
********Apartement Dicta*******
Setelah makan bersama tadi, aku memutuskan ikut Dicta ke apartementnya. Kami berjalan menuju lift dan ketika pintu lift terbuka, sedikit tersentak karena ternyata ada Alva yang akan keluar dari lift. Hatiku kembali nyeri bertemu lelaki kesayanganku tapi tak bisa berdekatan dengannya. Secepat kilat aku berusaha tenang dan tersenyum sambil menyapa Alva, "Hai Alv!"
"Yank, kamu mau ke Dicta?" tanya Alva sambil refleks memegang tanganku.
Aku sangat canggung dengan kondisi ini, ingin melepaskan tanganku tapi kok rasanya masih nyaman hahahaha, tapi sisi lain hatiku nyeri sekaligus terenyuh saat Alva masih memanggilku sayang. Ternyata perasaanku padanya masih sangat besar, terbukti aku secara sadar enggan menarik tanganku dari genggamannya.
"Woii Va sadar lu, udah bubar jangan pegang-pegang!" sentak Dicta sambil menarik tanganku dari genggaman Alva.
"Eh sor sorry sorry Dict, gue ga sengaja." ujar Alva sambil terbata-bata serba salah menghadapi suasana awkward di antara kami.
"Gapapa kok Alv, jangan diambil hati ya kan kamu udah lama juga kenal Dicta, dia emang overprotective sama aku." ucapku berusaha menetralisir suasana diselingi candaan.
"Ya udah bye Alva, kami naik dulu ya." kataku sambil secepatnya menarik tangan Dicta masuk lift.
Sesampainya di dalam kamar apartement Dicta, aku langsung menjatuhkan diriku di sofa dan memejamkan mata untuk menormalkan detak jantungku yang sedari tadi jedag jedug macam house music di discotique hehehee.
Tak berapa lama aku merasakan ada kepala yang menimpa bahuku, kubuka mata ternyata kepala spupuku yang bersandar padaku. Aku tersenyum sendiri melihat kelakuan Dicta yang seperti ana koala menempel padaku.
"Hei spupuku sayang, kenapa lu?"
Dicta menghela nafas huft..........
"Emang cinta tu harus serumit itu ya Gab? Ga bisa dibikin simple gitu, kalo lu masih sayang ya udah jangan dilepas. Gue sebenernya masih sebel si sama Alva, tapi liat mata lu berbinar gitu ketemu dia, gue jadi mikir kenapa lu harus putusin dia."
__ADS_1
Hahahahahaaha aku tak bisa menahan tawaku mendengar pernyataan Dicta yang menggambarkan bahwa kemungkinan besar dia belum merasakan apa itu jatuh cinta, ya selama ini rasanya Dicta juga tak pernah menceritakan ketertarikan pada seseorang atau menggandeng pria pada setiap acara keluarga kami.
"Lu ngeselin banget ya Gab, apanya yang lucu si?"
"Yeee sewot neng, Eh Dict jujur deh ama gue, lu benernya normal apa kagak si? kayaknya kok lu ga pernah ngobrolin tentang cowok apalagi nggandeng cowok ke acara keluarga."
"Set dah Gaby sekate kate banget lu ya, gue cewek normal bu, cuma sampai saat ini emang belum ada yang bikin hati gue deg deg ser, makanya gue belum punya pengalaman menyedihkan kaya elu!" ledek Dicta sambil meleletkan lidahnya.
Akupun tertawa terbahak-bahak teringat kalau 2x kisah cintaku sepertinya emang ga bisa dijadikan contoh kisah yang baik hahaha. Yaah kisah pertama dengan Stanley memang tidak bisa dikatakan sakit karena perselingkuhan tapi emang lebih karena nasib aja yang tidak mempersatukan kami, dan lagi itu kisah masa perkuliahan yang mungkin tarafnya belum seserius kisah terbaruku.
"Serius ya gue ga mau ngalamin kisah kaya lu Gab, cukup lu aja di keluarga kita yang percintaannya banyak drama." katanya sambil tertawa puas.
"Lu ga bisa apa maafin Alva Gab? Kalian masih saling sayang gitu lho. Bukannya cinta itu mau menerima pasangan kita seutuhnya, ya brati termasuk menerima kesalahan dan masa lalunya kan?"
"Wajar kali Gab kalau saat perjalanan cinta kalian itu ada salah satu yang kepleset, anggep aja kaya balita belajar jalan kan mesti ada jatuhnya!"
"Atau lu pengen balik lagi sama Stanley? Gue baru tau ternyata seminggu setelah pernikahan istrinya mengajukan Pembatalan Perkawinan. Dan setelah itu Stanley memutuskan tinggal di Amrik lanjutin kuliahnya disana. Terus yang lebih penting lagi katanya sekarang dia udah balik ke Indonesia!"
Hah....... lagi lagi aku makin terperangah dengan penjelasan Dicta yang panjang lebar dan detail itu. Aku jadi curiga kalau dia sampai sekarang memangasih berhubungan sama Stan, secara dr kecil Stan dan Dicta adalah sahabat. Aku mengenal Stanley pun karena Dicta yang comblangin. Tapi apa maksud Dicta dengan penjelasannya ini, batinku penasaran.
" Gab woiiii..... diem aja dari tadi gue dah berbusa cerita semua detail ga da tanggepan ya." teriaknya kesal padaku
"Jujur sama gue, lu ama Stan slama ini memang masih hubungan kan? Terus kenapa baru bilang sekarang?" kataku sambil memelototkan mataku pada Dicta.
"Kalo seminggu mereka ngajuin Pembatalan Pernikahan kenapa setelah hampir 4th lu bru ngomong ke gue bambank!" kesalku sambil menyentil dahinya.
__ADS_1
Dengan gembira ria si Dicta ketawa puas melihat kekesalanku. Ni anak niat bikin perasaan gue awut awutan kayaknya. Sebentar tadi ngomongin Alva, ga lama ngomongin fakta Stanley yang udah sendiri, eh ga tau juga si masih sendiri atau gak hehehehe.
"Ambekan banget si lu! Gue ga maksud sembunyiin tentang Stan sama elu, tapi Stan yang bilang biarkan hati kalian terpisah sementara waktu anggep aja ujian gituh. Nah pada akhirnya malah gue ama Stan uang kaget pas ga berapa lama lu tetiba deket ama Alva dan yah ternyata kalian pacaran sampe sekarang."
"Stan tau gue pacaran ama Alva?" selidikku kepo.
"Ya taulah, kan gue cerita hehehehehe. Dia bilang gapapa asal lu happy. Tapi kalau sampe lu sedih lagi dia mau ambil hati lu balik, gitu katanya!"
"Hah? Kenapa si kalian bikin masalah perasaan sebagai mainan? Lu tau Dict pada awalnya gue cuma merasa terhibur sama keberadaan Alva dan lagu lagu romantisnya. Sejenak gue bisa merasa tenang setelah kehilangan Stan. Tapi lama-lama Alva bilang kami ga bisa jadi teman lagi karena dia ada hasrat sama gue, dan gue ngerasa lama-lama nyaman maka terjalinlah hubungan kami."
"Terus sekarang lagi moment gue galau malah lu cerita semua, kan bikin tambah mumet, ruwet, hati gue ini bukan anyaman bambu woiiii!" seruku kesal tak terasa air mataku mengalir dan tangisanpun tak terhindarkan.
Ya aku sungguh kesal dengan keadaan hatiku sendiri, katakanlah aku memang masih labil walau usiaku sudah cukup matang, tapi masalah hati susah kudeteksi. Kisahku dengan Stanley itu indah, berakhir juga karena suatu ketidaksengajaan bukan suatu kesalahan yang kami sengaja perbuat. Disisi lain Alva adalah pengisi kekosongan hati sejak kepergian Stanley. Kisah kamipun banyak indahnya, sesekali benar Alva terpleset tapi aku bisa meraihnya kembali. Kasus terberatnya baru kemarin terjadi dan rasa sayang yang sudah tumbuh tidak mungkin juga dibabat dalam waktu singkat.
Dan dengan lancarnya spupuku ini malah memberi pilihan yang smua sulit, dari yang semula suruh terima Alva kembali sampe akhirnya menceritakan kembalinya Stanley ke Indonesia. Ingin kuajak baku hantam saja rasanya.
"Sorry Gab, gue ga maksd bikin lu bingung. Gue cuma mau kasih tau bahwa secara eksplisit Stan masih tungguin lu. Dan masalah Alva terserah kebijakan lu aja deh. Gue kasian juga ama tu bocah yang ternyata rapuh!"
Aku memijat pelipisku untuk mengurangi pusing di kepalaku yang tetiba hadir tanpa undangan. Terlintas di benakku kalau Stan sudah di Indonesia, maka dia pasti juga bakal hadir di pernikahan Brandon karena mereka juga bersahabat. Oh shit...... bagaimana nasib hati hamba ya Tuhan, makin ga keruan ini.
"Dict, lu tau ga siapa nama groomsmen pendamping gue nanti?" tanyaku penasaran karena aku punya feeling Brandon bakal satuin aku dan Stanley jadi pasangan.
"Hahahahaha, yup kecurigaan lu 100% benar Gab, eits.... jgn salahin Brandon karena justru Stanley yang minta." urainya tanpa rasa bersalah.
Glek..... aku menelan ludah. Duh semoga jantung gue aman selama acara nikahan Brandon. Aku jg inget Alva akan menyanyikan beberapa lagu yang khusus untukku. Tenang Gaby, lu anak pintar ga boleh kebawa emosi, bertindaklah dengan benar, telaah hatimu dengan baik jangan sampe melakukan kesalahan. Nikmati ajalah apa yang akan terjadi biarlah terjadi, batinku.
__ADS_1
*********** To Be Continue *********