
Nadine memberikan ponselnya pada Dicta memperlihatkan video dan WA dari penjebak mereka. Aku dan Alex mendekat ikut melihat, lalu kubuka hpku dan disitu kami tau, Nadine dan Alva bersetubuh dibawah pengaruh obat. Divideo itu terungkaplah bahwa dalang penjebakan itu adalah papa Nadine sendiri.
Divideo itu sendiri mereka bersetubuh tanpa pengaman dan dilakukan pengeluaran lebih dari sekali, kemungkinan hamil sudah pasti besar ditambah pengulangan yang mereka lalukan diluar hari penjebakan. Dan yang aku ga habis pikir setiap mencapai puncak Alva menceracau menyebut namaku. Huft apakah selama ini aku jadi objek fantasinya hahahaha, miris rasanya.
Aku makin merasa bersalah karena selama 3tahun bersama bisa dibilang hampir ga pernah memadu kasih, bicara heart to heart apa yang jadi keinginan Alva dan sebaliknya. Kami orang dewasa yang pacaran layaknya ABG, romansa yang kami lakukan paling dalam hanya saling peluk , kissingpun bisa dihitung dengan jari.
Aku makin paham bahwa jenis perasaanku saat bersama Alva berbeda dengan saat bersama Stan. Tapi karena pemahaman yang berbeda inilah justru membuatku merasa bersalah, karena selama ini sudah timpang dalam menjalani hubungan kami.
"Gab, lu percaya kan sekarang kalau semua ini skenario papaku? Dia masih dendam sama keluarga besar Alex dan Alva karena dia menganggap secara tidak langsung kejatuhan perusahaannya adalah akibat dari pembatalan bantuan keluarga Alex."
"Gue salut sama lu, dan gue nyesel kalau saja ga deketin Alva pasti dia ga akan terpuruk karena tindakan papaku. Lu orang baik dan pantes Alva sangat mencintai lu. Gue kalah, Alva ga mau terikat sama gue karena anak ini sampai dia ngamuk kaya tadi." kembali Nadine menangis tergugu yah.... aku yakin bukan akting sebab perempuan mana yang tahan saat bersetubuh pasangannya meneriakkan nama cewek lain.
"Sorry Nadine, gue turut prihatin sama kondisi lu, biar nanti pelan pelan gue bantu Alva sadar bahwa ada perempuan yang lebih membutuhkan dia daripada gue. Dan lu jangan mandang gue baik dan suci, gue cuma manusia biasa yang ga bisa .... sorry ...... nahan jijik melihat prianya menikmati tubuh cewek lain. Gue ga sebaik itu Nad, buktinya gue pilih putus sama Alva."
"Owh ya kalau nomer ini lu tau ga nomer siapa? Dia berusaha neror gue, pemilik nomer ini maki maki gue dan nuduh gue yang ngancurin Alva. Awalnya gue kira itu elu Nad tapi setelah ketemu ku hari ini, gue yakin itu bukan lu. Ehmmm..... lu tau ga kira kira ini siapa?" aku memberikan ponselku pada Nadine dan memperlihatkan nomer tak dikenal serta isi WAnya.
Nadine mengecek di ponselnya tapi nomer tersebut tidak keluar yang artinya dia juga ga berhubungan sama nomer tersebut. Aku yakin kali ini dia jujur memang bukan dia.
"Tapi dugaan gue ini berhubungan sama manajemen Alva, sebab saat video ini diambil kami baru selesai event dan panitia menjamu pengisi acara di club ini. Gue juga ada disana dan ngeliat pertengkaran Alex dan Alva. Trus kalau dipahami dari kata katanya ini jelas berhubungan sama beberapa kerjaan yang dicancel karena Alva dalam kondisi mabok dateng ke event." terang Nadine sama dengan dugaan Alex kemarin.
Beberapa saat kami terdiam sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ya sudahlah tentnag siapa yang mengirim WA ga akan aku masalahin lagi, yang terpenting orang itu ga mengancam secara fisik.
"Dict, menurut hasil pemeriksaan lu tadi gimana kondisi Alva?" tanya Alex yang membuatku teringat maksud dan tujuanku datang kesini.
"Kondisi secara fisik ga mengkhawatirkan, yah..... tadi dia ga bisa kendaliin emosi karena dibawah pengaruh alkohol. Tapi kondisi kejiwaannya mengkhawatirkan, Alva saat ini frustrasi dan menjurus ke depresi. Gue saranin refer ke Retna aja Gab. Dia cukup handal nanganin masalah ini."
Aku mengangguk anggukkan kepala paham dengan uraian penjelasan Dicta. Frustrasi adalah perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan. Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan.
Rasa bersalah dan kekecewaan yang mendalam serta berlarut larut menimbulkan rasa sedih dan tekanan mental yang besar, sehingga mengarahkan seseorang pada gangguan depresi. Seseorang dikatakan menderita gangguan depresi jika mengalami keadaan tertekan dan mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Gangguan depresi berat jika seseorang mulai kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau meninggalkan tanggung jawab dan aktivitas normalnya hampir setiap hari, hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan, insomnia, kegelisahan, melambatnya gerakan psikomotorik, perasaan lelah, perasaan tidak berharga, perasaan bersalah, sulit berpikir dan berkonsentrasi, muncul pikiran untuk bunuh diri.
Gejala yang ditunjukkan Alva sebenarnya tidak terlalu berat hanya saja pengaruh alkohol memperburuk situasi dan kondisinya. Alva melampiaskan emosi negatifnya dengan alkohol yang semakin hari kadarnya makin tinggi jadi membuat dia tampak sangat buruk.
"Lex, kita perlu kabarin dan kasih info detail ke mama papa Alva, gue ga mau kalau mereka sampai tau dari orang lain dengan berbagai macam bumbu yang bakal memperumit keadaan."
"Dan kita harus jaga supaya Alva lepas dari semua kegiatan shownya dulu, biar dia bisa istirahatkan fisiknya trutama disituasi wabah Covid-19 ini. Gue takut Alva terjangkit. Gimana menurut lu?"
"Gue setuju sama Gaby, cuma aktualisasinya gimana, secara Alva kan bukan anak kecil yang bisa nurut kita suruh-suruh." sahut Dicta
Alex tampak pusing berpikir, terlihat dia memijat pelipisnya, berkali kali menghela nafas. Aku paham dia juga bingung harus gimana, Alva sudah hidup mandiri lepas dari orang tuanya sejak lama, bahkan mungkin mereka sudah lama mereka ga komunikasi secara proper. Dari cerita Alva dulu hubungan antara mama dan papanya kurang baik.
"Lex silahkan lu pikirin gimana baiknya, gue sama Dicta cek kondisi Alva dulu, oke? Dan elu Nad, istirahat aja, lagi hamil muda jangan banyak pikiran. Lu pikirin aja janin dalam perut lu, ntar biar gue urus Alva." putusku daripada terlalu lama menunggu dan berpikir.
Aku dan Dicta melangkah ke kamar Alva, dan melihat Alva yang masih tertidur tenang. Bagaimana bisa Alva bertindak sejauh ini, aku benar benar tak habis pikir, kalau memang mencintaiku bukankah ga seharusnya dia melanjutkan hubungan dengan Nadine?
Selama 3th aku tak memberi apa yang dia butuhkan sebagai pria diapun ga pernah menuntut, lalu kenapa tiba tiba jadi seperti ini. Bahkan mengajak bicara masalah pernikahanpun Alva ga pernah jadi aku menganggap semua baik baik saja.
Air yang tenang memang ternyata jauh lebih menakutkan daripada ombak besar, sebab dalam air yang tenang kita tidak dapat memprediksi akan terjadi apa.
"Gab, aku pergi dinas dulu ya, obat buat Alva nanti pake GoJek aja jadi lu ga perlu keluar sama ntar gue pesenin susu ibu hamil dan vitamin buat Nadine, trus hand sanitizer juga. Gimanapun kita harus jaga janin yang ga bersalah itu Gab. Saran gue untuk sementara Nadine tinggal disini ajalah jangan kluar rumah bahaya juga buat kesehatan ibu dan janin, minimal sampe 14 waktu yang pemerintah tetapkan."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanda setuju, "Ntar gue bicarain ama Alex masalah Nadine ya, Dict sekalian pesankan kami makan siang ya. Aku mau Chinese food aja. Thanks."
Aku memandangi wajah Alva yang tenang, aku ga paham apa yang terjadi sampe bisa dititik ini. Please berhenti merasa bersalah sama aku Alv, emang ini jalan kita. Ada orang yang dipertenukan dan berjodoh sampe maut memisahkan, tapi ada orang yang dipertemukan dalam batas waktu tertentu hanya sebagai pelukis dan pelengkap kisah hidup seseorang aja.
Semua orang pasti pinginnya langsung ketemu dan jodoh tapi itu semua bukan kita yang tentuin, ada Tuhan Yang Maha Berkuasa atas jalan hidup kita. Kisah cintaku sendiri cukup berliku dan terpaku pada dua sosok lelaki ini, siapa yang menyangka ternyata roda hidup mengantar Stan kembali padaku. Skali lagi semua adalah Misteri Illahi.
*******************
*Alva POV*
Oowwhhh aarrgghhh....... sakit sekali kepalaku, perlahan aku membuka mata, sangat berat rasanya. Kenapa aku inih, apa yang terjadi padaku? Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi yang membuat aku tertidur.
#Flasback On#
"Alva, please dengerin aku dulu, aku ga terlibat dengan rencana papaku, aku juga korban Va. Dan sekarang aku hamil anak kamu. Inget Va kita berhubungan ga cuma sekali tapi berkali kali dan tanpa pengaman."
"Kamu ga adil kalau timpain kesalahan ke aku semua Va, saat kamu menikmati tubuhku kamu begitu puas giliran ada hasil dari perbuatanmu, kamu ga mau tanggung. Egois jahat kamu Va!" Nadine terus mencaciku karena aku tak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.
Aku begitu marah, tepatnya marah pada diriku sendiri karena memang aku begitu brengsek menikmati setiap tawaran madu dari tubuh Nadine, bahkan aku berani membohongi Gaby tentang kenyataan yang sebenarnya. Dan ternyata karma dari kebohongan dan pengkhianatanku datang dalam kurun waktu sangat pendek.
Aku menyesal sangat menyesal tapi aku bisa apa, aku hanya lelaki yang lemah ketika disodori kenikmatan duniawi. Dan kali ini benar benar fatal sampe Gaby meninggalkanku. Aku terus terpuruk dalam rasa bersalah. Dan saat ini bom waktu kembali meledak untukku, Nadine hamil dia menuntut tanggung jawabku.
Aarrrggghhhh...... prak .....prang .....gubrak...... aku banting semua benda yang berada didekatku, aku lempar apa saja yang bisa kuraih, aku lampiaskan amarahku pada setiap benda disekitarku. Nadine berteriak histeris melihatku mengamuk. Dia berusaha menahan tanganku tapi kusingkirkan dengan kasar.
Sampai sebuah tangan kekar memiting lenganku dan suara keras membentaku, "STOP It brenti ga lu Alv, udah gila lu ya?Jangan chlidish lu Alv, semua masalah bisa didiskusikan. Tenangin diri lu!"
Yah... itu tangan Alex dan suara Alex, hahahaha arrggghhhhh hiks hiks hiks ......... aku tertawa sekaligus menangis dan meraung tidak terkendali. Alex memelukku menyuruhku tenang dan menelepon seseorang untuk menolongku. Dan yahh.... Dicta spupu Gaby dia berusaha menyuntikkan sesuatu ditanganku, aku berusaha berontak tetapi lengan kekar Alex mengunciku.
Akhirnya aku pasrah dan samar samar aku melihat Gaby, aku raih tangannya dan kugenggam erat seakan takut dia pergi. Tak lama aku merasa sangat ngantuk dan ga tertahan akhirnya aku tidur.
Apa ini mimpi, aku melihat senyum Gaby, Tuhan kalau memang mimpi lebih baik aku tidur aja terus. "Awww .... sakit!" aku menampar pipiku sendiri untuk memastikan apakah mimpi atau kenyataan. Dan ini bukan mimpi, Gaby memang ada disini.
"Hei Alv, kamu kenapa? Kamu cerita donk sama aku, ada apa heemm?"
Aku hanya menggeleng dan tanpa sadar meneteskan air mataku, sikap Gaby yang begini bikin aku makin merasa bersalah dan sakit hati. Betapa bodohnya aku hanya karena syahwat yang tidak bisa kutahan aku harus kehilangan berlianku.
"Its oke Alv, please kamu jangan rusak diri kamu sendiri. Jangan bikin aku merasa bersalah Alv!" kata katanya yang tegas tapia lembut menyentakku menyadarkan ternyata aku sudah sangat egois membuat dia ga nyaman dan merasa bersalah selama ini.
Aku meraih tangannya, menggenggamnya, "Maaf.... maafin aku.... aku ga bermaksud membuatmu ga nyaman."
"Hei Alv, dengerin ya, kita bukan musuh, kita cuma perlu merubah bentuk hubungan kita. Aku ga berniat meninggalkanmu, hanya saja aku bukan lagi perempuan yang berhak atas kamu."
Aku menggeleng gelengkan kepalaku dengan kuat, "Gak aku gak mau, aku ga mau merubah hubungan kita. Aku cuma cinta sama kamu, aku ga mau yang lain."
***********************
Kulihat Alva ga mau menerima kondisi bahwa kami sudah berubah status. Terlihat dia menggeleng gelengkan kepalanya dengan gelisah dan mulai menceracau kalau dia ga mau yang lain.
"Alva, please look at me. Wake up Alv, kamu terlalu berharga buat menyia siakan hidup kamu hanya untuk mengenang kisahmu sama aku. Kamu percaya takdir kan Alv, di waktu ini, kisah kita hanya sampai disini."
"Kamu harus bangkit keluar dari rasa bersalahmu, aku juga sudah maafin kamu kok. Nadine sudah cerita semua, dan aku bisa memaklumi dan memaafkan kalian so jangan menyiksa dirimu lagi oke?"
__ADS_1
"Kamu berhak bahagia Alv, sama halnya juga aku. Kamu tau sekarang Nadine hamil, kalau mungkin kamu ga percaya janin itu anak kamu, kita bisa lakuin tes DNA ga perlu tunggu waktu melahirkan. Saat janin usia 12 minggu ke atas tes DNA sudah bisa dilakukan."
Aku menjelaskan panjang lebar langsung ke inti supaya Alva ga terus terusan ngedrama karena nanti bakal makin susah nyadarinnya.
Aku lihat Alva mulai tenang seperti berpikir, atau mungkin juga kaget karena kata kataku yang lugas.
"Alv, mau kan kamu nurutin kata kataku? Saat ini kondisi diluar ga baik buat kamu, karena kita lagi menghadapi wabah covid, so aku harap kamu stay disini jangan kemana mana dulu."
"Untuk perawatanmu nanti biar Dicta dan satu lagi temanku Retna yang akan datang. Kita homecare aja, dan untuk sementara Nadine lebih baik tinggal disini juga biar kita bisa ngawasin dia."
"Okee, aku akan turutin kata katamu, tapi kamu jangan marah dan jangan jauhin aku ya." pintanya dengan wajah sendu.
Aku tersenyum dan memeluknya, memberi ketenangan dan jaminan bahwa aku ga marah, "Asal kamu janji ga ngrusak barang dan ga bahayain diri kamu sendiri serta no alkohol!"
Alv menyambut janjiku dengan menyangkutkan jari kelingkingnya ke kelingkingku. Aku berdoa dalam hati semoga ketenangan ini berlangsung lama.
Ceklek.........
Terlihat Alex muncul di pintu, "Obat dan makanan udah dateng, kita makan dulu yuk!"
Alva menurut dan mengikutiku keluar kamar.
*******************
Diruang makan kulihat Nadine sedang menyiapkan makanan makanan yang dibelikan Dicta di meja. Aku memperhatikan perubahan wajah Alva yang mulai tenang kembali kesal dan emosi.
"Ngapain kamu disini?" tanyanya galak menatap Nadine dengan mata melotot yang membuat gadis itu sedikit gemetar.
"Hei Alv, tenang dulu, udah janji lho ga marah marah. Tadi kan aku dah jelasin ke kamu, aku suruh Nadine tinggal disini supaya kita bisa awasin dia juga."
"Wabah covid ini jangan kita anggap remeh sebab penularannya begitu cepat. Kasusnya tiap hari meningkat bahkan membuat beberapa negara memutuskan Lock Down."
"Aku ga mau kamu, Nadine ataupun Alex terjangkit virus itu so please turutin kata kataku diam dirumah, isi waktu dengan produktif dirumah saja."
"Jadwalku di RS sminggu ini jaga malem jadi tiap pagi aku bisa cek kondisi kamu ya Alv. Gimana kamu mau kan nurutin aku?"
Menghadapi Alva saat ini memang harus sabar, dia seperti anak kecil yang banyak drama kalau ga diturutin keinginannya, emosinya turun naik. Keberadaan Nadine menjadi pemicu stress tersendiri bagi Alva, tapi aku ga mau membuat Alva menjauh, sebab stress harus diolah maka aku memutuskan Nadine tetap disitu.
Aku mau Alva menghadapi rasa sakit, rasa bersalah dan tekanan yang dia rasakan, bukan menghindarinya.
#
#
#
"You don't get to choose if you get hurt in this world… but you do have some say in who hurts you."
"Kamu tidak bisa memilih siapa yang akan melukaimu di dunia ini, tapi kamu bisa mengatakan seberapa dalam dia menyakitimu."
(John Green)
__ADS_1
******To Be Continue******
Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘