
Tring.......
Dicta : Lu dimana say?
Gaby : Area pakaian cowok.
Dicta : otw........
Aku kembali sibuk mencari kaos yang cocok sama selera Stanley, dari tadi emang aku sibuk sendiri memilih pakaian untuknya dari underware, celana sampai atasan dia hanya pasrah atau tepatnya males mikir.
Dari dulu emang Stan cowok yang ga ribet sama pakaian, dia cukup beruntung karena menggunakan model apapun cocok cocok aja , dan yang tidak dapat dipungkiri dia aelalu saja tampan.
Terkadang aku heran dan minder juga sebenarnya apa yang dia lihat dariku, aku merasa biasa saja ga secantik Dicta ataupun Ariska tapi justru dia memilihku.
Saat sedang asyik memilih, Dicta dan Sammy menghampiriku dengan raut wajah amat sangat gembira, seperti biasa tangan mereka saling terkait. Aku merasa hubungan mereka progressnya sangat positif, aku sangat psrcaya Sammy dapat membahagiakan spupuku itu.
"Gab itu sampe underware juga lu yang pilih, emang lu dah ukur apa Stan pake size apa?" tanya Dicta dengan polosnya.
"Yank, kamu juga harus tau ukuran underware aku jadi nanti bisa sediain ukuran yang pas buatku, karena aku juga sama kaya Stan males blanja pakaian."
Aku mengernyitkan dahi mendengar pembicaraan mereka yang absurd itu, tapi sepertinya memang ada pembicaraan mengarah ke step yang lebih tinggi tanpa aku ketahui.
"Ehem... ehem..... Dict kayaknya gue ktinggalan info penting ya? Sejak kapan panggilannya yank trus ngomongin underware?" tanyaku penasaran yang hanya dibalas ketawa ngakak dari dua makhluk ngeselin itu.
"Hahahaa sorry Gab bukan maksud ga mau cerita tapi gue takut hati lu ancur berkeping keping karena posisi lu JoNes alias Jomblo Ngenes, gue takut lu iri hati merasa ditinggalkan dan lain lain!" jawab Sammy ngasal yang bikin aku gemes langsung kuhadiahi pukulan ditangannya.
"Yank, jahat ish sama spupuku, dia jadi JoNes juga gara gara spupu kamu tersayang itu lho!"
"Awas aja lu Sam, gue bilang mami D jangan trima lamaran lu baru tau rasa." ancamku yang dibalas pelototan Dicta hahahaha.
"Stan dimana Gab, dari tadi ga kliatan? Apa dia cariin baju buat lu?" pertanyaan Sammy menyadarkanku bahwa sejak tadi aku hanya sibuk sendiri tanpa tahu keberadaan Stanley.
"Iya gue baru nyadar dia ilang, ga mgkn di tempat cewek soalnya gue udah beres belanja buat diri gue sendiri Sam. Tadi abis gue selesai cari baju buat gue trus dia pamit ke toilet, nah gue inisiatif aja pilihin buat kbutuhan dia." ceritaku sembari celingukan mencari tanda tanda keberadaannya.
"Dict mending lu cepet blanja deh buat lu sama Sam, gue pengen ke surabi EnHai soalnya takut kmaleman nih. Ntar juga pasti Stan balik klo urusannya udah selesai, kali aja ke toilet trus ketemu temen dan ngobrol."
Segera Dicta dan Sammy mencari kebutuhan mereka sebab mereka pasti juga kelaperan. Aku melangkahkan kakiku ke arah kasir karena ini malam minggu maka keadaan memang cukup padat di FO ini, antrianpun cukup mengular di kasir.
Tanpa sadar arah pandangku jatuh pada 3 sosok di parkiran yang sepertinya sedang memperdebatkan sesuatu. Karena penasaran, aku berjalan mendekat dan berdiri dibalik pot bunga besar, seketika mataku melotot karena lelaki itu adalah papa Stanley.
__ADS_1
Dan ya ampun kenapa tangannya digandeng oleh wanita seksi yang ada disebelahnya tanpa sungkan, berarti ada hubungan khusus diantara mereka kan? Sedangkan Stanley terdengar seperti meluapkan emosinya karena nada bicaranya tinggi walau tidak jelas apa yang dia katakan.
Ya Tuhan akan lebih baik aku segera pergi jangan sampe mereka menyadari kehadiranku. Aku bergegas kembali ke kasir untuk menyelesaikan tagihanku. Otakku berusaha menghilangkan bayangan ketiga orang tadi, jangan sampe aku ikut larut dalam permasalahan yang tidak seharusnya aku tahu, kecuali Stanley sendiri yang membaginya padaku.
Tapi rupanya sisi lain hatiku amat penasaran dengan yang kulihat tadi, trutama apa hubungan papa Stan dan wanita seksi tersebut sebab itu bukan mama Stan. Di dunia bisnis sudah terkenal bahwa para bos besar biasanya punya wanita simpanan atau WIL, walau ga semua sih, dan untuk papa Stanley penilaianku pada beliau awalnya adalah seorang family man jadi kayaknya ga mungkin bakal punya skandal.
"Mbak.... haloo mbak...... total belanjanya 2.275.000 ya, mohon ukuran ukuran baju dan spatunya dicek ulang ya."
"GABY...... Woiiii!!!" teriakan Dicta membuatku gelagapan dan membuyarkan smua lamunanku, sialan banget ni bocah jantungku berdetak sangat kencang saking kagetnya.
"Hah.... a.. apa apa ada apa?" aku bener bener kaget sama teriakan Dicta sampe lemes kakiku.
Sepasang tangan yang sangat kukenal pemiliknya merengkuhku, sehingga badanku batal ambruk, dadaku masih panas karena detak jantung yang sangat tidak beraturan. Dia sepertinya juga merasakan maka dengan lembut mengusap usap punggungku. Setelah sekian lama akhirnya aku sadar posisi dan kondisi, dengan malu malu aku menarik diri dari dekapan Stanley.
"Eh... ah... tadi..... tadi duh kenapa si tadi Dicta teriak sampe aku kaget banget trus lututku lemas karena tachycardia." aku mengedarkan pandangan kesekitarku dan makin membuatku malu sebab kami ternyata jadi tontonan. Aku menunduk merutuki kebodohan diri sendiri kenapa melamun sampe segitunya. Kemudian aku teringat belanjaanku, dengan gugup langsung aku berikan creditcardku ke kasir.
Tapi mba kasir yang ramah itu menolaknya, "Sudah diselesaikan sama masnya tagihannya mba, tapi sebelum pergi tolong dicek ulang size barang barangnya ya mba untuk make sure aja takutnya kami salah ambilkan size."
Itulah salah satu alasan aku suka belanja di Rumah Mode sebab pelayanannya memuaskan, akupun tersenyum berterima kasih kemudian segera mencek ulang barang barangku dan Stanley. Setelah semuanya selesai, aku segera keluar menenteng paper bag berisi blanjaanku tadi.
"Gab, sorry ya gue hampir bikin lu serangan jantung tadi. Lu lagi mikirin apa si sampe dipanggil panggil ga denger,sampe gue triakin bru lu sadar. Maaf banget ya Gab!" aku tersenyum memeluk spupuku tercinta itu.
kruik...kruik...kruik.... ya ampun aku laparrrr.
"Maaf aku laper banget, kaya abis marathon rasanya laperku."
"Yuk kita ke surabi yang kamu mau, aku juga dah laper kok." kata Stan sembari mengambil alih blanjaanku dan satu tangannya yang bebas menggandengku.
Hatiku menghangat, aku sedikit terkejut dengan reaksi alami tubuhku, sebab aku pikir rasa padanya sudah hilang dan hanya berganti rasa sayang sebagai sahabat. Tetapi rasa hangat ini sepertinya spesial.
Aku menggeleng gelengkan kepala seakan dengan begitu rasa hangat dihatiku akan menghilang hehehehe. Aku mengingatkan diriku untuk menjaga batas agar tidak kembali terluka karena mengharapkan yang ga pasti.
"Hei kamu kenapa Gab geleng geleng kepala gitu si?" ternyata Stanley sedang memperhatikan tindak tandukku, haduh bikin malu aja sih. Hehehehe aku hanya tertawa tanpa berniat menjelaskan.
****************
Puassss rasanya nemu kupat tahu dan makan surabi telur sosis keju special. Makanan ini yang selalu kurindukan dari kota Bandung.
"Kamu ga pernah brubah selera ya Gab, dulu pernah ada masa dimana tiap weekend kamu minta diajak ke Bandung dan selalu makanan ini yang kamu cari."
__ADS_1
"Ada satu lagi Stan, aku pengen lumpia basah sama kupat tahu yang di pasar Lembang, besok pagi ya kita cari?" pintaku yang dianggukinya tanda setuju.
"Woii...... apa gue ama Dicta ini transparant? Dari tadi kalian berasa hidup cuma berdua ya didunia yang fana ini? Sampai sampai ga diajak ngomo g sama skali!" omel Sammy kesal yang kubalas dengan terbahak. Sejujurnya emang tadi aku berasa cuma duaan aja sama Stan lupa kalo ada 2 makhluk lagi hehehe.
"Hubungan kalian sekarang tu resminya apa si? Pacaran lagi atau ga? Apa TTM? Inget ya Stan cewek tu butuh status ga kaya jemuran yang digantung mulu!" ceplos Dicta yang sukses bikin Stanley tersedak picok yang mendarat kembali dengan mulus dipiring setelah kutepuk tengkuknya.
"Yank, kamu kaya bom molotov ya hari ini, dalam hitungan jam sukses bikin 2 manusia jantungan. Santuy dunk yank, aku ga mau ada brita kalo seorang dokter berhasil mengantarkan koleganya menantang maut." tegasnya yang tetep dengan gaya ngeselin karena pemilihan istilah yang konyol.
"Woii dokter Samuel Leonardi Zein ngeselin banget ya Anda!!!" omelku sambil melayangkan tinju ke lengannya sebagai bonus. Kulihat Sammy meringis kesakitan dan Dicta malah tertawa bahagia diatas penderitaannya. Dan Stanley menikmati polah tingkah kami yang tampaknya selalu menjadi mood booster baginya.
"Minum lagi Stan, kamu harus bersyukur karena lolos dari maut, peristiwa tersedak kadang kita anggap hal kecil tapi sbenernya bisa mematikan lho apalagi kalo sampe menyumbat pernapasan." jelasku sembari mengulurkan air mineral padanya.
"Abis ini kita pulang atau kamu mau kmana lagi?" aku tidak langsung menjawab tetapi melayangkan pandanganku ke Dicta meminta pendapatnya.
"Kita balik aja ya Gab, lu capek dan harus istirahat!" putus Dicta yang terdengar seperti ultimatum karena keputusannya mutlak dan tidak dapat diganggu gugat hehehehe. Dasar spupu posesif.
Tring.......
082299xxxxxx :
Waow ternyata lu ada di Bandung juga. Dasar lo cewek sok baik ganjen, tukang rebut. cepet banget lo move on dari Alva balik lagi ke mantan pacar lo. Hidup lo kasihan ya cuma seputar Alva dan Stanley doank hahahaha.
Aku membaca pesan masuk di ponselku sambil menghela nafas, segitu bencinya Nadine sama aku, padahal kita ga akrab. Alih alih marah, aku malah merasa kasihan sama Nadine karena dia memaksakan kehendak pada lelaki yang tidak tertarik padanya. Ketika kita memaksakan sesuatu yang bukan jatah kita pasti hanya ada kesia-siaan dan rasa marah yang melingkupi hidup kita, dan nantinya bisa menghancurkan diri kita sendiri.
Aku celingukan, mataku menyisir setiap sudut mencari sosok tersangka yang mengirimiku chat oenuh kebencian itu. Usahaku sia-sia sebab tak kutemukan Nadine disini.
"Cari apa si Gab, dari tadi celingukan mulu. Jangan bilang lu pengen makan lain lagi?" tembak Dicta yang memang selalu saja jadi pengawas dari setiap tindak tandukku.
Aku hanya tertawa sambil menggelengkan kepala tanda smuanya aman tidak ada apa apa.
*****************
"Ngelamunin apa Gab? Kalau ada beban hati biar ringan kamu bisa bagi ke aku lho? Aku masih Stanley yang dulu Gab, sosok yang selalu bisa kamu andalkan!" katanya lembut. Ya Lord mata coklatnya itu indah banget, bikin hati hambaMu ini meleleh hehehehe.
Hahaha aku tertawa menggelengkan kepala tanda bahwa aku baik baik saja.
" Gab, malem ini biar Dicta sama Sammy, dan kamu dikamarku aja ya. Aku pengen punya banyak waktu berdua sama kamu. Boleh?" entah Dicta bakal setuju atau gak tapi secara otomatis kepalaku mengangguk tanda setuju. Oh sial..... ternyata pesonanya kembali meracuniku.
******To Be Continue******
__ADS_1
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘