
Di halaman rumah Stanley kulihat mobil papi, tumben papi ke rumah Stan ada urusan apa ya atau mau ketemu aku ya.
Turun dari mobil aku bergegas mencuci kaki dan tanganku dengan kran air yang memang sengaja disediakan di halaman depan.
"Hai sayang, baru pulang kamu? Ada papimu nih Gab." kata papa Stan saat melihatku dipintu masuk.
"Halo juga pa, halo papi tumben nih nyamperin aku ya? Aku ganti baju dulu ya bentar." aku segera masuk kedalam dan ternyata di dalam ada mama dan mamiku serang ngobrol sambil ngeteh.
"Hei sayangnya mami baru pulang? Gih cepet ganti baju kita ngobrol." sapa mamiku sumringah banget bikin aku jadi malah curiga hahaha.
" Mi tumben happy banget ada apaan nih, jadi curiga akunya."
"Yee maminya happy bukan seneng malah seudzon kamu, sana cepet ganti baju, mandi sekalian Gab, anak perawan ga boleh kemaleman mandinya, pamali ceunah."
Wakakakaka teori dari mana nih, "Sok ih mami tau darimana masih perawan apa gaknya?"
Aku tertawa ngakak liat mata mamiku yang bulat bola pingpong itu melotot maksimal, mami emang sensi banget sama yang namanya keperawanan. Sering sekali mengancam bunuh diri kalau aku sampe melakukan **** pranikah.
"Gaby, kamu ya baru ketemu mami masa udah bikin dia kesel nak. Udah jeng jangan dengerin Gaby, percaya deh Stanley ga bakal macem macemin dia walau tidur satu kasur sekalipun. Udah sana mandi dulu nanti makan malem bareng kita ya." kata mama sambil mengelus tangan mami memberi ketabahan menghadapi anak somplaknya ini.
Aku naik keatas sambil ngakak mbayangin mamiku yang so pasti misuh misuh. Sesampainya di kamar aku langsung membuka seluruh pakaian yang kukenakan dan mengambil handuk kemudian menuju pintu kamar mandi.
Kyaaaaaawwww.......... belum juga kubuka pintu ternyata dari dalam pintu sudah dibuka Stanley yang abis mandi, aku segera menutup asetku dengan handuk sekenanya tapi mataku tak lepas dari pemandangan indah dihadapanku. Wajah yang tampan, dada bidang perut ga terlalu sixpack si tapi ga buncit juga.
Stanley yang baru keluar hanya pake handuk dipinggang juga tampak kaget melihatku yang blingsatan menurut aurat.
Setelah berhasil mengatasi keterkejutan serentak kamipun mentertawakan tingkah kami tadi. Aku segera menyuruh Stanley berganti posisi agar aku bisa masuk kamar mandi.
Selesai mandi kulihat Stanley yabg sudsh berganti pakaian tertidur di kasur. Akupun segera berpakaian karena perutku sangat lapar dan tentu saja aku ga mau membuat mami papiku menunggu terlalu lama.
"Stan..... sayang bangun yuk, makan. Aku dah laper banget!" aku membangunkan Stanley seraya mengecupi wajahnya dan menggoyangkan badannya.
Greb..... bukannya bangun dia malah menarikku kepelukannya, akupun jatuh rebahan di dadanya. Aku berusaha berdiri, "Bentar aja yank, udah lama ga mesraan gini."
Aku pun menurut merebahkan badanku posisi miring dan memeluk tubuh Stan, "5 menit aja ya. Kasian inih cacingku bisa bermutasi jadi naga nanti hehehe."
------------------------------------
Aku mencium pipi kedua orang tuaku, "Mii kok baru dateng sekarang sih, aku dah sminggu lho disini. Ga sayang anak nih mami mah durhaka ih."
Pletak...... duh mami menyentil dahiku, " Sakit tau ish. Aku laporin KPAI lho mami!"
Mamiku tertawa riang, "Syukurin sapa suruh jadi anak main kabur aja sukanya, ngomong sembarangan kalau mami ga sayang udah tak buang kamu Gab ga mami telponin tiap hari. Sana lapor ama kak Sentot eh kak Seto biar diketawain udah tuwir juga ngaku anak anak."
"Yeee biarin kan belum kawin brati masih anak anak!"
Aku meleletkan kidah meledek mami dan kemudian secara tiba tiba memeluk mamiku dengan sangat kencang sampe mamiku mengaduh karena badannya sakit semua.
"Lepas Gab, ga sadar badan gede kaya gajah peluknya ga kira kira kamu, haduh penyet mami Gab. Pi ditegur ngapa si anaknya."
Papiku tertawa karena memang sudha biasa terhibur dengan candaan kami, "Kemarin aja nangis nangis kesepian mi, giliran ketemu anaknya diajak perang. Udah dilanjut nanti lagi nglenongnya kasian Stanley udah laper tu."
Aku menepuk jidat karena baru teringat sejak tadi keasyikan lenong ama mami ga inget sama mama papa dan stan.
"Maaf ya mama papa sama Stan jadi pending makan karena Gaby heboh sendiri." kataku sambil sedikit malu malu.
Mama Stan tersenyum sambil mengacak rambutku dan mata yang berkaca kaca. Aku sedikit heran apakah lenongan kami tadi sangat lucu sampe mama ketawanya pake nangis gitu.
__ADS_1
"Mama kok matanya berkaca kaca gitu? Kenapa ma?" kataku tak bisa menyembungikan rasa penasaranku.
Mama lagi lagi senyum dan geleng kepala, "Ayo kamu bantu mama ambilin makanan di belakang Gab."
Akupun beranjak ke belakang untuk mengambil makanan yang akan kami santap dan melupakan rasa penasaranku tadi. Sebenarnya dari dulu aku sering merasa aneh karena aku bisa sedekat itu sama mama dan papa Stanley.
Saat sedang menata hidangan yang akan dibawa ke meja makan tiba tiba ada tangan yang memelukku dari belakang dan bibir yang mencium kecil kecil bagian tengkukku menimbulkan sensasi geli , siapa lagi kalau bukan Stanley.
"Yank, aku bantuin ya." dengan posisi masih ajeg seperti semula.
"Gimana cara bantunya kalau tanganmu tetap dipinggangku?" kataku sambil tertawa, Stan emang selalu imut kalau dalam mode manja.
Dia melepas pelukannya tapi bukannya membantu malah mencuri ******* bibirku, sampe hitungan ke5 akhirnya aku terpancing membalas ciumannya dan melupakan ayam goreng yang tadi sedang kutata di piring saji.
"Stanley...... Gaby....... pantes ayamnya ga sampe sampe ternyata parkir to ckckckck. Kalian ini lho kaya ga da tempat lain aja didapur kok main sosor sosoran. Hayo bubar cepet makan dulu!" suara mamiku yang mengalahkan guntur tetiba hadir di hadapan kami dan membuat bibir seksi yang sedang bertautan terlepas dengan paksa saking kagetnya.
Wajah Stanley merah padam menahan malu, "Maaf mami, Stan kangen banget lama ga mesraan sama Gaby."
"Ya ampun Stan, kamu imut banget si jujur banget lagi ah. Mami juga maklum kok gapapa cuma ya jangan di dapur juga kali Stan. Udah Stan, kamu keruang makan dulu aja, biar Gaby aja bawain lauk lauknya, kamu duduk aja sana." perintah mamiku yang tegas tapi lembut membuat Stanley justru waspada dan cepat cepat menuruti perintah calon mertuanya itu, sedangkan aku tertawa geli.
"Nakal ya Gab kamu, tau tempat klo mau sosor sosoran bgitu. Untung mami yang liat Gab, klo mama gimana? Mau ditaruh dimana muka mami kelakuan anak perawan kaya bgini dirumah mertua." kata mami gemes sambil mencubit pipiku.
Aku meringis kesakitan karena pipiku dicubit paksa, "Sakit atuh mi, tenang deh mama juga udah pernah pergokin dan dia malah suruh lanjut gituh hahahaha so mami tenang oke?"
Mamiku geleng geleng kepala mengambil lauk yang sudah kutata kemudian pergi ke ruang makan.
-------------------------------------
*Stanley POV*
"Yank, aku bantuin ya." desisku dengan posisi masih ajeg seperti semula memeluknya.
"Gimana cara bantunya kalau tanganmu tetap dipinggangku?" katanya sambil tertawa, memasang wajah imut nan manjanya.
Kulepas pelukanku kuputar tubuhnya berhadapan denganku lalu aku mencuri ciuman ******* bibirnya, sampe hitungan ke5 akhirnya Gaby terpancing membalas ciumanku, bibir kami saling bertautan ******* berlomba memuaskan kerinduan.
"Stanley...... Gaby....... pantes ayamnya ga sampe sampe ternyata parkir to ckckckck. Kalian ini lho kaya ga da tempat lain aja didapur kok main sosor sosoran. Hayo bubar cepet makan dulu!" suara mamik G yang mengalahkan guntur tetiba hadir di hadapan kami dan membuat bibir seksi yang sedang bertautan terlepas dengan paksa saking kagetnya.
Wajahku merah padam menahan malu, "Maaf mami, Stan kangen banget lama ga mesraan sama Gaby." kataku memohon ampun.
"Ya ampun Stan, kamu imut banget si jujur banget lagi ah. Mami juga maklum kok gapapa cuma ya jangan di dapur juga kali Stan. Udah sana, kamu keruang makan dulu aja, biar Gaby aja bawain lauk lauknya, kamu duduk aja sana." perintah mami G yang tegas tapi lembut membuatku justru waspada dan cepat cepat menuruti perintah calon mertuaku itu.
Aku pun duduk di meja makan berhadapan dengan papi G, entah mengapa papi G memandangiku terus menerus, sambil matanya terlihat melamun.
Flashback On
"Pak Tian mau sampai kapan kita merahasiakan hal ini sama anak anak pak? Saya takut kalau Gaby sampai mendapat informasi yang tidak akurat dari Gun. Kemarin Gaby cerita sama saya kalau Gun jadi pasien di rumah sakit dia."
Aku yang baru sampai depan pintu rumah dan hendak menyapa papi G dan papa mengurungkan niatku demi mendengar kata rahasia yang papaku bilang. Gun siapa dia, sepertinya aku tidak ingat kalau papa punya temen namanya Gun.
"Saya jujur bingung pak Andre bagaimana kita akan meluruskan rahasia yang sudah puluhan tahun kita simpan. Hubungan Stanley dan Gaby juga sudah kembali, apakah masih penting rahasia ini kita ungkap? Toh mereka tetap akan menjadi anak anak kita."
Hah..... rahasia.... puluhan tahun...... berhubungan dengan aku dan Gaby???
Aku semakin tidak paham kemana arah pembicaraan mereka.
"Menurut saya kita tetap harus mengatakan semuanya kepada anak anak, terutama pada Gaby. Dia sempat kehilangan kepercayaan diri terutama saat teman sekolahnya membully dia anak haram pak. Dia juga sempat bertanya mengapa papinya tidak menuntut Gun ke jalur hukum."
__ADS_1
Waow...... Gaby dibully dianggap anak haram, kenapa? Dan semua berkaitan dengan orang bernama Gun, siapa sebenarnya orang itu?
"Sepertinya kita memang harus menceritakan semua kepada anak anak. Terbukti setelah sekian lama terpisah dengan anak kita masing masing, Tuhan justru kasih jalan buat kita ketemu mereka lagi dalam ikatan yang lebih kuat. Dan tentunya kita harus meluruskan dan mengembalikan semuanya ke tempat semula pak Andre. Saya yakin Gaby dan Stanley akan bisa menerima dengan baik."
Ya ampun apalagi ini...... mengembalikan semua ketempat semula, apakah.... apakah mereka akan memisahkan aku dan Gaby? Tidak tidak tidak.......... kami saling mencintai dan selama ini mama papa menerima Gaby apa adanya kenapa kami akan dipisahkan.
Sungguh suasana hati yang semula sangat cerah mendadak drop berkabut gelap, aku kalut dan tak mengerti apa yang kedua orang tua itu bicarakan. Tapi dari kata katanya aku merasa terancam, hubunganku dan Gaby terancam.
Prak..... tanpa sengaja aku menjatuhkan hpku.
"Lho Stan kamu udah pulang? Segera mandi dna ganti baju kita makan sama sama dengan papi mami Gaby."
"Iya pa Stan ke atas dulu ya. Halo Pi, kutinggal ke kamar dulu ya." kulihat mereka mengangguk dan tersenyum tidak curiga aku mendengar pembicaraan mereka.
Akupun bersikap seolah tidak mendengar apapun, aku masuk ke ruang makan.
"Terima kasih ya jeng udah ngerawat Gaby sampe jadi dokter yang cantik. Jujur saya sempet bingung ketika Arizka menjebak Stan untuk menikahinya, saya sudah ikhlas bakal kehilangan Gaby ga bisa deket anak itu lagi, tetapi Tuhan Maha baik dia membalikkan keadaan dan saya bisa dekat dengan Gaby lagi."
Hah.... lagi lagi aku terkejut dan tak paham apa maksud perkataan mamaku.
"Kami juga terima kasih karena keluarga zein sudah menerima dan merawat anak kami dengan baik. Maafkan saya yang menjadi biang kerok kekacauan ini ya mba." ujar mami G sambil nangis dan mereka berpelukkan saling memberi kekuatan.
Aku semakin bingung sekaligus penasaran apa yang sebenarnya terjadi di keluarga ini. Apa jangan jangan aku dan Gaby anak tertukar? Atau bahkan kami bersaudara? Aaaaaarrrrgggggg................aku bergegas masuk dan naik ke lantai dua.
"Eh Stan kamu udah pulang? Ga nyapa mami G dulu kamu mah." tegur mama yang melihatku saat akan naik tangga.
"Gapapa jeng, biar Stanley mandi dulu aja. Nanti kan bisa kita melepas kangen ya Stan, mamai kangen banget sama kamu ganteng." kata mami G sumringah yang entah kenapa membuat hatiku sangat hangat.
Aku mengangguk dan membalas senyum mami sambil berlari ke kamarku di lantai 2.
Flashback off
"Stan......hei kamu mau lauk apa?" aku sedikit tergeragap mendengar panggilan Gaby.
"Eh..... sorry sorry aku mau ayam sama sup aja yank."
Huft ga sadar ternyata aku ngelamunin kejadian sore tadi sampe ga denger Gaby nawarin lauk.
"Kamu ngelamunin apaan si Stan, tumben banget ga fokus gitu?" tanya mama
"Ga da yang penting kok mam, cuma mikirin jadwal kerjaan aja terkait dengan self quarantine ini." jawabku ngasal tapi tetap logic dan memuaskan hehehe.
Kamipun mulai makan dengan tenang dan antusias karena ini pertama kalinya orang tua kami berkumpul lengkap. Malam ini aku berniat mengutarakan keseriusan kami, aku tak mau sampai terpisah lagi dengannya.
Apapun rahasia yang akan papaku ceritakan, aku bertekad tidak akan mengubah pendirianku untuk menikah dengan Gaby.
----------------------------------
Author jadi ikut penasaran apa si rahasia yang orang tua mereka simpan terus bakal gimana reaksi mereka berdua ya kalau rahasia itu sudah diceritakan? Readers penasarab ga si?
Stanley udah ngebet banget ni nikah iyalah ya dimana lagi coba bisa dapet cewek yang baik gitu kan.
Ayo donk kasih author like vote dan saran yang banyak biar semangat nih lanjut ceritanya. Oke oke???
Makasih ya buat yang sudah dukung sampai lebih dari 40 bab ini.
Love u all my readersπππππ
__ADS_1