Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 68


__ADS_3

Aku terbangun mendengar teriakan Stanley, tertegun melihat ponselku ditangannya. Siapa yang meneleponku sampai membuatnya marah ya, batinku. Rupanya si penelepon memutuskan panggilan sepihak, membuat Stanley makin emosi.


Kupandangi dia sedang mengumpati si penelepon, sisi galak yang hampir ga pernah kulihat darinya. Aku tersenyum melihat dia ngamuk ngomel sendiri sambil memandangi ponselku. Ternyata selain cemburuan, dia juga galak banget. Merasa ada yang menatapnya, Stanley membalikkan badan kearahku, "Lho kamu udah bangun yank. Gara gara denger aku teriak ya? Maaf ya ganggu kamu yank.


Kugelengkan kepala tanda kalau aku tak merasa terganggu. Kuarahkan pandanganku pada ponsel ditangannya, "Ponselku kenapa Hon?


Stanley mengedikkan bahunya, "Ada nomer ga dikenal telpon kamu terus maki maki kamu yank, pas aku bersuara dia malah diem trus matiin makanya aku kesel banget!"


Kuusap lembut pipinya untuk meredakan emosi Stanley, "Emang yang telpon ngomong apaan Hon?"


"Ya ngata ngatain kamu cewek ga bener perusak hubungan orang lain, dia juga nyamain ama beberapa binatang gitu deh. Aku ga trima istriku dikata katain jadi aku teriakin, siapa kamu gituh. Cuma kutanya gitu malah dia matiin telponnya."


Aku berpikir sambil mengingat kemungkinan kemungkinan siapa aja yang mungkin ga suka sama aku. Mungkinkah salah satu keturunan Zein yang di luar perkawinan, batinku. Mungkinkah Tina ya, perempuan yang pernah jebak papa?


"Hon, rasanya aku ga da musuh deh. Atau ada kisahmu sama cewek sebelum balik sama aku? Kan biasanya yang ngelakuin gitu cewek yang merasa cowoknya direbut ya." aku masih mencoba mengurai siapa penelepon itu.


"Nadine? Kan dia ga jadi dapetin Alva siapa tau dia jadi hilang akal? Yank, Aku ga da cewek selama di Amerika. Atau si Arizka ya? Tapi dapet nomer kamu darimana." Stanley pun mencoba berbagai kemungkinan.


"Besok aku akan telepon Nadine biar jelas dugaan Kita benar dia atau bukan. Sekarang turun yuk pasti mereka udah selesaikan ngobrolin nikahannya."


"Mandi dulu yank, bareng ya biar cepet." ajaknya sambil membawaku langsung ke kamar mandi.


Aku menurut saja saat dibawa ke kamar Mandi, semoga beneran mandi ga pake bonus biar cepet batinku sambil terkekeh geli mengingat acara mandiku sebelumnya.


------------------------


"Hai sayang udah seger, gimana acara tidurnya?" sambut Mami D begitu kami muncul di ruang makan.


Kukecup pipi Mami D dan berbisik, "Belum ngapa ngapain, kita takut Mami nguping jadi nanti malem aja deh pas semua dah bubar!"


Dugh..... kuusap dahiku yang kena sentil Mami D, kebiasaan banget si suka KDRT runtukku sebal.


Mami D terbahak kemudian berbisik kembali, "Mami penasaran Gab apakah kualitas milik Zein masuk grade A atau B. Kan palingan punya Sammy sebelas duabelas ama Stanley."


"Mami D iiiihhhh!" teriakku kesal yang tentu saja tak digubris olehnya.


"Kalian bisik bisik apa si? Trus Mami ngomong apa kok kamu kesal Gab?" sela mamaku yang ingin menyelamatkanku dari keisengan Mami D.


"Biasa jeng masalah ehmp........." kubekap mulut Mami D supaya tak melanjutkan celotehnya.


"Ga da apa apa mama, biasa Mami isengin aku." kataku sambil senyum dan hanya ditanggapi dengan geleng kepala oleh mama seraya meninggalkan kami.


Sepeninggalan mama, aku lepaskan bekapanku pada Mami D dan kubisiki, "Grade A mi pokoknya mulus high quality bangetlah. Dicta pasti puas dapetin Sammy."


Mami D amat sangat sumringah mendengar bualanku wakakaka, ya gimana aku tau grade A atau B, ngerasain aja belum dan lagian untuk dapat mengkategorikan ke grade A atau B kan harus ada pembanding. Lagian untuk memuaskan pasangan suami istri cukup dengan mengeksplorasi tubuh masing masing saja tanpa harus membandingkan ukuran.

__ADS_1


Istilah sederhananya panci dan tutup panci kan udah sepaket ukurannya jadi klo bertukar tempat dengan panci lain pasti ga akan pas. Eh... kok jadi mikir panci ya wakakakaka.


"Yank mikirin apa senyum senyum sendiri hayoo." ujar Stanley yang membuatku kaget.


"Hehehe ga mikir apa apa kok Hon, yuk makan biar mereka cepet pulang dan Kita bisa santai santai lagi." ujarku sambil mengerling manja.


----------------------


Akhirnya aku dan Stanley sudah dibiarkan berduaan lagi, setelah makan semua bubar jalan pamit pulang ke rumah masing masing.


Badanku rasanya lengket lagi karena udara saat ini memang sungguh panas. Aku mengisi mini pool dengan sedikit air hangat agar suhu airnya suam suam kuku. Bayanganku akan rileks sekali berenang di mini pool sambil menyalakan aroma therapy.


Setelah air cukup hangat, aku mulai berenang ya lumayan beberapa kayuhan tangan Karena emang ukurannya mini. Aku mengapung di air sambil memejamkan mataku merenung, statusku yang hari ini sudah berubah, seorang istri dari suamiku. Semoga aku dapat membahagiakan Stanley dengan cepat memiliki anak.


Aku jadi geli sendiri kenapa tiba tiba mikirin anak hahaha mestinya pikirin dulu gimana cara buatnya. Jadi teringat ucapan Mami D tentang grade hahaha, mungkin selama ini orang hanya membicarakan se* dengan ukuran secara fisik.


Terkadang kita lupa bahwa kepuasan batin suami istri bukan hanya tentang ukuran tapi juga proses saat saling memberi dan menerima kepuasan itu. Hubungan suami istri adalah hubungan timbal balik jadi kalau take and give ga seimbang udah pasti ada pihak yang merasa tidak puas.


Aku berharap dengan status kami yang agak rumit karena tertukar ini, kami bisa selalu mengkomunikasikan apapun yang nanti hadir dalam pernikahan kami. Ibarat kapal yang berlayar di samudra luas, pasti akan Ada gelombang nah harapanku saat gelombang datang yang pasti tanpa acara pendaftaran hehehe, kami berdua selalu siap sedia menghalaunya.


---------------------


*Stanley POV*


Orang tua kami sudah membubarkan diri setelah makan malam, sekarang hanya tinggal kami berdua, orang yang sama dengan status yang sudah berbeda.


"Yank, kamu tunggu aku dikamar aja ya, siapkan dirimu buat malam pertama kita." bisikku dengan suara dibuat serak seksi menggoda.


Gaby tertawa, mencium pipiku kemudian beranjak ke kamar, sedangkan aku menyelesaikan meetingku.


Dan setelah sekian lama membahas rencana rencana kerja 6 bulan kedepan, maka pimpinan rapat menutup agenda meeting online ini, "Terima kasih untuk kehadiran semua pihak khususnya Pak Stanley yang tetap memprioritaskan agenda ini. Dengan ini rapat kita tutup!"


Bergegas aku ke kamar atas, kulihat pemandangan menakjubkan, istri yang sudah polos mengapung di mini pool. Kutelan ludah menetralisir deguban jantungku, perlahan aku tanggalkan semua dan menjadikan tubuhku polos juga.


Kulangkahkan kaki tanpa suara menuju mini pool. Aku berusaha masuk ke air tanpa suara, sepertinya Gaby menyadari kehadiranku, dan ketika dia merubah posisi aku langsung menangkapnya dalam pelukanku. Kini kami berada dalam kolam sambil saling memeluk. Aku mulai menciumnya selembut mungkin.


Semakin lama semakin intens dan dalam, kali ini Gaby bertahan lebih lama dari biasanya. Kulepaskan ciumanku memberinya kesempatan bernafas dengan lega, seperti biasa aku hanya bisa menahan tawa melihat dia seperti ikan yang kelamaan di darat hahaha. Degub jantungnya dapat kudengar sangat tidak beraturan, kuelus lembut area punggung Gaby agar lebih relax.


"Hon, di darat aja aku berasa kaya orang asthma, apalagi di air gini dalam kondisi polos lagi, ibarat ikan lagi kurang oksigen." bisiknya dengan nafas ngos ngosan.


Kulepaskan tawa yang sedari tadi kutahan, "Ya udah kita naik yuk lanjut di ranjang aja."


Kuangkat tubuhnya kluar dari pool, Dan kami segera mengeringkan badan, meneruskan aktifitas yang sama di tempat yang berbeda.


Aku tidak munafik saat masih berpacaranpun beberapa kali melakukan making out tetapi tidak pernah membuka pakaian. Dan sensasi saat ini sangat berbeda karena status kami yang sudah sah. Kalau sebelum sah selalu ketakutan kebablasan kalau sekarang justru takut tak terpuaskan hahaha.

__ADS_1


Aku memilih untuk pelan pelan saja agar tidak meninggalkan trauma kesakitan. Kuberikan sentuhan sentuhan keseluruh bagian tubuhnya agar dia merasa relax dan tidak merasa terlalu sakit saat aku memasukinya.


Kulebarkan area eksplorasiku ke daerah bawah, membuat istriku mengeluarkan suara desahan yang ternyata amat seksi, aku semakin bersemangat menghantarnya mencapai puncak untuk pertama kalinya.


Tapi tiba tiba Aku terhenyak teringat sesuatu, kuhentikan segala aktifitasku, Gaby yang kaget karena perjalanannya tertunda segera duduk menatapku bingung. Kuambil ponselku, mematikan Bel pintu apartement dan segera kumatikan juga ponselku, kucari ponsel Gaby dan segera kumatikan.


Gaby masih melongo terheran heran dengan tingkahku, dia berjalan kearah lemari baju, giliran aku yang bingung mau ngapain dia ke lemari.


"Yank mau ngapain ke sini?" tanyaku seraya menarik tangan yang hampir membuka lemari.


"Mau ambil baju, kan kamu udah ga pengen, udah selesai jadi ya aku mau pake bajulah."


Kutarik tangannya kembali ke ranjang Dan kurebahkan tubuh istriku ini, "Maaf yank kita belum selesai, tadi aku cuma kepikiran bel apartement sama ponsel belum dimatiin. Aku ga mau malam kita ini terganggu sama bel dan telepon kayak di novel novel romance yang suka kamu baca yank, makanya aku tiba tiba berhenti tadi. Maaf ya mood kamu jadi ancur, tapi masih mau kan yank mulai lagi?"


Tanpa menunggu jawabannya kumulai kembali ritual tadi dari awal supaya mood Gaby kembali naik, dan perjalanan yang kedua terasa lebih mudah sebab Gaby sudah mulai bisa merespon balik tindakanku padanya. Aktifitas kami semakin memanas sampai akhirnya tiba saat aku memasuki dirinya. Air mata dan peluh bercampur menjadi satu, akhirnya semua yang kami jaga kami saling terimakan pada orang yang tepat.


Rasa bahagia, haru sekaligus bangga campur aduk memenuhi relung hatiku. Dan ketika pertarungan kami berakhir, kulihat banyak sekali darah yang tercecer. Seketika aku terperanjat bingung, "Yank ini banyak banget, ini normal kan? Apa aku terlalu kasar?"


Gaby mengikuti arah yang kutunjukkan, "Owh itu darah dari Hymen, mungkin punyaku tebel jadi darah yang keluar banyak Hon?"


Aku berusaha mencerna penjelasan ya, "Emang beda beda yank? Maksudnya ga semua orang berdarah sebanyak kamu?"


"Iya, tiap perempuan punya yang namanya Hymen tapi bentuk dan elastisitasnya berbeda beda, ada beberapa macam tipe dan itu mempengaruhi kondisi tiap wanita saat berhubungan suami istri untuk pertama kalinya." kujelaskan semua pengetahuan berkaitan dengan ilmu kedokteran karena nyatanya masyarakat kita masih seeing salah persepsi masalah virginitas.


"Gampangnya gini, kita analogikan sama botol mineral kan ada bagian yg lebih kecil kemudian membesar, dari area tutup ke badan botol kan kaya ada saluran yang mengecil. Nah gitu juga saluran di wanita Hon, Kita aya botol mineral yang tertutup dan ketebelan tutupnya beda beda."


"Keluarnya darah ga bisa jadi patokan wanita perawan atau gak, sebab kalau Hymen dia tipis dan sangat elastis biasanya ga kluar darah atau malah udah robek sebelum dia paham tentang hubungan pria dan wanita, misal pas sepedaan jatuh bisa aja robek."


"Jadi cuma kejujuran dan rasa percaya aja yang bisa dijadikan patokan dari pasangan suami istri. Tapi setiap suami pasti bisa kok mendeteksi sendiri istrinya masih perawan atau tidak." ujarnya mengakhiri kuliah tentang hymen ini dengan senyum.


Aku mengangguk angguk mulai paham dengan penjelasannya, "Tapi kamu keluar darah banyak banget ga papa yank? Ga lemes atau perih?


Gaby mengelus pipiku sambil senyum, "Aduh suamiku ini perhatian banget si, ini emang sudah seharusnya kaya gini Hon, aku ga papa kok ya perih dikit wajar namanya abis dijebol hehehe but it's okay. Jangan kamu bayangin karena keluar darah jadi bikin aku anemia ya hehehe."


Gabypun beranjak membersihkan badan, dan aku membereskan tempat tidur tanpa mengganti sprei karena tampaknya akan ada sesi tambahan jadi lebih baik besok aja gantinya hahahaha, sungguh sesuatu yang Halal ternyata menyenangkan sekali untuk dilakukan, batinku sambil tersenyum bahagia.


------------------------


Waaahh akhirnya bisa belah duren dengan lancar tanpa ganguan ya mereka berkat antisipasi yang tinggi hahahaha.......


Aku selipin sedikit pengetahuan tentang keperawanan yang masih sering jadi polemik di masyarakat ya.


Buat yang masih pacaran atau baru mau nikah semoga kisah mereka menginspirasi kalian ya. Prinsipnya buka semua hal tentang diri kalian kepada pasangan, tanyakan bisakah menerima saya apa adanya bukan ada apanya.


Menerima kekurangan pasangan adalah syarat wajib dalam mencintai seseorang. Sedangkan komunikasi kunci sukses mencintai seseorang.

__ADS_1


Hai readers kesayangan akuh, gimana part ini, semoga kalian puas ya. Seperti biasa closing statement saya jangan lupa tinggalkan jejak like vote and comments ya. Thank You😘🙏


__ADS_2