Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 27


__ADS_3

*Stanley POV*


Toktoktok........ toktoktok....... toktoktoktok


Aarrgghhhhhhh siapa si yang ketok pintu barbar banget, aku yang masih ngantuk terbangun karena suara ketokan super brisik. Lamat lamat kusadari ternyata aku tidur dipangkuan Gaby, dan yah..... kasihan Gaby tertidur dalam posisi duduk, pasti pegel semua badannya.


Pelan pelan aku bangun dan turun dari ranjang dengan hati hati agar tidak mengganggu Gaby dan melangkah perlahan membuka pintu.


"Sutsstttt, Gaby masih tidur lu jangan brisik Dict." kataku langsung mendorong Dicta menjauh dari pintu saat kulihat dia hendak buka mulut memanggil Gaby. Spontan Dicta membekap mulutnya sendiri hehehe.


"Kalian ngapain sampe jam gini masih tidur?"


"Mau tau aja lo urusan orang dewasa!" sahutku sambil beranjak masuk kembali.


"Eitttssss minggir, gue mau masuk!" dengan gesit Dicta menahan pintu dan mendorongku masuk sebelum aku menututpnya.


Dicta melongo, "Lhoo itu kok dia posisinya gitu si Stan, ga sakit leher apa nanti? Wah lu apain sampe dia takut tidur baringan?"


"Ish, gue tu cinta sama dia ga mungkin gue rusak sebelum sah tau!" kataku sambil menoyor kepala Dicta biar ga Omes aja.


Dicta tertawa, bahagia banget udah bikin kesel. "Ciyeee yang masih cinta tapi ga berani nembak."


"Bukan ga berani Nyet, semalem udah mau ngajak romantisan ngomong serius gue, tapi spupu lu ini tetiba bikin mood gue anjlok ke dasar sumur. Ambyar hati gue Dict."


"Emang Gaby ngapain?"

__ADS_1


Aku yang sudah terbiasa terbuka dengan Dicta dengan lancar menceritakan betapa kesalnya aku karena Gaby akan membayar barang yang sudah kubayarkan untuknya. Harga diriku sebagai lelaki tergores (ciyee lebay) intinya aku tersinggung sama ucapannya, yang pada akhirnya bikin aku emosi dan lupa mau ngajak romantisan hehehe.


"Yah dasar lu makhluk introvert, cuma diomong gitu doank kesinggung. Gaby kan ngerasa belum jadi apa apa lu, dia bahkan mantan lu masa masih mau trima trima aja barang yang lu beliin. Dia juga bukan gadis matre kan, ya dia juga punya harga diri Stan makanya dia ngomong baik baik sama lu. Kalau gue yang jadi lu malah seneng berarti dia mau deket sama lu ga modus. Stan posisi lu saat ini tu sangat menguntungkan buat dapetin hatinya lagi so jangan ambekan kaya bocah SD ah." jelas Dicta panjang lebar dan seperti biasa menohok ulu hati banget alias nylekit.


"Owh ya trus hubungannya sama Gaby tidurnya posisi duduk apa ya?" selidik Dicta masih curiga.


"Gue juga ga inget persis, yang gue inget Gaby rebahan trus gue ikut rebahin juga kepala gue dipaha dia, trus gue minta dia elusin rambut abis itu gue ga inget lagi." ceritaku jujur.


"Mungkin Gaby liat tidur gue udah pewe jari dia ga mau rubah posisi takut gue kebangun lagi kali ya." ujarku merasa bersalah.


"Ya udah kita bangunin aja yuk, udah jam8 nih masa mau ndekem aja di villa. Kita cari tempat pijat yang family yuk Stan, biar seger badan rileks karena dipijet." usul Dicta yabg langsung aku setujui


Aku menepuk nepuk pipi Gaby, berusaha membangunkannya. Tampak Gaby mulai merespon matanya berlahan tebuka, dan setelah benar benar bangun dia tampak terkejut dan menjerit seperti mengkhawatirkan sesuatu. Dia melihat ke seluruh badannya, dan tersenyum lega setelah menemukan dirinya masih berpakaian lengkap.


"Stan, kitaa..... aman kan?" tanyanya polos membuatku tertawa.


"Gab, kamu ga sakit leher? Punggung?" tanya Dicta yang sesaat tadi aku abaikan karena aku lupa keberadaannya hahahaha.


Gaby menggeleng menyatakan diri baik baik saja.


"Dict, kamu semalem sama Sammy gimana?" tanya Gaby yang dibalas Dicta dengan seringai jahil. Heran sejak sama Sammy, dia brubah banget dari cewek dingin jadi cewek jahil super cerewet gitu. Huft emang Cinta mengubah segala sesuatu ya.


"Kenapa nanya gitu? Kamu nyesel ya ternyata ga diapa apain Stanley?" jawabnya tengil yang tentu saja dihadiahi lemparan bantal oleh Gaby, wajah Gaby makin merona.


"Haduh Gab kamu tu kaya sama siapa aja si digodain gitu aja malu. Kamu ama Stan tu dah kenal bertaun taun kan bahkan sebelum pacaran kalian dah temen duluan. Ga perlu malu ngadepin Stanley, kalo mau tinggal bilang aja Gab!" jelas Dicta panjang lebar yang makin bikin Gaby kesal skaligus malu. Sedangkan si biang rusuh ketawa ngakak happy banget.

__ADS_1


"Heii kalian stop it, jangan berantem lagi. Gab kamu buruan mandi, aku mandi di kamar Sammy aja jadi bisa cepet ga perlu gantian." kataku lembut sebagai wasit menghentikan perdebatan mereka.


*******************


Sesuai permintaanku kemarin, maka disinilah kami sekarang, sarapan kupat tahu pasar Lembang hehehe. Walau sudah agak siangan tapi udaranya masih sangat sejuk, suasana inilah yang selalu bikin kangen. Tiba-tiba ponselku berdering, terlihat nama dokter Ellen yang menghubungiku.


"Haloo dokter Ellen, selamat pagi, ada yang bisa saya banting eh bantu dok?" sapaku mengajaknya becanda. Terdengar tawa sumringah dokter Ellen disebrang sana, lagi seneng hatinya.


"Thanks ya Gab, kejailanmu ninggalin aku sama Indra kemarin bener-bener menghasilkan buah limpah, eh maksdku menghasilkan kebaikan buat hubungan kami."


"Owh syukurlah Dok, inget dok nikah dulu baru berbuah ya jangan sampe khilaf walau biasanya yang bikin khilaf khilaf itu lebih enak ahahahaha."


"Owh ya kamu kok ambil jadwal jaga malem lagi kenapa Gab? kita kan jadi susah ketemunya." rajuk dokter Ellen. Aku membayangkan tampang dokter Ellen yang judes lagi merajuk manja, ga cocok banget hehehehe.


"Kita ketemunya subuh aja dok jelang ganti shif, atau kita telponan kan bisa dok. Jaman udah canggih jangan kaya orang susah ." jawabku sambil terkekeh.


Setelah puas ngobrol ngalor ngidul yang tetap aja temanya adalah dokter Indra maka Ellen memutuskan panggilannya. Dicta menghampiriku dan memberi sebungkus lumpia basah kesukaanku. Kami ber4 berjalan jalan, melihat lihat dan membeli jajanan yang suka. Liburan seperti ini walau kesannya sederhana tapi maknanya sungguh besar untukku.


Peningkatan pelayanan kesehatan yang digalakkan oleh pemerintah sudah pasti memberi tekanan baru kepada para petugas medis yang menjadi bagian dari tujuan itu sendiri. Kesehatan adalah hak dari semua lapisan masyarakat maka petugas medis termasuk di dalamnya adalah dokter adalah menjadi point penting dalam meningkatkan pelayanan itu. Dalam mencapai upaya tersebut maka berbagai hal dilakukan, terutama performa dokter sebagai tenaga medis utama, buatku pribadi hal ini cukup menambah beban pikiran, maka saat ada waktu off seperti sekarang aku sangat menikmatinya.


"Gab, abis ini kita ke tempat Spa yuk, aku butuh merilekskan badan nich." ajak Stanley.


Aku hanya mengangguk, tidak menolak saat dia menggandeng tanganku berjalan kembali ke villa. Aku tersenyum memandang tangan kami yang bertautan sambil meresapi perasaan apakah yang aku punya untuk dia. Jujur ada kecemasan dalam diriku kalau kalau aku sampai salah mengenali perasaanku lagi.


Mungkin ini berkaitan sama tuduhan si pengirim video kemarin bahwa aku hanya memanfaatkan Alva sebagai pelarian rasa sakitku ditinggal Stanley. Lagi lagi aku putuskan untuk egois aja menikmati apa yang ada di hadapanku, perhatian Stan, rasa sayangnya dan tentu saja kebersamaan kami.

__ADS_1


******To Be Continue******


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘


__ADS_2