
Honey :
Yank beneran ga usah jemput?
Emang Sammy udah bilang mau anter?
My Love :
Iya beneran, ni aku udah dimobil.
Hon, pesenin Sushi Tei ya pengen banget.
Makasih.
Honey :
Iya Oke👌
Sammy menoleh padaku yang sibuk bermain ponsel, "Gab, ada beda ga udah nikah sama belum?"
Aku mengernyitkan dahi berpikir sejenak, "Ehm.... ga da beda sih Sam, cuma udah relax aja karena bisa nuntasin hasrat. Paham kan salah satu cara biar ga stress ya harus lepasin hasrat."
"I see, pantes tenaga lu makin super aja ya tadi bisa ngelayanin tumpukan pasien. Terus
kalian ga rencana pindah ke rumah aja?"
"Hahahaha..... jujur tadi gue ga da rasa capek sama sekali mungkin karena udah libur seminggu ya jadi lebih greng rasanya nanganin pasien. Ga sadar juga tadi gue bisa outstanding gituh, tiap perawat teriak ada pasien masuk secara impulsif kaki gue ngelangkah."
"Ehm kalau masalah rumah, rencana si saat udah ada anak kita bakal pindah ke rumah Mami karena disana kompleks lengkap dengan sarana pendidikan yang baik. Bakal kebayang kedepannya Stanley akan makin sibuk jadi solusinya tinggal di area yang komplit jadi ga worried buat tumbuh kembang anak walau ga 24 jam bareng kita."
"Udah well prepared banget ya kalian, salut dari dulu emang lu selalu matang dalam berpikir. Lu pasti ga percaya kalau hal hal kaya gitu hampir ga pernah gue ama Dicta bicarain." ujar Sammy dengan santai tapi cukup mengagetkanku.
"Kenapa ga pernah dibahas? Penting lho hal hal yang terbilang remeh tapi urgent kaya gini." kataku dengan antusias.
"Ga tau juga ya mungkin karena merasa waktu buat bonding sangat terbatas jadi tiap ketemu bawaannya udah pengen luapin kangen aja lama lama kepola deh, tiap bareng lebih banyak aksi nakal daripada pembicaraan serius hahaha."
"Iya si sekarang tanggung jawab lu juga udah berkali lipat dari sebelumnya jadi wajar si kaya dari alam bawah sadar kita ada alarm yang ngingetin untuk ga ngomongin hal hal serius gitu ya."
"Yup, makanya pas gue suruh Dicta masuk Zein Hospital dan dia mau ya udah sekalian aja gue ajak nikah biar kita benar benar jadi satu kesatuan yang solid baik dari segi tuntutan batin maupun tuntutan kerja." terangnya seraya tertawa.
Aku ikut tertawa melihat Sammy yang makin hari makin sibuk sampe kami berduapun jarang sekali ngobrol. Disisi lain aku bahagia bakal bekerja satu tempat dengan Dicta, udah kbayang gimana serunya. Dulu kami memutuskan berbeda tempat dinas supaya selalu ada bahan cerita yang dapat kami ceritakan bersama. Kisah dari tempat yang berbeda tentunya akan lebih seru.
Triing......Tring...... Tring.....
__ADS_1
"Sam itu panjang umur banget si Dicta lagi diomongin eh telpon. Diangkat ga nih? Gue yang angkat ya Sam, boleh?" kataku dengan rencana jahil di otakku.
Aku ambil sapu tangan dan kubungkus ponsel Sammy, kubuat buat suaraku biar tak dapat dikenali.
"Halo selamat sore jelang malam, mohon maaf saya bicara dengan siapa?"
Hening tak ada sautan dari seberang sana, "Halo..... haloo.... halooo........"
Tut..... Tut..... Tut....... sambungan dimatikan sepihak.
"Eh gila lu Gab, ntar dia ngamuk dikira gue selingkuh lho."
Tring...... tring...... tring...... kembali ponsel Sammy berbunyi dan kali ini berupa video call, "Yah ga bisa ngerjain Sam, dia Video Call!"
Kuangkat panggilan Dicta, tapi betapa kagetnya aku karena yang muncul dilayar adalah wajah suamiku, dan terdengar suara tawa terbahak bahak dibelakangnya.
Sammy melongok penasaran ke layar ponselnya, "Lhoo my Bro ngapain video call gue? Kangen banget ya? Eh itu Dicta ngapain di apartemen lu Stan?"
Ish aku sangat kesal tanpa sadar aku merengut karena ga berhasil mengerjai justru aku yang kaget sendiri.
"Kenapa merengut say? Gagal ya mau jahilin gue?" seru Dicta semangat meledekku.
Dengan impulsif dirangkulnya Stanley menghadap ke kamera, "Cemburu ga say? Pinjem dulu ya sepupuku yang ditukar."
"Hon, ya ampun kamu comel banget si kalau Dicta tau bisa jadi rahasia umum lho nanti." kataku sengaja ingin menjahili Dicta.
Benar saja layar ponsel sudah berganti wajah judesnya, "Lu pikir gue ember bocor! Rahasia Stanley aja gue pegang erat erat kayak balon yang takut meledak!"
Wakakaka aku tertawa terbahak, sempet sempetnya anak sableng campurin ama lagu Balonku Ada Lima.
"Lu kira balon ijo kali ah dipegang erat erat ujungnya ga sengaja lu bocorin juga kan say."
Wakakakaka terdengar tawanya membahana, "Ya maaf kan ada batas expired date-nya juga say, ibarat perut mules tapi lagi meeting kan kita tahan tu tapi beberapa saat kemudian mules lagi udah kudu dibuang kan, gitu deh proses kebocoran mulut eike."
Dasar dokter sableng, makiku dalam hati ada aja analogi yang dipake. Wajah Stanley kembali menghiasai kayar ponsel, dengan jahil kuhadapkan ke arah Sammy sehingga yang dilihat suamiku adalah Sammy hihihi.
"Oh Shit, kenapa muka Sammy yang kamu kasih aku yank, aku kan lagi kangen kamu." teriaknya kesal.
"Woii emang kenapa kalau muka gue? Yaelah bucin banget si lu Stan, geli gue." balas Sammy tak kalah keras.
"Maklumlah Sam, manten baru gue ga bisa jauh dari Gaby." gombalnya yang membuat Sammy pura pura mual.
"Huek..... huek..... dasar lu belajar darimana gombal gitu? Kata Gaby ga da bedanya dia sebelum dan sesudah jadi isteri lu, wah jangan jangan main lu ga memuaskan ya Stan!" ledeknya sambil tertawa terbahak bahak yang langsung kupukuli lengannya.
__ADS_1
Kulihat wajah Stanley berubah keruh, deuh bakal ngamuk nih kayaknya, "Hon, jangan percaya Sammy, aku ga bilang kaya gitu lho."
"Ya udah aku matiin dulu ya Hon, udah di parkiran nih mau turun dulu ya muach muach!" aku menghela nafas dalam lagi sensitif banget kayaknya suamiku.
Sammy malah tertawa senang melihat Stanley kesal, "Tenang ga berani dia ngambek lama sama lu Gab, stop aja jatahnya pasti ngrengek minta baikan."
-----------------------
Sesampainya di pintu apartemen, kumasukkan password, aku dan Sammy langsung masuk.
Kulihat Dicta sedang duduk diruang TV menonton drakor kesukaannya, "Yank langsung mandi dulu ya sambil tunggu rendangnya mateng. Terus lu Gab disuruh langsung ke kamar, Stan nunggu disana."
Kami berdua mengangguk dan Sammy langsung masuk ke toilet sedangkan aku naik ke kamarku.
Ceklek........ aku masuk kamar dan kukunci pintunya, aku segera menanggalkan semua pakaianku dan memasukkannya ke keranjang kemudian langsung masuk kamar mandi.
Aku berniat membersihkan tubuhku dulu setelahnya sedikit berenang di mini pool kami.
Selesai mandi, aku mendengar suara kecipak di minipool, pasti Stanley yang lagi berenang. Aku menghampirinya, melihat kedatanganku dia langsung memelukku. Aku bisa merasakan dia masih marah karena ledekan Sammy tadi, agak heran sebenarnya kok mendadak suamiku ini super sensitive.
Kamipun kembali bermesraan di minipool, dengan lembut Stanley mulai menciumiku , bibir kami saling bertautan. Stanley melepas bibirku memberi kesempatan untukku menarik nafas, beralih mengecupi leherku, memberi sensasi dahsyat yang selalu kurasakan berapa kalipun dia menyentuhku.
"Yank, lanjut ya, mau ga?" bisiknya dengan suara parau yang jelas sedang menahan hasratnya. Aku mengangguk, ga mungkin menolak sebab kebutuhan itu adalah hak dan kewajiban suami isteri. Siapapun yang sedang ingin boleh meminta dan pasangannya berkewajiban memenuhi.
Kami segera mengeringkan badan, memutuskan melanjutkan aktifitas di sofa sebagai variasi. Stanley mendudukanku di pangkuannya dengan posisi berhadapan dengannya.
Dengan nakal bibirnya kembali menciumiku, memberikan sensasi sensasi yang membuat darahku mendesir. Sentuhan dan ciuman yang makin intens membuatku mendesah kenikmatan. Tak berhenti disitu tangannyapun menjalar kemana mana mengikuti keinginan dan hasratnya. Aku hanya pasrah menikmati setiap permainan yang diberikannya.
"Yank, sekarang giliranmu memasukiku ya, kita coba model baru. Aku pengen rasain kaya di film itu." bisiknya syahdu ditelingaku membuatku makin menginginkannya.
Aku mengingat film yang dia maksud dan mencoba melakukan sesuai petunjuknya, dengan berlahan kugerakkan tubuhku sesuai petunjuknya. Ya kami memang berjanji untuk selalu mengkomunikasikan tentang apa yang aku dan dia inginkan saat proses penyaluran hasrat.
Sampai pada pembicaraan gerakan apa yang aku suka dan tidak suka begitupun apa yang dia suka dan tidak. Membicarakan hal hal seperti itu pada pasangan suami isteri bukan sesuatu yang tabu, justru sangat penting dilakukan. Proses penyaluran hasrat jika dilakukan dengan saling memberi dan menerima yang sesuai menjadi salah satu kunci suksesnya sebuah Rumah Tangga.
Suara desahanku semakin mengeras sejalan dengan pencapaian yang kami dapatkan, sampai akhirnya kami sama sama berpelukan dangan lemas.
Stanley mengecup bibirku singkat Dan menempelkan dahi kami sambil berbisik, "Makasih yank, kamu selalu hebat, kapan kapan kita coba yang lain ya."
------------------------
Wuih enak ya Stanley ngambek bukan potong jatah malah dikasih bonusan hehehehe.
Salah satu tips agar Rumah Tangga harmonis yaitu kebutuhan s**sual dari suami dan isteri harus dipenuhi dengan benar dan nikmat. Sedangkan ukuran benar dan nikmatnya sangat invidual maka agar sinkron ya dilakukan komunikasi.
__ADS_1
Lagi lagi kata komunikasi jadi kunci sukses. Ya emang benenr banget tuh makanya Author selalu mengkomunikasikan keinginannya ke readers nih. Tak kenal lelah dan pantang menyerah mengingatkan dan memohon tinggalkan jejak anda semua, berupa like vote and comments serta rate 5 🌟 ya buat author. Makasih 😘🙏💪