
*Author POV*
Tit..... Tit..... Tit.....
Dengan lesu Stanley menatap semua alat-alat bantu medis yang terpasang ditubuh Gaby. Dalam pikirannya masih tak menyangka secepat itu kehilangan calon anak mereka, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa isterinya koma karena cedera kepala yang cukup parah.
Terlihat mata Stanley hanya melihat ke satu arah yaitu alat pendeteksi denyut jantung, disatu sisi Sammy sedang berusaha menjelaskan diagnosis dokter tentang keadaan istrinya.
"Dari semua tanda vital yang dapat kita cek, dengan amat terpaksa aku katakan bahwa Gaby dalam kondisi koma Stan, benturan saat dia menggelundung sepanjang tangga di Cafe rooftop itu sangat keras merusak bagian di otaknya."
"Koma terjadi akibat kerusakan di salah satu bagian otak. Bagian otak yang mengalami kerusakan pada penderita koma adalah bagian yang mengatur kesadaran seseorang. Kerusakan tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang."
"Tidak dapat dipastikan apakah kerusakan di otaknya termasuk sementara atau permanen, namun segala kemungkinan harus siap kita hadapi!" ujar Sammy menutup penjelasannya sembari merangkul Stanley yang masih saja terdiam fokus pada alat pendeteksi jantung itu.
Setelah dirasa cukup memberi amunisi kekuatan mental untuk saudaranya itu, Sammy keluar dari ruang ICU yang ditempati Gaby, sekarang dia harus kembali menjelaskan kondisi yang dialami Gaby kepada kedua orang tuanya.
Sesuai dugaannya semua keluarga ternyata menunggu dipintu, menghadang Sammy untuk segera memberi penjelasan. Dengan bahasa yang simple dan mudah dipahami, dia kembali menjelaskan tentang kondisi Gaby.
Isak tangis dari orang tua Gaby jelas tak terbendung lagi. Tak ada yang menyangka hidup pasangan muda itu bak rollercoaster. Takdir membuat mereka merasakan kebahagiaan berlimpah dalam satu waktu, namun sesaat kemudian semua seakan terenggut paksa.
"Sam, kita boleh lihat Gaby gak?" tanya mama setelah dapat mengendalikan tangisannya.
"Boleh kok, ini kebetulan masih jam besuk juga. Tapi masuknya satu persatu ya. Maaf Sammy permisi karena harus kembali ke kantor." pamitnya sopan.
"Makasih ya Sam, selama ini kamu selalu sayang sama Gaby. Maafin kalau kami merepotkan kamu ya nak!" ujar Mami G masih sembari terisak.
"Itu udah kewajiban aku tante, selain sebagai dokter toh kami juga memiliki darah keturunan yang sama jadi sudah takdirnya kalau aku sama Gaby memang sedekat ini tan." terang Sammy sembari memeluk Mami G memberi ketenangan padanya.
Sungguh dalam hati Sammy ingin segera pergi dari situasi ini, hatinya sudah tak tahan ingin ikut menangis. Dia tak kuasa menahan rasa marah, kecewa dan ketakutan melihat Gaby dalam kondisi koma.
__ADS_1
Saat ingin beranjak pergi, tiba-tiba dari arah koridor tampak gadisnya berlari sambil menangis. Ya tentu saja, siapa yang tidak ingin menangis mendengar saudaranya dalam sakratul maut seperti ini.
"Sam, apa yang terjadi dengan Gaby, kenapa dia bisa nggelundung Sam?" Dicta yang sudah dalam pelukan Sammy terus menangis sambil mempertanyakan hal yang Sammy sendiri tak paham jawabannya.
"Tenang yank, kamu jangan histeris gini, kasian mereka, kita harus tegar biar Mami papi dan mama papa ga kehilangan harapan akan kesembuhan Gaby. Lebih baik kamu ikut aku ke kantor kita bicarain disana ya."
Sammy menggiring Dicta keluar dari area ICU menuju kantor Direktur. Sesampainya di ruangan, kembali mereka berpelukan diringi tangisan ungkapan kesedihan mereka masing-masing. Sakit rasanya harus menahan tangis dalam diam, jantung seperti diremas, sakitnya tak terkira.
"Sam, please tolong bangunin Gaby, Aku ga mau kehilangan dia Sam. Waktu kecil dia cukup menderita Sam, aku ga percaya kalau dia harus mengalami hal mengerikan seperti ini." ungkap Dicta masih dengan air mata yang menganak sungai.
Sammy hanya bisa terdiam dan mengeratkan pelukannya, rasanya segala upaya sudah tim dokter lakukan, hanya berharap pada kuasaNya saja untuk membuat Gaby bangun dari koma tanpa suatu halangan apapun.
Tok.... Tok.... Tok.....
"Permisi dok, saya mengantar tamu Anda dok." lapor sekretaris Sammy saat dirinya sudah diperbolehkan masuk.
"Owh iya, saya memang sedang menunggu mereka, tolong dipwrsilahkan masuk ya mba. Terima kasih."
"Jadi perempuan itu mendorong Gaby dan refleks Gaby menarik tangannya untuk bertahan, namun akhirnya mereka justru terguling bersama?" ujar Dicta memastikan kesimpulan dari cerita Arizka.
"Iya Dict, lu tau kan Cafe yang ada rooftop-nya, itu kan tangganya agak curam dan panjang dan Tina dorong Gaby kencang banget. Lu bisa bayangin suara gelundungnya aja keras banget apalagi badan Gaby yang ngerasain benturan-benturan sama tangganya."
"Terus perempuan itu sekarang dimana?" tanya Dicta penasaran.
"She died! Pas sampe Zein dia udah payah banget si, perdarahan dari hidung dan telinga, tapi di akhir nafasnya dia sempet bilang kata maaf gitu, emang dia tu siapa Dan gimana bisa kecelakaan bareng Gaby?"
Dicta diam sejenak mencerna informasi yang diberikan Sammy bahwa ternyata Tina sudah meninggal.
"Dia itu salah satu istri dari Zein yang diluar pernikahan Sam, dia yang menyuruh Iqbal dan Rina menggoda Stanley biar Rumah Tangga mereka kacau gitu." giliran Arizka yang mencoba menjelaskan pada Sammy.
__ADS_1
"Lagi-lagi ada korban hanya karena kelakuan kakekku dimasa lalu." desah Sammy menghembuskan nafasnya kasar.
"Mba Tina itu sebenernya salah dendam Sam, dia ngira Gaby yang bikin hidupnya hancur, padahal dia justru hancur karena ulah suaminya yang notabene om dari Gaby ya secara ga langsung."
"Jadi suaminya merencanakan kehancuran papa Gaby dengan menjebaknya di kamar hotel dan dibuat video, tetapi Gaby memberi bukti bahwa itu hanya jebakan, lalu Tina dijebloskan ke penjara sedang suaminya justru bebas."
"Nah dipenjara dia keguguran serta diceraikan karena suaminya tergoda wanita lain, sejak itu hatinya hitam pikirannya gelap hanya satu tujuan hidupnya yaitu membuat Gaby merasakan penderitaannya."
"Gaby sudah jelaskan semua tapi rupanya Tina tetap tidak mau merubah cara berpikirnya dan terjadilah peristiwa ini." terang Arizka dengan wajah sungguh menanggung kesedihan sekaligus rasa bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf sama kalian, kalau saja aku bisa menghentikan Tina maka Gaby tidak akan dalam kondisi ini." lanjutnya dengan isak tangis yang sudah tak dapat dibendung.
Dengan cepat Alvaro segera mendekap Arizka mengusap kepalanya memberi ketenangan.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Ka, yang terpenting sekarang adalah bagaimana Kita membantu memulihkan Gaby. Tim dokter sudah bekerja maksimal, maka kita harus mendukungnya dengan doa. Satu-satunya yang dapat dilakukan saat ini adalah berdoa." ucap Alva mencoba menghentikan rasa bersalah yang membuncah di hati Arizka.
Keempat orang dalam ruangan tersebut hanyabdapat menghela nafas, karena semua yang dikatakan Alva memang benar. Cedera kepala yang dialami Gaby terbilang cukup berat karena sampai menyebabkan kondisi koma, tetapi harapan sembuh juga besar Dan selalu ada.
Semua belajar dari peristiwa Gaby, bahwa selalu ada resiko yang harus ditanggung karena kesalahan yang dilakukan, baik itu resiko untuk diri sendiri maupun orang lain.
Gaby yang saat itu hanya membantu ternyata justru dijadikan sasaran tembak kebencian yang bahkan sebenarnya salah arah. Dan Tina yang memupuk kebencian dalam hatinya juga menerima resikonya sendiri yaitu berkalang maut.
Sekecil apapun sebaiknya kita tidak menyimpan kebencian apalagi dendam karena tidak ada sejarahnya seorang pendendam dapat meraih kebahagiaan.
----------------------
Halo reader, jumpa lagi kita.
Maaf sekali lagi karena jadi leled update karena kesibukan di dunia nyata yang tidak dapat ditinggalkan 😬🙏.
__ADS_1
Maaf juga kalau mungkin karya akuh tidak dapat memuaskan semua pihak, jangan BaPer ya gaes 😁.
Tak lupa dan tak malu-malu aku mohon like, vote dan comments ya gaes. Terima Kasih🙏😁