Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 48


__ADS_3

Aku melihat Stanley yang sudah tidur terlelap, kusingkirkan pelan pelan tangannya yang memelukku. Aku mendadak teringat akan surat yang diberikan perawat dari pak Gun. Mungkin aku dapat menemukan jawaban atas keanehan mami disurat itu.


Kuambil surat tersebut dari tas dan membawanya ke balkon, tak lupa kututup pintu kamar yang ke balkon. Kubuka amplop surat itu........


---------------------------


Halo Gaby..........


Tak percaya rasanya om melihatmu di IGD kemarin dengan jas dokter, memberikan pertolongan pertama pada om, orang yang pasti kamu benci seumur hidupmu.


Maafkan om, selama ini om telah membuatmu dan Gita menderita. Om melakukan semua ini karena kecemburuan, dari remaja om sudsh mencintai ibumu tetapi Gita malah memilih pak Tian menjadi suaminya.


Perlu kamu ketahui bahwa om dan ibumu dibesarkan di panti asuhan yang dikelola oleh keluarga Zein. Setelah menyelesaikan pendidikan, kami bekerja di perusahaan Saputra milik keluarga ayahmu.


Saat mengetahui hubungan Tian dan Gita, nyonyah Besar sangat murka. Dia tidak dapat menerima bahwa keturunan keluarga Saputra mendapat pendamping yang tak jelas asal usulnya. Tetapi ayahmu sangat kukuh pada pendiriannya, bahkan dengan dibantu kedua saudara dan sahabatnya mereka diam diam melangsungkan pernikahan.


Begitu nyonyah Besar mengetahuinya, dia begitu marah dan kemudian mengajakku bekerjasama untuk menghancurkan pernikahan mereka. Kami menjebak Gita seolah olah berselingkuh denganku, tapi sayang Andreas mengetahui rencanaku dan menolong Gita.


Saat itu aku langsung mengakui perbuatanku karena diperintah oleh nyonyah Besar tetapi pak Tian tidak percaya dan bahkan memecatku dengan tidak hormat. Aku sangat marah karena merasa bukan satu satunya yang bersalah tetapi semua kesalahan ditimpakan padaku.


Gita yang masih menganggapku saudara memohon agar Tian tidak menjebloskanku ke penjara. Tak berapa lama Gita hamil dan nyonya besar merasa akan semakin sulit memisahkan mereka apalagi ada anak yang mau tidak mau menjadi keturunan Saputra.


Suatu hari dia mencariku lagi dan menawarkan kerjasama dengan imbalan uang yang sangat menggiurkan. Kami menyusun rencana untuk menculik kalian dan aku akan membawa Gita dan anaknya pergi dari kehidupan Tian.


Kesempatan itu datang setelah Gita melahirkan, aku mengendap endap masuk ruang rawatnya dan menculiknya dan membawa serta dirimu. Om membawa lari kamu dan ibumu ke luar kota untuk menghindari kecurigaan ayahmu. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain.


Dan akhirnya om membawa kalian hidup di rumah bordil yang om miliki. Om sangat mencintai ibumu tetapi dia selalu menolak dan itu membuat om marah kemudian melampiaskan segala rasa kecewa om ke kamu. Tiada hari tanpa menyiksamu untuk mbalaskan rasa sakit hati om.


Bahkan om menjadikanmu pengemis cilik, tetapi nasibmu sungguh baik, kau bertemu dengan Andreas dan dia membelikan berbagai macam barang kebutuhanmu. Untungnya Andreas tidak curiga siapa kamu karena dia tidak melihat Gita. Mau tidak mau om harus membawa kalian pergi ketempat lain.


Dan pada suatu hari om sangat membutuhkan uang tetapi nenekmu tidak mau memberikannya maka om nekad menjualmu kepada hidung belang. Namun lagi lagi nasib baik menghampirimu, Gita bertemu Andreas dan akhirnya kamu selamat.


Om sungguh menyesal Gab, rasa cinta om ke ibumu ternyata mendatangkan penderitaan untuk kalian. Aku mohon ampuni aku, mohonkan maafku pada ibumu dan ayahmu. Saat kamu membaca surat ini maka om sudah pergi pada kehidupan yang lain.

__ADS_1


-------------------------------


Tak sanggup aku menahan derai air mata dan rasa nyeri di dadaku. Rasanya seperti teriris, ternyata ibu dari ayahku alias nenekku sendiri tidak sudi menerimaku, tidak merestui kedua orang tuaku. Akhirnya terjawab sudah mengapa papi tidak pernah membawa masalah ini ke jalur hukum sebab dia akan berhadapan dengan ibunya sendiri.


Disela tangisku yang gagal kuredam tiba tiba sebuah tangan hangat memeluk tubuhku dari belakang, tanpa menoleh aku tau bahwa ini tangan Stanley, aku sangat mengenal rasa dari pelukan ini dan bau parfum yang digunakannya.


"Hei.... husstt kenapa kamu nangis sendirian disini yank? Masuk yuk kita bahas di dalem, aku ga mau kamu demam karena angin malam. Lagian liat tu mulai gerimis sepertinya bakal ujan deras."


Aku menurut saja saat Stan memboyongku ke kamar, kami duduk di sofa yang ada di kamarku. Aku menyerahkan surat dari om Gun supaya Stan paham apa yang membuatku menangis.


Terdengar helaan nafas berat setelah Stan selesai membaca surat itu. Dia memelukku begitu erat memberi kekuatan. Dia menangkup kedua pipiku mengarahkan mataku tepat ke matanya, "Apa yang nenekmu perbuat? Apa sampai saat beliau meninggal dia membencimu?"


Aku menggeleng, "Kami sudah berdamai saat detik terakhir nafasnya. Aku bakal ceritain semua sekarang Stan, biar kamu ga penasaran sama masa laluku."


Aku mulai menerawang, teringat kembali kenangan saat aku sudah kembali ke keluarga Saputra, setiap kali ada acara keluarga, aku selalu mendapat tatapan hina dari nenekku, berbeda dengan Dicta dan Brandon yang dipeluk dan diciumnya. Ketika berhadapan denganku beliau selalu membuang muka. Hingga akhirnya mami tidak pernah lagi menghadiri pertemuan yang diadakan nenekku.


"Suatu hari Nenek pernah menjemput kami ke sekolah, seperti biasa dia akan mencium dan memeluk Dicta dan Brandon sedangkan kepadaku dia menolehpun tidak. Dia memanggilku dengan sebutan anak haram di hadapan banyak murid lainnya, dia bahkan menyuruhku membawakan tas Dicta dan Brandon."


"Dicta dan Brandon akan melawan tapi aku mencegah mereka, sebab kalau mereka melawan maka kekejaman nenek yang kuterima akan makin besar. Sejak saat itu murid lain mulai membullyku menyebutku anak haram dan menyuruhku seenaknya."


"Brandon dengan tenang menceritakan semua detail bahkan dia bisa mengingat siapa saja yang membullyku dan diapun menceritakan sikap nenek yang menjadi awal mula sebutan itu. Mamiku menangis histeris tak henti henti meminta maaf begitu pula papiku yang selama ini terkesan cuek dan tidak perhatian padaku, dia menangis memelukku dan meminta maaf karena tidak dapat melindungiku."


"Sebenarnya aku sedikit kaget si karena reaksi mereka sepertinya berlebihan tetapi kapasitas otak anak kecil tidak mampu mencerna sampai sedalam itu jadi aku hanya menerima saja. Lebih mengejutkan lagi orang tua Dicta dan Brandon malah mengatakan bahwa mereka bangga sebab Dicta dan Brandon sudah membela saudaranya jadi itu tidak dapat disebut sebagai kenakalan melainkan sikap pembelaan diri."


"Hari itu aku melihat bahwa masih ada orang yang tulus mencintai dan menyayangiku maka tak perlu aku hiraukan sikap nenek padaku, apalagi sikap teman teman di sekolah. Aku memotivasi diriku sendiri cukup pikirkan pelajaran dan raihlah nilai tertinggi. Sejak saat itu aku cuek tidak peduli apapun yang mereka katakan tentang aku."


"Di sekolah prestasiku sangat memuaskan jadi kepercayaan diriku mulai tumbuh, aku pikir bodo amat pada siapa yang tidak menyukaiku yang penting aku tidak berbuat jahat duluan. Dengan pikiran begitu aku menjadi lebih tenang dalam menjalani hidup."


-------------------------------


*Stanley POV*


Gaby memnyuruhku membaca surat dari pak Gun, aku sungguh terkejut dan tak menyangka bahwa semua penderitaannya justru bersumber dari neneknya sendiri.

__ADS_1


Gaby mulai menceritakan masa kecil saat dia masuk ke keluarga Saputra. Lagi lagi aku hanya bisa menahan emosiku membayangkan betapa sulit kehidupan Gaby masa itu. Masa dimana anak anak seharusnya bermain dengan gembira tapi terhalang oleh bullyan teman temannya.


Aku rengkuh tubuhnya, kami duduk disofa dengan posisi Gaby berada disela pahaku dan aku memeluknya dari belakang karena kutak sanggup melihat derai air matanya.


"Sampai akhirnya aku lulus SD dan meminta home schooling dengan alasan agar lebih fokus karena aku tidak terlalu suka suasana sekolah formal. Papi yang mengira aku masih trauma menyetujuinya, maka 3tahun masa SMP kuhabiskan dengan metode homeschooling."


"Itulah kenapa kita ga satu sekolah Stan, karena emang aku ga sekolah formal." kata Gaby sambil ketawa.


Aku membalikkan tubuh Gaby, membuat kami berhadapan, aku hapus sisa sisa air matanya dengan jariku. Dalam hati aku berjanji apapun yang terjadi akan berusaha sekuat tenaga membahagiakannya menggantikan masa masa sedih dalam hidupnya.


"Stan, jangan ngeliatin aku kaya gitu ntar ga selesai selesai nih ceritaku." katanya sambil mengerucutkan bibir sexy.


Perlahan tapi pasti aku ***** bibirnya, Gaby merangkulkan lengan di leherku, ciuman kami makin dalam, lidah kami saling bertautan mengabsen semua yang ada dalam mulut, dan pertukaran salivapun kembali terjadi.


Rasa bibirnya yang manis dan lembut membuatku ingin dan ingin terus menikmatinya. Dan ketika tanganku mulai merayap masuk, Gaby mencegahnya membuatku tersadar dari gairahku.


"Maaf Stan, bukan aku ga mau disentuh tapi aku sangat bergairah jadi aku takut kebablasan Stan." ucapan Gaby yang sangat jujur membuatku malu sendiri.


"Husstt, aku yang salah yank ga bisa kendaliin hasratku! Ehm.... kamu mau lanjut cerita atau kita tidur dulu?"


Sejujurnya aku sudah sangat ngantuk sangat sulit mengendalikan kewarasanku tapi kalau Gaby masih ingin cerita maka aku siap mendengarkan.


"Ceritanya lanjut besok aja deh Stan, aku ngantuk niah hoam.... hoam...." aku tertawa geli melihat Gaby menguap seperti anak kecil.


Aku mengajaknya ke ranjang, kembali berciuman dan akhirnya tertidur sambil berpelukan dan tak lupa kubisikan mantraku, "I love u honey."


--------------------------


Haduh babang Stanley inih tangannya suka nakal ya, bikin author deg degan sendiri takut bablas 🤦‍♂️


Semoga disegerakan ya mba Gaby sama abang Stan biar sah jadi nikmat 😋😘🙏


Yuk lanjut ya kitaa dengerin kisah dokter Gaby lagi tapi sebelumnya mau minta tolong donk sama readers. Boleh ya?

__ADS_1


Aku minta tolong donk readers tinggalin jejaknya, like vote koment kritik dan saran semua saya terima ya.


Makasih🙏😘


__ADS_2