Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 34


__ADS_3

Setelah makan siang, aku bicara sebentar pada Nadine untuk dia tetap tinggal disini agar Alva mulai belajar mengatasi stressornya. Aku juga membuat jadwal check up ke dokter kandungan minggu depan setidaknya setelah masa self quarantine yang ditetapkan pemerintah berakhir. Aku juga menegaskan pada Nadine bahwa semua yang aku lakukan berdasar pada tanggung jawab dan perikemanusiaan karena profesi kedokteranku bukan lagi karena bau bau asmara.


"Terima kasih buat semua bantuanmu ya Gab, dan sekali lagi maaf karena tindakanku merepotkan banyak orang!" katanya kembali meneteskan air mata.


Aku menepuk bahunya tanda bahwa permintaan maaf dan ucapan terima kasihnya kuterima dan aku berharap dia baik baik saja. Kemudian aku masuk ke kamar Alva untuk pamit sebab aku harus ke RS, jadwal dinasku 2jam lagi dari sekarang.


**********************


"Na.... kalau konsultasi bisakah homecare? Pasien addicted alkohol dan arahnya ke depresi, Dicta minta refer ke elu. Lokasi satu apartemen juga kok sama lu cuma beda lantai aja. Gimana?"


Dalam perjalanan ke RS aku sempatin telepon sahabat kami yang berprofesi sebagai psikolog dan kebetulan juga tinggal satu lantai dengan Dicta.


"Ehm...... sbenernya enakan di klinik si Gab, but situasi gini darurat bisalah gue homecare. Jangan bilang ini pasien namanya Alva ya mantan lu?"


"Wakakakakakaka 100% bener say, dih susah ya ngomong ma cenayang serba tahu."


"Bukan apa apa Gab, smalem gue liat si Alva dipapah ama Alex dia ngoceh ngoceh ga jelas minta minta maaf gitulah, dan kabar burung di RS kan udah santer kalo lu putus ama si artis tu. Makanya otak gue langsung nyantol kesitu tadi palagi lu refer pasien ga pake jalur resmi hehehehehe."


"Sorry ya gue belum sempet curhat ama lu, but anyway thanks mau trima pasien jalur khusus wakakaka."


Setelah berbincang sebentar dengan Retna, aku teringat akan Stanley dan urusannya dengan papanya, ragu ragu aku ingin meneleponnya, tetapi rasa penasaranku sangat besar. Saat perang batin terjadi antara telpon atau tidak, tiba tiba lagu "Setia" Jikustik terdengar dari ponselku. Rupanya Stanley pake mode VC, segera kuaktifkan earphone dan menaruh ponsel di stand phone.


"Halo...., eh kamu sambil nyetir ya, baru mau ke RS? Ya udah aku tutup ya nanti kalau dah sampe RS kamu telpon aku oke?" katanya hendak mematikan ponsel yang langsung aku cegah.


"Eh eh tunggu..... tunggu.... bentar lagi lampu merah kok Stan, jangan matiinlah."


Aku kembali fokus menyetir sbil sesekali melihat latar ponsel yang ternyata masih mode VC. Sampai akhirnya kena lampu merah dan dapat berbincang sejenak.


"Gab, mamaku sudah tahu tentang Tina, perempuan yang kamu lihat di Bandung. Mama sangat marah pada kami, karena merasa dibohongi oleh aku dan papa. Ada yang mengirim foto saat aku sedang bicara pada papa dan perempuan itu di Bandung."


Aku tertegun sejenak, kok jalan ceritanya jadi mleber kmana mana ya? Sebenarnya siapa si yang akan dijatuhkan dari skenario orang ketiga ini. Kalau ingin menghancurkan papa Stan trus kenapa yang dikirim justru foto yang ber3 ya.


Apakah mungkin tujuannya agar mama Stan mengira bahwa anaknya sudah mengetahui hubungan ini lama dan merestui ayahnya berhubungan dengan wanita lain gitu?


"Trus kondisi mama sekarang gimana? Kamu ga berhasil jelasin semua? Papa ga jelasin apapun buat membela diri?"


"Kami belum sempat menjelaskan apapun, mama udah teriak ngomel dan memaki jadi kami pikir lebih baik diam dulu."


"Stan, jangan biarin sesuatu berlarut larut, minimal kamu korek dulu apa yang membuat papa bisa sama wanita itu jadi kamu bisa bantu jelasin dengan rasional. Kamu selidiki wanita itu, aku yakin dia orang suruhan. Kalau kalian pilih diam dengan alasan demi kebaikan ujungnya ga da hasil yang baik tapi justru makin hancur."


"Kamu tahu Stan, hari ni aku ketemu Nadine di apartement Alva, dia cerita semua bahwa dia bisa tidur sama Alva dan ada videonya itu karena jebakan papanya sendiri. Papanya butuh penyelamat dari kebangkrutan dan gelap mata korbanin Nadine. Dan lebih parah lagi Stan, dia hamil sekarang."


Kulihat Stanley melongo mendengar ceritaku, iyalah sapa juga yang bakal nyangka kalau semua ulah dari orangtua sendiri.


"Motifnya apa kok sampe jebak anaknya sendiri?"


"Biar bisa dapet bantuan mungkin dari orang tua Alva karena perusahaan papa Nadine lagi parah kondisinya, atau justru dia berharap Nadine terjamin hidupnya jika bisa memiliki Alva."


Stanley manggut manggut mencerna informasi yang kuberikan. Dan obrolan kami harus dihentikan sebab lampu lalu lintas berganti hijau.


******************


Suasana di IGD seminggu ini benar benar full, cuaca yang kurang bersahabat membuat banyak pasien flu, demam, radang tenggorokan, batuk pilek. Belum lagi kita harus bisa memilah mana pasien yang dimungkinkan terinfeksi corona atau flu biasa.


Beberapa pasien yang dicurigai terinfeksi covid-19 dan sudah diisolasi ternyata saat hasil lab keluar mereka terinfeksi tuberculosis. Jadi dalam suasana ini pads tenaga medis bekerja super ekstra, harus fokus dalam memilah mana pasien biasa mana pasien PDP covid.


Satu minggu yang sangat menguras tenaga selain harus waspada menangani pasien, kita harus juga memperhatikan imunitas diri kita sendiri sebagai tenaga medis, ditambah tanggung jawab plus plus harus mengawasi Alva dan Nadine.

__ADS_1


Sebagai manusia biasa terkadang moodku drop juga tetapi aku berusaha meningkatkan semangatku sendiri, salah satu caranya dengan yang kulakukan saat ini ketika ada sedikit waktu, aku kabur sebentar untuk sekedar makan atau ber-VC ria hehehehehe.


"Stan, sorry ya aku belum punya banyak waktu buat kita." kataku merasa bersalah karena benar benar pusing bagi waktuku


"Husstt, hei kamu denger ya, dengan kamu trima aku balik, memaafkan aku dan bahkan menemaniku saat ini, itu semua lebih dari cukup yank."


Blushing....... mendengar panggilan "Yank" darinya wajahku terasa panas dan senyuman semringah tak mampu kutahan. Stanley memelukku dan aku ngumpet di dada bidangnya menyembunyikan rona merah wajahku.


Dapat kudengar degub jantungnya berdetak lebih cepat sama cepatnya dengan degub jantungku sendiri. Aarrrggghhhh kenapa aku jadi kaya ABG yang baru kenal pacaran sih, gemasku pada diri sendiri.


**************************


"Dok, bed 3 perempuan atas nama nona Tina, 30th, perdarahan, kehamilan 3bulan, terpeleset di toilet, kondisi tidak sadar atau pingsan dok, sudah pasang infus." aku mengikuti langkah suster Nina yang menjadi asistenku malam ini menuju bed 3.


Aku terkejut melihat pasien adalah perempuan yang bersama papa Stanley, segera aku menguasai diri dari kekagetanku. Pasien sudah tampak lebih tenang dan perdarahan sudah berhenti, tekanan darah normal. Aku menyuruh suster Nina menghubungi bagian Obgyn, agar pasien dapat diperiksa lebih menyeluruh saluran lahirnya apakah ada pembukaan atau tidak.


"Sus, coba cek bidan Early bisa terima pasien atau beliau yang kemari karena pasien butuh cek dalemannya apakah ada pembukaan ataukah perdarahan karena gesekan saja."


"Baik dok, saya hub ke bag Obgyn." jawab suster Nina sembari pergi ke meja kerjaku.


Aku kembali memeriksa Tina dan baru sadar bahwa ada lelaki yang sedari tadi menjaga disampingnya.


"Maaf, dengan bapak siapa? Apakah anda suami pasien?" tanyaku pada lelaki itu.


"Benar dok saya suaminya. Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya dok?" jawabnya gugup dan gelisah.


"Kita akan cek lebih lanjut ya kebagian obgyn, perdarahan sementara sudah mampu dihentikan semoga tidak terjadi pembukaan ya pak."


"Kalau boleh saya tahu kejadiannya gimana ya sampai istri bapak bisa terpleset?"


Aku menduga ada KDRT kalau memang benar lelaki itu adalah suaminya sebab di bagian lengan atas ada memar, di kaki dan paha juga ada beberapa memar. Tetapi karena pasien kondisi pingsan maka tidak dapat kuinterogasi.


"Eh.... oh.... gimana yah..... saya kurang perhatiin juga si dok pokoknya tadi kepleset di toilet. Yah gitulah dok mungkin toiletnya licin kali."


Aku makin curiga tetapi harus menahan diri jangan sampai jatuhnya fitnah.


"Baik pak, saya refer ke bagian Obgyn dan saya rujuk untuk rawat inap dua hari ya, agar benar benar pulih. Seperti biasa apabila ada BPJS maka bapak bisa menggunakannya dan mengurusnya di bagian administrasi."


"Sekarang perawat kami akan mengantarkan pasien ke unit Obgyn dan bapak silahkan mengurus administrasi untuk rawat inap, setelahnya bisa menyusul ke unit Obgyn."


"Ba.... baik dok terima kasih." jawabnya masih dengan gugup.


Aku membalas dengan senyum dan anggukan kemudian kembali ke meja kerjaku untuk mengisi rekam medis pasien. Hubungan antara papa Stan dan wanita ini sungguh masih misteri. Stan juga ga pernah mengungkit masalah ini dalam sminggu ini, mungkin karena paham kesibukanku, dan akupun tak sempat menanyakan padanya masalah ini.


Hufth....... tetiba IGD lengang, aku menoleh jam ditanganku yak...... udah tengah malem hehehehe syukurlah ga da pasien darurat jadi bisa sedikit melemaskan otot, sambil menyelesaikan status status pasienku.


"Minum dulu biar strong Gab!"


Aku sedikit terlonjak mendapati dokter Indra sudah ada didepanku. Mirip jaelangkung aja ini manusia, suka dateng tiba tiba dan ngilang ga ijin juga hehehehe.


Aku tersenyum manis dan menggangguk tanda terima kasih, kemudian langsung menyeruput kopi yang diberikannya.


"Yang tadi dicafe pake meluk meluk siapa kamu Gab?"


Uhuk... uhukk..... uhuk...... aku langsung blingsatan mencari botol air mineralku, kuteguk banyak banyak untuk meredakan batuk tersedakku. Kuangkat satu lengan tanganku ke atas sambil menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya cepat. Sedangkan tangan dokter ganteng ini mengelus elus pundakku sembari say sorry merasa bersalah.


"Dok atulah udah bikin kaget bikin kesedak pula, untung ga sesak nafas akunya bisa bablas tau, amit amit deh." kataku sembari getok getok meja dan dahi hehehe.

__ADS_1


"Idih kamu pamali tau ngomong ngomong mati, itu mah rahasia Tuhan. Aku tuh liat kamu sama Stan, eh bener kan itu Stan yang pernah bowling bareng. Jadi kamu dan dia.....?"


Dokter Indra tidak meneruskan ucapannya ketika melihatku menggangguk angguk membenarkan prediksinya.


"Dok, bukankah dokter udah sadar kalau sebenarnya hati dokter ke Ellen bukan ke saya? Mungkin dokter emang sayang sama saya sebagai adik aja, iya kan? Keliatan banget kok waktu liat Ellen sama dokter Ray, mata dokter Indra membara gitu." kataku sambil terkekeh.


"Saya sampai saat ini beneran ga paham gimana hati saya sendiri lho Gab, tapi liat kamu sama Stan tadi saya ikut bahagia karena liat kamu senyum bahagia banget."


Hahahaa polos banget si dokter Indra ini, bener bener ABG kadaluarsa, pubernya telat kali ya.


"Ehmm..... coba dokter rasain kalau pas ketemu Ellen trus dia kasih banyak perhatian, apa yang dokter rasain?"


"Deg degan terus kaya ada kupu kupu terbang di perutku gitu ngegelitik. Terus kalau pas ga ketemu karena sama sama sibuk rasanya pengen ketemu gitu si." terangnya dengan senyum sumringah.


Hahahahaa bener kan emang nih telat banget pubernya, "Nah itu namanya dokter udah jatuh cinta sama Ellen."


"Biasanya ya dok orang yang lagi jatuh cinta itu jadi serba gugup pas ketemu sama pujaan hatinya, deg degan, salah tingkah, bingung musti ngapain. Itu yang dokter alami sama Ellen, beda kalau pas sama aku kan dokter slow banget, ngomong juga lancar jaya kaya jalan tol jadi dokter cuma nyaman sama aku tapi bukan berarti cinta sama aku."


"Udah jangan ragu lagi dok, kejar Ellen, nyatakan apa yang dokter rasain. Kita tebar wabah cinta aja dok biar covidnya pergi." kataku ngasal hehehe.


Dokter Indra manggut manggut dan senyumnya itu lho manis banget kaya gula diabetasol hahahaha. Aku berdoa dalam hati semoga Ellen jadi cinta pertama dan terakhirnya dokter Indra. Amin.


"Makasih ya Gab, kamu emang pelita dalam kegelapan, kamu selalu bisa menjernihkan pikiranku yang butek, melancarkan peredaran darahku yang buntu, pokoknya kamu amazing." katanya sambil memelukku.


Heh ni beruang kutub kok receh banget ya biasa kan cool kaya AC 2pk yang biasa diake di ICU yang dinginnya beerrrr bikin mrinding hahahaha. Ternyata jatuh cinta bisa bikin manusia kulkas jadi hangat ya.


"Haduh dok dikira saya infusan kali ah melancarkan peredaran darah yang buntu pada pasien stroke hahahaha."


Dokter Indra pamit menyudahi pembicaraan kami setelah aku berjanji akan membantunya mempersiapkan kejutan untuk Ellen, yah.... diusianya yang udah matang emang ga perlu nunggu lama kan, lebih baik niat baik berkeluarga disegerakan.


Sepeninggalannya, aku kembali fokus pada status pasien pasienku. Owh iya aku kan penasaran sama persmpuan itu, "Suster Nina, apa pasien yang perdarahan itu sudah masuk ruang rawat inap atau masih di obgyn?"


"Masih di Obgyn dok, nunggu ada bed kosong sebab BPJSnya kelas3 dan untuk kelas 3 kita masih penuh semua, suaminya belum memutuskan akan naik kelas atau nunggu."


Aku manggut manggut mendengar penjelasan suster Nina seraya mengucapkan terima kasih. Lebih baik aku telpon ke obgyn penasaran gimana kondisi janinnya.


"Haloo dokter Gaby, ini Early, ada yang bisa dibantu?" sahut suara disebrang.


Aku segera menanyakan kondisi pasien atas nama Tina yang tadi kurefer. Dia belum siuman, tapi tidak ada pembukaan pada jalan lahir jadi kondisi janin selamat, hasil USG usia kandungan 13minggu.


Dan bidan Early juga curiga hal yang sama denganku bahwa kemungkinan ada tindak penganiayaan ringan dan bukan terpeleset seperti pengakuan lelaki yang mengaku suaminya.


Aku sungguh penasaran, apakah ada hubungannya dengan papa Stan atau tidak. Apa yang harus kulakukan ya, jujur aku sedikit bingung sebab aku memegang sumpah untuk rahasia pasien, tapi feelingku mengatakan kalau kehamilan ini digunakan untuk mengancam papa Stanley. Sepertinya pasangan suami isteri ini bukan orang baik baik, atau mereka ada pion yang digunakan buat menghancurkan seseorang.


Aku berjanji pada diriku sendiri besok harus mencari tahu hasil pembicaraan Stan dan papanya. Atau kalau perlu aku sendiri yang akan mengajak papanya bicara, toh dulu papa Stan sangat sayang padaku jadi mungkin aja beliau mau bicara terus terang kepadaku.


#


#


#


"Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan."


(Emha Ainun Nadjib)


******To Be Continue******

__ADS_1


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘


__ADS_2