Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 84


__ADS_3

"Yank, gimana badan kamu udah enakan?" tanya Stan sambil mengelus perutku.


Aku hanya mengangguk sambil meresapi sentuhan lembut tangannya di perutku. Sejak kejadian kecelakaan rekayasa itu kami makin jarang ngobrol panjang lebar. Stanley selalu pergi pagi pagi dan pulang malam.


"Maaf ya karena akhir-akhir ini aku lebih sibuk dari biasanya."


"Kamu masih ngurusin perempuan itu Stan? Mau sampai kapan si kamu berhubungan sama dia? Udah jelas mereka itu pion yang digerakjn sama sutradaranya kok mau kamu tetap mengikuti kemauan mereka!" ujarku dengan nada sedikit tinggi, karena aku merasa penyelesaian masalahnya terlalu lambat.


Sepertinya Stanley terkejut dengan nada bicaraku apalagi aku enggan memanggilnya Honey seperti biasa. Terus terang aku muak disuruh bersabar sedangkan tingkah perempuan itu makin hari makin jelas ingin menaklukkan suamiku.


"Kamu kan udah tahu kalau aku lakuin semua ini buat tangkep dalangnya, jadi ga seharusnya kamu cemburu yank!"


"Stan, pergerakan kalian sangat lambat, ga da jaminan kalau perempuan itu tidak akan melakukan pergerakan lebih dari ini. Dari rekaman CCTV hari ini aja aku liat gimana dia udah berani menggoda kamu, memegang dan meraba kamu. Memang kamu diam aja sekarang tapi gimana dengan besok, ga da yang bisa prediksi!"


"Yank, aku butuh kepercayaan kamu 100% tolong bersabar, aku bisa jaga diriku untuk tidak jatuh kedalam permainan perempuan itu. Kamu mau kan ngertiin?" ujarnya sambil memohon.


Satu-satunya yang dapat kulakukan hanya mengangguk, sudahlah lebih baik aku turuti saja dulu rencananya biar malam ini kami tidak makin berdebat panjang lebar. Jujur aku ingin menikmati ketenangan seperti hari-hari kemarin, karena sejak tahu bahwa ancaman ancaman yang dikirimkan bukan sekedar pepesan kosong, selalu ada rasa tidak tenang, ada firasat tidak enak yang menghantuiku.


"Yank, apa sebenarnya yang mengganggu pikiran kamu? Kamu benar-benar marah sampai memanggilku dengan nama?"


"Segitu pentingnyakah panggilan antara Honey sama Stanley? Toh sama - sama aja itu yang dimaksudkan kamu juga."


Stanley terlihat sangat terkejut mendengar jawabanku yang super ketus, sekilas terlihat kemarahan juga di matanya yang berusaha dia tahan. Ya Tuhan apa si yang terjadi sama diriku ini, ternyata cemburu memang membutakan, tanpa sadar air mataku mengalir.


"Bisa ga sih biarin aja Alex yang urus masalah perempuan itu dan kamu ga usah nemuin dia. Cek di CCTV berapa lama durasi kamu ketemu itu perempuan dibandingin ke kantor kerjain kerjaan kamu atau berada dirumah atau berkegiatan sama aku?"


"Perempuan itu juga besok sudah boleh pulang dari Rumah Sakit, terus apakah kamu juga akan menemuinya dirumah mereka? Hentikan semua itu Stan, besok aku akan temui dia dan mendengar apa yang dia mau dari kita!" tegasku tidak menerima bantahan.


Tring..... tring..... tring....


Belum sempat Stanley menjawab, ponselnya berdering tertera panggilan dari Alex.

__ADS_1


"Halo......., aku memberi tanda untuk meloudspeaker ponselnya sebab aku juga ingin mendengarkan.


"Stan, ternyata wanita itu ada hubungannya dangan karyawan Zein Group, dan percakapan mereka membuktikan bahwa mereka memang berkomplot. Bisa cek di link yang sudah dikirim anak buahku."


"Okay Alex, thank you." sambungan telepon yang singkat padat jelas itu langsung kami akhiri untuk segera mengecek rekaman yang dikirim anak buah Alex.


----------------------


*Stanley POV*


Tak terasa sudah berhari - hari hubunganku dengan isteriku terasa hambar, Gaby yang teramat sangat sensitive membuatku kewalahan dalam bersikap, ditambah masalah perempuan itu yang selalu saja mencari-cari perhatianku. Sungguh aku hanya ingin hidup dengan damai bersama keluarga kecil kami.


"Yank, aku butuh kepercayaan kamu 100% tolong bersabar, aku bisa jaga diriku untuk tidak jatuh kedalam permainan perempuan itu. Kamu mau kan ngertiin?" ujarku sambil memohon.


Gaby hanya diam dan mengangguk sebagai jawaban atas permintaanku. Ya... begitulah Gaby sejak hari dimana dia tahu rencanaku untuk mencari tahu siapa dalang dari setiap ancaman yang datang.


Seiring dengan intensitasku bertemu dengan perempuan itu meningkat maka tingkat kecemburuan Gabypun meningkat. Bahkan saat berbicara padaku dia hanya memanggil namaku sebagaimana sebelum kami menikah, seakan ingin menekankan betapa marahnya dia.


Padahal jelas Gaby tahu bahwa ini semua hanya permainan untuk dapat menjebak mereka kembali. Namun informasi itu tampaknya tidak membuat dia tenang bahkan semakin gelisah dan itu sangat membahayakan kandungannya yang masih sangat muda.


"Yank, apa sebenarnya yang mengganggu pikiran kamu? Kamu benar-benar marah sampai memanggilku dengan nama?"


Jleb...... aku sungguh sangat terkejut mendengar jawabanan yang sangat ketus. Kemarahanku muncul tapi sekuat tenaga aku tahan agar tidak membentak atau meluapkan dengan kekerasan. Kucoba memeluknya untuk sekadar mencharge energiku yang habis karena beedebat dengannya.


"Bisa ga sih biarin aja Alex yang urus masalah perempuan itu dan kamu ga usah nemuin dia. Cek di CCTV berapa lama durasi kamu ketemu itu perempuan dibandingin ke kantor kerjain kerjaan kamu atau berada dirumah atau berkegiatan sama aku?"


"Perempuan itu juga besok sudah boleh pulang dari Rumah Sakit, terus apakah kamu juga akan menemuinya dirumah mereka? Hentikan semua itu Stan, besok aku akan temui dia dan mendengar apa yang dia mau dari kita!" tegasnya tidak mau dibantahan.


Tring..... tring..... tring....


Belum sempat aku menjawab, ponselku berdering tertera panggilan dari Alex.

__ADS_1


"Halo......., Gaby memberi tanda untuk meloudspeaker ponselnya sebab dia juga ingin mendengarkan.


"Stan, ternyata wanita itu ada hubungannya dangan karyawan Zein Group, dan percakapan mereka membuktikan bahwa mereka memang berkomplot. Bisa cek di link yang sudah dikirim anak buahku."


"Okay Alex, thank you." sambungan telepon yang singkat padat jelas itu langsung kami akhiri untuk segera mengecek rekaman yang dikirim anak buah Alex.


*Video*


Dalam video terlihat Iqbal masuk ke ruang rawat wanita itu, "Hai Rin, gimana kabarmu dan anak kita? Maaf ya udah beberapa hari kamu disini tetapi saya baru bisa jenguk karena sibuk."


"Baik kok mas, lagian tanpa mas juga ga da ruginya kalau tiap hari bisa ketemu Pak Stanley yang ganteng itu." ucapnya terlihat sumringah.


Sesaat wajah Iqbal mengeras, tampak dia mendekati wanita itu Dan mencengkeram rahangnya, "Dasar ja**ng jangan macam - macam kamu ya, jangan lupa keberadaan kamu bisa mengenalnya hanya karena tugas untuk menghancurkan isterinya!"


Wanita itu terlihat kaget dan ketakutan menghadapi kemarahan Iqbal, dia memegangi tangan Iqbal yang mencengkeram dagunya berusaha melepaskan cengkeraman itu, "Ma.... maaf mas."


Iqbal menyeringai, sambil menjambak rambut perempuan itu hingga wajahnya menengadah, "Kamu jangan coba - coba bermain api ya sama saya, tugas kamu cuma membuat Rumah Tangga mereka hancur bukan merebut Stanley, karena kamu hanya milik saya."


"Kamu boleh serahin diri kamu kalau itu bisa bikin isterinya hancur, saya ga masalah berbagi tubuh dengannya asal kamu ingat bayi dalam perut kamu itu anak saya. Jadi setelah mereka hancur kamu kembali kepada saya!"


"Mana uang yang kamu minta kepada Stanley, berikan pada saya, besok kamu minta lebih banyak lagi!"


Perempuan itu dengan ketakutan mengambil amplop coklat yang tadi diterimanya dari Stanley dan memberikan pada Iqbal.


"Sampai kamu gagal dalam misi ini, maka saya tidak segan - segan melempar kamu kembali ke tempat maksiat itu!" ancamnya sambil pergi dari ruangan itu.


Sepeninggalan Iqbal tampak perempuan itu menangis sambil mengelus perutnya.


----------------------


Selesai melihat video yang dikirim Alex, kami tidak menyangka kalau Iqbal yang menjadi dalang semua ini sangat kejam dan menjijikan. Bahkan dia bilang ga masalah memberikan tubuhnya untukku, benar benar diluar dugaan.

__ADS_1


"Yank, kamu kenapa diam aja?"


"Besok pokoknya aku akan temuin itu perempuan. Aku akan selesaikan dengan caraku, aku ga mau kamu turutin semua keinginannya lagi!"


__ADS_2