
*Ruang ICU*
Tampak Stanley menggenggam tangan Gaby, sedangkan matanya menatap nanar pada alat-alat medis yang menunjukkan angka-angka bahwa kondisi pasien stabil.
Harapan besar sungguh tersemat di hati Stanley, setidaknya walaupun mereka kehilangan calon anak, tetapi dirinya tidak harus kehilangan isteri tercinta, itu artinya masih banyak kesempatan memiliki anak kembali.
"Yank, please bangun yuk, temani aku seperti biasa. Aku butuh kamu yank, kamu itu separuh jiwaku, tanpamu hidupku tak berarti."
"Jangan pergi dariku, aku janji akan rubah semua kebiasaan burukku, akan lebih sayang dan cinta lagi sama kamu. Kamu juga boleh hukum aku karena leled mengatasi masalah ini sehingga kamu yang jadi korban yank."
"Tapi kumohon bangunlah, karena kalau mau menghukumku maka kamu butuh energi kamu butuh bangun dari tidur ini yank. Kamu juga pasti kangen kan sama aku, sama orangtua kita, sama Dicta, Sammy, Arizka dan juga Alvaro."
Kembali air mata mengalir deras dari kedua mata Stanley, separuh jiwanya sedang bertarung dengan maut, tarik ulur dengan dewa kematianpun tak terhindarkan.
"Stan, lu lihat angka-angka vital itu smua stabil jadi anggep aja Gaby lagi tidur butuh istirahat karena dia lelah. Lu harus kuat karena dia butuh lu. Lebih baik lu sekarang pulang biar gue yang jaga Gaby, lu butuh tidur Stan." kata Sammy dengan tegas melihat Stanley sangat memaksakan diri.
Dengan berat hati Stanley menuruti kata-kata Sammy, untuk pulang dan beristirahat, berharap besok pagi kondisi Gaby sudah sadar.
---------------------
*Stanley POV*
Badanku rasanya remuk redam tetapi hati dan pikiranku tak mengijinkan mata ini terlelap barang sebentar. Dalam posisi rebahan, kupaksa mataku terpejam dan kuarahkan pikiranku untuk mendaraskan berbagai doa dan permohonan untuk kepulihan isteriku pada Sang Pencipta.
Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sangat ringan, melayang tak berdaya seperti tersedot masuk ke ruang waktu dimensi lain. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan, sesuatu yang dapat menahanku tidak tersedot makin dalam.
Berkali-kali aku menemukan pegangan tetapi berkali itu juga tubuhku kembali terlempar sehingga peganganku terlepas. Akhirnya Aku pasrah mengikuti arus yang entah akan membawaku berhenti dimana.
Kupejamkan mataku kuat-kuat merasakan derasnya arus yang menyedot tubuhku sampai-sampai tubuhku terlempar. Aku merasa seperti jatuh ditempat yang sedikit lembab tapi cukup lembut kurasakan di kulitku.
Perlahan kubuka mataku, silau menerpa mataku sesaat. Setelah dapat menyesuaikan diri dengan cahaya yang sangat terang tersebut, aku memfokuskan pandanganku. Dengan liar kusapukan mataku ke sekeliling tempat dimana aku terjatuh.
Di satu titik di depanku terlihat seorang wanita dan anak perempuan cantik sedang duduk. Tampak mereka menikmati moment piknik ibu dan anak dengan gembira. Tanpa sadar kakiku melangkah ke arah mereka, telingaku mulai mendengar suara tawa riang ibu dan anak itu.
Dengan jarak yang semakin dekat, aku tertegun karena ternyata yang kulihat adalah Gaby. Tapi siapa anak kecil itu, batinku. Aku semakin melangkah mendekati mereka.
"Yank, bagaimana bisa kamu berada disini? Dan..... iii... iniii siapa?" kataku sambil menunjuk anak kecil itu.
Mereka berdua menoleh padaku, tetapi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Aku semakin bingung dengan kondisi ini, buku kuduk di tengkukku meremang seketika, suasana ditempat itu sungguh tak dapat kugambarksn dengan kata-kata.
"Mom, lihat daddy sudah menjemputmu, kembalilah Mom, waktukupun sudah habis untuk menemanimu." kata sicantik kecil itu kepada Gaby seraya menunjuk padaku.
Aku seperti tersengat listrik mendengar ucapannya. Seketika suatu kesadaran menerpaku, dia memanggilku daddy, yaa berarti dia adalah anakku.
"Ka.... kamu.... babyku...."
"No dad jangan mendekat, waktuku sudah habis. Pergilah jaga mommy bersamamu. I love u, bye........"
Bersamaan dengan kata perpisahan itu tiba-tiba cahaya sangat terang melingkupi babyku dan menghilang. Begitupun denganku yang kembali tersedot dalam pusaran angin deras. Dalam kepanikan secepat kilat kutarik tangan Gaby agar ikut bersamaku.
Kupeluk erat tubuhnya, kudekap dengan kekuatan penuh agar tak terlepas dariku saat kami melewati pusaran itu. Matanya tertutup tapi anehnya senyum tak lepas dari bibirnya. Entah mengapa segala ketakutanku hilang saat Gaby berada didekapanku.
Akhirnya akupun ikut menutup mata menikmati arus kencang yang entah akan membawa kami kemana. Satu-satunya cara melalui semua ini hanya dengan berpasrah dan menikmati apapun yang akan kami lalui.
Pusaran itu masih terus menyedot dan mengombang-ambingkan tubuh kami. Kurasakan pelukanku dan Gaby makin mengerat, sampai pada saat sebuah dorongan menghempaskan badanku kepada suatu bidang yang keras dan dingin.
"Bbrruuhhghhhhh......!!!" suara jatuhnya tubuhku yang menghantam sesuatu yang dingin dan keras.
Lamat-lamat kubuka mataku yang seperti sangat enggan untuk terbuka. Setelah berhasil membuka kedua mataku, kuedarkan pandanganku ke sekitar tempatku berpijak.
Hasil pengamatan menunjukkan, posisi tubuhku yang terduduk di lantai kamar dekat ranjang. Hah..... sepertinya aku bermimpi, mimpi yang sungguh nyata dan membuatku jatuh tersungkur dari ranjangku.
Kucoba untuk mengingat semua peristiwa yang sudah kualami tadi. Aku dan Gaby, kami bertemu baby, dan dia mengatakan untuk membawa Gaby. Oh... apakah.......
Tring....... Tring...... Tring......
Kucari kemana arah bunyinya ponselku, ternyata Sammy yang meneleponku.
"Halo Sam ...." sapaku dengan suara serak khas bangun tidur.
Diseberang sana Sammy mengabarkan bahwa Gaby sudah sadar, dan semua tanda vital tubuhnya merespon dengan baik.
Mendengar kabar gembira tersebut tak ayal akupun langsung bersujud dan berdoa, bersyukur dan berterima kasih karena anugerahNya atas kesembuhan Gaby.
Bergegas aku membersihkan diri dan bersiap pergi menyambangi isteri tercintaku. Tak henti-hentinya hatiku memuji nama Tuhan atas kebahagiaan ini.
--------------------
*Author POV*
Setelah setengah perjalanan Stanley melihat banyak kerumunan orang, lalu lintas stagnan seperti ada kecelakaan pikirnya. Karena rasa penasaran, Stanley turun dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan sana. Sejenak dia melupakan bahwa dirinya hendak ke Zein Hospital.
"Pak, bisa tolong ini pak bayi korban kecelakaan." kata seorang lelaki yang menggendong balita mungkin kisaran tiga atau empat tahun usianya.
Balita itu menangis kencang dalam gendongan lelaki yang menatapnya dengan tatapan memohon.
Tanpa banyak kata, segera Stanley menggiring mereka memasuki mobilnya. Dan segera menjalankan mobil menuju Zein Hospital.
"Pak, korban yang lain bagaimana, apakah sudah dipanggilkan ambulance?" tanya Stan pada lelaki tersebut.
"Sudah Pak, orang tua anak ini yang diangkut ambulance sepertinya dari Zein Hospital tadi saya sempat melihat logonya. Kami takut anak ini tidak dapat bertahan maka meminta pertolongan bapak."
__ADS_1
"Iya Pak gapapa, sudah kewajiban sesama manusia harus saling tolong. Kebetulan juga memang tujuan saya ke Zein pak." kata Stanley.
Dari perbincangan dengan lelaki tersebut, akhirnya terkuak kalau kecelakaan itu disebabkan karena ada truck pembawa ban-ban mobil, yang mana ban-ban bawaan mereka menggelundung ke jalan raya dan mengenai mobil dari orang tua si anak tersebut mengakibatkan pandangan sang driver terganggu dan menabrak kendaraan lain maka terjadilah tabrakan beberapa mobil.
Sesampainya di Zein, Stanley Dan lelaki tersebut yang ternyata namanya Adi, segera membawa balita tersebut ke IGD. Tak lupa Stanley memberikan nomer teleponnya agar si penolong dapat menghubunginya jika sewaktu - waktu membutuhkan bantuan.
Stanley melangkahkan kakinya ke ruang ICU dimana Gaby dirawat. Bahagia sekaligus bimbang tiba-tiba melanda hatinya. Bahagia tentu saja karena isterinya sudah lepas dari maut dan bimbang karena Gaby harus menghadapi kehilangan calon anak kami.
"Hai yank, kamu udah bangun?" sapa Stanley langsung menempatkan diri di kursi sebelah ranjang pasien.
Gaby tersenyum manis mengangguk menanggapi pertanyaan Stanley. Berdua mereka saling bergenggaman tangan memberi kekuatan satu sama lain. Tanpa sadar kedua mata mereka sudah memerah meneteskan air mata kesedihan yang tak tersampaikan.
Ya Gaby sudah tahu apa yang terjadi pada kandungannya tanpa Stanley harus menjelaskan, sebagai dokter dia sungguh paham resiko jatuh dari ketinggian saat hamil muda.
Maka yang mereka perlukan sungguh hanya saling menerima keadaan yang terjadi. Stanley beranjak duduk di pinggir ranjang Gaby dan memeluk isteri tercintanya ini dengan lembut dan erat.
"Yank, kita ikhlasin baby ya, nanti kita bisa program lagi yank kalau kamu sudah siap. Yang terpenting buatku sekarang kondisi kamu pulih tanpa kurang suatu apapun."
Kembali Gaby hanya mengangguk tanpa melepas dekapannya dari tubuh Stanley.
"Aku minta maaf karena mengijinkanmu menangani masalah Tina dan Iqbal sendirian sampai kamu lupa tidak melibatkanku. Aku ga marah yank, tapi jika di masa depan kita menghadapi tantangan serupa ini lagi, atau tantangan apapun mohon berbagilah sama aku. Jangan lupa menyertakanku dalam setiap rencana kamu yank!"
Stanley mengucapkan semua kalimatnya dengan lembut tapi sungguh sarat makna. Ya peristiwa kemarin memang Gaby tidak menceritakan rencananya menemui mereka di Cafe itu.
Kembali Gaby mengangguk tapi kali ini dengan raungan kesedihan, dia memang merasa bersalah karena tidak dapat menjaga diri sendiri. Kalau saja dia memberitahu Stanley mungkin semua bisa dihindari.
Seperti kata pepatah bahwa nasi sudah menjadi bubur tidak mungkin kembali menjadi nasi. Penyesalan sudah pasti hadirnya belakangan sebab kalau di depan maka tak mungkin ada peristiwa mengenaskan yang terjadi.
Perasaan campur aduk seperti ini yang sedang mengikis kepercayaan diri Gaby, membuat semua yang mendengar tangisannya akan merasa horor dan mencekam.
"Menangislah yank, keluarkan semua tekanan dalam hatimu, tetapi ingat setelah ini kamu harus pulih ya. Janji Kita hadapi semua sama-sama." ucapan penyemangat dari suami tercinta menjadi asupan energi positif yang dibutuhkan Gaby saat ini.
"Kamu inget kan aku pernah bilang kalau Kita ga bakal tahu apa yang bakal Kita hadapi bersama dalam pernikahan kita. Namun satu yang bisa aku janjikan yaitu kita bakal hadapi apapun itu berdua. Karena aku dan kamu sudah menjadi kita!" tanpa kenal lelah Stanley terus mengucapkan kalimat dukungan positif untuk menguatkan hati Gaby.
Dengan sabar Stanley memeluk mengelus dan terus membisikkan baik motivasi maupun doa-doa untuk menemani Gaby meluapkan beban hati melalui tangisannya.
"Kita sudah pernah mengalami berbagai tantangan yank, membuktikan bahwa kita Makhluk Tuhan yang kuat. Kita ga hilang akal kewarasan saat diterpa masalah."
"Hidup ga bisa selalu manis karena kita ditempa oleh berbagai rasa ada sedih, pahit, getir, bahagia, sesal tetapi kita sungguh diperbolehkan untuk memilih rasa mana yang mau kita ciptakan."
"Aku memilih untuk terus merumuskan resep bahagia bersama kamu yank, maka kamu harus kuat segera pulih sebab Rumah kita butuh dua tiang penyangga, aku ga kuat kalau harus sendiri."
Gaby masih hanya terus mengangguk dan menangis terguguk, mendengar semua perkataan suami tercintanya. Perlahan isak tangisnya mulai reda dan makin menghilang.
Suara Gaby memecah kesunyian, "Hon, maafkan aku, tindakan gegabahku mencelakai baby dan hampir membuat Kita berpisah!"
"Ehm..... mba Tina......"
Entah mengapa air mata Gaby kembali mengalir setelah mendengar kalau Tina tidak terselamatkan.
"Dia juga sebenarnya harnya korban Hon, korban suami yang tidak bertanggung jawab. Sayangnya Tina memilih mencoba menghancurkan kebahagiaan orang lain supaya nasibku sama dengan nasibnya." kata Gaby masih berurai air mata.
"Aku dapat merasakan kehancuran hatinya Hon, bahkan aku sudah meluruskan bahwa bukan aku yang seharusnya dia benci karena semua yang terjadi padanya murni rencana dari suaminya, tapi dia memilih tetap membalaskan padaku."
"Kamu bisa maafin dia kan yank, biar mba Tina dilapangkan kuburnya?"
"Iyaa Hon, aku maafin dia!"
"Good girl, kamu emang terbaik yank." kata Stanley tertawa sambil mengusak-usak rambut Gaby.
Sepasang suami isteri itu sungguh menikmati moment "gendu-gendu rasa" atau bahasa kerennya bertukar pikiran, menceritakan semua yang terjadi selama Gaby koma.
Hidup memang penuh warna seperti pelangi, bahkan agar dapat melihat pelangi maka kita butuh hujan. Begitupun dengan hidup diibaratkan hujan adalah cobaan atau tantangan hidup dan pelangi adalah reward atau hadiah karena kita mampu menghadapi tantangan hidup tersebut.
Maka dari itu permasalahan hidup datang untuk dihadapi diselesaikan, bukan untuk dihindari maupun ditelantarkan.
-----------------------
*Apartement*
Seminggu telah berlalu sejak Gaby pulih kesadarannya, saat ini mereka mengadakan makan malam bersama kedua orang tua Gaby dan Stanley, pasangan Dicta Sammy dan tak ketinggalan Alvaro Arizka.
Kesedihan dan penyesalan sudah mereka kubur dalam-dalam bersama tangisan mereka saat itu. Saat ini hanya ada canda tawa memenuhi ruang keluarga mereka.
"Gab, ntar abis tiga bulan langsung buka pabrik lagi ya Gab, gass pol okeh? Kamu anak kuat jadi pasti ga da kata trauma-trauma kan?" tanya Mami G seperti biasa tanpa filter.
"Gaklah mi, ga da trauma cuma kemarin sempet sedih aja karena sebenarnya kejadian itu bisa dihalau kalau saja aku ga bandel. Trauma mah gak atuh, lagian produksinya juga enak kok Mi hahaha, kasian suami tercinta kalau aku sampai trauma bisa jadi sale pisang barang dia wakakakaka!" balas Gaby lebih ngasal dari Mami G tadi.
Tak ayal semua tertawa terbahak kecuali Stanley yang merasa sedikit terhina karena barang berharganya disebut sale pisang.
"Yank, nyebelin banget si pilihan katanya ga da yang lain apah? Barang yang selalu bikin kamu merem melek disamain ama sale pisang!" protes Stanley seraya mencubit mesra pipi Gaby.
Yang dicubit justru membalas dengan kecupan mesra tepat dibibir Stanley, membuat hatinya langsung berbunga-bunga.
"Woii ga bisa nunggu dikamar aja gitu ciumannya? Atau lu mau nantangin gue ama Sammy lagi kaya dulu?" seloroh Dicta sambil tertawa mengingatkan kejadian dahulu saat mereka berlomba ciuman.
"Hah, maksudnya gimana Dict? Kalian lomba ciuman gituh?" tanya Arizka sambil memperagakan gerakan berciuman dengan kedua tangannya.
"Hahahaha lu bener Ka, dan Dicta ama Sammy ternyata jago banget gituh, gimana kalau lomba lagi tapi lawannya Arizka sama Alvaro? Berani ga Dict nantang masternya?" ceplos Gaby yang tentu saja langsung mendapat pelototan dari Alvaro saking malunya.
"Yank, astaganaga yang bener aja ngadain lomba begitu menodai apartement kita yank." tolak Stanley tidak setuju.
__ADS_1
"Stan, kamu udah jadi suami jangan BaPer-an ah, ga da salahnya udah pada dewasa juga, jangan kaya kanebo kering deh Stan kamu garink tahu, mama pengen list lomba kaya gitu Stan!" titah mama Stanley menegur anaknya dengan ekspresi lempengnya.
Seketika semua kembali tertawa tak terkecuali Stanley sendiri, karena mamanya ternyata berusaha melawak tetapi dengan ekspresi tetap lempeng, sungguh kontradiktif hehehe.
Sungguh suasana seperti ini yang sangat dirindukan dalam keluarga. Canda tawa hangat, saling bergandengan saat tertimpa masalah dan saling mendukung untuk bangkit. Keluarga seperti inilah yang setiap orang rindukan, selalu berkomunikasi dengan terbuka, saling menolong saat kesusahan dan yang pasti tidak ada dusta diantara mereka.
----------------
*Stanley POV*
Sungguh berkumpul dengan keluarga memang menjadi obat mujarab untuk segala kesedihan yang kami rasakan. Aku sungguh bersyukur dengan semua garis takdir yang Tuhan tuliskan untukku dan Gaby.
Akhirnya acara makan malam keluarga tadi selesai juga dan aku segera memboyong isteriku naik ke ranjang kami. Ranjang yang dapat kuartikan sebagai bahtera cinta kami, karena ditempat inilah kami saling memasuki menjadi satu kesatuan.
"Yank, terima kasih untuk mau kembali hidup bersamaku. Seperti yang sudah sering kubilang yank, aku tak dapat menjanjikan kebahagiaan yang sempurna untuk kita, tapi aku memberi garansi bahwa aku akan selalu ada disetiap nafas hidupmu."
"Jangan pernah bimbang berbagi apapun bersamaku yank, susah senang sedih gembira bakal kita arungi bersama." ucapku sembari mulai mengecup seluruh wajahnya dengan gemas.
"Hon, sebelum aku sadar dari tidurku, aku bermimpi sedang menemani baby bermain disebuah taman yang indah, terus tiba-tiba kamu datang. Abis kamu dateng eh baby pergi sambil bilang untuk kamu jagain aku gitu." ucapan Gaby membuatku tertegun mengingat mimpi yang seperti sangat nyata dan itu juga tepat sebelum dia sadar.
"Terus abis baby pergi kita kaya kesedot puaaran angin gitu Hon, tapi ga tau kenapa aku malah merasa nyaman jadi aku senyum aja gituh, kamu meluk aku kenceng banget. Kita kaya keputer di pusaran angin tornado gitu Hon, lama sampe akhirnya kita kelempar dan waktu aku buka mata ternyata aku di ranjang Zein Hospital." lanjut Gaby mengakhiri petualangan mimpi yang ternyata sama sama kami alamai.
"Yank, percaya ga percaya aku juga mimpi yang sama persis kayak kamu. Bedanya pas kelempar ternyata aku bangun bangun dilantai badanku sakit semua kebanting dari ranjang." kataku sambil tertawa mengingat kejadian itu.
"Kita ikhlasin baby ya yank, kamu liat kan wajahnya cantik mirip aku banget dan dia senyum terus, itu tandanya dia bahagia di Surga." kataku sambil kembali memeluk dan mengecupi sskuruh wajahnya.
Dengan cepat Gaby justru melu**t bibirku yang tentu saja kubalas dengan sepenuh jiwa. Kami saling mendekap dan berbagi saliva seakan-akan sudah bertahun lamanya tak bersua. Aku sekuat tenaga menahan gejolak yang muncul dan sudah menegang.
"Hon, ga usah ditahan lepasin aja biar aku tuntasin pake cara yang lain, kasian kamu kalau harus puasa lama."
Kata-kata yang diucapkan dengan lancar bagai oase dipadang gurun buatku yang memang sedang ingin. Aku tersenyum sekali lagi bersyukur memiliki isteri yang pandai hampir dibanyak hal.
Maka kupasrahkan diriku kedalam tangan Gaby, menikmati setiap gerakan dan rangsangan yang diberikan pada area sensitive tubuhku.
Aaarrrrgggghhhhh...... sungguh sensasi yang luar biasa mengingat Gaby belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kupejamkan mata merasakan sensasi panas nan nikmat yang sulit untuk kutahan lebih lama lagi.
"Aaahh.... yank, faster yank..... aku aaahhh......"
Segera kupeluk tubuh isteriku untuk meredam kenikmatan yang sungguh menggelora ini, kubisikkan kata cinta dan terima kasih terus menerus karena keahlian tangan dan mulutnya yang begitu memabukkan.
"Hon, bersihin badanku, aku ga kuat ke kamar mandi, super ngantuk." pinta Gaby yang memang terlihat sudah ngantuk berat.
Dengan sigap aku menyekah badannya dan menggantikan piyamanya dengan yang bersih. Setelahnya akupun membersihkan diri sendiri dan berbaring disebelahnya sambil memeluknya.
Kulafalkan doa-doa syukur dan permohonan agar Tuhan mengijinkan kami menjaga kebersamaan kami hingga maut memisahkan. Karena seperti kata lagu, harta yang paling berharga adalah keluarga.
Kumohonkan pada Tuhan untuk dapat melengkapi keluarga kecilku dengan malaikat-malaikat kecil yang baru sebagai ganti babyku yang telah tiada. Tak lupa pula kupinta kekuatan daripadaNya untuk dapat menjaga keluarga kecilku. Beribu terima kasih kupanjatkan kepada Tuhanku.
*Harta yang paling berharga
adalah keluarga
Istana yang paling indah
adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna
adalah keluarga
Mutiara tiada tara
adalah keluarga
Selamat pagi emak
Selamat pagi abah
Mentari hari ini
Berseri indah
Terima kasih emak
Terima kasih abah
Untuk tampil perkasa
Bagi kami putra putri
yang siap berbakti
(Ost. Keluarga Cemara*)
******THE END******
Terima kasih untuk readers semua yang selalu mendukung dan mengapresiasi karyaku hingga saat ini.
Segala maaf kuucapkan apabila ada salah kata atau segala yang tidak sesuai dengan ekspektasi readers semua 🙏🙏😘
see you .........
__ADS_1