Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 85


__ADS_3

"Besok pokoknya aku akan temuin itu perempuan. Aku akan selesaikan dengan caraku, aku ga mau kamu turutin semua keinginannya lagi!" seruku mengultimatum.


"Iya okay, aku ikuti semua rencanamu yank. Sekarang kamu tenang, buang pikiran negatifmu. I love you!" bisiknya di telingaku sambil memelukku dengan erat.


"Sampai kapanpun aku hanya milikmu, demi anak kita kumohon kamu kendalikan amarahmu yank. Kamu yang paling tahu gimana efeknya ke anak kita kalau ga bisa kendalikan dirimu." lanjutnya berbisik sembari mengelus pelan punggungku.


Aku terdiam meresapi sentuhan dan kelembutan bisikkannya, yaa aku membutuhkan suamiku yang seperti ini.


"Maaf, kalau saja dari awal aku langsung cerita, mungkin kecemasanmu tidak akan berlebihan seperti ini." masih dengan bisikkan dan sentuhan yang semakin seductive.


Aku bukan tidak percaya kemampuan suamiku sendiri, tetapi aku merasa Cara yang ditempuh terlalu berhati hati tidak efektif, kalau kita terlena mengikuti gerakan musuh bisa bisa pertahanan kita sendiri melemah karena energi kita habis mengikuti kemauan mereka.


"Aku juga bukannya mau memperlambat penyelesaian masalah ini yank tapi butuh kehati-hatian sebab yang dituju itu kamu. Jujur aku takut kalau kamu kenapa-napa makanya aku ga libatin kamu sejak awal." terangnya masih sambil berbisik sedangkan tangannya sudah menjelajah tubuhku lebih jauh, membuat tubuhku lebih relax.


"Hon, maaf ya udah kasar ngomong sama kamunya." akhirnya kata maaf meluncur juga dari mulutku dengan susah payah.


Bukan... bukan aku gengsi atau tidak merasa bersalah, jujur aku tahu semua yang dilakukan untuk melindungiku tetapi aku bukan wanita lemah, kalau mereka mengincarku biarkan dia berhadapan denganku.


"Hon, sampai saat ini yang terpikir olehku hanya Tina, secara tidak langsung karena campur tanganku maka dia masuk penjara. Kemungkinan kehidupannya setelah itu sangat berat maka dia mendendam padaku."


Aku memang curiga pada Tina karena kudengar dari papa kalau suami Tina adalah seorang Zein yang lahir dari luar pernikahan, awalnya dia menggunakan Tina untuk menaklukan papa. Tapi karena niat busuknya terbongkar olehku maka membuat dia berakhir di penjara.


Yang masih menjadi misteri adalah Iqbal, siapa dia dan apa posisinya, bisa jadi dia kerabat Tina, ataukah Zein yang lahir diluar pernikahan kakek dan nenekku.


"Biarkan aku menemui perempuan itu, dalangnya akan segera keluar apabila targetnya juga muncul. Selama ini aku hanya diam dan mengacuhkan mereka, makanya makin nekad." kataku mengutarakan pikiran sekaligus meminta persetujuan.


Kutatap mata suamiku untuk membuatnya luluh dan sedikit mengintimidasi karena dia tahu walau tak disetujui aku juga bisa nekad.


Setelah beberapa saat Stanley menghela nafas dan mengangguk sebagai jawaban.


"Berarti udah ga marah kan? Kita baikan ya, aku udah kangen banget sama kamu yank." pintanya sambil menautkan jari kami.


Aku juga kangen banget, kataku dalam hati. Tak hanya jari kami yang bertautan, bibir kamipun tak ketinggalan, kupasrahkan diriku menikmati pertautan indera pengecap kami.


Penjelajahanpun semakin intens dimana itu menjadi tugas dari indera peraba kami, kegiatan saling memijat, mengelus bahkan meremaspun terasa menyenangkan setelah hati kami saling bicara.


Diantara nafasku yang mulai tersengal, Stanley membisikkan janjinya untuk tidak lagi menutupi masalah apapun.

__ADS_1


"Kalau pengen makan kamu sekarang boleh ga yank?" bisiknya serak tanda hasratnya meningkat.


"Boleh banget, itukan tugas sekaligus kewajiban suami isteri buat saling memakan Hon." balasku semberi menggigiti kecil daun telinganya membuat inti tubuhnya menginginkan lebih.


Di saat, suamiku ingin memberi lebih, aku melompat turun dari ranjang karena kandung kemihku butuh dikosongkan, "Bentar ya ga tahan nih maklum BuMil jadi beseran."


Aku tertawa melihat kekesalan diwajahnya, bagaimana tidak kesal ibarat kata saat sudah siap tempur eh lawannya ngilang kan batal jadinya hihihihi.


Keluar dari toilet aku tak mendapati suamiku di ranjang, ternyata sedang menerima telepon di balkon.


"Maaf ya mba, kasus kita itu kecelakaan dan sebagai pertanggung jawaban maka saya merawat mba di Rumah Sakit milik keluarga saya, tapi patut diingat bahwa saya bukan suami mba jadi tidak ada kewajiban untuk menemani anda."


"Apabila masalahnya adalah uang maka silahkan meminta apapun kepada perawat dan tagihannya akan masuk ke saya. Saya sudah cukup bersabar dengan anda jadi tolong jangan keluar jalur!" bentaknya pada si penelepon.


Stanley kaget sampe berjengit melihatku ada di pintu balkon, "Yank ngagetin banget si, jalannya ga napak ya ga kedengeran langkahnha sih, serem ih!"


Aku tertawa melihat reaksi kagetnya, "Gimana mau denger kalau nelepon sambil bentak bentak, santai Hon jangan sampe bayi mereka kenapa-napa ntar kamu lagi disalahin. Mau emang disuruh nikahin dia?"


"Ogah, punya isteri satu aja ga abis-abis yank, mana kalau marah bikin lemes luar dalem gini, ga kuat aku sampe beristri dua." balasnya sambil becanda.


"Hon, emang dia minta kamu ngapain tadi?" tanyaku penasaran.


Alih-alih menjawab, Stanley mengajakku ke ranjang kami, menata bantal di headboard untuk senderan punggungku. Kemudian tangannya dengan terampil memijat kakiku.


"Kamu benar kita ga seharusnya turutin mereka, tadi dia memintaku menemaninya di Rumah Sakit dan meminta dibawakan sesuatu yang dia sedang ingin makan. Tampaknya dia benar benar ingin mendapatkanku yank." ujarnya polos sambil tetap memijitku membuatku gemas.


Kucubit tangannya yang sedang memijatku, "Geer banget kamu, yang sangat dia butuh itu uang kamu Hon."


"Please yank lupain dulu masalah ini ya, aku udah kangen banget sama kamu. Boleh ya?"


Tak perlu kujawab, dengan antusias aku lepaskan kaos yang dikenakannya sebagai jawaban bahwa aku mengijinkannya. See senyum sumringah langsung tercetak di wajah suamiku ini.


Dengan gerak cepat dia memulai ritualnya dari bagian atas lalu perlahan merambat ke bawah dengan sentuhan sentuhan panas yang sungguh memabukkan sekaligus menenangkan.


Aku hanya menikmati semua sembari mengelus perutku agar tidak terjadi kram. Melakukan hubungan suami isteri saat hamil muda memang aman dan diperbolehkan tapi tetap saja akan ada kemungkinan menimbulkan kram perut yang membahayakan janin.


Ketika aku merasakan pergerakan Stanley sedikit lebih benergi maka aku ingatkan, "Hon pelan pelan, ada anak kita disini."

__ADS_1


"Maafin daddy ya sayang, kangen banget sama mommy kamu, daddy akan pelan-pelan." ucapnya sambil menciumi dan mengelus perutku.


"Yank, kalau ngerasa ga nyaman bilang ya, takutnya terlalu dalem nyakitin baby." ucapnya lembut sebelum mulai memasukiku.


Aku hanya mengangguk dan tanpa sadar desahan kenikmatan keluar dari mulutku saat panyatuan kami semakin intens. Tubuhku benar benar relax rasanya sangat nikmat, mungkin karena sudah absen cukup lama jadi penyatuan kali ini terasa jauh lebih nikmat.


"Ahh...... ahh...... yank...., kamu.... udah hampir juga?" tanya Stan ditengah-tengah kami menuju puncak. Aku hanya mengeratkan pelukanku dan kembali menautkan bibir kami sebagai jawaban bahwa akupun sudah siap mereguk puncak kenikmatan bersamanya.


"Aaahhhhh......." desahan kasar keluar begitu saja dari mulut ku yang langsung dibungkam dengan ciuman lembut suamiku. Mencapai puncak bersamaan rasanya seperti mencapai garis finish tercepat dalam perlombaan renang, bahagianya tak tergambarkan.


Lebay.... iya emang entah mengapa perasaan ini sungguh tak dapat dilukiskan sebagai bentuk apapun. Sesuatu yang abstrak bentuknya tapi sangat nikmat rasanya.


Stanley masih melakukan pendinginan ala dia, memelukku dan membisikkan kata-kata pujian dan terima kasih, sudah menjadi kebiasaannya setiap kali bersatu maka sesudahnya dia akan mengungkapkan rasa syukur dan kepuasannya padaku.


"Makasih ya Baby udah bolehin daddy ketemu kamu." ujarnya absurd sambil menciumi dan mengelus perutku. Aku tertawa geli melihat tingkahnya.


Setelah membersihkan diri akibat bergulat tadi, kami menikmati makanan yang dipesan lewat delivery order tadi.


"Yank, besok pas ketemu sama perempuan itu, kamu bawa Dicta ya, nanti Alex Dan anak buahnya pantau juga. Aku seharian bakal meeting sama papi jadi ga bisa nemenin, atau kamu mau tunda sampe aku ada waktu aja?"


"No no no, aku mau nemuin dia besok skalian bertemu Sammy juga, mau membicarakan kerjaan aku selanjutnya!" tegasku sambil melahap makanan di hadapanku.


Stanley tersenyum sambil berkata, "Kok aku jadi tersanjung ya lihat sikap kamu begini, jadi merasa terlindungi."


"Geer banget si kamu Hon, ada juga harusnya kamu lebih galak lagi biar bisa jagain aku! Bukannya nurut aja sama cewek ga jelas kaya gitu." serangku dengan ketus.


Tring........


Kulihat ternyata Alex yang mengirimiku pesan, aku tersenyum menang dan memperlihatkan pesan Alex pada Stanley yang ikut tersenyum.


Kukirim pesan balasanku ke Alex.


Gaby : thank you Alex buat senjatanya.


"Memang isteri aku ini pinter banget, jadi makin sayang deh, sekali lagi boleh ya.... please." rayunya sambil menerkamku tanpa menunggu persetujuanku.


Akhirnya terulang kembali ena-enanya pergulatan yang membuat kami ketagihan bagai konsumsi narkoba. Olah raga yang satu ini emang efeknya sangat dahsyat ke tubuh membuat tingkat kebahagiaan bagi para pelakunya meningkat. Segala beban yang Ada di hati dan pikiran kita rasanya menguap entah kemana berganti kepuasan dan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2