
Hari ini aku giliran off, seharian ini suamiku terlihat gelisah di kantornya, berkali kali Stanley melakukan video call. Aku sedikit kesal karena berkali kali pula tidurku terganggu. Entah mengapa badanku rasanya lemas, mata super ngantuk dan perut begah, sebah atau lebih dikenal dengan kembung eneg.
Aku tak ingin kondisiku lebih drop maka kuputuskan untuk memperbanyak tidur, tetapi sebentar sebentar Stanley menelepon mengecek kondisiku. Rasanya antara senang, geli dan sekaligus kesal menjadi satu Dan berujung nano nano.
Ketika untuk yang kesekian kalinya suamiku melakukan video call, maka tak dapat kusembunyikan lagi kekesalanku. Wajahku kusut, mulutku manyun cemberut, suaraku otomatis langsung ikut beradaptasi menjadi ketus dan mengandung rasa marah.
Sepertinya Stanley terkejut melihatku tak karuan begini, "Yank kenapa?"
Aku hanya diam dan tetap cemberut, berkali kali Stanley bertanya dan berkali itu juga aku hanya diam membuat Stanley mendadak emosi. "Kamu kenapa si yank ditanya baik baik cuma diem aja dari tadi, kamu ga tahu segimana khawatirnya aku karena tahu kamu lagi ga baik baik aja. Bisa ga bicara yang benar jangan diem aja kalau aku tanya!" bentaknya marah yang membuatku kaget sekaligus tanpa sadar sudah banjir air mata.
Saking kaget aku hanya diam sambil menatap layar ponselku yang menampilkan wajah suamiku dalam mode bingung juga karena tiba tiba aku menangis tanpa suara. Baru kali ini dia membentakku dan baru kali ini juga cengeng gini, sungguh aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri.
Panggilan Video Call sudah dimatikan, kulempar ponselku ke sembarang arah dengan kesal. Tega banget kamu Hon bentak bentak kaya tadi, air mataku makin banjir mengingat panggilan yang diputus sepihak tanpa penjelasan.
Aku memutuskan untuk menenangkan diriku bersandar di railing balkon menikmati udara sore. Pikiranku mengembara, mereka ulang pertengkaran pertama kami tadi, aku sungguh bingung sama diriku sendiri. Biasanya aku senang senang saja jika Stanley menginterupsi aktifitasku dengan video call tetapi hari ini rasanya terlalu berlebihan membuatku sungguh terganggu.
Kembali air mataku meleleh menganak sungai, ada apa denganku, mengapa selemah ini, gumamku lirih.
"Aku yang salah, maafin aku yank!" tiba tiba suara Stanley membuyarkan segala lamunanku, tangan kekarnya sudah merengkuh pingganggu posesif.
"Please jangan nangis lagi, aku minta maaf udah bentak kamu kaya tadi, maaf udah ga peka sama kondisi kamu dan kekhawatiranku berlebihan sampai sampai justru mengganggumu." ujarnya mengakui semua yang dia lakukan.
-----------------------------
*POV Stanley*
Saat aku menjemput Gaby dan dia terus merasa mengantuk dan ingin tidur serta merasakan badan lemas, aku jadi cemas sendiri. Tanpa sadar aku jadi berlebihan, melakukan panggilan video hampir setiap setengah jam sekali. Dan entah untuk yang keberapa Kali panggilan videoku diangkat Gaby yang memperlihatkan tatapan tidak senang dan cemberut.
Sebenarnya aku kesal karena kecemasanku dibalas dengan wajah tidak sukanya, dan Aku menjadi hilang kendali saat Gaby hanya diam saja menatapku.
"Kamu kenapa si yank ditanya baik baik cuma diem aja dari tadi, kamu ga tahu segimana khawatirnya aku karena tahu kamu lagi ga baik baik aja. Bisa ga bicara yang benar jangan diem aja kalau aku tanya!" bentakku marah yang membuatnya mungkin kaget sekaligus, kulihat air matanya sudah menganak sungai.
Melihatnya menangis tanpa suara, hatiku ikut nyeri, ini untuk pertama kalinya aku marah dan membentaknya. Aarrggghhh kenapa si aku ini bisa hilang kendali begini, runtukku dalam hati. Segera kumatikan ponselku tanpa berkata apapun, kemudian aku bergegas membereskan berkas yang sedang kukerjakan tadi agar dapat pulang cepat.
__ADS_1
Sesampaiku di rumah, aku segera membuka kamarku mencari sosok isteriku, aku harus segera meluruskan permasalahan kami. Mataku menampakkan sosok yang selalu kurindu sedang bersandar di balkon. Pelan pelan kulangkahkan kaki, hingga aku mendengar isak tangis lirih suara isteriku.
Jantungku seperti diremas remas menyadari bahwa akulah penyebab tangis itu. Tanpa basa basi segera kurengkuh tubuhnya dari belakang, kupeluk dengan erat pinggangnya.
"Aku yang salah, maafin aku yank. Please jangan nangis lagi, aku minta maaf udah bentak kamu kaya tadi, maaf udah ga peka sama kondisi kamu dan kekhawatiranku berlebihan sampai sampai justru mengganggumu." ujarku mengakui semua mencoba membangun komunikasi.
Aku yakin masalah kecil ini akan cepat dapat kuperbaiki karena pada dasarnya isteriku sangat pemaaf. Setelah kurasakan tubuhnya merespon pelukanku, segera kubalikkan badannya. Kutangkupkan tanganku di wajahnya, kuhapus jejak air matanya, kucoba membaca binar dimatanya.
"Maaf, aku harusnya sadar kamu pengen istirahat, pengen pulihin tenaga, tapi aku malah ganggu kamu." kataku dengan tulus.
"Ak.......eh...ahm....." tak kuberi Gaby kesempatan menyatakan permintaan maafnya, dengan lembut kukuasai bibirnya yang manis.
Kuhentikan aksi pertukaran saliva kami saat melihat isteriku mulai kehabisan nafasnya. Kubawa dirinya dalam pelukanku, sesaat kami saling mengeratkan pelukan satu sama lain mendengarkan degub jantung kami masing masing yang kecepatan iramanya sama.
Mungkin kalau diukur antara 60 tarikan nafas permenit atau 110 detak / menit, sedang detak normal skitar 60 detak / menit. Gaby juga pernah bilang bahwa berciuman itu bisa mengurangi ketegangan di pikiran.
Berciuman meningkatkan tingkat oksitosin, hormon menenangkan yang memproduksi hormon endorphin yang keluar 200 kali lebih ampuh ketimbang morfin.
Maka dari itu aku selalu senang mengajak isteriku ini berciuman agar kami mendapat ketenangan pikiran saat berada dirumah lepas dari segala tekanan pekerjaan kami masing masing.
--------------------------
Aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara suara barang pecah belah beradu dengan meja. Kukumpulkan nyawaku, kukerjapkan mata melihat sosok suamiku sedang menata meja di balkon. Dahiku mengernyit menebak aktifitas Stanley yang seperti menyiapkan meja untuk makan.
Mungkinkah Stanley ingin menebus waktu berharga kami yang justru dipakai untuk bersitegang tadi dengan acara candle light dinner? Pikiran pikiran romantis membuatku tersenyum, moodku membaik, bergegas aku masuk ke kamar mandi sebelum Stanley melihatku.
Tok..... Tok..... Tok......
"Yank kamu di dalem? Yank jawab aku jangan bikin aku khawatir!" ucap Stanley sambil mengetok ngetok pintu kamar mandi.
Ceklek........
"Kenapa Hon, kamu mau mandi bareng?" tawarku sambil memasang senyum termanis.
__ADS_1
Tanpa ditawarin kedua kali, suamiku yang hasratnya gampang sekali tersulut ini tidak menyia siakan waktunya.
Dan disinilah kami berdua sekarang berpelukan dan berciuman kembali dibawah shower air hangat. Rasanya jangan ditanya, sangat relax dan nyaman, tubuhku yang seharian ini lemah lunglai kembali segar bugar.
-------------------------
Candle light dinner kali ini disponsori oleh Abuba Steak. Rasanya ga usah ditanya karena sudah jaminan enak hehehe.
"Hon, maaf ya tadi aku ga ngehargain kekhawatiran kamu, aku malah merasa kesal dan sangat terganggu. Harusnya aku bisa ngomong baik baik supaya kamu ngerti aku mau tidur, bukan malah bikin kamu kesal." kataku dengan nada penuh penyesalan.
"Gapapa yank, aku juga salah terlalu berlebihan justru malah mengganggumu. Tapi lain kali janji ya kamu harus ngomong jangan diam aja dengan tatapan kesal gitu, ekspresi kamu memancing amarahku yank."
"Kamu ga mau ke dokter aja biar tahu karena capek atau ada hal lain, aku bener bener khawatir lho yank. Kita suruh Sammy sama Dicta aja kesini ya periksa kamu?" cerocos Stanley penasaran sama kondisi tubuhku.
"Udah malem gini kasihan mereka Hon, lagipula apa kamu lupa kalau Aku juga dokter? Aku paham kondisi tubuhku sendiri, selain capek luar biasa karena dinas malam, aku ada curiga sesuatu pada tubuhku. Besok aku akan kasih tau kamu kalau sudah jelas." terangku dengan sabar karena emang stock kesabaranku sudah kembali terisi penuh sejak pelepasan hasrat bersama tadi.
Aku tersenyum senang karena pancinganku membuat Stanley penasaran sangat berhasil. Lihat saja sekarang raut mukanya begitu tidak enak dipandang hahahaha.
"Ga bisa apa bilang sekarang aja yank? Ini tu tentang badanmu kesehatanmu, aset penting untuk kelangsungan keluarga kita yank!"
"Please kasih tau aku sekarang aja ada apa sama kamu sampai bisa tidur lama banget, lemes pucat, kamu ga pernah begini sebelumnya yank." omelannya yang panjang lebar bikin aku makin sumringah, itung itung pembalasan udah bikin aku nangis pikirku jahil.
Aku kembali merasa kesal mendengar penyataan beruntur dari Stanley, ga sadar apa dia yang bikin aku begini, tiap pagi abis jemput selalu melepaskan hasrat gimana aku ga tepar, batinku kesal.
"Ga bisa Hon, kamu pilih aja mau besok aku kasih tahu atau ga usah kukasih tahu sama sekali?" tegasku membuat dirinya makin kesal.
"Okay okay, aku mau sabar nunggu besok, please jangan marah lagi ya." rayunya sambil memberi paperbag kecil bertulis Burger King yang otomatis langsung membuat mataku berbinar karena memang sudah beberapa
hari ini aku pengen sekali makan itu.
------------------------
Wah buat Readers semua ternyata berciuman dengan pasangan kita banyak manfaatnya lho, usahakan setiap pagi dan malam disempatkan untuk melakukannya biar hubungan dengan pasangan makin harmonis dan badan makin sehat ya.
__ADS_1
Kalau ciuman dapat menghadirkan ketenangan, maka Like Vote and Comments kalian yang menghadirkan kebahagiaan buat author, ditunggu ya kiriman jejaknya sebanyak banyaknya. makasih😘🙏