
Aku menepuk nepuk dan mencubit pipiku, aaww.....sakit rasanya.... berarti ini bukan mimpi batinku. Aku Dan Stanley berbaring di ranjang dengan pikiran masing masing menerawang. Aku masih Tak habis pikir bagaimana aku Dan Stanley bisa tertukar begini.
Saat pertama kali berkenalan dengannya memang aku langsung merasa klik bukan hanya sekedar tertarik tapi Ada sesuatu yang lebih besar kurasakan. Apalagi kemudian aku tahu bahwa kami memiliki tanggal bulan Dan tahun lahir yang sama.
Menurut penuturan Dicta semasa sekolah dia adalah salah satu idola jadi betapa senangnya hatiku ternyata sang idola memilihku. Dan saat kami saling memperkenalkan diri ke keluarga, orang tua kami langsung menerima tanpa perlawanan bahkan tanpa interogasi sedikitpun.
Saat itu tidak Ada yang aneh menurutku saking bahagianya jadi Hal Hal seperti itu tidak terlalu kupikirkan. Mami papi Sama sekali ga pernah melarangku pergi atau beraktivitas sama Stanley. Pokoknya hubungan kami mulus banget alus seperti pantat bayi hehehehe.
Dan saat sekarang aku mengetahui semuanya baru aku sadar alasan dibalik sikap permissive kedua orang tua kami. Sudah pasti mereka akan sangat diuntungkan dengan bersatunya aku Dan Stan karena semua pasti akan baik baik saja tanpa harus terungkap.
Atau setidaknya kalaupun sampai terungkap tetap saja mereka tidak akan kehilangan salah satu dari kami, yah....... seperti yang Stan bilang toh kami tetap akan bersama.
Tapi tetap Ada ganjalan dihatiku kenapa mereka tidak ungkap sejak kami kecil toh saat aku ditemukan oleh papa, aku yakin saat itupula mereka melakukan tes DNA padaku Dan Stanley.
"Yank, kamu mikir apa dahimu sampe kerut kerut gitu?" tanya Stanley yang sejak tahu kami bukan saudara langsung tenang tanpa beban.
"Gapapa cuma lagi mengingat saat Dicta ngenalin kamu ke aku dan perjalanan pacaran Kita yang mulus banget lempeng Kaya jalan tol. Pantes saat kamu ketemu sama Mami papi, mereka ga da sedikitpun interogasi latar belakang kamu atau menyelidiki karakter kamu atau apalah seperti yang dilakukan orang lain pada pacar putrinya."
"Stan, kamu Kan sahabatan Sama Dicta dari SMP ya, pernah Ada rasa yang lebih ga sih diantara kalian?"
Stan tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku, "Pertama kali aku kenal Dicta itu karena aku nolong dia dari anak Nakal yang jahilin dia, ada rasa sayang yang aku sendiri ga bisa jelaskan tapi untuk cinta atau tertarik secara seksual lawan jenis gitu enggak sih."
"Dicta ke aku juga bilang aneh Kita beda kelamin bersahabat sampe deket banget gini tapi ga da debar debar romantic sama sekali katanya, bahkan dia pernah berpikir kalau dia ga normal hahaha."
"Mungkin itu naluri saudara Kali ya Stan, sama kaya aku ke Sammy, rasanya gitu juga. Di saat saat terberat kami seperti ada rasa harus saling melindungi. Kalau sekarang sepertinya jadi terjawab karena ternyata Aku Dan Sammy adalah saudara seperti kamu Dan Dicta."
"Yank kamu kbayang ga gimana hebohnya kalau mereka tahu cerita sebenarnya? Bakal canggung ga ya?"
__ADS_1
Aku hanya mengangkat bahu, "Harusnya si ga da yang berubah seperti halnya hubungan kita Stan."
"Apapun yang nanti Kita tahu kamu janji Kan ga tinggalin aku? Janji Maafin orang tua kita?"
Aku kembali merasakan sesak, dalam hati aku berpikir tidak akan ada yang berubah terhadap perasaanku pada Stanley tapi memaafkan mereka apakah akan begitu mudah? Aku juga manusia biasa ga serta merta bisa menerima semua dengan mudah, apalagi penderitaan yang pernah kualami akibat pertukaran anak ini.
"Sorry to say Stan, aku ga bisa janji Maafin smua semudah itu, Ada penderitaan yang pernah kualami Dan bekasnya baru beranjak kering jadi saat terkoyak entah rasanya akan bagaimana. Tapi aku bisa janjiin ga akan tinggalin kamu."
Stanley memelukku hangat, mengelus rambutku dan punggungku lembut, entah siapa yang memulai bibir kami bertaut saling ******* memacu adrenalin. Semakin lama semakin panas, tangan kami sudah menjelajahi satu sama lain.
Aku melepaskan diri dari kungkungan Stan sambil terengah engah mencoba bicara, "Stan a.... aku... takut bablas Stan."
Dia tersenyum menggeleng, "Ga akan yank, aku bisa tahan ga akan bablas, boleh ya making out aja, aku butuh dikeluarin. Kamu percaya Kan sama aku, pertahanan diriku tinggi ga akan bablas!"
Aku mengangguk pasrah Dan percaya semua akan baik baik aja, Stan ga mungkin ngerusak aku seperti selama ini dia jaga aku Dan jaga dirinya sendiri.
-----------------------
*Mama Papa*
"Pah ini Hape bunyi terus dari pak Tian lho pah. Ada apa ya pah, mama jadi cemas nih."
Aku mengecek hapeku Dan benar saja Ada sepuluh missed call dari Tian. Degh....... jantungku rasanya ga keruan pikiran pikiran buruk melintas di otakku. Bergegas kutelpon balik Tian, yang langsung dijawabnya.
"Ya Halo gimana pak Tian? Maaf tadi saya di ruang kerja ga bawa hape, jadi baru liat ada banyak missed call dari Pak Tian. Ada apa nih Pak?"
Aku terpana mendengar cerita dari Tian, ternyata anak anak sudah tahu rahasia kami. Sudah kuduga lambat laun rahasia ini harus diceritakan, harus diungkap. Apapun yang terjadi kalau memang harus hari ini, maka akan aku lakukan.
__ADS_1
Tak kusangka Gaby justru yang berani memulai agar semua rahasia antara Dua keluarga ini diungkap. Aku yakin hubungan anak anaku akan baik baik saja, tapi bagaimana dengan hubunganku Dan Gaby anak kandungku, akankah dia memaafkan kami orang tuanya.
"Pah...... pah...... pah.....!" aku gelagapan kaget mendengar teriakan istriku yang rupanya sudah Ada di dekatku tanpa kusadari.
"Ada apa pah sampe kamu ga sadar gitu, bilang sama aku pah kenapa Tian telpon tadi?"
Aku menatapnya, menggenggam tangannya, setelah Gaby pasti istriku yang paling terluka ketika setelah melahirkan bahkan belum sempat menggendong, Gaby diculik oleh Gun.
"Mam, anak anak sudah tau rahasia keluarga Kita, Gaby memohon sama Tian untuk mencari tau kenapa neneknya sangat membenci dia, Gaby sudah Tau semua adalah perintah dari ibu Tian, neneknya. Gun menulis surat dititipkan pada perawat sebelum dia meninggal, Dan dia menceritakan bahwa semua terjadi atas perintah neneknya."
Kupeluk istriku yang Tak kuasa menahan air matanya, akhirnya hari yang dia takutkan hadir juga. Jujur kami takut, sungguh takut kalau Gaby tidak menerima semua alasan dari smua yang terjadi.
"Kita segera temui anak anak ya mam, mohon maaf sama mereka Dan semoga mereka mau menerima alasan Kita. Dan trutama tidak meninggalkan Kita."
-------------------------
Memohon maaf Dan memaafkan Dua hal yang sepertinya sederhana tapi pads pelaksanaannya sungguh sangat sulit. Dalam maaf memaafkan ini terselip yang namanya ikhlas nah ikhlas ini yang bikin acara maaf memaafkan menjadi berat.
Ikhlas / Mengikhlaskan / Keikhlasan artinya membutuhkan ketulusan hati yang terdalam, sebagai manusia biasa tentu tidak mudah tapi bisa diusahakan.
Gitu juga author nih ikhlas banget meres otak buat bikin cerita yang berkualitas, itu sebabnya walau antara jumlah viewier Dan jumlah like apalagi vote tidak sebanding tetapi saya tetap semangat πͺπͺπͺπͺππ
Buat para readers yang suka Dan ikhlas buat dukung mohon tekankan jempol anda buat like, vote dan comment, gratis kok hanya butuh kemauan Dan jempol aja buat dukung author yaπ.
Buat readers yang setia sampai saat ini say ucapkan terima kasih atas dukungan kalianπππ.
Yuks ahh lanjut Bab berikutnya.........
__ADS_1