
*Alva POV*
"Arrggghhhhh.... **** **** ****, aarggghhhh apa sih yang gue lakuin, bisa bisanya kejebak sama Nadine!" teriakku begitu Gaby membanting pintu apartementku. Tampaknya kewarasanku emang harus dipertanyakan, betapa bodohnya aku waktu 3 tahun yang manis bisa hancur begitu saja hanya karena kelemahanku.
Aku benar-benar menyesal tidak dapat menjaga diriku dengan baik. Aku telah membuang permata yang indah demi sebuah kancing baju, shit....... bahkan saat Gaby terluka karena melihat persetubuhan kami dia tetap sabar dan menanti penjelasanku. Dapat dipastikan jika itu adalah perempuan lain pasti aku dan Nadine sudah menerima caci maki bahkan mungkin pukulan fisik, tapi ini Gaby yang bahkan dengan tenang mau mendengarkanku.
"Oh Alva, kamu benar-benar terkutuk, kamu menggali kuburanmu sendiri!" teriakku sambil memukul - pukulkan tanganku ke dinding. Rasa sakit di tanganku tak ada apa apanya dibanding sakitnya hatiku mengingat wajah tenang Gaby menghadapi luka yang kutorehkan di hatinya.
Aku mengamuk membanting semua barang yang ada dihadapanku, melampiaskan kemarahanku, meluapkan emosi negatifku sambil berharap bahwa ini semua mimpi, yah.... semoga ini hanya mimpi. Aku terus melukai diriku sendiri dengan memukul dinding dan menabrakkan kepalaku ke dinding yang tak bersalah itu.
"Alvaaa....... are you crazy!" teriak Alex sepupuku yang tiba-tiba saja sudah ada dihadapanku. Dia menarik tanganku memeluk tubuhku menjauhi dinding, dan aku terus memberontak dari kungkungannya. Sampai akhirnya pukulan Alex di wajahku membuatku tersungkur dan menyerah.
"Brengsek lu Va, lu mau bunuh diri? Semua masalah tu ada jalan kluarnya dasar **** lu!" aku hanya menangis mendengar semua makiannya. Kembali teringat ucapan Gaby terakhir yang menyiratkan tak ada kesempatan lagi untukku, kesalahanku terlalu menjijikan. Alex mendudukanku di sofa, mengecek luka-luka di dahi dan tanganku. Tak lama terdengar Alex menelepon seseorang, "Halo kau dimana, bisakah ke apartement Alva sekarang? Dia butuh perawatan."
"Oke baiklah, aku tunggu kedatanganmu, terima kasih."
Alex berusaha menghentikan darah yang mengalir dari dahiku, tatapan matanya penuh tanya apa yang sebenarnya terjadi denganku. Aku hanya terdiam dan berusaha menenangkan diriku meredakan emosiku. Pandangan Alex tertuju pada 3 teman bandku yang masih teler di ruang tamuku.
__ADS_1
Byurrr......, Alex menyiram mereka dengan seember air. Dengan gelagapan ke3 orang tersebut sadar dari telernya.
"Brengsek kalian, mabok aja kerjaan lu, ga liat temen lu noh lagi bermasalah malah enak enakan teler kalian. Cepet pergi lu pada!" Alex meluapkan kemarahannya pada ke3 temanku yang langsung lari kluar dari apartemenku.
*****************
"Gab, tu Hp lu bunyi, dari Alex tu, angkatlah Gab!" perintah Dicta. Tumben Alex meneleponku, pasti hal yang penting atau mungkin berhubungan dengan Alva batinku.
"Halo Lex....., belum sempat aku menanyakan maksudnya menelepon, dia sudah nyerocos menyuruhku ke apartement Alva karena dia butuh perawatan. Aku menghela nafas dan menyatakan kesanggupanku untuk menemui mereka.
"Dict, yuk temenin gue ke tempat Alva, kata Alex dia butuh dokter." ajakku pada Dicta yang langsung diturutinya sambil membawakan tas peralatan medisku. Kami naik lift ke tempat Alva dengan pikiran masing masing menebak apa yang terjadi padanya.
Sesaat aku terdiam, mengambil waktu untuk menenangkan diriku sendiri, karena bagaimanapun hatiku sakit melihat Alva seperti ini. Dicta yang melihatku berkali kali menghela nafas, akhirnya memutuskan mengambil alih tugasku. Kami memang satu profesi hanya saja bekerja di RS yang berbeda.
"Gab yang di dahi lumayan robeknya, butuh di jahit, bantu gue ya." aku mengangguk tanda setuju dengannya. Selama Dicta memeriksanya, Alva hanya diam dan memandang padaku, aku tak kuasa mengabaikannya. Seperti kebiasaanku kala Alva gelisah, aku akan mengelus rambutnya atau menggenggam tangannya.
"Va, lukamu ga parah tapi yang didahi butuh sddikit jahitan, kamu tahan ya." kataku memberi penjelasan pada Alva yang dibalas dengan anggukan kecil, serta genggaman tangannya yang semakin erat tanda dia butuh kekuatan. Kuberikan senyum yang menyejukkan agar dia tenang.
__ADS_1
Dicta dengan terampil dan rapih mengerjakan luka di dahi alva, dan aku terus membuatnya tenang agar tidak melawan saat Dicta merawat lukanya. Sedangkan Alex hanya diam memandang kami bertiga dengan mata bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi. Suasana hening menyelimuti kami.
Setelah selesai menjahit luka, Dicta meminta Alex memindahkan Alva ke kamar tidurnya kemudian memberi Alex obat pereda nyeri yang mengandung obat penenang membuat Alva tertidur.
Aku bergegas keluar karena merasa pertahananku akan luruh, sambil mendudukkan diri di sofa aku terisak-isak. Dengan keheranan Alex mengikuti dan duduk dihadapanku, mungkin berharap aku segera menuntaskan isak tangisku dan menjelaskan semuanya. Alex mengalihkan pandangan dan pertanyaan yang tersirat kepada Dicta yang baru masuk ke ruang tamu.
"Lex, intinya tadi kami mergokin Alva lagi ML sama Nadine, dan Gaby mutusin ninggalin Alva!" jelas Dicta tanpa tedeng aling-aling karena emang dia pribadi yang sangat tegas tidak suka basa-basi. Alex shock sampe melongo, matanya melotot menandakan rasa tak percaya, bagaimana bisa spupunya yang bucin banget ke Gaby dengan gobloknya bisa kejebak sama Nadine. Kini giliran Alex yang sakit kepala sampe memijat mijat pelipisnya sendiri mendengar masalah yang dibeberkan dicta tadi.
"Buat detail masalahnya lu bisa interogasi aja spupu lu itu kalau dia udah bisa tenang." ujar lnya sembari meraih tanganku mengajak pulang.
"Oke thanks ya Dict udah ngerawat Alv, dan gue minta maaf banget sama lu ya Gab atas kelakuan Alv!" sahut Alex seraya menangkupkan kedua tangan didada sebagai tanda permintaan maafnya.
******************
*Alex POV"
Aku benar-benar tak percaya dengan kelakuan Alv, bisa-bisanya terjebak sama Nadine. Dan gue lebih ga percaya sama tingkah Gaby yang tetep memperlakukan Alv dengan lembut kaya gitu. Shit!!! **** banget lu Alv! Aku memaki-maki Alva sembari memijat pelipisku yang sakit karena kepalaku pusing memikirkan nasib Alva.
__ADS_1
Apa si yang ada diotaknya Alva, apa dia lupa siapa Nadine dan apa yang udah pernah diperbuat Nadine sama gue. Atau jangan-jangan triknya masih sama dengan yang dia lakuin ke gue dulu. Sialnya kepalaku makin sakit karena memikirkan berbagai kemungkinan dan spekulasi mengenai duduk perkara sebenarnya antara Gaby dan Alva. Akupun menyerah dengan pikiranku dan memilih mengistirahatkan badanku, aku akan menginap di sini.
****************To Be Continue************