
------ Alva POV ------
Rasanya bosen banget ga bisa kemana mana karena harus Work From Home gini. Udah lama aku juga ga ngeliat Gaby dateng menjengukku, malah Nadine yang tiap hari ada aja disekitarku karena Gaby menyuruhnya tinggal di apartementku.
Huft.... menyebalkan sekali tapi aku udah janji sama Gaby untuk ga kasar sama Nadine karena dia sedang mengandung yang katanya anakku. Benarkah janin itu hasil dari perbuatanku?
Aku sungguh menyesal karena benar semua yang Gaby tuduhkan bahwa aku memang bertindak atas hasratku sendiri bukan karena digoda Nadine atau dijebak. Tapi egoku ga mau mengakui itu.
Saat itu aku tidak jatuh cinta atau semacamnya kepada Nadine sampai sekarangpun perasaan seperti itu tidak ada padaku. Dari sisi Nadine jelas dia menginginkanku dan aku benar benar brengsek karena sudah memanfaatkan tubuhnya untuk memuaskan hasratku.
Aaaarrrrggggghhhhhh ........ aku begitu kesal pada diriku sendiri, gimana bisa aku ga pake pengaman dan lupa bahwa kmungkinan kegiatan juniorku bisa menghasilkan buah itu sangat besar. Dan yang paling kusesali dari semua ini adalah kehilangan Gaby.
Jujur 3 tahun berpacaran, Gaby dan aku jarang terlibat intimacy atau skin to skin mulai dari yang paling sederhana yaitu berciuman apalagi sampe having ****. Gaby sangat menjaga dirinya, bukan aku tak pernah berusaha mendapat lebih dari dia tapi memang Gaby pandai menjaga dirinya jadi aku mengalah karena sangat menyayanginya.
Berkat kebodohanku sendiri maka angan dan impian memiliki Gaby seutuhnya bisa dibilang musnah. Apalagi saingan terberatku sudah kembali hadir di bumi ini. Ciihh...... mengingat Stanley aku jadi gusar sendiri, kenapa beruntung sekali dia hadir disaat hubunganku dan Gaby hancur.
Selama kami berpacaran, aku sudah tau bahwa dia belum move on dari Stanley tapi dengan besar hati aku terus memantapkan hatiku sendiri bahwa suatu saat cinta Gaby bakal seutuhnya jadi milikku. Sayangnya profesi kami yang bertolak belakang memang membuatku kesulitan menghabiskan waktu bersama.
Teman satu bandku tidak terlalu menyukai Gaby sebab life style kami sangat berbeda. Godaan wanita seringkali datang silih berganti, Gaby tidak pernah menyuruhku menghalau mereka, dia hanya mengingatkan agar menjaga diriku sendiri.
Beberapa kali aku menerima tawaran dating dari beberapa wanita tetapi baru saat bersama Nadine aku jatuh sampe berakhir pada persetubuhan. Aku kembali teringat tentang janin yang dikandung Nadine, benarkah itu anakku, hasil perbuatanku?
Aku tak tahan untuk tidak menelepon Gaby, persetan sama Stanley toh aku ga berbuat macem macem, aku hanya ingin mendengar pendapatnya.
Telponku tersambung.......
"Hai Alv, ada apa nih tumben telpon? Maaf ya aku sibuk banget di Rumah Sakit jadi ga sempet sempet jenguk kalian lagi." sapanya dengan riang membuatku tersenyum karena ternyata dia baik baik saja.
"Hei.... haloo.... Alv..... kok diem?"
"Eh... halo Gab, sorry tadi aku seneng banget kamu mau angkat telponku jadi aku lupa ngomong hehehe." jawabku asal.
__ADS_1
"Hahaha kamu tu ya Alv mana ada orang telpon malah diem aja lupa ngomong, ada ada aja kamu mah."
" Becanda Gab, owh ya aku mau tanya menurut kamu apa bener janin di perut Nadine itu anak aku?"
" Alv, untuk hal itu aku mencoba percaya sama Nadine sebab dia bilang selama ini dia bebas dari hubungan seksual kecuali sama kamu. Berarti dalam satu periode itu dia hanya melakukan dengan kamu, kemungkinannya sangat besar bahwa janin adalah milikmu. Kalau usia janin sudah 4 bulan kamu bisa cek DNAnya, aku rasa Nadine bakal takut dan mengelak kalau memang dia berbohong tapi kalau dia memang mengandunng anak kamu pasti dengan senang hati ikut tes DNA itu."
"Terus Alv, dia bilang dia ga seburuk gosip yang dihembuskan diluaran. Nadine bukan cewek nakal yang doyan gonta ganti. Nah hal itu mungkin cuma kamu yang bisa tau karena kamu yang merasakan berhubungan sama Nadine. Kalau dia udah ga perawan emang dia juga mengakui tapi kalau gonta ganti pasangan Nadine menolak dituduh begitu."
"Jujur Alv, kamu pernah bilang kan kamu sebelum sama aku juga mengalami gaya hidup yang begitu jadi pasti dari hati kecilmu kamu tau apa Nadine emang suka gonta ganti atau seperti pengakuan dia bahwa dalam kurun waktu satu tahun terakhir cuma kamu yang sentuh dia."
Yah.... dari dulu aku ga pernah menutupi cerita hidupku apapun dari Gaby, jadi dia tahu semua dan apa yang dia katakan benar, kalau aku mau jujur dari hati kecilku aku tau janin itu benihku atau bukan. See betapa baiknya Gaby dan orang baik ini yang aku sia siain, dalam hal ini sungguh aku rugi besar.
"Gab, kamu tau kan hatiku ga bisa move on, sama kayak kamu dulu sebenernya ga bisa move on dari Stan maka begitu dia balik dan kita ada masalah kamu dengan mudah terima dia lagi. Maaf aku ngomong gini tapi emang itu yang aku rasain Gab, tapi kamu boleh pegang janji aku sampai kapanpun rasa cinta ke kamu ga berubah."
"Dan apakah kalau anak itu lahir dia bakal bahagia liat papanya ga ada hati sama ibu yang melahirkan dia? Aku ga sanggup kalau harus menikah sama Nadine Gab, dia adalah kesalahan terbesarku sampai aku kehilangan hartaku yang berharga yaitu kamu."
"Ga bisakah kamu balik sama aku lagi? Kita ulang dari awal semuanya, sama seperti saat kamu pertama terima aku kan kamu juga kan tahu kalau dulu life styleku berbeda dari kamu tapi kamu tetep mau terima."
Aku mendengar Gaby disebrang sana menghela nafas panjang, entah menahan kesal atau marah atau justru kasihan padaku, entahlah. Hatiku benar benar sakit saat ini, terlintas pikiran untuk melukai diriku sendiri, tapi akal sehatku kembali menguasai.
Aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskan dengan perlahan begitu terus sampai merasa lebih tenang. Aku tanamkan terus pikiran positif diotakku bahwa aku bisa berdamai dengan diriku sendiri, bahwa aku berjanji hidup baik agar Gaby bisa bahagia juga melanjutkan hidupnya.
"Alv, halo... Alv jawab aku Alv, halo....... halooo....." aku mendengar Gaby berteriak teriak memanggilku tetapi mulutku tak kuasa menjawab panggilannya sampai akhirnya saluran telpon kami terputus.
Aku mengambil sikap duduk mengatur nafas dan kemudian memejamkan mata mengisi pikiranku dengan hal hal positif seperti yang diajarkan Retna kepadaku.
Ceklek.... gebrak....... pintu kamar tiba tiba terbuka.........
"Syukurlah Alva, lu baik baik aja. Barusan Gaby telpon gue panik karena lu diem aja di telpon. Ya Tuhan jantung gue rasanya ambrol tadi." kata Alex dengan tak henti hentinya membuang nafas mengurangi sesak di dadanya.
"Sorry bikin kalian panik, gue baik baik aja Lex. Thank you banget lu tetep sayang sama gue padahal gue dah ngelakuin tindakan yang bejat banget Lex. Mungkin lu juga kecewa karena gue ga gentleman buat ngakuin kalau hubungan gue sama Nadine bukan dibawah ancaman tapi emang karena hasrat. Maafin gue ya Lex karena ga jujur ama lu."
__ADS_1
Aku memeluk Alex, selama ini hanya dia yang peduli padaku, orang tuaku sendiri sibuk dengan urusan masing masing yang entah kemana aja.
"It's oke..... it's oke Alv....... believe me everything gonna be oke Alv. Lu harus berdamai sama diri lu sendiri jangan trrpuruk terus karena itu justru bikin kesalahan lain buat Gaby."
"Lu harus terima kalau Stan yang sekarang bisa bikin dia bahagia Alv. Inget dari dulu juga tujuan lu bikin Gaby bahagia kan, nah sekarang lu liat ini di IG Stanley banyak foto mereka dan Gaby terlihat bahagia. Dan lu tahu Alv, apa yang Gaby mau juga sama yaitu lu lanjutin hidup dengan bahagia. So please bangkit Alv."
Aku berusaha keras mencerna kalimat kalimat Alex yang panjang kali lebar itu. Dan intinya adalah sekarang Gaby udah bahagia jadi aku juga harus bisa bahagia. Tapi gimana sama janin itu, aku ga mau hidup sama Nadine.
"Lex tapi gue ga mau nikah sama Nadine Lex, gua ga cinta sama dia. Kalau memang bayi itu anak gue tapi gue ga usah nikah sama dia bisa ga Lex? Please Lex gue ga benci Nadine cuma gue ga bisa cinta dia atau lebih tepatnya emang gue ga mau buka hati buat dia." aku merengek rengek seperti anak kecil ke Alex yang tetap dengan sabar memelukku, memberi ketenangan.
Prang........ seketika aku dan Alex melihat ke arah bunyi pecahan tersebut..........
#
#
#
#
#
***Cinta bukan hanya tentang perasaan mencintai tetapi dalam cinta ada komitmen, pengorbanan dan perjuangan.
Maka ketika komitment tidak lagi dapat dipegang maka pengorbanan menjadi layak untuk dilakukan.
Biarkan cintamu pergi karena dia merasa kau sakiti, melepas dan mendoakan kebahagiaannya adalah bentuk pengorbanan dirimu***.
****** To Be Continue ******
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘
__ADS_1