Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 30


__ADS_3

*Dicta POV*


Tring.......


082299xxxxxx


Heh lo spupu cewek muna, bilang sama spupu lu jangan sok suci ya, spupu lu udah ngancurin Alva, ga inget siapa yang temenin dia waktu ditinggal cowoknya?


Nomer siapa si ini, pikirku bingung karena tidak mengenali nomer yang mengirimiku WA. Dia kirim video juga, apaan si isinya?


Aku penasaran video apa yang dikirim, aku menekan play kemudian terlihat suasana di Club. Ada Alex dan Alva serta teman bandnya. Terlihat Alex berusaha menghentikan Alva untuk minum, tapi Alva yang sudah mabok marah dan menceracau.


"Brengsek lu Va, brenti ga lu minum, lu mau ancurin diri lu, karier lu? Ga kasian sama mama papa lu? Stop it!" teriak Alex sambil merebut gelas dari Alva.


"Apa peduli lu kalo gue ancur? Gue udah ga da semangat Lex, Gaby udah njauhin gue dia ga mau trima gue lagi, apalagi Stanley sialan itu udah balik, dengan mudahnya Gaby pasti pilih dia dibanding gue. Gue emang cowok brengsek Lex, biarin gue ancur skalian!"


Terlihat di video Alex yang sudah tidak dapat menahan emosi langsung menghajar Alva dan menyeretnya keluar Club, dan video rekaman itupun berakhir.


Ya Tuhan kacau banget si Alva, tapi siapa ya yang niat banget videoin, apa Gaby tau masalah ini? Kalau dari WAnya kemungkinan Nadien tapi bukannya harusnya Nadine seneng karena Alva udah ga sama Gaby?


"Dict, kenapa? Kayak bingung gitu kamunya?" Sammy menegurku yang dari tadi tanpa kusadari bolak balik menghela nafas.


"Aku emang lagi bingung Sam, ada orang WA pake nomer yang aku ga kenal, dia kirim video tentang Alva yang sedang mabok. Di WA itu dia marah sama Gaby karena dianggap sudah menghancurkan Alva."


"Lebih baik aku tanya Gaby kali ya, takutnya dia juga diteror sama nomer ini. Aku tuh beneran ga bisa tenang deh Sam kalo urusan Gaby, dari kami kecil aku dan Brandon selalu menjaganya seperti kami menjaga diri kami sendiri. Kami ga mau dia merasa sedih dan ga berharga karena cerita masa lalunya."


"Hah..... masa lalu..... masa lalu gimana maksud kamu Dict?"


Ya ampun bisa bisanya aku ember bocor gini sih, pekikku dalam hati. Ga da yang boleh tahu cerita masa lalu Gaby. Haduh Sammy pasti bakal kepoo terus nih, rutukku dalam hati.


"Ehmm...... hah.... apa si Sam, masa lalu siapa? Owhh masa lalu Gaby, maksudnya tu ya peristiwa sama Alva, itu Sam kan itu masa lalu kan jatuhnya walau bru sebulan lebih tapi tetep aja namanya masa lalu kan?" jawabku sambil tergagap gagap takut salah ngomong lagi.


"Ehm..... aku kok ga percaya ya, kayaknya bukan tentang Alva deh yang kamu bilang tadi, soalnya aku jelas denger tadi kata kata kamu kalau sedari kecil kalian selalu jaga Gaby gituh. Emang masa lalu Gaby gimana si sampe harus kamu gugup sembunyiin gitu? Bukannya aku bakal jadi bagian dari keluarga kamu ya jadi gapapa kan aku tahu? Gaby juga sahabatku kenapa harus ada yang ditutupin si?" cecar Sammy membuatku berkali kali menarik nafas sesak.


Sebenarnya memang ada yang aku sembunyikan dari masa lalu Gaby, bukan karena ga percaya sama Sammy tapi karena memang bukan hak aku untuk menceritakan kisah itu. Gimanapun itu hak Gaby akan menceritakan tentang masa lalunya atau tidak. Aku rasa selain kami sekeluarga yang tahu hanya Alva, karena itu Alva merasa sangat menyesal saat secara ga langsung sudah mengkhianati kepercayaan Gaby.


"Sorry Sam, bukan aku ga mau atau ga percaya sama kamu, tetapi apapun yang terjadi di masa lalu Gaby, hanya dia yang berhak menceritakan padamu. Mungkin suatu saat Gaby sendiri akan terbuka mengenai hal ini sama kamu sebagai sahabatnya Sam."


"Oke Dict, aku paham maksudmu. Lebih baik segera kamu beri tahu Gaby tentang WA dari nomer tak dikenal itu."


Aku mengangguk setuju, hal seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut larut. Terkadang aku merasa Gaby terlalu naif untuk menghadapi orang orang yang mencoba mengintimidasi dia, jadi aku merasa harus turun tangan.


Saat kami masih di Sekolah Dasar, aku seringkali berkelahi dengan beberapa anak yang hobby membully Gaby. Setiap kali di bully Gaby hanya akan diam saja, tidak menangis tidak juga membalas, tentu saja sikapnya membuatku sangat kesal. Gaby bilang percuma membalas karena pasti akan kalah dan tetap akan disalahkan jadi lebih baik dia diam bersikap acuh tak acuh.


Sampai kami beranjak remaja ternyata hobby teman teman sekolah terutama teman cewek untuk membulky Gaby rupanya tidak surut bahkan bertambah. Gaby remaja sangat manis dan pintar, dengan mudah menarik perhatian banyak cowok. Tapi sikap Gaby yang leumpeung alias cuek justru dianggap sombong oleh sebagian teman cewek yang tentu saja iri padanya. Alhasil Gaby sedikit membatasi pergaulannya, hanya orang yang dia anggap sefrekuensi yang dapat dekat dengannya.


Saat SMA, dia memilih sekolah berasrama yang semua isinya adalah perempuan, dia bilang jika memilih sekolah yang sejenis maka tidak akan ada cewek yang iri karena lawan jenis tertarik padanya. Menurutku alasannya sungguh tidak masuk akal, tapi ketika dia meyakinkan aku dan Brandon bahwa dia akan baik-baik saja, maka kamipun melepasnya dengan berat hati.

__ADS_1


Sesaat aku terbangun dari lamunanku karena perkataan Sammy, "Dict, ayo kita turun, udah sampai nih. Tadi aku udah reservasi di rooftop."


********************


Stanley menggandeng tanganku memasuki Vitamin Sea mencari meja yang sudsh dipesan Sammy untuk kami. Setelah beberapa saat melayangkan pandangan ke segala arah, kutemukan Dicta dan Sam di meja pojok.


"Itu tangan ngapain? Mau nyebrang?" tanya Dicta menyindirku, membalas sindiranku setiap melihat dia dan Sam bergandengan hehehe.


"Emang lu aje yang boleh kaya truck gandengan mulu, gue juga kali pengen ada yang gandeng." jawabku jujur yang tentu saja membuat wajah Stanley merah merona. Aku juga tak paham mengapa mulutku ini seperti rem blong gituh bablas tanpa filter, apa karena hatiku sedang berbunga bunga ya.


"Set dah Gab, jujur amat lu. But anyway gue seneng lu mau kasih Stan kesempatan lagi." ucap Sammy sambil memelukku sekilas.


"Hehehe, gue nyaman sama Stan. Gue rasa ga da salahnya kasih kesempatan buat kita berdua merajut kisah baru. Walau hasil akhir ga da yang tahu tapi setidaknya gue bakal puas hati karena udah mencoba."


Dicta pun memelukku dengan erat, "Good luck girl, hope u happy now!" Yah.... dari dulu Dicta dan Brandon adalah pelingdungku dari para pembully, bahkan sampai saat ini kadang aku merasakan bagaimana Dicta yang sangat takut aku sedih atau terluka.


"Selamat siang jelang sore kakak kakak, silahkan dilihat dan dipesan ini menu menu andalan dari kami." kata seorang waiters yang menghampiri meja kami.


"Kamu mau makan apa Stan?" tanyaku.


"Apa aja pilihan kamu, aku pasti makan." jawabnya sambil pasang senyum manis menggoda. Haduh gimana aku bisa tahan kalo dikasih pemandangan manis manis mulu gini batinku girang.


"Hihihi manis banget si kamu, oke deh aku yang pilih ya!"


"Seafood platter 1,suki seafood 1, shell bucket sama saucenya 6 macem ya, minumnya Longan Dream 1, White Sand 1" kataku.


Dicta dan Sammy berdiskusi sebelum menentukan, "Suki seafoodnya yang large ya biar bisa ber4, trus nasgor seafood pedas 1, shell bucket yang buat ber4 ya, minumnya classic mojito 2."


Setelah mencatat semua pesanan, waiters kembali membacakan ulang supaya tidak ada kesalahan. Aku menggangguk dan mengucapkan terima kasih.


Sambil menunggu pesanan kami datang, Sammy dan Stan sibuk dengan ponselnya sepertinya mereka lagi game war. Aku ngobrol dengan Dicta.


Dicta menunjukkan hpnya yang membuatku terbelalak, sebab nomer asing itu ternyata juga menghubunginya dan mengirimkan video yang sama. Akupun akhirnya memberitahu tentang teror dari nomer tersebut yang kemarin aku acuhkan.


Menurut Dicta sepertinya bukan Nadine tapi seseorang yang dirugikan karena Alva mabuk mabukan. Sepertinya lebih baik aku menghubungi Alex, karena dia pasti tahu pemilik nomer itu.


******************


Aku menelepon Alex, setelah menunggu beberapa saat, "Halo Gab, what's up?"


"Halo Lex, lu lagi sama Alva? Sibuk ga? Gue ada yang penting tapi kalo lu sibuk nanti aja gue ngobrolnya."


Terdengar helaan nafas berat dari Alex, "Sebenernya ga sibuk si tapi gue lelah ngurusin Alva. Sorry ya Gab bukan mau ngeluh karena toh Alva sodara yang gue sayangin jadi udah wajib buat gue urusin. Cuma ni erornya lagi kumat, mainnya club mulu susah disadarinnya."


"Ngobrol sekarang aja Gab, gue jadi penasaran hal apa yang urgent, mumpung anak asuh gue lagi molor jari kita bisa ngobrol santai."


"Sorry ya Lex, Alva jadi nyusahin lu padahal lu lagi sibuk buat wedding preparation." kataku tak enak hati, sebab gimanapun ada andilku dalam kondisi Alva sekarang.

__ADS_1


"Heii bukan salah lu kali Gab, spupu gue aja yang **** ga bisa jaga diri dan susah dengerin orang lain. Udah udah lu mau ngobrol apaan, kita fokus sama lu aja Gab."


Akupun menceritakan smua teror yang aku dapat ke Alex, mulai dari si peneror yang mengetahui keberadaanku di bandung sampe video yang menayangkan Alva mabok, serta kiriman WA ke Dicta dari nomer yang sama.


"Gue awalnya pikir itu Nadine lho, tapi menurut Dicta bukan sebab harusnya Nadine malah senang kalau Alva udah putus sama gue. Tapi kalau bukan Nadine siapa ya Lex?"


"Memang selama ini juga gue belum pernah bener bener nemuin Nadine atau komunikasi sama dia si, semua yang gue tau tentang masalah ini adalah dari sudut pandang Alva."


"Oh sorry sorry bukan gue ga percaya Alva dijebak ya Lex, tapi gue inget waktu gue pergokin persetubuhan mereka, Nadine sama sekali ga melakukan perlawanan atau ngamuk ke gue layaknya orang yang emang mau ngancurin hubungan kita."


"Mungkin ga si Lex kalo Nadine juga diperalat sama orang lain lagi? Karena logikanya ya Lex kalo dia nekad nyerang Alva pake video itu bukannya reputasi dia juga bakal ancur?"


Terdengar Alex menghembuskan nafas kasar, " Alva pernah curiga klo ada yang bantu Nadine, tapi dia curiganya Rafa si bar tender. Tapi kalau lihat bahasa terornya ga mungkin Rafa, ngapain juga dia neror lu kan Gab. Gue jadi curiga sama salah satu dari pihak managernya Alva lho."


"Kondisi Alva yang jadi labil gini bisa jadi mempengaruhi jadwal nyanyi dia kan dan tentu berimbas sama income dia jadi pihak yang paling dirugikan ya manajemen Alva sendiri, kalo Alvanya kan ga nyanyi juga dia dapet duit banyak dari bisnis cafenya atau dari duit ortunya."


Aku sependapat sama Alex, tapi gimana cara kita cari buktinya ya. Nomer itu bahkan ga bisa dihubungi.


"Owh ya Lex kalo cctv di hari penjebakan itu lu udah cek? Ada yang mencurigakan ga?"


Lagi lagi Alex menghembuskan nafasnya kasar, "Gue ga nemuin bukti bahwa Alva dijebak, dicctv terekam Nadine memang kasih minuman ke Alva trus ga lama mereka naik ke lantai 2 masuk ke salah satu kamar. Ga bisa buktiin kalo Alva dijebak Gab, bahkan sorry to say gue jadi sedikit negative thinking ama Alva, beneran dijebak atau mereka emang mau sama mau."


"Tapi gue belum tanya Rafa si tentang dia bantu Nadine. Gab, kalau ternyata sebenernya Alva ga dijebak pake afrodisk gimana?"


Aku baru mau menjawab, tapi terhenti saat ada tangan yang tiba tiba memelukku dari belakang, tanpa menoleh aku sudah tahu itu Stanley dari aroma tubuhnya.


"Makanan udah dateng, makan dulu yuk ntar dingin ga enak. Telponan sama siapa si lama banget?"


"Eh sorry Lex, gue matiin dulu ya, mau makan laper hehehehe. Ntar gue telpon lagi ya. Thanks ya." aku memutuskan pembicaraanku dengan Alex tanpa menunggu jawaban darinya.


Aku berbalik badan menghadap Stanley, memberikan senyum termanisku, sedangkan Stan melemparkan pandangan bertanya urusan apa yang membuatku bicara panjang lebar dengan Alex. Tapi aku enggan menjawab jadi langsung kutarik tangannya menuju ke meja kami. Stanley hanya diam dan mengikutiku.


Kulihat berbagai hidangan yang kami pesan sungguh menggoda mata menggugah selera. Aku mengajak Stanley untuk cuci tangan dahulu, dia hanya diam dan mengikutiku. Aku tahu dia ngambek karena penasaran apa urusanku sama Alex hehehehehe.


"Please senyum dunk, jangan ngambek kaya anak SD Stan, kita mau makan enak harus dinikmati dengan bahagia." bisikku sambil mengecup pipinya singkat, dan benar saja mood Stanley kembali cerah.


Kami berempatpun makan dengan lahap, Vitamin Sea akan masuk dalam list favoriteku. Suatu saat aku bakal ajak mami mami hangout kesini, janjiku dalam hati.


"Kamu mau nambah lagi gak Gab?" tanya Stan melihat piringku sudah kosong.


"Ehm.... nanti kalo aku gendut kamu ga suka lagi lho Stan." candaku sambil menggembungkan pipiku menunjukkan kalau aku gendut.


"Gapapalah kalau kamu gendut, masih muat kok di hati aku. Lagian malah bersyukur ga da cowok lain yang mau ambil kamu!" jawabnya santai tapi sungguh mengoyak hatiku, dapat dipastikan wajahku merah padam dan bibirku ga berhenti senyum.


Wakakakaka Dicta dan Sammy kompak ngetawain aku yang kalah telak digombalin Stanley.


*Dalam hal makan, bukan seberapa mahal dan lezatnya makanan yang memberi kita kebahagiaan, tetapi rasa syukur bahwa kita masih bisa makan terlebih makan bersama orang orang yang kita cintai.

__ADS_1


******To Be Continue******


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘


__ADS_2