Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 13


__ADS_3

"Hai, udah selesai ngobrolnya? Masih mau disini atau masuk kamar istirahat?" tanya Stanley ketika aku kembali ke meja tempatku semula.


"Dicta ama Sammy mana ya Stan?" tanyaku balik sembari celingukan mencari keberadaan spupuku.


tring.......


Dicta : ga usah celingukan Gab ntar keseleo tu leher hihihi.


Sialan..... ternyata Dicta melihatku mencarinya, bukannya nyamperin malah WA doank.


Gaby : dimana lu? Ketemu di kamar ya kita ngobrol, ajak aja Sam, gue jg ajak Stan. Kalau berempat kan setannya takut hihiihihi.


Tring.......


Dicta : ish.... bilang aja si msh pengen nempel ama Stan. okelah gue udh otw ke kamar nih.


Aku hanya tersenyum membaca balasan dari Dicta dan tak berniat membalasnya lagi, segera kuajak Stanley pergi ke kamarku dan Dicta yang terletak dibangunan pendamping, karena di Villa utama ditempati oleh mempelai dan kedua orang tua mereka. Sedangkan keluargaku dan Dicta memilih pulang ke rumah Brandon yang memang tinggal di Bali. Dan para sahabat serta pengisi acara diberi tempat di Wyndham yang masih di daerah Uluwatu juga.


"Ehm.... Stan, kamu dan Sammy rencana tidur dimana? Kalian disiapin kamar di Wyndham kan? Udah check in belum?"


"Iya, aku dikasih kamar di Wyndham tapi belum sempat check ini karena kan aku bru sampe tadi subuh dan takut telat maka dari bandara Sammy yang jemput langsung kesini. Barangku tadi dimasukin ke tempat kalian deh kayaknya sama org WO."


"Kenapa? Kamu masih mau sama aku? Aku juga banyak hal yang pengen aku obrolin." katanya sambil mengerlingkan sebelah mata menggodaku. Hahahaha aku tertawa sambil mengangguk mengiyakan. Aku memang berencana mengclearkan masalah Nadine sekarang juga, agar aku tidak penasaran.


******Villa kedua******


Yang dimaksud villa kedua adalah bangunan pendamping yang berisi kamarku dan Dicta, dengan fasilitas ruang tamu, minibar, toilet dan kamar untuk dua orang. Saat kami sampai, Dicta dan Sammy sudah ada disana, dan lagi lagi tangan mereka bertautan.


"Ehemm....... ga sekalian pake borgol aja Sam, gandengan mulu. Dunia serasa milik berdua ya, gue cuma sewa." dengusku pura-pura kesal.


"Sirik aje lu Gab, ga puas udh pernah ngerasain dada bidang cowok gue hah!" balas Dicta nyindir.


"Hahahaha yaelah say, masa lalu ituh ga usah sok cemburu lu ama gue, gelii tau Dict." kataku sambil mengajak Dicta masuk kamar untuk ganti pakaian dan membersihkan diri.


Di dalam kamar, aku langsung menanyakan hal yang dari tadi ingin aku tahu, yaitu kapan Sammy dan Dicta memutuskan pacaran. Setelah mendengar penjelasan Dicta, aku jadi geli sendiri karena ternyata Dicta merasa game itu membuat bibirnya sudah tidak perawan sebab first kissnya dicuri Sammy dan sebagai pertanggung jawaban maka Sammy mengajaknya jadian secara sudah lama Sammy mendekati Dicta tetapi tidak berani mengutarakan perasaannya dengan gamblang.


"Gab, ternyata ciuman tu enak juga ya apalagi sama cowok yang kita suka." hahahahaha aku langsung tertawa ngakak sebab pada akhirnya Dicta mengakui bahwa hatinya luluh kepada seorang Sammy.


"Lu beruntung Dict, Sammy orangnya tegas bisa membentengi diri sendiri. Padahal banyak lho dokter muda yang deketin dia di RS, dan gue sering dijadiin benteng sama dia. Alhasil yang banyak disinisin tu gue karena dikira pacaran ama Sammy."


"Tapi inget mesra mesraan boleh asal ga bablas ya Dict!" tegasku mengingatkan. Dicta mengajakku menautkan jari kelingking kami masing masing sbg tanda setuju dan saoing menjaga.


Setelah berganti pakaian kami kembali ke sofa dimana Sammy dan Stanley menunggu dengan sudah berganti pakaian juga. Mereka terlihat lebih fresh dengan pakaian casual.

__ADS_1


"Gab, tadi gue liat Alva kaya frustrasi gitu, emang kalian ngomong apa aja? Lu mau cerita ga?" tanya Sammy yang memang sudah terbiasa to the point saat ingin mengetahui sesuatu. Dicta dan Stanley menatapku menunggu jawaban dari pertanyaan Sammy tadi.


Hahahaha aku tertawa, emang dasar mereka bertiga tu manusia yang super duper kepooo.


Akhirnya aku ceritakan semua percakapanku dengan Alva dan tentu saja apa yang sudah menjadi keputusan yang ku ambil. Kentara sekali bahwa Stanley terlihat sangat lega mendengar penuturanku.


"Puji Tuhan, akhirnya Dict ada kesempatan lagi buat gue tebus kesalahan ama spupu lu." terang Stanley kepada Dicta sambil berHigh Five ria.


"Emang lu yakin Gaby bakal mau lagi sama lu Stan, kan lu juga bekas suami orang. Lebih parah dunk dari Alva brati?" ceplos Sammy tanpa tedeng aling-aling yang tentu saja langsung dihadiahi sambitan bantal dari makhluk yang ditanya.


Aku berusaha menahan tawa melihat wajah polos Sammy yang ga merasa bersalah dan wajah merah padam Stanley yang kesal.


"Eh iya bener juga ya kata lu Sam, Alva yang khilaf karena kejebak aja Gaby ga trima balik, apalagi elu Stan barang second donk itungannya mah!" imbuh Dicta yang membuatku akhirnya terbahak-bahak. Sedangkan Stanley sudah speechless menghadapi dua makhluk yang emang terbilang sangat tajam dalam berkata-kata, setajam silet kalo kata iklan mah.


"Lu berdua tu temen apa musuh gue si? Provokator lu pade! Walau udah pernah nikah tapi gue bukan barang second yah, masih orisinil woi!" tegasnya yang malah makin mengundang tawaku.


"Hah, gimana ceritanya lu udah pernah nikah tp masih orisinil? Punya lu lemah? Atau mantan lu ga bikin nafsu Stan?" kali ini celotehan Sammy kembali dihadiahi sambitan bantal sofa, dan Stanley yang sudah tidak tahan merasa dipermalukan bergerak maju menindih Sammy.


Aku dan Dicta terbahak-bahak melihat saudara spupu itu bergulat. Setelah beberapa lama karena kami takut mereka berantem sungguhan, maka aku dan Dicta memisahkan keduanya. Sekuat tenaga kami menarik Stanley yang berada diatas Sammy, kemudian Dicta membantu Sammy berdiri dan mendudukkan keduanya di sofa yang berseberangan. Aku memegangi lengan Stanley dan Dicta memeluk Sammy.


"Ish kok jadi beneran gulat si kalian?" dengus Dicta.


"Ajarin tuh laki lu Dict biar ga ngeselin kalo ngomong!"


"Kan gue nanya Stan, tinggal lu jelasin aja ga usah pake otot kali."


"So, secara ga langsung lu bilang kalau bakal balik ama Stan?" ceplos Dicta. Haduh pokoknya kita kudu punya hati yang luas dan lapang guna menghadapi Dicta dan Sammy, duet maut itu kalau nanya macam interogasi san gaya bahasanya lugas tegas, jangan sampe BaPer karena rugi kita sakit hati sama mereka, ga bakal sadar. Hahahaha.....


"Ehm..... gini ya, kan yang ninggalin itu Stan jadi yang harusnya berusaha balik itu dia kali ya bukan gue. Lagian udahlah ga capek apa kalian mbahas gue mulu?" elakku sambil tertawa tapi juga nyelipin sedikit sindiran sih wakakakaka.


"Pokoknya Gab, siapapun yang sama elu, gue ga mau lu nangis dan sedih. Udah cukup gue ama Sammy nemenin lu nangis, please carilah kebahagiaan lu, lu berhak bahagia Gab jangan mentingin perasaan orang lain terus!" kata kata Dicta yang sebenernya memotivasi tapi jatuhnya jadi bikin aku sangat terharu, tanpa sadar malah air mataku ngalir ga tertahan.


Kali ini Stanley yang memelukku dan membiarkanku nangis sampe puas di dadanya. Aduh kenapa si aku mendadak melow begini, runtukku dalam hati. Dicta mendekatiku dan sedikit mendorong Stanley agar melepasku, dan menggantikan posisinya memelukku.


"Awas sana, biar gue aja, lu bukan muhrim!" usirnya yang membuatku menangis sambil tertawa, karena tingkah kocak spupuku itu.


Stanley speechless menghadapi tingkah ajaib Dicta, tapi dia tidak melawan.


Setelah tangisku reda dan dadaku lega, aku teringat untuk menggali info tentang Nadine.


Aku melepaskan pelukan Dicta dan menghampiri Stanley, duduk disebelahnya.


"Stan......"

__ADS_1


"Ehumm ya?"


"Apa kamu pernah dekat dengan Nadine saat masih kuliah dulu?"


"Hah? Gimana maksudnya?"


"Nadine mengaku ke Alva kalau salah satu alasan dia jebak Alv karena mau bikin aku sakit hati, sebagai balasan saat aku dia anggap ngerebut kamu dari dia."


Stanley mengerutkan kening tanda sedang berpikir dan seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Aku ingat sekarang, jadi karena kami satu kelas saat itu ada tugas yang harus dikerjakan berkelompok, dan kebetulan aku sekelompok dengan Nadine."


"Saat itu kita ditahap pendekatan, kamu inget ga tiap aku bilang mau kerja kelompok terus aku ijin anter temen pulang, nah temen itu ya si Nadine."


"Aku sedikit banyak paham sih kalau Nadine saat itu berusaha mendekatiku, maka saat menurutku dia sudah bertindak dan meminta lebih, aku langsung bilang kalau lagi deket sama kamu, walau kita belum jadian saat itu."


"Aku ga nyaman aja karena Nadine sangat agresif, sering banget ajak aku jalan walau tugas kelompok kami sudah kelar. Nah suatu saat dia berterus terang pengen jadi pacarku karena menurut dia sudah sering jalan bareng aku. Saat itu aku langsung bilang kalau sudah ada kamu."


Aku jadi ingat moment saat Stanley mendekatiku, setiap aktivitas pasti dia laporin ke aku, hahaha membuatku merasa istimewa padahal belum jadi apa apanya. Proses sampai kami menetapkan untuk pacaranpun terbilang panjang dan ga banyak yang tahu karena, aku memang lebih sering di RS karena saat itu aku sudah Ko-As dan Stan ada di smester akhir. Jadi kebersamaan kami tidak terendus di kampus.


"Dan Gab, jujur ya Nadine jg pernah hampir menjebakku, dan kejadiannya sama saat aku sedang di club, untung ada temen yang liat saat dia masukin obat entah apa, dan temenku itu langsung tuker gelasku jadi dia sendiri yang terkena jebakannya."


Aku melongo mendengar fakta baru lagi, padahal saat itu kan Nadine belum bangkrut, jadi dia emang selalu memainkan pola yang sama untuk mendapatkan pria yang dia mau. Aku benar-benar tak habis pikir sama otak Nadine, kayaknya ada yang korslet.


Bahkan Dicta dan Sammy yang sedari tadi hening mendengar pembicaraan kami, ikut kaget mendengar fakta baru dari Stanley.


"Edan bener dah Nadine, cantik lho dia kenapa ambil jalan pintas gitu buat dapetin cinta lelaki sih!" nyinyir Dicta.


"Jadi lu ama Stan udah mulai deket pas kita Ko-As ya, pantes lu sering banget kabur kalo si dokter Indra deketin lu, dan dia benci banget ama gue pasti karena dikira lu pacar gue." cerocos Sammy yang malah ngebahas masalah lain. Aku hanya geleng kepala dan mendengus kesal, karena Dicta dan Stanley pasti akan kepoo urusan dokter Indra.


"What??? Lu pilih Stanley daripada trima dokter Indra, bener-bener otak lu soak Gab! Pantes ya Gaby kok jadwal jaga malemnya selalu samaan ama dokter Indra wakakaka baru paham gue trik dia deketin lu."


"Woiiiiii, lagi bahas Nadine kenapa jadi dokter Indra sih dibawa bawa, sampe sekarang juga dia masih usaha aja tuh!" teriakku sewot tanpa sadar buka rahasia sendiri kalo dokter Indra emang masih usaha deketin aku.


"Wakakakaka........." Sammy dan Dicta tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku masih membekap mulutku sendiri karena kaget sudah ember.


"Ya Tuhan, dokter itu teguh banget ya ngejar kamunya, sampe taunan dijabanin. Kamu pasang susuknya dimana si Gab, sampe banyak yang kesengsem." goda Stanley


sambil mencubit gemas kedua pipiku.


"Woiii tangan lu Stan! Nyesel kan lu ninggalin dia!" tegur Dicta


"Setdah posesif amat lu Dict, yang punya pipi aja anteng." bales Stanley sambil sengaja gemesin pipiku lagi. Aku langsung berusaha menutupi pipiku dengan tangan.

__ADS_1


Saat jam menunjukkan sudah pk 02:00 pagi, maka kami memutuskan untuk beristirahat. Aku dan Dicta di kamar dan para lelaki di sofa.


******To Be Continue******


__ADS_2