Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 59


__ADS_3

*Alva POV*


Sore ini aku harus bertemu Gaby dan menyelesaikan semuanya, aku ingin meminta maaf karena memojokkan Gaby untuk sesuatu yang sebenarnya bukan salah dia.


"Lex, gue pergi dulu ya, nanti Dicta mau kesini periksa Nadine. Buat makan Nadine suruh pesen aja lewat Gofood ya."


Alex menatapku, "Mau kemana lu jangan Lupa pake masker!"


"Gue mau me apartement Gaby Dan Stanley, ada urusan sama mereka."


"Waow Gaby udah bareng ama Stan, sampein salam gue ya Alv. Dan lu belajar relain ikhlasin Gaby biar dia bahagia ga kebeban sama lu." ceplos Alex lugas tanpa basa basi bikin hatiku serasa kena silet perihhh.


---------------------------


Ting..... Tong....... Ting....... Tong.......


Ceklek........Akhirnya setelah beberapa Kali memencet Bel pintu apartement Gaby terbuka juga. Wajah Stanley muncul di balik pintu Dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan aku masuk.


Aku melangkah masuk mengikuti si empunya apartment, mataku otomatis beredar melihat sekeliling apartement mewah ini. Yah Stanley lebih dari cukup untuk kasih Gaby apartement mewah, Zein Group termasuk perusahaan raksasa di Indonesia saat ini.


Hatiku menggelenyar perih rasanya tapi disisi lain juga turut senang karena Gaby mendapat lelaki yang baik, at least jauh lebih baik dariku.


"Duduk Alv, Gaby pulang agak lambat tadi jadi belum beres Mandi. Gimana kabar lu, Nadine dan bayi kalian?" pertanyaan Stanley membuyarkan pikiranku.


"Nadine dan bayinya baik. Gue kemarin sempet berselisih paham sama Gaby jadi gue pengen lurusin sekarang."


Stanley mengangguk tanda mengerti, "I see Alv, lu santai aja anggep gue temen lu juga. Lu mau makan apa malem ini, kebetulan gue mau Gofood aja gapapa kan?"


"Bukan gue ga bolehin lu bawa Gaby cuma seharian dia udah di Rumah Sakit rasanya kasian kalau mesti keluar Rumah lagi Alv." ujar Stanley menjelaskan alasan dia ga ijinin Gaby keluar.


"Gue paham kok situasinya Stan, santai aja. Pizza enak Kali ya sambil ngobrol? Atau Chinese food? Gue pemakan segala kok ga da pantangan." ujarku sambil memasang senyum setulus Dan semanis mungkin.


Ga mungkinkan gue jutekin Stan secara dia ga da salah juga ama gue.


"Aku mau Pizza ama kuotie Hon. Kamu suka juga kan Alv?" sesaat Aku terpana melihat pujaan hatiku entah sejak kapan sudah Ada di depanku.


Gaby memanggil Stanley dengan panggilan khusus yang ga pernah sekalipun dia lakuin selama jadi pacarku. Wajah Gaby juga terlibat lebih glowing berseri, dia juga terlihat Makin fresh.


Huft ternyata Kaya gini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Apa kayak gini juga yang Nadine rasain karena aku mencintai orang lain........ Apa Gaby juga bakal tetep ninggalin aku kalau Aku ga kepergok sama Nadine saat Stanley hadir kembali, atau malah bertahan disampingku? Huh.....kenapa susah sekali melenyapkan bayangan seandainya seandainya, erangku dalam hati frustrasi.


"Alv...... Alv....... Alv......" aku tersentak mendengar namaku dipanggil dengan keras, rupanya Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.


Kulihat Stanley menatapku intens, membuatku jadi salah tingkah, "Lu setuju ga kalau Kita pesen pizza Dan uborampenya sama kuotie?"


"Eh.... gue.. gue suka kok, ya udah itu aja. Sorry gue tadi tetiba inget sesuatu berkaitan sama jadwal kerjaan jadi ga fokus."


"It's Oke Alv, kondisi Kaya gini jadwal show kamu off smua ya terpaksa. Tapi tetep bisa kan show live IG atau FB gitu?" ujar Gaby berusaha menenangkanku agar ga canggung.


"Iya, Aku sama musisi lain live bareng lewat IG dirumah masing masing. Kalau kamu mau nanti Aku share jadwalnya Gab."


"Tentu Aku mau Alv, bosen juga terutama kalau abis Dinas cuma bisa diem dirumah. Ehm... Alv gimana Nadine kondisinya? Sorry ya Aku belum jenguk."

__ADS_1


"Dia baik kok, masih bedrest aja si, Dicta setiap Hari dateng ngecek kondisinya. Dan setelah cukup umur aku akan tetap ngelakuin Test DNA sama janin itu."


Gaby mengangguk, "Gapapa kok Alv wajar si liat track record Nadine gitu. Bukan Aku sok suci ya tapi ya begitulah emang satu Kali perempuan bikin affair maka namanya tercoreng seumur hidup, beda sama laki. Harus Nadine sendiri yang berusaha merubah perspective orang tentang dirinya."


Dalam hati Aku berkata sebanyak apapun Nadine mengubah dirinya tetaplah Tak akan sama dengan berlian seperti Gaby sebab dia memang hanyalah imitasi. Dan sialnya justru imitasilah yang Aku dapatkan.


Aku menghela nafas Dan mengedarkan pandanganku kesegala penjuru ruangan, Aku baru sadar ternyata kami hanya berdua, entah sejak kapan Stanley beranjak.


"Stanley pamit ke kamar, karena Ada meeting online, tadi kamu lagi ngelamun jadi ga sadar pas dipamitin." terang Gaby seakan mengerti apa yang Aku pertanyakan.


Aku mengangguk, menimbang timbang memulai percakapan dari sisi mana. Duh kenapa jadi canggung gini sih, sudah banget ngendaliin rasa pengen meluk Dan cium dia.


"Ehm...... Gab, Aku minta maaf karena udah mojokin kamu pas di telpon kemarin, aku paham maksudmu untuk Aku mencoba lepas dari bayang bayangmu. Tapi Aku benar benar lemah tanpa kamu."


"Kamu pasti kesal Karena Aku egois banget, tapi emang gitu yang Aku rasakan. Sepertinya Aku sangat insecure tanpa kehadiranmu. Aku takut menghadapi Hari esok Gab. Sejelek itukah takdirku hingga Hari berakhir bersama dia."


"Aku tahu aku salah karena lemah sama gairahku sendiri, tapi apakah ga da cara lain selain harus nikahin Nadine? Salah satu tujuanku bertemu denganmu juga karena ini, aku ingin mendapat advice dari kamu Gab."


"Ada Cara lain untuk bertanggung jawab tetapi semua atas kesepakatan kalian berdua. Hanya saja kalau Aku lihat dari sisi Nadine justru dia bahagia Karena kehamilannya sedikit banyak bisa menjadi senjata untuk bersama kamu."


"Nah karena aku melihat aorot Mata mendamba dari Nadine maka aku bilang untuk kamu lebih mengenal dia siapa tahu kamu bisa memberi hati padanya Alv."


"Akan sangat kejam rasanya ketika baby benar benar terbukti anakmu dan kamu ga mau ngakuin atau ga mau bertanggung jawab. Maaf Alv kamu sendiri ngerasain kan gimana sedihnya tumbuh tanpa kasih sayang orang tua."


Seketika hatiku seperti tersengat listrik tega sekali kalau aku tak mau bersama anakku sendiri. Tapi bagaimana kalau hasil test menunjukkan dia bukan anakku? Mendadak kepalaku rasanya pusing, tanpa sadar tanganku memijat pelipis untuk mengurangi sedikit rasa pusing.


"Ehm... kalau ternyata anak itu bukan anakku, apa yang harus Aku lakukan?"


Aku mengangguk senang karena dari ibrolan dengannya aku bisa tau bahwa Gaby tulus menyayangiku walau dalam bentuk lain. Memang benar prioritas dari Cinta seharusnya merelakan orang yang Kita cintai untuk bahagia walau bukan dengan kita.


Kugenggang tangannya, kutatap dalam manik matanya, "Sungguhkah kamu bahagia bersama Stanley, jauh lebih bahagia daripada saat bersamaku?"


"No... bukan..... aku bukan ingin memaksamu kembali Gab, aku hanya butuh memastikan kamu bahagia." buru buru kulanjutkan perkataanku saat melihat keresahan di matanya.


"Aku harus memastikan apakah Stanley mencintaimu sebesar cintaku, Dan tidak akan meninggalkanmu lagi!"


-------------------------


*Stanley POV*


Aku meninggalkan Gaby Dan Alva memonitor mereka dari CCTV. Terlihat sekali Alva begitu mencintai Gaby, terlepas dari kesalahan apapun yang dia lakukan tapi Aku dapat melihat cinta yang besar dimatanya.


Ada sedikit rasa bersalah karena secara tidak langsung Aku berbahagia diatas penderitaan Alva, tapi jujur saat Dicta bilang Alva selalu menemani hari hari Gaby aku berniat mundue dan merelakannya. Hanya saja takdir berkata lain ternyata Alv tersandung masalah dan Gaby melepaskan diri darinya dan memberi kesempatan untukku kembali.


Tiba tiba dilayar terlihat posisi Alva sudah disebelah Gaby Dan dia menggenggam erat tangannya , matanya intens menatap dalam manik mata Gaby.


Aku berusaha menetralkan emosiku yang memuncak, yah cemburu itu yang kurasakan sebab Gaby juga fine aja digenggang Dan dipandangi seperti itu.


Tenang Stan, dia udah pilih kamu ga bakal berpaling, kataku menenangkan hatiku sendiri. Lalu kudengar Alva menanyakan Hal yang membuat rasa cemburuku makin susah dikendalikan, "Sungguhkah kamu bahagia bersama Stanley, jauh lebih bahagia daripada saat bersamaku?"


"No... bukan..... aku bukan ingin memaksamu kembali Gab, aku hanya butuh memastikan kamu bahagia."

__ADS_1


"Aku harus memastikan apakah Stanley mencintaimu sebesar cintaku, Dan tidak akan meninggalkanmu lagi!"


Aku berdeham sedikit keras untuk menyadarkan mereka akan kehadiranku eeehheemmmm...... eehhheemmm ........


"Gue cinta sama dia lebih dari gue cinta diri sendiri, itu makanya gue bisa lepas dari jerat Arizka. Lu pasti tau dengan jelas kan Alv apa aja rencana Arizka ke gue? Atau jangan jangan justru itu ide dari lu supaya dengan mudah bisa dapetin Gaby?"


Aku melihat Alva Dan Gaby terkejut akan kehadiranku, ehm.... oh tidak sepertinya mereka terkejut atas informasi yang Aku ungkapkan. Tanpa dijelaskan Aku paham dari raut wajahnya bahwa dugaanku benar. Kulihat Gaby masih terlongong menatap Alva tidak percaya.


"Mak.... maksud nya gimana Stan? Alva Dan Arizka? Alv tolong kamu jelasin?"


"Lu atau gue yang mau jelasin ke Gaby?" kataku tegas seraya duduk disebelah Gaby, mengambil tangan yang tadi digenggam Alva dan mengecupinya menghilangkan jejak Alva.


Gaby hanya diam saja melihat aksiku, dengan pandangan mata tetap mengarah pada Alva mencoba mencari penjelasan dari kata kataku.


"Kalau kebahagiaan Gaby yang lu takutkan, gue kasih garansi dia bakal jauh lebih bahagia sama gue daripada sama elu. Tau kenapa Alv?"


"Karena orang disekitar gue semua terima Gaby, sayang sama dia, beda sama orang orang disekitar lu yang nganggep Gaby sok suci dan bikin lu sempet berubah dari kebiasaan mabok dan free sex. Dan satu hal lagi Alv, gue dah selidiki salah satu dari temen band lu bahkan sempet kirim ancaman WA ke Gaby."


"Gaby sayang sama lu Alv walau bukan seperti yang lu mau, tapi dia tulus sama lu bahkan kalau saat itu dia ga melepaskan diri dari lu maka gue bersedia berlutut demi lu mau lepasin Gaby buat jadi istri gue.


"Sebesar itu cinta gue ke dia so lu ga usah khawatir." kataku mengakhiri kuliah singkatku seraya mencium pipi Gaby.


Alva tersenyum kecut melihat aksiku, bodo amat pikirku tegas, Aku harus to the point agar semua selesai Dan ga membayangi kehidupan pernikahanku dengan Gaby nantinya.


"Hon, bisa ga kamu tinggalin aku sama Alva dulu, Aku masih bingung dengan alur yang kalian bicarain."


Aku menggeleng Tanda tidak setuju, "Yank, Aku menerima Alva sebagai teman karena kamu menyayangi dia layaknya sahabat. Maka Kita buka semua disini tanpa Ada yang ditutupi supaya saat 3 minggu kedepan Kita nikah semua udah clear."


Aku sengaja memberi kejutan berikutnya bahwa Aku Dan Gaby akan menikah 3 minggu kedepan, memang Gaby ga tau sebab ini semua Aku Dan orang tua kami yang atur.


kulihat Alva Dan Gaby sama sama melongo, Dan aku berusaha menahan tawaku dengan berdeham deham.


"Ja.... jadi kalian sudah akan menikah? Secepat itu? Owh.... sorry maksudku apakah tidak terlalu dipaksakan dalam suasana begini?"


Aku hanya tersenyum Dan mengangkat bahuku acuh, "Untuk niat baik jangan ditunda tunda!"


"Jadi lu atau gue yang mau duluan cerita Alv?" desakku.


Alva menghela nafas dalam, "Oke oke gue bakal ngaku............


------------------------------


What??? Ehm...... ternyata Alva terlibat sama Arizka......... gimana ceritanya ya?


Ikutin terus ya biar tau Ada hubungan apa Alva Dan Arizka ini.


Ga bosan bosan author mengingatkan untuk readers mau rela ikhlas kasih jejak like vote dan comments ya, sedih sebenarnya liat viewer meningkat pesat tapi ga berbanding lurus dengan jejaknya hehehe.


Tapi apapun itu Author tetap akan terus berusaha membuat cerita semaksimal mungkin dan up hasilnya sesering mungkin. Terima Kasih🙏😘💪


Untuk readers yang Hari ini mulai menunaikan ibadah puasa, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa semoga selalu dalam lindunganNya Dan diberi keberkahan. Amin

__ADS_1



__ADS_2