
*Ruang Direktur*
"Sam, gue ga mau kerjain kerjaan kantor, gue mau tetep dinas aja cuma shiftnya minta pagi. Gimana bisa ga? Gue rasanya jadi ga berguna kalau ga terjun langsung ketemu pasien. Gue janji jaga diri Sam." pintaku pada Sammy saat kami membicarakan kelanjutan pekerjaanku paska diketahui hamil.
"Kita kan udah sepakat Gab? Gue ga mau diamuk suami lu. Udah lu nurut aja ya, lagian ini juga bisnis keluarga lu sendiri ga da salahnya tugas di kantor. Kalau lu bisa menciptakan support system yang oke buat keberlangsungan Rumah Sakit ini kan artinya lu juga berhasil mengabdi untuk masyarakat Gab." terangnya dengan sabar.
"Bener Gab manajemen Rumah Sakit juga berperang penting dalam memberi pelayanan maksimal pada pasien, kalo ga da system yang mengatur tentunya pelayanan jadi kacau. Antara tenaga medis dan manajemen yang mengaturnya haruslah saling bersinergi, so jangan merasa ga berguna hanya karena tidak praktek langsung."
"Lu bisa bayangin kalo ga da Sammy di posisi Direktur apakah manajeman Rumah Sakit ini bisa berjalan lancar, jawabannya tentu tidak. Jangan mengecilkan posisi lu sekecil apapun itu dalam tatanan sebuah manajemen." ujar Dicta panjang kali lebar yang tentu saja sangat masuk akal.
"Gue ngerti, cuma rasanya masih enggan aja buat ninggalin praktek di IGD, kerjaan yang udah bertahun tahun gue jalanin Dict." sahutku pelan.
Tidak ada perdebatan lagi, Sammy memutuskan bahwa aku akan membantunya di kantor dan tidak ada penolakan. Dan ini semua dilakukan atas dasar rasa sayang kepadaku.
Drrtt....... ddrrrttt......
Kurasakan getaran dalam tasku, Ada panggilan video call dari Mami diponselku.
Kutekan tombol hijau dan seketika muncul 3 wajah perempuan yang aku sayangi.
"Gab, kamu dimana? Sama siapa? Berbuat apa?" tanya Mami D yang membuatku teringat sebuah lagu entah milik siapa.
"Mami D nyanyi atau kepo?" jawabku sambil tertawa.
Aku sengaja mengarahkan kamera ponselku ke arah Dicta dan Sammy yang sedari tadi sibuk bermesraan tanpa menghiraukanku.
"Dictaaaa Sammy!" sapa Mami G heboh membuat dua sejoli itu kaget dan aku tertawa terbahak melihat reaksi mereka.
"Kamu lagi bicarain kerjaan kamu ke Sammy ya Gab? Mama denger kamu pindah tugas di kantor? Lebih baik emang di Kantor aja dulu selama hamil, mama juga lebih tenang." ujar mamaku dengan tenang, yang memang beda karakter sama duo Mami heboh itu.
"Iya maaa, maafin aku ya udah lupa ngabarin, soalnya kemarin ada beberapa urusan bikin aku lupa." sahutku to the point meminta maaf lebih dahulu sebelum mereka ngomel.
"Kami udah maafin kok yang penting sekarang kamu sehat, jaga baby yang bener jangan serampangan lagi. Ngomong juga ditata Gab jangan ngasal." petuah mamiku yang tumben lurus-lurus aja ga da becandaannya.
"Mi, kok tumben ga ngeledek, ga becanda? Aku kangen Mami yang biasa lho." kataku sendu karena sungguh aneh melihat tingkah Mami yang terlalu sweet gituh.
__ADS_1
Mata mamiku terlihat berkaca-kaca seperti menahan haru, "Mami juga kangen becandaan sama kamu tapi Mami takut kelepasan sompral nanti cucu Mami malu punya nenek ga da manis-manisnya. Jomplang banget sama mama kamu yang kalem gini, nanti kalau anak kamu ga suka sama neneknya kan bahaya Gab."
Hah........ aku sungguh terpana oleh alasan yang sungguh diluar dugaan sangat amat absurd dilontarkan mamiku. Begitu pula mami D dan mamaku melongo mendengar penuturannya.
"Mami ih ngasal aja kalau keluarin argumen, mana ada teori begitu, udah deh jangan aneh-aneh mi. Jadi diri Mami sendiri aja!" seruku kesal disambut tawa terbahak dari Dicta.
"Mami G nih, ngaco aja mikirnya. Justru Gaby butuh kesomplakan kita mi, biar masa kehamilannya lancar jaya penuh bahagia."
"Mba kaya ga pernah didik anak aja deh, liat Gaby mama kandungnya kalem nah dia nurunnya Mba itu kan karena hasil didikan. Stanley dididik sama mama ya nurunnya sikap kalem mamanya. Ga mungkin kan Gaby bakal didik cucu kita buat ga suka sama Oma-omanya. Gaby yang hamidun kenapa jadi mba yang sensitive sih?" ucap Mami D yang ga tahan liat komplotan somplaknya jadi kalem.
"Bersikap seperti apa adanya Mami ajalah jadi diri sendiri kan lebih enak mi, aku juga ga pernah banding-bandingin Mami dan Mama karena emang beda karakter bukan sesuatu yang harus diperbandingkan. Mami ni kena sindrom apa si sampe mikirnya kejauhan, jadi bingung berasa aku yang emaknya deh!"
"Iya iya.... maafin Mami ya Gab, Mami cuma terlalu antusias kamu hamil jadi mikirnya ngelantur."
"Nah gitu donk jeng, kalau kamu berubah kasian jeng D ga da temennya." kata mamaku dengan style kalemnya tapi justru bikin ketawa karena kata-katanya jleb banget hehehe.
----------------------
Tring........
Gaby : bikin Iqbal dan Tina temuin kamu di Cafe rooftop dekat Rumah Sakit, terserah kamu mau kasih alasan apa sama mereka. Tahan mereka disana sampai saya datang!
***Rina : kapan mba?
Gaby : besok pas jam makan siang.
Rina : oke***
Tring...... tring...... tring.....
Terlihat nama Stanley muncul diponselku, "Halo Hon, baru aja mau bales Whatsapp eh kamunya udah ga sabar telepon. Kenapa Hon?"
"Gapapa yank, aku udah di jalan pulang nih, seharian meeting ga sempet video call kamu yank. Kamu ada pengen dibawain sesuatu ga?"
"Gak Hon, aku mau kamu cepet pulang aja. Kalau pengen sesuatu nanti delivery ajah. Kamu ati-ati ya, nyetirnya ngebut tapi safety ya! Byee muach....!" kataku seraya memutuskan pembicaraan.
__ADS_1
Kulirik satu manusia yang masih tertidur disebelahku, kutepuk tepuk lembut pipinya, "Dict..... bangun..... Stan udah hampir sampai, ayo cuci muka kita tunggu dia di meja makan."
Perlahan tapi pasti Dicta membuka mata melakukan ritual peregangan tubuh, kemudian membuka lebar matanya dan beranjak ke kamar mandi guna mencuci muka. Sedangkan aku menyiapkan baju untuk ganti suamiku.
Tring........
Arizka : ikan udah masuk seseran Gab, sampai ketemu di rencana selanjutnya.
Aku tertawa membaca pesan Arizka, yah aku menugaskan Arizka untuk membuat Iqbal tertarik padanya dan rupanya tidak butuh waktu lama semua rencananya untuk menaklukkan Iqbal berhasil.
***Gaby : kamu harus ikut waktu dia ketemu sama Rina ya Ka, aku juga akan ada disana, kamu rekam apapun yang nanti mereka atau aku bicarakan.
Arizka : oke. Siap komandan***!
--------------------
"Halo yank, kalian makan dulu aja kalau udah lapar, aku mandi sebentar." kata suamiku yang baru masuk rumah, menciumku sekilas dan langsung ke kamar untuk membersihkan tubuh.
Aku dan Dicta hanya geleng kepala melihat tingkah Stanley yang emang lempeng dan terkesan dingin, hangatnya cuma saat olah raga ranjang aja dia hehehehe.
Sambil menunggu Stanley, aku menceritakan semua rencanaku padanya karena besok dia tidak dapat menemaniku.
"Pokoknya inget kudu hati-hati, mulut jangan terlalu tajam sebab orang yang sensi sama lu bisa langsung bangkit hawa jahatnya ketika kepancing omongan lu yang tajem bak mata pisau. Bisa jadi Tina ini dendam kesumat bukan karena tindakan kejam lu tapi justru karena kata-kata pedas lu." katanya yang bermaksud menasehati tetapi lebih cocok menuduh kurasakan.
"Lu nasehatin apa nuduh si Dict?" semburku kesal.
"Yee dua duanyalah, abis gue heran ada orang sampe dendam banget ama lu tuh awalnya diapain coba!" balasnya tenang tak peduli kekesalanku.
"Nah itu dia makanya gue minta mereka kumpul besok biar bisa gue tanya sebenernya apa yang mereka permasalahkan. Dan bener juga si kata-kata lu tadi Dict pasti antara dua itu Kan kenapa orang bisa sebwnci itu sama orang lain."
"Tapi sampe sekarang gue masih ga inget perlakuan atau kata apa yang bisa jadi alasan dia dendam kesumat ama gue. Secara ya Dict lakinya kan msh sedarah karena hasil dari hubungan terlarang kakek gue, dan keluarga udah kasih sejumlah harta buat bekal mereka hidup, masa masih dendam aja."
"Pikiran lu tuh terlalu cetek, naif, namanya orang kalau udah ga suka itu secuil apapun pergerakan kita walau ga berhubungan sama dia, bisa bikin mereka hilang kendali yang ujungnya membahayakan nyawa kita."
"Pokoknya lu kudu hati-hati dan lebih tricky dari mereka." tegasnya yang tentu saja aku setujui.
__ADS_1