Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 83


__ADS_3

Rasanya sungguh lega setelah mengetahui kebenaran tentang suamiku dan wanita dalam foto tersebut. Dari awal memang aku tak yakin ada bau perselingkuhan, tapi balik wanita mana yang ga naik darah melihat foto suaminya merangkul wanita lain sedang hamil pula.


Tring.....


No Name : "Hai dokter sombong, sebentar lagi kamu akan benar benar kehilangan suamimu!"


Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar, mencoba menenangkan hatiku agar tidak meledak marah.


Kuamati foto yang dikirimkannya, Stanley berdiri di samping ranjang pasien dan memberikan amplop coklat kepada wanita tersebut. Sedangkan wanita itu posisinya berbaring setengah duduk tangan kanan memegang amplop dan tangan kirinya berada diatas tangan kanan Stanley.


Ternyata walau sudah tahu bahwa itu hanya trick permainan tetap saja aku merasa cemburu. Aku memijat kepalaku sendiri yang mendadak pusing.


"Gab, kenapa? Pusing?" tanya Dicta kemudian mendekatiku sambil membawa tensimeter, ya ibu hamil memang resiko tekanan darah meningkat atau justru drop.


"Aman 120/80 kok, mikir apa sampe sakit kepala?" tanya Dicta lagi yang kubalas dengan menyodorkan ponselku.


Dicta hanya menghela nafas, kemudian memforward foto tersebut ke Stanley, aku hanya diam.


Tok..... Tok .... Tok.....


"Non ada tamu namanya non Arizka." seru Bibi dari balik pintu kamarku.


Dicta membuka pintu kamarku,


"Tolong suruh langsung ke atas aja Bi!"


Selang beberapa saat tampak Arizka di depan pintu kamarku, "Halo gue ganggu ga nih?"


Dicta mempersilahkan Arizka masuk dan kemudian menutup pintu.


"Lu kenapa Gab, pucet banget?" tanya Arizka setelah duduk dipinggir ranjangku.

__ADS_1


"Gaby lagi hamil muda say, jadi lemes bawaannya." jawab Dicta mewakiliku yang membuat aku akhirnya tersenyum geli.


Arizka ikut tersenyum kemudian memelukku, "Congratulation Gab, sehat terus ya jangan banyak pikiran. Everything will be okay!"


Aku menatap Arizka, mataku melempar tanya apakah dia tahu kejadian yang menimpa Stanley?


"Lu tahu masalah mereka?" tanya Dicta spontan mewakili pikiranku.


"Ya tahulah, gue kemarin ikut nimbrung waktu Stan nemuin Alex di apartement Alva. Makanya gue kesini mau liat kondisi BuMil yang katanya jadi super cemburuan." jawabnya sambil tersenyum meledekku.


"Iya Ka bener bener diluar dugaan, Gaby yang seperti malaikat tak bersayap sekarang kelihatan kaya manusia biasa aja." balas Dicta meledekku juga.


"Hahaha berarti gue beneran masih manusia kan, makanya gue bilang juga apa kan kalian aja terlalu ngefans ama gue sampe kasih julukan malaikat. Mana ada manusia dengan berjuta kesalahan kaya gue disamain dengan malaikat."


"Gue masih normal ada rasa marah, kesal, kadang iri juga benci, semua masih gue rasain bahkan juga cemburu. Kalau ga da cemburu berarti ga besar cintanya, iyakan?" jawabku sambil tertawa senang bukannya marah karena diledek.


"Iya semua yang lu bilang adalah benar asal jangan cemburu buta aja jadi kaya kemarin kan drama bertangisan!" tegas Dicta membuatku sedikit malu mengingat peristiwa saat kehilangan akal sehat kemarin.


Kami tertawa melihat Dicta melotot sambil dahi mengernyit berusaha memahami arah pembicaraan kami.


"What?? Lu liat mereka live? Astaganaga Gaby hobby banget mergokin Alva ya lu." katanya sembari ketawa terbahak bahak.


"Kalian ga mau nikah aja Ka, dosa tahu kaya gitu." seloroh Dicta tanpa merasa bersalah membuatku kaget.


Kulirikan mataku ke Arizka yang terlihat biasa aja, "Lu kalau ngomong diayak dulu ngapa Dict, jangan to the point gitu banget, untung Arizka ga gampang sakit hati kalau yang lain bisa bikin huru hara tau."


Sadar akan teguranku Dicta langsung meminta maaf pada Arizka.


"Tenang aja Dict, omongan lu bener kok ga seharusnya gue hidup kaya gitu, gue justru bersyukur kalian mau jadi temen gue yang selalu bicara A didepan dan A pula dibelakang, artinya konsisten dan jujur ga munafik."


"Kalau aja dulu gue punya temen yang baik kayaknya ga mungkin terjerumus ke pergaulan bebas." ujarnya dengan sendu.

__ADS_1


"Yang penting sekarang lu udah tobat Ka dan jangan sampe tergoda lagi main sama temen temen yang justru senang kalau lu terjerumus."


"Iya Dict, gue dan Alva udah komitmen untuk memperbaiki semua toh dulunya dia adalah orang pertama buat gue dan sebaliknya. By the way gue kesini bawa dua kabar bahagia." katanya sambil menggantung kalimat membuat aku dan Dicta penasaran.


"Dih jangan bikin penasaran deh, tinggal cerita aja si pake ngegantung!" dengus Dicta yang membuat kami tertawa, dia emang manusia super ga sabaran.


"Pertama gue sama Alva udah bicara pernikahan dan yang kedua, rencana Iqbal sudah mulai terang benderang." cetusnya sumringah.


"Buat yang pertama congratulation ya Ka, akhirnya pulang juga lu ke kandang yang seharusnya." cetusku sambil memeluknya.


"Ye... lu kira gue merpati pake pulang kandang, thank you ya Gab karena mau ngajarin gue jadi manusia baik." balasnya memelukku.


"Dan buat brita kedua itu kayaknya bukan brita baik deh Ka, gue rasa tu bapak Ada kaitannya ama kecelakaan yang melibatkan Stanley."


"Eh iya bener juga ya, sebab hari pas gue nguntit dia, si Iqbal itu teleponan sama seseorang yang dia panggil Kak. Dia bilang kesel karena terornya ga berhasil bahkan justru karena teror itu gue jadi kerja di kantor yang sama. Terus dia bilang janji balasin dendam kakaknya itu." kata Arizka menerangkan hari dimana dia menguping pembicaraan Iqbal.


Aku berpikir keras tentang kemungkinan siapa saja yang menaruh dendam padaku dan Stanley, rasanya aku ga pernah punya musuh dan masalah yang mungkin membuat orang sampe harus balas dendam sama aku. Statusku sebagai Zein juga ga da yang tahu, lalu siapa sebenarnya Iqbal dan kakaknya itu.


Semoga tim Alex bisa bekerja maksimal biar masalah ini cepat selesai. Dan si pengganggu segera lenyap, rasanya tetap ga rela kalau ada yang manfaatin kebaikan suami kita.


Ceklek........


Terdengar suara pintu terbuka dan tampak wajah tampan suamiku yang kaget melihat para penghuni kamarku hahaha.


"Eh Ada kalian, sorry ganggu ya, lagi pada ngapain?" ujarnya sambil mendekatiku yang masih duduk bersender di kepala ranjang.


"Dict, yang punya malaikat udah dateng yuk kita keluar aja, Satpam kan tugasnya jaga depan." kelakar Arizka sambil mengajak Dicta beranjak dari kamarku.


"Eh tunggu dulu, jangan pulang ya kalian, kita makan malem bareng ya. Sam sama Alva suruh kesini aja biar satpamnya banyak jadi nyonya tenang rumah aman hahaha."


"Okelah sip! Kita turun dulu ya say." jawab Dicta sambil pergi berlalu dan menutup pintu kamarku.

__ADS_1


__ADS_2