
"Gab, ga kerasa ya udah abis aja liburan kita. Aarrrggghhhh kalo ga inget pasien pasien gue, pengen rasanya libur lagi hehehehehe." celoteh Dicta ketika kami sedang membereskan barang-barang. Yah hari ini memang hari terakhir di Bali dan besok sudah harus masuk RS lagi.
"Gue malah udah ga sabar pengen kerja lagi Dict, libur kelamaan jadi melow gue. Dan gue sengaja bgitu masuk langsung ambil shift malem."
Yah gimanapun ritual saat liburan yang sangat susah dikembalikan adalah bangun siang, maka aku memilih masuk shift malam karena belum sanggup buat bangun pagi kayaknya hahahaha.
**********************
"Dok pasien bed1, anak anak atas nama Rio , kecelakaan bersama ibunya, kesadaran baik, sudah pasang infus." akupun segera menuju bed1 memeriksa anak korban kecelakaan tersebut.
"Haloo, Rio, saya periksa dulu ya. Kalau ada yang sakit bagian mana kamu bilang ya."
Aku segera mengecek semua bagian vital, matanya merespon dengan baik, tangan juga dapat menggenggamku dengan baik, pada bagian kaki tampaknya ada fraktur, saat ini pasien juga tidak muntah berarti kemungkinan kondisi kepala aman.
"Gimana anak saya dok?" tanya ayah Rio
"Ada fraktur dibagian kaki, kita rontgen supaya lebih jelas apakah retak patah atau hanya pergeseran ya pak, sepertinya tidak parah klo dilihat dari bengkaknya tidak terlalu parah. Kemudian untuk kepala sepertinya aman karena tidak ada muntah sebagai indikasi awal gegarotak, tapi kita tunggu aja dulu kalau kemudian Rio merasa pusing dan muntah-muntah kita lakukan ctscan ya pak. Rio lebih baik kita opname dulu sehari ya pak untuk observasi. Owh ya sebagai dokter saya wajib mengingatkan apabila Rio memiliki BPJS silahkan digunakan ya Pak, silahkan bisa diurus keadministrasi dahulu untuk opnamenya. Permisi."
"Dok bed2, seorang ibu atas nama Laras, nyeri dada, sesak, mual muntah, demam, tek darah 140/90, sudah dibantu oksigen."
"Halo ibu Laras, masih dada kiri masih nyeri? masih sesak?" aku berusaha membangun komunikasi dengan pasien yang terlihat sangat kepayahan bernafas sambil mengecek denyut nadi yang sangat kencang.
"Sus segera EKG kmudian sambungkan hasil EKG ke dokter Yusup, karena dokter Yusup biasanya sampe malam. Diagnosis awal ini serangan jantung ringan tetapi melihat kondisi semakin sesak dan hipertensi prediksi akan ada serangan ulang. Cek ICU klo ada kosong segera pindahkan."
"Ibu Laras akan dipindahkan ke ICU ya pak karena peralatan monitoring yang lebih lebgkap hanya ada disana dan tidak dapat dibawa keluar, maka pasien yang kami pindahkan. Saya takutkan gejala tadi adalah serangan jantung ringan dan melihat kondisinya makin sesak saya takut ada serangan ulang yang biasanya lebih dahsyat, maka jalan terbaik kita pindah ke ICU. Kemudian saya refer ke dokter Yusup spesialis jantung ya Pak. Tindakan tambahan tadi adalah melakukan EKG untuk melihat ritme jantung. Apabila bu Laras memiliki BPJS maka bisa digunakan ya pak. Saya permisi dulu"
Aku kembali ke meja kerjaku dan melengkapi status rekam medis dari beberapa pasien yang tadi kutangani. IGD malam ini ternyata cukup ramai membuatku bersemangat.
Aroma kopi mendadak terhirup dihidungku, di depanku ada dokter Indra mengulurkan segelas kopi, "Thank you dok, mood booster banget nih!"
"Dokter dari mana mau kemana? Udah sah jadi internist mah ga di IGD kali dok." kataku meledeknya sambil menyesap kopi hitam yang selalu nikmat.
"Bisa aja kamu ngledek, kangen aja suasana IGD, walau hari ni ga serame di tempat praktek saya hehehehehe. Serame-ramenya di unit dalam tetep lebih enak di IGD dok, karena ada kamu."
__ADS_1
"Hahaha ish dokter receh banget belajar dari mana coba. Dok disana juga ada dokter Ellen yang cantik lho masa disia-siain, nangis anak orang dok." kataku sambil menyelipkan nama dokter Ellen yang memang sudah terus terang kepadaku meminta untuk dibantu supaya dekat dengan dokter Indra.
"Kamu nih ngiklan aja, pasti da pesan sponsor ya. Saya masih susah move on dari dokter Gaby jadi gimana donk biar ga sia-siain yang lain, mending bilang ama sponsornya buat mundur." balasnya sambil tertawa.
Beruntung IGD sudah tidak ramai jadi obrolan santai dan candaan kami ga mengganggu kegiatan di IGD. Semua orang yang tugas di IGD memang sudah sangat tahu apa yang menjadi misi dokter Indra terhadapku, dan mereka tidak pernah usil menggosipkan kami.
Aku meminta ijin untuk melanjutkan menulis status dan dokter Indra mempersilahkan dirinya sendiri duduk dihadapanku berbatas meja kerjaku. Lelaki ini sangat gigih mendekatiku, dan aku bersikap biasa saja karena memang tidak ada getaran yang timbul terhadapnya. Lagipula dokter Indra sebenarnya juga tidak pernah menyatakan perasaan khusus kepadaku, maka sikapku ya wajar saja seperti teman.
Tak berapa lama tercium bau wangi masakan disekitarku, dan ketika aku mendongak terlihat dokter Ellen membawa beberapa bungkusan yang dari sana menguar bau harum tadi. Aku tersenyum melihat dokter Ellen menahan cemburunya padaku, wajar si pria yang dia cintai malah nempel ke wanita lain hahahaha.
"Di Internist pasien udah abis dok, ini pada bosen disana atau bagaimana kok boyong semua ke IGD?" ledekku sambil tertawa.
"Lho pada ngapain rame amat?" tanya Sammy yang merasa aneh krn dokter spesialis ini pada singgah di mejaku.
"Eh kamu Sam, saya bawa makanan banyak nih, kita makan bareng yuk!" tawar Ellen sambil menunjuk bingkisan yang sangat wangi itu.
"Woa tumben dok, ada perayaan apa gerangan?" tanya Sammy dengan polosnya.
Kamipun tertawa melihat genitnya dokter Ellen menggoda pujaan hatinya, bahkan beberapa perawat yang mendengarpun ikut tertawa meledek. Aku melihat dokter Indra malu malu ingin tertawa tapi ditahannya.
"Ayo cepet kita makan dulu, mumpung IGD sepi, makan diblakang aja ya." ajakku karena sudah lapar dan takut nanti IGD penuh ga sempet makan lagi.
Kami ber4pun masuk pantry yang memang disediakan disebelah kamar istirahat dokter jaga. Ellen membawa banyak jenis makanan dan semuanya enak-enak. Dengan sigap dan tanpa canggung dia melayani dokter Indra mengambilkan nasi serta lauk-pauknya, yang membuat aku dan Sammy menahan tawa sebab dokter Indra sendiri tampak malu dan sangat canggung.
"Ya ampun dok, istri idaman banget si. Jangan bengong aja dokter Indra, klo kelamaan takut disamber cowok lain lho." ledek Sammy yang dihadiahi pukulan gemas dokter Ellen.
"ehm.... ma.. makasih ya Ellen." ucap dokter Indra canggung tapi dia tidak menolak semua yang dokter Ellen berikan untuk dia makan. Kalau melihat reaksi dokter Indra yang tidak menolak, aku rasa jauh di lubuk hatinya sudah bisa menerima perhatian dokter Ellen yang memang dari awal sangat terbuka dengan perasaannya. Dengan begitu suatu saat aku yakin dokter Indra bisa memberikan cinta tulusnya kepada Ellen.
*********************
"Dok bed3, pria atas nama pak Qobul, ditemukan tidak sadarkan diri, dan sepertinya sudah meninggal saat sampai di IGD dok."
Aku berlari ke bed3 memeriksa aemua tanda vital kehidupan, tangan kaki sudah mulai kaku, bibir membiru, pupil mata sudah tak bereaksi, denyut nadi sudah tidak kutemukan. Kematian akibat serangan jantung, tulisku di status.
__ADS_1
"Tanda-tanda kehidupan sudah tidak kami temukan lagi bu, maaf sepertinya bapak terlambat dibawa kemari. Kematian beliau disebabkan gagal nafas akibat serangan jantung. Kami turut berduka cita ya bu." jelasku sambil memeluknya ringan memberi sedikit kekuatan. Tentu saja kubikel bed3 penuh dengan tangisan pilu, hal yang wajar dan setiap saat kami lihat sebagai tim medis.
Ya penyakit jantung adalah Silent Killer, gejalanya tampak samar dan biasanya pasien jadi abai, ada baiknya begitu merasa nyeri dada dan sesak nafas, ada baiknya langsung kita tolong dengan obat pereda nyeri yang diletakkan di bawah lidah namanya Isosorbide Dinitrate.
"Dok...... dokter Sam....... bed 6 dok tolong." teriak perawat sambil mendorong brankar pasien baru ke bed6. Sammy bergerak cepat memeriksa pasien, rupanya pasien percobaan bunuh diri. Aku bergegas membantunya, beruntung sayatannya tidak terlalu dalam, setelah perdarahan berhenti, aku membantu sammy menjahit lukanya. Setelah selesai Sammy menghembuskan nafas lega.
Yah pasien terlihat sangat depresi tak henti berteriak dan menangis histeris, dengan terpaksa kami menyuntikkan obat penenang untuk menaklukkannya.
"Gab tolong lu bikin anamnesanya ya, gue tanganin bed9 dulu." aku mengangkat jempolku tanda setuju.
"Ibu, maaf apakah anak ibu Nadia sedang mengalami masalah berat? Tindakan percobaan bunuh diri biasanya didasari karena pasien mengalami depresi akibat oermasalahan berat yang berlarut dsn tisak dapat dia tanggulangi. Beruntung luka Nadia tidak terlalu parah, tetapi histerianya menandakan dia depresi berat dan butuh bantuan Psikolog. Malam ini kami aturkan untuk rawat inap ya, besok pagi kami refer ke Psikolog supaya bisa segera ditangani. Gimana ibu setuju?"
Seketika ibu dari Nadia menangis, secara naluri aku mengelus punggungnya guna memberi kekuatan. Tampaknya masalah Nadia cukup berat.
"Biar aku saja yang cerita bu. Dok kami juga baru tahu bahwa Nadia mengalami seksual harrasment dari ayah tiri kami. Karena selama ini Nadia anaknya pendiam jadi kami tidak menyangka bahwa dia mengalami hal yang buruk dirumahnya sendiri." terang kakak dari Nadia
"Owh oke, sejauh mana kekerasan atau pelecehan itu terjadi mas, apakah sampe merusak organ intim dalam artian memperkosa atau gimana? Hal ini berkaitan dengan penanganan jadi apabila ada tindakan pemerkosaan kami bisa berikan obat pencegah kehamilan supaya pasien tidak makin terpuruk."
"Kejadian pemerkosaan harinini sebelum dia berupaya bunuh diri dok." ujarnya pilu.
Aku menghela nafas, merasakan empati akan kondisi pasien, kemudian meminta suster memberikan obat pencegah kehamilan dan cek darah untuk penyakit menular seksual akibat pemerkosaan. Kemudian kujelaskan prosedur pertolongan yang sudah RS berikan serta menyarankan keluarga pasien segera melaporkan kepada yang berwajib, sebab bagaimanapun keselamatan jiwa pasien terancam jadi harus melibatkan pihak berwenang.
"Baiklah, sekarang masnya bisa langsung buat laporan, dan ibu bisa mengurus administrasi untuk rawat inap ya bu karena pasien perlu pengawasan, apabila memiliki BPJS bisa ibu gunakan. Terima kasih saya permisi dulu bu."
Setelah mohon pamit, aku segera menuliskan status pasien karena, pemerintah sepakat menangani seksual harrasment tidak main-main, maka pemerintah sudah menyediakan berbagai fasilitas untuk melaporkan kasus dan upaya pencegahan agar korban tidak mengalami efek yang lebih buruk lagi seperti hamil dan penyakit seksual mematikan.
"Waow ternyata kasusnya berat ya Gab, tinggal tunggu hasil visum, tanda tanda di
organ vital udah bukti kuat si. Semoga tu bapak segera ketangkep deh!" nada suaranya menandakan kesel tingkat dewa.
Kamipun menyiapkan berkas guna pendukung laporan sembari menunggu kedatangan pihak berwajib. Yah beginilah warna warni hidup yang dapat aku pelajari setiap hari di IGD, membuat aku jadi pribadi yang kuat.
******To Be Continue******
__ADS_1