Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 26


__ADS_3

Aku kembali ke kamar Stanley dan melihat pakaian yang kusiapkan sudah tidak ada ditempatnya, berganti dengan jubah mandi yang tergeletak. Aku mengembalikan jubah mandi ke capstok yang ada di kamar mandi. Mataku mencari cari keberadaan Stanley, kulihat pintu balkon terbuka, jadi kulangkahkan kaki kesana.


Kulihat Stanley menyandar ke railing balkon sambil ngerokok dan satu tangan memegang gelas wine. Dalam kondisi tertekan dan belum mau berbagi beban dia selalu melakukan hal itu, untung dia bukan tipe lelaki yang suka ke club jadi akan aman karena hanya minum dirumah.


Stanley memang cenderung introvert, seringkali dia hanya menunjukkan harapan dan emosinya dari tindakan, jadi kalo orang yang baru mengenal pasti akan susah cocok dengan dia. Ragu-ragu aku melangkahkan kaki mendekatinya, "Hei kamu, ganteng banget Stan pake baju pilihanku, nyaman ga dibadanmu?"


Aku berusaha mencairkan suasana dengan menanyakan apakah dia nyaman sebagai pesan tersirat juga apakah sudah berniat menceritakan masalahnya. Dia menoleh memberikan sedikit senyum kemudian berbalik kembali menghisap rokoknya dengan cepat kemudian mematikannya di asbak.


Aku ikut bersandar disebelahnya, mengamati sekaligus menebak bagaimana dia akan menyelesaikan masalah kami. Dia menyodorkan gelas wine dengan pertanyaan tersirat apakah aku mau coba, hehehe yah gitulah Stanley kalo lagi bad mood lebih banyak pake bahasa isyarat.


Aku menerima gelas tersebut dan menyesapnya, ga munafik sesekali aku juga suka minum tentunya bersama Dicta di apartement. Sebagai dokter kami harus dapat menjaga diri dan kehormatan kami, bakal lucu rasanya kalo petugas medis seperti kami trus main di club sampe mabok. Bukan jaga image tetapi lebih kepada mencontohkan hal yang baik bagi orang lain.


Minum wine sesekali dengan takaran satu skoli akan membuat tubuh merasa rileks. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah mengalihkan tekanan atau stress yang kita alami dengan minum wine. Yang ditakutkan justru kita akan ketergantungan dan masuknya ke penyalahgunaan zat karena semakin hari kadar alkohol dalam wine yang kita konsumsi akan meningkat dan hal itu akan membuat ketergantungan.


Bayangkan kalo kita selalu mengalihkan setiap tekanan hidup kita ke alkohol maka kebutuhan kita akan alkohol setiap harinya makin tinggi sebab dalam hidup manusia pasti selalu ada tekanan yang berbeda setiap harinya. Makin dewasa seseorang maka tantangan hidupnya makin kompleks, tekananpun akan makin meningkat. Maka jagalah diri kita harus pandai pandai membatasi dan memilah apa yang baik dan buruk, apa yang dibutuhkan dan tidak, serta apa yang harus dilakukan dan tidak.


"Hei kamu, ga pengen cerita sama aku?" tanyaku sambil meletakkan gelas di meja yang ada di balkon.


Stanley masih diam menghadap padaku merentangkan tangannya sebagai isyarat bolehkah memelukku. Aku menggangguk dan menyambut pelukannya. Jantungku berdetak lebih cepat, rasanya hangat dan nyaman bahkan lebih nyaman dari 4tahun lalu.


Ehm.....aku paham ternyata memang sebagian hatiku ga pernah berubah untuk mencintainya. Bahkan saat kemarin pertama kali bertemu lagi di pernikahan Brandon, rasaku untuknya ternyata tidak berubah. Mungkinkah saat bersama Alva 3tahun ini aku hanya berpura pura lupa padanya, tanyaku dalam hati.


"Ehm... Stan kamu ga mau masuk? Udaranya makin dingin lho."


"Sebentar lagi ya, aku pengen peluk kamu kaya gini terus, sama kamu aku selalu hangat Gab." pintanya lirih yang tentu saja bikin aku melted hahahaha.

__ADS_1


Kakiku udah pegel banget sebenernya, tapi Stan tampak masih menikmati posisi kami berdiri gitu. Tiba tiba dia tertawa sendiri, "Kamu pegel ya kakinya Gab, maaf ya, ya udah kita rebahan aja, ngobrolnya sambil istirahat."


Akupun balas tertawa lega, kurebahkan diriku di ranjang kingsize, sambil berdoa semoga aman aku bisa kendaliin nafsu ga khilaf hahahaha.


Posisiku dan Stan awkward banget sebenernya karena berasa kaya suami istri lagi melakukan pillow talk padahal kita HTS (hubungan tanpa status). Tapi skali lagi aku mau egois ajalah menikmati alur toh sama sama jomblo juga jadi amanlah.


Aku tidur dalam posisi duduk, punggung kusandarkan di kepala ranjang, kupejamkan mata, merenungi kejadian seharian ini. Dari pergi jalan dengan dokter Indra sampai terdampar di Bandung hahaha.


Asyik banget si entah kapan lagi bisa ngerasain perasaan kaya gini. Waktu sama Alva aja kayaknya ga pernah ada kejadian lucu gini, romantis ngeselin sekaligus nyenengin. Kalau diculik semenyenangkan ini pasti cewek cewek pada nawarin diri tanpa sungkan minta diculik.


Yah.... walau ada aja kejadian nyebelin ditengah semua yang menyenangkan, anggep aja sebagai bumbu. Gimana kita bisa ngerasa seneng kalo kita belum pernah ngerasa sebel, bener ga??? hehehehehe...........


Masih dengan mata terpejam, aku merasakan Stanley merebahkan kepalanya di pahaku. Tanpa suara dia menuntun tanganku mengelus kepalanya, dengan lembut aku usap usap kepalanya dengan tangan kananku dan tangan kiriku memijat lembut bahunya. Seharian nyetir pasti leher dan bahu kita rasanya kaku tegang. Kepalaku sebenernya juga udah melayang nahan kantuk karena emang udah hampir pagi dan efek jaga malem sminggu nuntut bayar utang tidur.


"Aku tau tadi kamu liat papa kan Gab di FO." katanya pelan tapi ngagetin, ya gimana ga kaget aku pikir tadi ga da yang liat saat aku ngintip pertengkaran mereka. Jadi ini yang dari tadi ganggu pikiran Stan, pasti dia ngerasa malu sama aku.


"Apa kamu masih sepeduli itu sama aku Gab, sampai kamu shock banget tadi?"


Ehm.... mendadak aku kok ga paham ya ke arah mana nih pembicaraannya Stan, perasaan aku peduli peduli aja deh sama dia, batinku. Aku memilih diam sambil tetap mengelusnya menyalurkan kehangata, karena ga paham mau jawab apa.


"Gab, kok diem si. Aku salah ya, kamu marah? Ehm.... aku maksudku, ehm.... apa aku sudah berhasil ngambil hati kamu lagi Gab?" tanya Stanley tampak sekali gugup.


"Stan, kamu butuh tidur, mending kita tidur aja dulu ya udah hampir pagi nih. Aku juga sudah ga konsen nih kepalaku rasanya melayang. Dan aku diem bukan karena marah tapi karena udah ga konsen mau jawab apa hehehehe."


Stanley nanya diam kemudian menggenggam tangan kiriku dan menaruhnya di dada, tak berapa lama aku mendengar nafasnya yang teratur tanda bahwa dia sudah tidur nyenyak.

__ADS_1


Kepalaku masih melayang dan tubuhku menuntut untuk istirahat tapi otakku ga mau brenti berpikir, menebak apa yang sebenarnya selama ini terjadi sama Stan, karena masalah pembatalan perkawinan itu dia belum cerita, terus ditambah lagi urusan papanya, dan terakhir masalahku sendiri terhadap teror yang kuyakin dari Nadine.


Tring.......


Tangan kananku meraba raba kasur mencari ponselku yang berbunyi notif WA. Siapa ya subuh subuh gini kirim message.


082299xxxxxx


Cewek sok baik, liat nih rekaman video, lu udah ngancurin Alva, cowok yang 3th nemenin lu nglupain sakit hati karena ditinggal cowok. hahahaha tukang rebut!!!


Aku penasaran video apa yang dikirim, aku menekan play kemudian terlihat suasana di Club. Ada Alex dan Alva serta teman bandnya. Terlihat Alex berusaha menghentikan Alva untuk minum, tapi Alva yang sudah mabok marah dan menceracau.


"Brengsek lu Va, brenti ga lu minum, lu mau ancurin diri lu, karier lu? Ga kasian sama mama papa lu? Stop it!" teriak Alex sambil merebut gelas dari Alva.


"Apa peduli lu kalo gue ancur? Gue udah ga da semangat Lex, Gaby udah njauhin gue dia ga mau trima gue lagi, apalagi Stanley sialan itu udah balik, dengan mudahnya Gaby pasti pilih dia dibanding gue. Gue emang cowok brengsek Lex, biarin gue ancur skalian!"


Terlihat di video Alex yang sudah tidak dapat menahan emosi langsung menghajar Alva dan menyeretnya keluar Club, dan video rekaman itupun berakhir.


Tanpa terasa aku sudah beruraian air mata, apa benar aku yang udah ngancurin Alva? Bukannya dia yang ga bisa jaga diri sampai aku dan dia pada posisi sekarang ini?


Kok jadi aku yang disalahin.......... sebenarnya permainan apa yang kamu mainkan Nadine, gumamku pelan.


Kepalaku makin melayang maka kupejamkan saja mata untuk mengurangi sakitnya karena aku juga ga mau bergerak karena akan menggangu Stanley. Tanpa sadar akhirnya aku tertidur,.............


*Terkadang kebaikan kita justru melukai diri kita sendiri, tetapi tidak berarti kita harus berhenti berbuat baik. Menjadi baik atau menjadi jahat adalah pilihan pribadi masing masing. Silahkan pilih, jalani dan tanggung resikonya.*

__ADS_1


******To Be Continue******


Halooo readers, mohon dukungannya buat Author ya. Likenya, sarannya, kritiknya karena semua masukan dan like dari kalian sangat berharga buat Author, sebagai penyemangat dalam menulis. Terima kasih🙏😘


__ADS_2