaku terhenti karena teringat pesan dari nomer misterius semalam. Apakah pesen itu dari Arizka Dan berhubungan dengan foto foto atau ada orang lain yang tak suka padaku. Mengingat itu aku jadi terdiam cemberut.


"Hei sayang, kamu mikirin apa si? Tiba tiba diem aja, cerita sama aku yank!" tegurnya seraya memeluk tubuhku.


Aku mengambil ponsel dari tasku, membukanya dan memberikan pada Stanley.


No Name :


Heh dokter ganjen, siap siap aja kehilangan kebahagiaan lu.


No Name :


Tunggu aja waktunya semua yang lu punya bakal ilang.


No Name :


Yakin tu suami lu cinta beneran sama lu?


Selain itu juga ada beberapa panggilan Tak terjawab dari no name. Aku mengabaikan karena ancamannya ga menakutkan si menurutku malah jatuhnya ga penting gitu


kaya cuma orang iseng mau menjahili kita.


"Sebenernya bukan masalah besar si menurutku Hon, ancamannya kaya ga niat gitu deh, bukan aku mengecilkan adanya ancaman itu lho ya. Merasa terganggu iya tapi bukan yang menakutkan gitu, cuma rese banget pake telpon segala."


Suamiku membaca ulang pesan pesan tersebut dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan pendapatku.


" Iya si kayak main main aja iseng tapi kamu tetep harus waspada jaga diri ya. Nah sekarang kita lupain dulu masalah itu, kita main yang ena ena ya sayang." bisiknya seraya mulai menggodaku dengan bibir Dan tangannya.

__ADS_1


"Owh ya Hon, kmrn kamu ngapain ke apartement Dicta?" tanyaku menginterupsi.


"Ya mau ketemu orang yang jelas bukan Dicta, tumben kepoo?" ledeknya sambil mulai mengaktifkan tangan dan bibirnya lagi yang sedari tadi emang sudah menempel padaku.


"Ehm..... Hon...... aku laper.... mau makan dulu ya..... tuh perutku geruwukan tuh!" kataku mengalihkan perhatian sebab aku emang sangat lapar.


"Okee yuk, makan dulu abis tu olah raga ya." balasnya sembari mengerlingkan mata padaku. Aku terkesiap sejak kapan suamiku ini jadi genit sih hehehe.


--------------------------


*Stanley POV"


Setelah semalam Gaby kebagian dinas malam, paginya kujemput dia di Rumah Sakit. Entah kenapa rasanya kangen banget, ga tahan pengen ena ena, apa karena menjadi hal baru bagiku jadi rasanya kaya pengen terus.


Setelah meladeni isteriku ini berbincang ngalor ngidul dan sedikit membahas pesan dari nomer tak dikenal, aku mulai melancarkan serangan, yang aku tahu tak pernah dia tolak dalam kondisi lelah sekalipun.


Di sela sela ciumanku, Gaby justru menginterupsi dengan bertanya tentang mengapa aku ke apartement Dicta kemarin.


"Owh ya Hon, kmrn kamu ngapain ke apartement Dicta?"


"Ya mau ketemu orang yang jelas bukan Dicta, tumben kepoo?" ledekku sambil mulai mengaktifkan tangan dan bibir yang sedari tadi emang sudah menempel di tubuhnya.


"Ehm..... Hon...... aku laper.... mau makan dulu ya..... tuh perutku geruwukan tuh!"


Aku sedikit mengerang karena lagi lagi isteriku ini menginterupsi, tapi aku memang mendengar suara perutnya yang kelaparan, dan tentu saja aku tak tega memaksakan keinginanku.


Sebab terakhir dirinya mendapat siklus bulanan justru sminggu sebelum kami menikah. Dan menurut Gaby kalau Tuhan berkehendak maka kami bisa cepat memiliki anak sebab saat ini terhitung masa subur.


Jujur aku sangat menginginkan memiliki anak dengan segera, tetapi Gaby memiliki pemikiran lain apa tidak sebaiknya menunggu sebab waktuku akan habis mengurus dua perusahaan. Dan Gaby takut kalau pas hamil dia bawaannya manja nanti ganggu kerjaanku.


Mengingat percakapan kami membuatku tersenyum sendiri, karena walau dia merasa lebih baik menunda tapi selalu saja menurut jika aku meminta dan tak memperbolehkannya KB apapun. Entah tindakan apa yang pernah kulakukan sehingga mendapat karma baik berupa isteri yang hatinya seperti malaikat.


"Hon, kenapa si senyum senyum sendiri, kesambet ya? Kalau ada yang bikin bahagia bagi bagi dong sama isterinya." kata Gaby sambil menyelesaikan suapan terakhirnya.


Aku tertawa sambil mengusak usak rambutnya gemas. Setelah menyelesaikan sarapan kami, aku menggandeng istriku langsung ke kamar.


"Hon, crita dulu kemarin kamu ngapain ke apartement Dicta, kan dia sekarang di rumah Mami. Apa kamu nemuin Alva kayaknya ga mungkin kan, emang kamu ada urusan apa sama Alva. Atau.....


"Susst.... ga usah mikir aneh aneh deh, aku kesana ada perlu sama orang. Tumben kamu kepoo banget ada apa si, ga percaya sama aku yank?" kataku mulai sedikit kesal sebab hasratku terinterupsi.


Gaby kembali mengambil ponselnya dan memberikannya padaku, sedetik kemudian aku melongo mataku melotot melihat fotoku dan perempuan entah siapa dengan pose agak ambigu.


Kucoba mengingat apakah saat keluar masuk apartement Alva aku bertemu wanita yang ada di foto. Aku tiba tiba teringat saat masuk ke dalam lift tanpa sengaja aku bertabrakan dengan wanita ini dan aku menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh. Tapi kenapa fotonya jadi seolah aku hendak menciumnya ya.

__ADS_1


Oh shit..... apakah karyawan itu sampe menguntit kemana aku pergi? Berarti kemungkinan dia tahu juga aku bekerjasama dengan Alva, kalau benar dia suruhan Arizka berarti akan dengan mudah trik Alva nanti diketahui. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan berandai andai berbagai kemungkinan yang bakal terjadi.


"Jadi siapa yang kamu temui kemarin Hon kok bisa ada foto gini?"


"I..... ini ga seperti yang kamu pikirin yank, aku kesana ketemu Alva, kami bicarain Alva yang kembali dekat dengan Arizka supaya bisa mengawasi pergerakannya. Aku juga ga tau ini kenapa ada foto gini dan siapa yang kirim yank? Sungguh aku ga ngapa ngapain itu perempuan ketabrak sama aku jadi aku refleks pegang badannya biar ga jatuh. Beneran yank sumpah ga kaya yang keliatan di foto ini." bukan bermaksud membela diri tapi aku harus menceritakan detail kejadiannya, aku ga mau kerikil kecil menghancurkan rumah tanggaku.


Tanpa kusadari Gaby sedang menahan tawa, dan melihatku yang tiba tiba terlihat kesal dan uring uringan. Wakakakaka terdengar tawanya membahana mengagetkanku, aku yang masih belum paham hanya melongo menatapnya.


"Kamu.... kenapa?" aku masih ga paham maksud dari tawanya.


Gaby mendekat mengambil ponselnya dari tanganku dan mengutak utik sebentar kemudian memberikannya padaku lagi.


Kulihat utuh bahwa foto itu dikirim oleh Retna yang kutahu adalah teman Gaby juga Dan tinggal di apartement itu, difoto ada keterangan :


"Gila laki lu gentleman banget Gab abis ga sengaja nubruk orang terus tangkep badan orangnya biar ga jatuh. Sorry fotonya agak ambigu ya wakakakaka!"


Hah........ badanku rasanya lemas sekaligus dadaku lega, gila pikiranku udah kemana mana ternyata lagi dikerjain.


Aku menatapnya dengan wajah kesal, Gaby membalas tatapanku dengan raut mengiba, "Jangan marah Hon, please, oke oke aku turutin semua mau kamu ya sebagai balasan karena udah kerjain kamu. Yuk .... sekarang yuk olah raga aja yuk daripada marah, duh muka kamu serem Hon kalau gitu."


Sungguh aku tak tahan marah padanya jika dia mau membayar dengan apa yang kuminta bagaimana aku bisa marah. Gaby segera memelukku duduk dipangkuanku, mengecupi wajahku merayu agar aku tak marah lagi.


Kudorong tubuhnya hingga posisi berbaring di ranjang, aku memposisikan diri diatasnya dan........ kugelitikin pinggangnya dengan membabi buta.


Aaawwwhhhh...... aaawwwhhhh...... ampun ampun ampun........aaawwwhhhhh.........


Puas menggelitikinya, aku memberinya jeda waktu untuk bernafas dan segera kuserang kembali seluruh tubuhnya tapi kali ini dengan ciumanku.


Gaby menerima semua yang aku lakukan, berbagai gaya baru yang kuinginkanpun dia lakukan. Rasanya sangat nikmat ketika antara memberi dan menerima porsinya seimbang. Memasuki dirinya ada rasa nikmat yang selalu sama, kupercepat gerakanku ketika merasa ada yang akan meledak dari diri kami.


"Aahh...... Hon....... sama sama ya." ceracaunya yang kubalas dengan me*umat kembali bibirnya dan mempercepat gerakanku.


Aaaahhhh..........sengaja tak kutahan erangan kepuasanku agar rasa puas itu dapat diketahui juga olehnya. Ya .... aku berpendapat jika pasangan kita tahu bahwa apa yang mereka berikan sangat memuaskan pasti bahagianya tak terkira.


"Makasih ya, kamu selalu amazing yank." bisikku ditelinganya diantara deru nafasku.


"Kamu juga Hon luar biasa." balasnya berbisik ditelingaku, kukecup bibirnya sekali lagi, Dan kulepaskan diriku darinya.


Tak berapa lama Gaby sudah tertidur dan aku membersihkan tubuhku bersiap ke kantor dengan hati yang sangat gembira dan berharap benihku segera tumbuh.


--------------------


Hadeh Thor udah kebat kebit foto siapa lagi ituh ternyata oh..... ternyata........

__ADS_1


Pelajaran yang didapat dari mereka hari ini, seberat apapun rintangan jadi berasa ringan karena dihadapi dengan tenang.


Tapi buat Readers please jangan tenang tenang aja dunk, yuk serang author pake like vote comments dan rating bintang lima dunk ya ya. Thank you😘🙏


__ADS_2