
*The Sanctus Uluwatu*
Acara resepsi Brandon dan Clara dilaksanakan dengan romantic dinner yang dihadiri keluarga dan sahabat dekat saja. Para bridesmaids dan groomsmen sudah bersiap siap untuk menyambut kedatangan mempelai. Tema busana untuk romantic dinner ini adalah coctail gown dengan warna pinksoft campur baby blue.
Mataku berkelana ke arah para pemain musik, tentu saja untuk melihat keberadaan Alva. Tampak Alva dengan jas hitamnya sedang bersiap untuk lagu pengiring penganten.
Ehemm hem ...... suara deheman tiba-tiba mengagetkanku, "Masih ada rasa ya lu?"
Duh spupuku yang satu ini emang perlu ditatar biar ga ganggu kesenangan orang. Dicta emang sangat jeli dan detail saat melihat sesuatu.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
__ADS_1
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
You look so beautiful in white, yeah yeah
Na na na na
So beautiful in white…
Terdengar alunan lagu yang sangat romantis mengiri langkah Brandon dan Clara menuju singgasananya. Kemudian kami para pengiring saling gandengan tangan dan melangkah dibelakang mempelai. Sesampainya di meja yang diperuntukkan khusus untuk para pendamping, Stanley menarik kursi untukku duduk, kemudian dia duduk disebelahku. Diseberangku duduk Dicta dengan Sam pasangannya. Dia mengedip-kedipkan mata meledekku. Stanley yang melihat kelakuan Dicta hanya menggelengkan kepala dan berucap, "Stop ngledekin Gaby ya, jangan bikin dia jadi canggung bersama gue!"
"Urusin aja noh si Sammy, jangan lu tolak mulu Dict, sakit hati abang gue tau!"
"What??? Jadi Sammy.........?" aku kaget karena dokter Sammy partnerku di IGD ternyata selama ini menceritakan cewek yang keras hati tapi sangat dicintainya adalah Dicta sepupuku sendiri.
"Hehehe iya Gab, you are right, emang dia itu si cewek keras hati yang slama ini gue ceritain." terangnya sambil terkekeh sepeeti membaca jalan pikiranku.
"Awas ya kalian berani ngledekin gue, tek uleg satu satu ntar jadi rujak!" ketusnya yang membuat kami makin tertawa karena ekapresinya sangat lucu.
"Gab, ngomong - ngomong si Alva ga Baper tu liat elu sharian pasangan ama Stanley? Dari di greja tadi gue liat dia natap elu terus gitu."
Pertanyaan Sammy yang tiba-tiba membuat aku tercekat dan tanpa sadar mengalihkan pandang ke panggung tempat Alva bernyanyi, dan benar saja mata kami bertemu. Aku terpaku melihat ada gurat sendu dimatanya, hatikupun kembali merasakan gelenyar rindu campur sakit. Huft... desahku tanpa sadar seolah ingin melonggarkan dadaku yang sesak.
"Lagi gantung hubungan mereka Sam, macem jemuran aje tuh." sela Dicta menjawab sekaligus becanda untuk meredakan suasana yang sedikit awkward.
"Hehehe..... biasalah Sam namanya hubungan kan ada belokannya ada tanjakannya ga mulus terus kaya aspalan jalan tol, nah gue lagi fase kluar tol trus nglewatin jalan rusak lubang-oubang gitu deh." jawabku seraya berkelakar.
"Owh gitu, sorry gue ga tau, abis lu kaya biasa aja padahal waktu masalah sama Stanley dulu elu mau curhat sama gue bahkan pake peluk-peluk gue segala sambil nangis!" kata Sammy dengan polosnya.
Sontak pernyataannya membuat 2 makhluk lain disekitar kami langsung terperangah meminta penjelasan lanjutan. Duh Sammy ni ya mulutnya dari dulu ga bisa kontrol, manusia ga peka, runtukku dalam hati, bikin malu aja nih anak.
Ehem ehem....... deheman Stanley tanda meminta penjelasan kujawab dengan senyum manis semanis madu, bodo amat diabetes diabetes lu Stan, batinku.
"Ga butuh gula akunya, ga sah senyum gitu kemanisan, hayo cerita gimana bisa nangisnya ke Sammy? Kenapa ga curhat ke Dicta aja si yang sama sama cewek!"
Hah....... kok ujungnya kaya cemburu gitu ya hahahaha........
"Kenapa Stan, lu cemburu? Sah aja dunk Gaby mau curhat ama gue, salah sendiri lu pergi!" ujar Sammy tanpa tedeng aling-aling membahas masa lalu yang bahkan kedua tokoh serta figurannya masih lengkap berkumpul disini.
__ADS_1
Disisi lain Dicta ketawa puas sampe air matanya keluar, bener bener ni spupu ga tau adat bukannya bantu membungkam Sammy.
"Terus terus apalagi Sam? Coba lu ceritain lengkap masa itu, seinget gue ga pernah dia cerita kalo penangkal kesedihannya itu elu Sam pake nangis bombay di dada lu lagi. Gue ingetnya ya si Alva itu doank yang hibur dia."
Dicta makin gencar mengompori Sammy agar menceritakan semuanya. Sedangkan Stanley makin penasaran dan aku makin malu dan merasa terpojok.
"Udahlah itukan udah lama udah 4 tahun lalupun. Mending sekarang bahas lu ama Sammy ajalah Dict, jadi apa jawaban lu atas ketulusan Sammy ini?" ujarku seraya memelas dan mengalihkan topik, berharap Dicta luluh.
"Lah justru itu mumpung lu ama Stanley ada disini, kita selesaiin urusan masa lalu itu. Gue mau jawab kalo Sammy udah ceritain semua versi dia apalagi bagian yang pake pelukan dan nangis bombay. Gue ga mau ntar terbayang bayang sama adegan lu dan Sammy itu!" terangnya panjang lebar sembari meledek dan menyindir.
Multitasking banget ya sekali nyerocos tujuannya tercapai semua.
Akupun akhirnya menyerah dan memberi ijin Sammy menceritakan versi dia. Lagipula kejadian itu memang bukan aib yang perlu ditutup rapat juga.
****Sammy POV****
Dicta sangat penasaran cerita dibagian Gaby menangis di dadaku, hahahaha apakah dia cemburu, batinku.
"Oke, gue bakal cerita versi gue dan karena udh 4th lalu jadi ya seinget gue aja ya."
Kulihat Dicta dan Stanley semangat sekali ingin mendengar ceritaku membuat aku tertawa tatapan mata mereka seperti anak kecil yang merindukan kedatangan ayahnya yang abis pergi jauh, ngarep banget gitu istilahnya.
Lalu akupun mulai menceritakan kisah dimana Stanley memutuskan meninggalkan Gaby karena tanggung jawab yang harus diselesaikannya.
Saat itu aku dan Gaby sudah menjadi partner kerja di IGD, awalnya aku tidak tahu kalau hari itu Stanley meninggalkannya, karena walaupun kami spupu tapi keputusan itu tidak melibatkan keluarga besar kami jadi aku benar-benar tak tahu kalau kepergiannya karena akan menikahi korban kecelakaan itu.
Hari itu IGD tidak terlalu ramai namun beberapa kasus kecelakaan sangat menguras pikiran dan tenaga. Hari itu Gaby tampak tidak fokus tapi masih dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sampai akhirnya ada seorang pasien perempuan dengan percobaan bunuh diri karena ditinggal kawin sama tunangannya.
Pasien dalam kondisi sadar, kejadian baru berlangsung skitar 10 menit dan langsung dibawa ke IGD, rumah pasien di blakang RS, jenis yang diminun adalah cairan penyemprot serangga, pupil mata juga masih bagus. Kemudian Gaby memerintahkan korban untuk dimiringkan kemudian melakukan bilas lambung, beruntung cairan yang ditelan belum terlalu banyak sehingga dengan cepat lambung dapat dibersihkan. Setelah itu Gaby menyarankan pasien untuk rawat inap semalam, karena harus diobservasi minimal 4jam dari sekarang.
Tiba-tiba pasien menangis histeris dan berkata kepada Gaby, " Dokter jahat, ngapain selametin aku, dokter jahat, aku mau mati aja, udah ga da gunanya hidup dok, pacar yang udah ambil perawanku malah kawin sama orang lain, kamu ga tau rasanya ditinggalkan, kamu ga berhak ikut campur sampe nyelametin aku, aku yang mau mati dok!"
Gaby tentu saja kaget dan tanpa disadari dia kehilangan kontrol mungkin karena shock diteriakin pasien, emosi Gaby tidak terkontrol kali ini meluap seperti banjir bandang, dengan mata merah dia balas membentak pasien. "Aku juga perempuan mba, aku juga pernah patah hati tapi aku ga bertindak bodoh seperti mbaknya, kita itu dikasih kekuatan buat mempertahankan hidup, kalau sampe mbaknya ditinggalkan brati kalian ga jodoh, brati dia bukan yang terbaik buatmu! Sadar mbak, liat ortu mbaknya yang dari tadi kebingungan berharap cemas sama keselamatan nyawa mbaknya!"
Aku yang ada di bilik sebelah ikut kaget melihat Gaby berbicara sangat tegas kepada pasien itu. Aku yang sedang menjahit luka pasien bergegas menyelesaikan tugasku dan menyuruh perawat memberskan sisanya. Aku melangkah ke bilik sebelah, kulihat Gaby menatap tajam ke pasiennya seraya menahan tangisnya tidak meledak. segera kutarik tangannya mengajak dia pergi.
Aku membawa Gaby ke kamar yang memang disediakan untuk kami istirahat. Aku memberinya minum dan menyuruhnya istirahat, biar aku sendiri yang jaga IGD karena sebentar lagi toh kami berganti shift dengan rekan yang lain.
"Dok, maafkan anak saya yang sudah membuat dokter perempuan tadi marah. Tak seharusnya anak saya berkata kasar seperti tadi. Sekali lagi maafkan kami ya." kata orang tua pasien yang tadi mengecam Gaby dengan dokter jahat.
"Tidak apa bu pak, kami mengerti kondisi anak ibu sedang labil, dan mungkin teman saya terpancing emosi karena sudah berusaha menyelamatkan tapi malah dikatai jahat. Maafkan teman saya juga ya bu karena kehilangan kontrol diri dan memarahi anak ibu!" jelasku sambil mengatupkan kedua tangan di dada sebagai tanda memohon maaf.
Setelah berganti Shift, aku masuk ke kamar dan mendapati Gaby tertidur dengan terisak-isak. Aku mencoba membangunkannya dan tiba tiba dia bangun dan memeluk ku, "Pinjem dadamu ya Sam, aku kangen Stanley. Biasanya kalau lagi sedih aku nangis di dada dia. Kamu sama Stanley kan mirip jadi aku pinjem kamu ya Sam!"
Dan aku pasrah aja toh ga da ruginya malah untuk dapet pelukan hahahaha.......
Setelah puas menangis akhirnya Gaby menceritakan bahwa dia akan kehilangan Stanley karena memilih menikahi Arizka.
Yah ga munafik sebagai cowok beberapa sisi diri Gaby amat menarik tetapi entah mengapa walau kami sering bersama tetapi tak ada rasa istimewa yang tumbuh di hatiku.
__ADS_1
*****To Be Continue*****