Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 5


__ADS_3

*Alva POV*


Sudah 2 minggu sejak kejadian aku kepergok bersetubuh oleh Gaby, rasanya tubuhku masih lemas dan otakku tidak dapat bekerja dengan baik. Beruntung dalam 2 minggu ini memang tidak ada job manggung karena jadwalku memang disetting untuk rekaman lagu baru, jd aku menenggelamkan diri untuk rekaman dan menulis lagu baru.


Sudah 2 minggu ini juga Alex spupuku selalu ada didekatku bahkan dia menginap di apartementku, mungkin dia khawatir aku melakukan hal-hal bodoh yang membahayakanku sendiri. Dia selalu berusaha mengajakku bicara mengenai masalahku dengan Gaby, tetapi aku memilih mendiamkannya, agar aku dpt konsentrasi menggarap laguku. Stidaknya aku dapat melakukan hal productive dalam keterpurukanku.


Bahkan aku tidak berani mengirim pesan ataupun menelpon Gaby, hatiku sakit mengingat ekspresi Gaby yg sangat tenang tp justru aku sangat tahu bahwa ekspresi itu menyimpan luka teramat dalam. Dan luka itu aku yang membuat.


Selama 3tahun kami pacaran, setiap kesalahanku selalu dia maafkan, karena menurutnya itu bukan kesalahan yang prinsipil jadi berdasarkan azas cinta kasih maka Gaby memilih memaafkanku. Karena profesiku sebagai seorang penyanyi kadang memang membuatku terlena dan goyah saat ada teman cewek atau fans cewek berusaha mendekatiku.


*Flashback On*


Gaby❤️


Alv lagi ngapain? Lunch yuk, udah sminggu ga ketemu kamu, kangen 😂


Alv❤️


Maaf yank, aku lagi lunch sama clien nih. Ntar malem aja ya kita kluar, aku off. Kalau kamu jaga, aku samperin kamu aja di RS.


Aku sedikit berbohong karena sebenarnya aku bukan ketemu clien, tapi lunch bareng Marissa, model yang ngejar-ngejar aku. Aku meladeni undangannya tanpa niat berkhianat pada Gaby, hanya saja merasa tidak enak selalu menolak ajakannya.


Tanpa kusadari ternyata Gaby juga makan di tempat yang sama dan dia memang melihatku tapi aku tidak melihatnya. Saat aku dan Marissa sibuk makan sambil ngobrol dan tertawa-tawa karena ternyata Marissa cukup ngelawak orangnya.


Tak terasa sebuah tepukan lembut mampir di bahuku, "Hai Alv, kamu makan disini juga ya? Hai namamu siapa, aku Gaby!" kata Gaby sambil mengulurkan tangan mengajak Marissa berkenalan.


"Marissa Budiman!" balasnya tersenyum sambil menyambut uluran tangan Gaby.


Aku langsung tegang seperti anak SD yang ketauan mencuri permen. Sejenak aku mencoba menilai ekspresi Gaby, terlihat sorot kecewa tapi seperti biasa ditutupi dengan ketenangannya.


"Marissa kenalin ini Gaby pacar gue!" dan Gaby hanya tersenyum menanggapi deklarasi Alv terhadap status kami.

__ADS_1


"Wow, ternyata lu udah punya gandengan ya Va, sorry ya gue ga tau makanya gue deketin elu karena ngarep!" jawabnya sambil cekikikan centil. Aku menghela nafas, menunggu reaksi Gaby.


"Owh gitu, maaf ya brati gue ganggu lu PDKT sama Alva ya. Kesempatan lu selalu ada kok, karena buat gue ga akan ada yang namanya pelakor kalau di antara gue ama Alva bisa jaga diri!" balas Gaby sambil ketawa yang entah kenapa ditanggapi okeh Marissa sambil ketawa juga.


"Gue suka gaya lu Gab, beda sama cewek lain. Gue yakin kalo gue nemuin cowok gue makan sama cewek lain udah gue siram dan caci maki."


"Dan lu bener kalau cowoknya bisa jaga diri maka ga akan ada pelakor, btw lu ga marah kan sama gue? Satu hal lu boleh yakin, gue ga bakal rebut Alva dari lu karena gue ga mau jd pelakor!"


"Oke, gue suka lu Gab, kita temanan ya mulai sekarang. Gimana?" kata Marissa mengulurkan tangan.


Dan ajaibnya Gaby menerima tangan Marissa dan mereka resmi berteman. Oh God...... speechless gue sama tingkah Gaby.


"Yank, maafin aku ya, aku ga punya niat apapun, aku cuma ga enak nolak tawaran Marissa terus, jadi tadi aku setuju aja dia ajak lunch." aku berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya setelah kami hanya berduaan.


Gaby hanya diam saja, menelungkupkan kepalanya di meja seakan-akan dia sangat lelah, berbeda dengan semangat yang terlihat saat Marissa masih disini. Aku menggoyangkan tangannya mencari perhatiannya, aku paling tidak tenang kalo Gaby mendiamkanku. Tanganku berpindah mengelus rambut halusnya, sampai akhirnya Gaby mengangkat kepalanya dan tersenyum menatapku.


"Kamu maafin aku kan yank? Aku janji lain kali bakal tanya kamu dulu kalau mau janjian sama orang lain yank!"


"kamu tau kan aku ga suka dibohongi, apapun bentuknya buatku ga da yang namanya kebohongan untuk kebaikan. Semua kebohongan pada akhirnya hanya meninggalkan luka baik kepada individu yang dibohongi bahkan lukanya akan jauh lebih parah untuk si pembohong."


"Dan kamu inget juga ya Alv, kalau pada perjalanan kita nanti tiba-tiba hatimu sudah berpaling, mohon jangan sungkan buat jujur sama aku. Bukan aku sok suci Alv tapi aku mau saat menjalin hubungan artinya memperjuangkan kebahagian untuk berdua, akan percuma kalau hanya salah satu dari kita yang bahagia."


Aku hanya bisa memeluknya, aku tau Gaby pasti kecewa karena aku mengaku lunch dengan clien tapi dia tidak mau memperpanjang masalah karena toh memang aku hanya makan saja tidak lebih. Syukur para Tuhan tak henti aku ucapkan dalam hati Karena diperkenalkan pada wanita sebaik ini. Cewek cantik tentu saja banyaknya segudang, tp yang hatinya tulus bisa dihitung jari dan salah satunya adalah milikku. Aku tak henti hentinya mengecup puncak kepala gadis dipelukanku ini.


*Flashback Off*


Drt...... drt....... drt......


Kulihat nama Aryo managerku menelponku.


"Haloo Yo.............," disebrang telpon Aryo menanyakan kesanggupanku untuk manggung di acara nikahan Brandon spupu Gaby.

__ADS_1


"Sesuai schedule aja Yo, skalian siapa tau gue ada kesempatan ketemu Gaby dan minta maaf." jawabku pada Aryo yang kemudian dihadiahi kalimat wejangan nasehat untuk tetap semangat. Aku hanya mengiyakan dan meminta Aryo mengirim susunan acara, serta jadwal keberangkatanku.


Ceklek.........


Setelah menutup pembicaraan dengan Aryo, aku mengarahkan pandangan pada pintu kamarku karena kudengar bunyi pintu dibuka, tak lama muncul Alex dengan senyum ramahnya padaku, akupun membalas dengan seringai tipis.


"Ya Tuhan, Alva lu gue kasih senyum dibales menyeringai gitu sih. ck ck ck.......!" sapa Alex sambil melangkah mendekatiku.


"Va, gimana kepala lu masih sakit?" katanya seraya memeriksa dahiku.


"Va, lu udah mau cerita belum ke gue tentang masalah lu?"


Aku menghela nafas, alex akan makin meneror dengan pertanyaan jika tidak mendapat jawaban yang memuaskan.


"Intinya Lex, gue udah melakukan kesalahan fatal yang dilihat Gaby dengan mata kepalanya sendiri. Dan gue frustrasi karena gue ga tau harus gimana menyembuhkan luka hatinya. Gue cuma bisa nyesel!"


"Lu udah temuin Gaby, udah minta maaf, udah ceritain semua? Siapa tau Gaby mau maafin lu lagi Va?"


Aku hanya menggeleng lemah, skali lagi bukan karena tidak mau segera meminta maaf tapi aku memilih menata sendiri dulu, setidaknya agar saat menerima keputusan final darinya atas hubungan kami, aku bisa lebih siap.


Kesempatanku dibawah 1% untuk ditrima kembali olehnya, siapa si yang mau terima ketika dengan mata kepala sendiri melihat lelaki yang dicintai berhubungan sex dengan wanita lain, bahkan wanita itu bisa dibilang ****** karena memang sudah dikonsumsi banyak pria. Bahkan aku sendiri saja sekarang merasa diriku sangat kotor karena persetubuhab itu.


Benar kata Gaby ternyata saat kita menyakiti orang lain, apalagi orang tercinta kita, maka justru luka paling dalam akan kita rasakan sendiri. Terbukti bayangan ketenangan Gaby dengan ekspresi yang amat sangat kecewa, mampu menusuk-nusuk relung hatiku.


"Va, lu ngelamun?" tanya Alex yang kubalas gelengan.


"Lu bakal ke Bali kan nyanyi di nikahan Brandon, nah gue rasa itu kesempatan lu buat menuntaskan masalah kalian Va." saran Alex yang kali ini kubalas anggukan beserta senyum dan sedikit semangat.


Sepeninggalan Alex yang pergi dari kamarku, aku kembali tenggelam dalam lembar lembar laguku, menyiapkan lagu apa saja yang akan kunyanyikan di pesta Brandon nanti.


*********To be continue*********

__ADS_1


__ADS_2