
"Pa, di Rumah Sakit tadi aku ketemu pak Gun, orang yang dulu mau jual aku. Diagnosisku si dia penyumbatan jantung. Pa sebenarnya ada hal yang mengganjal tetapi dulu aku masih kecil jadi tidak seberapa paham, tapi sekarang aku mau cari tahu kenapa aku dan mamiku bisa berada di tangan mereka."
"Eh.... apa ..... maksudnya gimana? Apa yang kamu pengen tahu Gab?"
Aku sedikit bingung kenapa reaksi papa Stan aneh gitu ya, apa ada yang beliau tahu tetapi ga diceritakan padaku.
"Iya pa, aku pengen tahu gimana aku dan mama bisa dia culik, terus kalau mengingat kemampuan papiku seperti nya ga mungkin dia biarin anak istrinya tanpa penjagaan. Kalau alesannya karena dia cinta mami sepertinya aneh sebab dia menganiaya kami berdua. Terus ketika aku dan mami akhirnya diselamatkan oleh papa kenapa keluarga Saputra ga menyeret kasus ini ke ranah hukum pa." entah kenapa hari ini rasanya aku mempunyai energi berlebih dan rasa ingin tahu berlipat ganda.
Kulihat papa menjadi gelisah tapi berusaha dia tutupi, "Oh itu kamu pengen tau hal itu, eh... apa ga sebaiknya kamu tanya papimu aja Gab? Lebih baik kan denger dari papimu, kalau denger dari orang itu bisa jadi dia membuat kebohongan baru yang berdampak buruk padamu gimana?"
Sebenernya aku juga sudah berpikir untuk mempertanyakan hal ini sama papi, memang fakta apapun yang nantinya aku tahu pasti tidak akan merubah apapun dan aku bisa jamin juga ga akan mempengaruhi rasa sayangku sama orang tuaku.
"Oke Pa, aku akan cari jawaban atas rasa penasaranku ini ke papi." kataku yang dibalas anggukan setuju papa Stan.
------------------------------------------
Sore itu sesuai rencana kami menunggu kedatangan nenek sihir, papa mama sengaja menunggu di ruang tamu dan aku di dalam ruang kerja bersama Stanley.
Stanley mengajakku berbaring di sofabed yang ada di kamar kerja itu.
"Yank akhirnya bisa duaan lagi, kangen banget aku tuh. Kalau kita udah nikah kamu mau tetep dinas ke Rumah Sakit yank?"
Aku memiringkan tubuh sehingga wajah kami berhadapan dengan lengan kiri Stan masih menjadi bantalku, dengan gemas kucubit pipinya, "Udah pengen nikah emang?"
"Hah, kamu ga pengen cepet nikah emangnya? Masih ada yang kamu raguin dari aku? Coba deh mulai sekarang bener bener terbuka sama aku biar aku bisa lurusin kalau ternyata yang kamu pendam dipikiranmu itu salah." jawabnya sambil bangun terlihat sekali tiba tiba ada emosi yang meletup.
Kaget, pasti reaksi pertamaku melihat kalimat pendek yang kulontarkan ternyata memantik api emosi. Jujur aku ga da tendensi apapun saat menanyakan hal itu, tapi melihat reaksinya yang impulsif, aku merasa ada yang salah dari kami.
"Husstt, Stan please pelanin suara kamu, aku ga mau mereka denger kamu marah marah!"
Dengan kasar Stanley menghela nafas berulang kali seperti membuang supaya amarahnya reda. Masih dengan posisi berhadapan cuma bedanya sekarang kami terduduk, aku peluk pinggangnya kurasakan gemuruh nafas dan detak jantungnya. Aku jadi berpikir sendiri apa ada sikapku yang salah sampe dia berpikir aku memendam sesuatu.
"I'm sorry yank." katanya membalas pelukanku dengan erat sambil mengelus elus rambutku. Hangat....... hatiku hangat dan rasanya nyaman banget berada dipelukannya.
"Stan, kamu tau ga kelemahanku apa kalau kamu ngelus kepalaku gini?"
Tampak Stan berpikir, dan kemudian menggeleng menanti jawabanku.
"Rambutku yang kamu elus tapi hatiku yang acak acakan deg deg plasss." kataku yang disambut tawanya terbahak bahak.
"Ya ampun kamu belajar gombal dari mana sih, kriuk banget kaya crispy chicken skinnya Pak Janggut yang slogannya Jagonya Ayam." ledeknya.
Hahahaha...... ya ampun segaring itukah gombalanku. Emang ga bakat deh berkata kata manis kayaknya, batinku sambil manyunin bibir.
Secara tiba tiba bibir Stanley menangkap bibirku dan dengan lembut mulai melumatnya. Aku terbawa suasana dengan lembut dia menuntunku membuka mulut dan bibirnya semakin memperdalam ciuman kami.
Ciuman yang awalnya lembut menjadi makin agresif, seiring itu pula debaran di dadaku semakin kencang sampai aku merasa sesak nafas. Stanley melepas bibirku dengan pelan dan menempelkan dahinya di dahiku, kami sama sama ngos ngosan hahahaha keliatan banget ya ga berpengalaman.
Selama beberapa saat kami tetap diposisi yang sama, dahi saling menempel dengan tangan kanan Stan berada ditengkukku. Berangsur nafas kami teratur kembali, dan ketika Stan mulai memiringkan wajahnya akan kembali ******* bibirku.......
Ceklek.... "Eh maaf mama ganggu ya hihihi, silahkan dilanjut Stan!" Bukannya langsung pergi tapi mama malah masuk, yang membuatku malu dan gugup berasa maling ayam ketangkep warga rasanya hahaha.
__ADS_1
Aku berusaha terlepas dari dekapan Stanley tapi dia tak mau melepasku malah makin erat memeluk, "Mama! Ketok dulu kalau masuk ma!"
Mama malah ketawa cekikikan melihat kegusaran Stanley, "Ga usah malu Gab, wajar kok kalian juga sudah dewasa melepas hasrat ke masing masing ga salah kok asal tidak kebablasan ya. Oke mama keluar deh, tadi cuma mau kasih tau kalau nenek sirih lagi di depan tuh barusan dateng."
Sepeninggalan mama, Stanley kembali melanjutkan aktifitas yang tertunda tadi, ya ampun dasar cowok, tapi aku pasrah aja sebab pengalaman pertamaku juga merasakan ciuman sedalam ini, biasanya cuma lips kiss ringan aja.
Kami mengulangi kembali aktifitas kami tadi sampai dadaku terasa sesak dan Stanley akhirnya melepas bibirku. Hatiku merasakan debaran jantung Stan dan ini indah sekali rasanya, bahagia rasanya merasakan jantung yang berdebar karena kita.
"Ehm.... Stan udah ya, aku ga kuat kalau deg degan gini terus, jantungku bisa ambrol. Lagian kita harus keluar kan ngadepin nenek sihir." kataku dengan nafas yang masih terengah engah kaya abis lari marathon gitu rasanya.
Stanley tertawa sambil merapikan rambutku, aku juga merapikan bajuku yang sedikit kusut, kemudian kami berdua keluar menuju ruang tamu.
"Eh papa lagi ada tamu ya, maaf aku ga tau. Siapa dia pa?" kataku berpura pura kaget melihat ada tamu.
"Halo, aku dokter Gaby, calon menantu papa." lanjutku mengulurkan tangan pada si nenek sihir. Aku menatap tajam ke arah Tina yang mendadak blingsatan dan tidak segera menyambut uluran tanganku.
"Ya ampun udah niat jadi pelakor eh ga da sopannya pula diajak kenalan ga mau salaman!" sindir mama dengan nada yang tajam dan pedas.
"Hah, pelakor? Maksdnya gimana si ma? Ga jadi ah salamannya kan kudu jaga jarak." kataku sambil menarik kembali tanganku.
"Eh... anu... saya bukan pelakor ya..... saya kesini cuma mau minta pertanggung jawaban sama papa kamu yang udah hamilin saya."
"Hah, serius papa masih bisa gitu ehm... sorry maksudku apa papa sudah sembuh? Sebab menurut hasil pemeriksaan medis papa mengalami impotensi dikarenakan penyakit diabetes menahun, dan lagi dari muda maaf lagi ya pa, sel ****** papa dinyatakan kurang sehat kan, maka saat mama program buat anak kedua bisa dibilang ga berhasil kan? So gimana bisa sekarang mbak ini ngaku hamil anak papa. Amazing banget lho Stan kamu bisa punya adik hehehehe." aku sengaja langsung mengeluarkan semua senjata andalan sebab malas banyak cakap.
Semua mata menatap tajam pada si nenek sihir itu sekarang. Dari gerakannya dia mulai sedikit takut, tangan meremas rok yang dikenakan kemudian wajah menunduk tak berani menatap kami yang sedang menatapnya dengan intens, keringat segede biji jagung juga mulai meluncur dari dahinya padahal ruang tamu rumah Stan ber AC.
"Mba, kedinginan mengigil tapi kok berkeringat? Belum makan mba? Ibu hamil harus banyak gizi ga telat makan lho kasian janinnya." lanjutku masih menyindir dan memojokkan Tina.
"Saya ga bohong ya, saya punya bukti papa kamu tidur sama saya terus ada bukti USG juga, bisa saya tunjukkin kok!" rupanya nenek sihir berusaha menguasai keadaan dan bersikap ketus padaku.
"Non, ada temen non Gaby nih katanya mau bicara sama non." kata bibi seraya mempersilahkan Rio temenku yang memang seorang polisi untuk masuk.
"Hai selamat sore pak Rio." sapa Stanley dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan duduk. Dengan tenang Rio duduk di sofa bersebelahan dengan Tina, kulihat Tina kembali menggigil.
"Mba apakah terganggu sama hawa dari AC kok menggigil gitu? Mau saya matiin aja?" tanyaku kembali memojokkan Tina.
Aku tersenyum smirk melihat Tina hanya menggeleng kepala lemas dan takut tampak sekali di raut wajahnya, orang yang tak bersalah tidak mungkin merasa ketakutan hanya dengan melihat atau bertemu polisi.
"Dokter Gaby, apa ada yang bisa saya bantu, maaf kalau kalian sedang terima tamu rupanya." Rio yang memang sudah kuberitahu tentang Tina memulai aksinya.
"Pak Rio, sebagai polisi apakah foto ini bisa dibilang sebagai bukti bahwa papa saya meniduri, katakanlah disini korban ya pak, kita gunakan bahasa kepolisian. Karena kalau sekilas jelas papa saya dalam kondisi tidur pulas tapi si wanita kita lihat posenya sadar kamera dan sepertinya malah dia yang mengambil foto."
Rio mengamati sejenak foto tersebut, "Kalau sebagai keterangan foto ini jelas bisa kita gunakan sebagai barang bukti bahwa yang dianggap pelaku dan korban memang dalam satu tempat tidur bersama, tetapi juga belum tentu kita bisa langsung tarik kesimpulan bahwa mereka telah "tidur" bersama."
"Seharusnya kalau saat kejadian korban merasa dirugikan, segera dia akan melapor ke kami sebagai pihak berwajib, kalau difoto ini terlihat justru korban sangat senang dan sengaja mengambil foto tersebut, mungkin digunakan sebagai alat memeras, bisa jadi."
"Nah kalau benar dugaan saya, malah berarti yang jadi korban adalah justru bapak." kata Rio sambil menunjuk papa Stan.
Aku tersenyum lebar ketika melihat Tina makin gelisah, "Kemudian pak Rio, difoto itu kan kejadiannya sekitar awal bulan lalu ya jadi secara medis kalau korban hamil usia kandungannya maksimal usia 8-9 minggu, tetapi di hasil USG yang menjadi bukti justru usia kandungan sudah 13 minggu. Secara hukum gimana nih pak Rio."
"Mudah saja dok, berarti janin sudah ada sebelum kejadian perkara maka , mbak yang di foto itu bisa dilaporkan sebagai pemerasan atau pencemaran nama baik karena janin tidak terbukti milik bapak."
__ADS_1
"Oke pertanyaan terakhir saya, apa langkah yang sebaiknya papa saya lakukan untuk kasus ini ya pak?" ucapku sebagai pertanyaan terakhir dan pamungkas. Segera kutatap mata Tina yang sudah mandi keringat dan duduk tidak tenang.
Kemudian tatapanku beralih pada mama yang melototin Tina kaya mau nerkam, aku jadi geli tapi kutahan tawaku sebisa mungkin. Keliatan banget betapa mama sangat mencintai papa.
"Saran saya segera dilaporkan saja, biar nanti polisi yang menindaklanjuti perkaranya dok. Kalau dilihat dari 2 barang bukti saja bahwa tanggal foto kejadian dan usia janin itu sudah bisa masuk ke pidana usaha mencemarkan nama baik seseorang, apalagi kalau ada ancaman misal lewat WA atau verbal yang diucapkan dan terekam itu bisa lebih memberatkan lagi."
"Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dalam penjelasan Pasal 310 KUHP, menerangkan bahwa, “menghina” adalah “menyerang kehormatan dan nama baik seseorang”. Yang diserang ini biasanya merasa “malu”.
"Kehormatan yang diserang di sini hanya mengenai kehormatan tentang “nama baik”, bukan “kehormatan” dalam hal seksual. Pada prinsipnya, mengenai pencemaran nama baik diatur dalam KUHP, Bab XVI tentang Penghinaan yang termuat dalam Pasal 310 s.d 321 KUHP. Dengan tuntutan masa hukuman kurang lebih 4tahun."
Kami semua tentu mendengarkan penjelasan Rio dengan sumringah kecuali Tina yang sudah amat sangat gelisah menunggu apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
Tiba tiba bibi kembali datang mengantarkan seseorang, "Non maaf ada Pak Aryan Pratama katanya ada perlu sama Non. Silahkan masuk pak."
"Eh maaf lagi kumpul ya, wah pak Rio polisi teladan of the year apa kabar, maaf ga salaman dulu pak." sapa Aryan sambil menangkupkan dua tangan di dada yang kami balas dengan senyum dan anggukan.
"Gimana Gab, tadi saya ke rumah papi ternyata kamu disini jadi saya susul kemari. Ada masalah apa sampai pak Rio ada disini?"
Aku memang ga sempat menceritakan detail pada pengacara papiku ini, tadi aku hanya memintanya menemuiku sebab ada hal yang mendesak. Secara singkat aku memberikan semua bukti bukti yang Tina berikan tadi dan menceritakan duduk perkaranya. Aku sudah muak bermanis manis maka langaung saja kuskak mat si nenek sihir.
"Dan wanita difoto itu ada disebelah pak Rio, saya minta tolong segera om Aryan urus tuntutan hukum terhadap dia. Rekam medis papa akan saya sertakan sebagai bukti pelengkap dan apabila perlu kita bisa ajukan tes DNA juga ya om, usia kandungan 13minggu up kami sudah bisa lakukan tes DNA ga perlu tunggu sampe bayi lahir."
Tina sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi dia menangis meraung raung, aku mengintimidasi metalnya dengan melempar semua fakta yang justru dia kumpulkan sendiri menjadi senjata makan tuan.
"Saya mohon, ampuni saya, nyonyah saya mohon jangan bawa masalah ini ke ranah hukum." si nenek sihir bersimpuh di depan mama, panggilnya nyonyah padahal kemarin dia maki maki mama dengan sebutan wanita tua ga berguna hehehehe.
Bukan aku senang karena melihat penderitaan orang lain, tapi lebih kepada bahagia karena bisa melepaskan papa dari beban hatinya dan mendamaikan urusan asmara papa dan mama tentunya.
"Maaf ma, bukan aku senang melihat orang lain menderita, tetapi kalau kita lemah maka bisa jadi wanita wanita lain diluar sana meniru cara mbak ini. Saranku serahkan saja ke om Aryan ma, biar om yang urus semua dengan pak Rio. Mama lebih baik urus papa aja hehehehe."
Aku memberi isyarat mata ke mama supaya membawa papa masuk dan biarkan kami urus sisanya. Mama rupanya paham dan menggandeng papa masuk tak mempedulikan Tina yang masih bersimpuh dan menangis.
"Om Aryan, maaf merepotkan, tolong urus semua ya, Gaby cm mau kasih pelajaran aja dan mengorek siapa sebenarnya dalam dibalik mbak itu om, aku yakin dia cuma pion om." kataku lirih supaya ga terlalu terdengar oleh Tina.
"Dan mas Rio terima kasih juga bantuannya, kami secara resmi menyerahkan semua urusan hukum lewat om Aryan sebagai pengacara." kataku sambil menangkupkan tangan di dada tanda terima kasihku.
Stanley mengantar Rio dan om Aryan serta si nenek sihir untuk di bawa ke kantor polisi.
Aku sangat lega minimal mama dan papa bisa kembali berdamai, pelajaran untuk aku bahwa terkadang apa yang kita lihat bukan yang sebenarnya terjadi.
#
#
#
Dalam menghadapi persoalan kunci kemenangan adalah ketenangan hati dan pikiran bukan pisau apalagi pistol.
Orang yang berakal pergi ke medan perang membawa senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi tenanglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dengan ilmu ditaklukkan dunia.
(Buya Hamka)
__ADS_1
------- To Be Continue -------
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘