Pura Pura Lupa

Pura Pura Lupa
Bab 86


__ADS_3

"Gab, seger banget lu, pasti abis olah raga ya semalem?" ledek Dicta yang kubalas dengan tawa dan anggukan.


"Mending lu cepetan deh Dict resmiin ama Sam biar kalau suntuk langsung hantam olah raga ranjang hehehehe."


"Dasar omes lu, otak mesum, arahnya kesana mulu ih."


"Yeee normal kali Dict, semua pasangan dewasa pasti butuh yang namanya S*X itu udah kondrat alaminya."


"Iya iya oke, I understand. Terus masalah si perempuan ini langkah apa yang lu mau ambil sekarang?" kata Dicta mengalihkan fokus pembicaraan kami.


"Sebenarnya yang jadi target incaran kan gue, nah selama ini gue diteror tuh cuek aja jadi mereka libatin Stanley untuk memancing reaksi gue, bener ga? Maka gue putusin buat ngadepin mereka aja langsung, mulai dari perempuan genit itu!" tegasku yang diberi acungan jempol oleh Dicta.


"By the way Gab, lu belum kabarin ke Mami ya kalau lu hamil?"


Aku tersentak mendengar pertanyaan Dicta, ya ampun informasi sepenting itu malah kulupakan, batinku sambil menepuk dahiku. Buru buru aku ambil kertas hasil lab yang menyatakan kehamilanku dan kufoto untuk keberikan pada Mami dan mamaku.


"Gab kacau lu kenapa ga telepon langsung si? itu hasil lab udah sminggu lebih kan berarti, itu artinya lu udah selama itu juga lupa hubungin para orang tua. Siap-siap aja lu diberondong makian ketidakterimaan!"


Aku terdiam sesaat menyadari kesalahanku, ya udahlah trima aja kalau diomelin para emak-emak nantinya, toh emang kesalahanku, putusku. Mending sekarang aku silent aja ponselku supaya ga terganggu urusan sama perempuan itu.


-----------------------


Aku dan Dicta masuk ke ruang rawat inap perempuan tersebut tanpa mengetok pintu, terlihat Rina terkejut atas kedatangan kami.


Kupasang wajah ramahku, "Selamat pagi mba Rina, apa kabar?"

__ADS_1


Rina mengernyitkan dahi bingung, "Ya.... selamat pagi, dengan mba siapa ya?"


Kuulurkan tanganku mengajaknya berkenalan, "Saya dokter Gaby, isteri dari bapak Stanley Zein. Dan ini kerabat kami dokter Dicta."


Aku sengaja menyebutkan pekerjaanku untuk sekedar mengintimidasi bahwa posisi dia dibawahku, bukan sombong tapi ini terpaksa harus dilakukan guna menghadapi perempuan yang kecentilan itu.


Sesaat ada kekagetan yang terpancar diwajahnya, tetapi rupanya dia pandai menguasai diri, dia tertawa sinis, "Ada perlu apa ya dokter yang terhormat?"


"Owh pasti tentang foto foto saya dan mas Stanley ya?" katanya sambil mengelus perut buncitnya entah apa maksudnya.


"Jadi selama ini teror yang dikirim ke nomer saya itu dari anda? Apa maksud dan tujuan anda terhadap saya?" tantangku.


"Tinggalkan mas Stanley biar dia bertanggung jawab sama anak dalam perut saya ini!" katanya dengan tingkat kepercayaan diri sungguh patut diacungin jempol.


"Mba kalau berhalusinasi begini berarti butuh ke psikolog, nanti saya bisa refer buat kontrol ke psikolog." sahut Dicta sambil tertawa mengejek.


Rina tidak menutupi keterkejutannya kali ini karena aku menyebut Iqbal.


"Saya udah tahu semua mba, dan saya prihatin karena mbaknya diambil dari tempat maksiat dihamilin ga dikasih status eh malah diperalat buat bales dendam sama saya."


"Maklum si kalau mbaknya jadi ngiler pengen dapetin suami saya, tapi sayang ya saya ga mau berbagi suami tuh mba. Lagian suami saya juga alergi sama "ayam liar" ga sehat katanya, lebih sehat sama yang di kandang karena terjaga kualitasnya." ujarku ngasal yang langsung diberi cubitan oleh Dicta.


"Bu lagi hamil ga gitu juga ngomong lu ngawur. Mami D denger abis lu dirujak!" bisiknya mengingatkanku untuk bicara lebih baik. Aku berkomat kamit segera berdoa memohon ampun pada Tuhan karena bibirku lepas kontrol.


"Sorry, saya ga bermaksud menghina profesi apapun itu, tapi saya dengan tegas memberi peringatan pada mba Rina supaya tidak mengganggu kami. Saya heran Pak Iqbal begitu kasar kepada mba Rina tapi mbak malah mau aja diperalat untuk merusak saya."

__ADS_1


"Kalau uang yang mba butuhkan, silahkan ikut sama saya dan anda bisa mendapatkan uang dengan halal asal mau kerja keras. Tetapi kalau merusak Rumah Tangga adalah hobby mbak maka saya pun angkat tangan Tak Ada obat yang bisa saya beri untuk menyembuhkan mbaknya."


Rina terdiam terlihat sekali dia sangat tertekan dengan semua ucapanku. Sebenarnya ada rasa kasihan terbersit di hatiku saat melihatnya tapi rasa kesal mengingat usahanya merayu Stanley menutupi rasa kasihanku.


"Owh ya mbak Rina, boleh cek di ponsel di nomer yang selama ini suka teror saya, ada hadiah untuk kamu yang bakal bikin kamu tenar jika tidak mengikuti kemauan saya." kataku seraya tersenyum manis.


Segera Rina meraih ponsel dan mengecek apa yang aku kirimkan, tak berapa lama kulihat dia melotot wajahnya berubah merah padam. Kaget marah dan tak berdaya terlihat jelas di matanya.


"Bakal jadi berita viral kalau video itu dishare ke media sosial mbak. Ga usah kaget, pergerakan kalian selalu kami awasi jadi jika ingin lepas dari hukum sosial maka turutilah keinginan kami."


"Tapi jika mbaknya memang ingin jadi aktris dadakan maka silahkan jalankan rencana buruk yang ada diotak kamu. Hanya mohon diingat bahwa kamipun tidak akan tinggal diam kalian tindas!"


"Pikirin tawaran saya tadi ya mbak, udah baik lho ga pake bawa ke jalur hukum segala." lanjutku sambil menutup perbincangan siang ini.


--------------------


"Gab, emang videonya apaan si kok dia jadi mengkeret gituh?" tanya Dicta penasaran.


"Jadi ternyata Alex sama timnya tu buntutin Rina, nah ternyata dia suka keluar dari Rumah Sakit dibawa Iqbal seringnya jam-jam istirahat kantor gitu Dict. Check in mereka di hotel deket sini, nah kemarin malam entah kenapa tu cowok udah ga tahan kali ya dateng nyamperin Rina terus jadilah mereka main di sofa kamar rawat tadi. Nah gilanya itu kesorot CCTV yang Alex pasang." ucapku menceritakan senjata yang diberikan Alex berupa video aksi panas Rina Dan Iqbal.


Kuperlihatkan video mereka ke Dicta, yang tentu saja membuat Dicta menelan ludah melihat betapa panasnya gerakan mereka.


"Rencana gue melalui Rina, kita bakal tangkep Iqbal dan Tina, gue yakin itu Tina yang jadi dalang utama, cuma gue belum paham relasi mereka tu apa."


"Apapun yang mau dilakuin jangan lupa bilang Stanley, biar ada yang jagain dan kalian ga salah paham lagi. Dan inget lu lagi hamil jadi kudu hati-hati." kata Dicta menasehatiku.

__ADS_1


Aku mengangguk setuju dengan pendapatnya, aku memang harus berhati-hati menghadapi orang yang begitu membenciku. Setelah pergulatan panas Iqbal dan Rina, Tina yang ternyata sudah keluar dari penjara juga datang ke kamar Tina kemarin.


Masalah jadi makin terang benderang karena aku tahu siapa musuhku sekarang. Sebenarnya aku tak habis pikir apa yang membuat Tina memperalat Iqbal dan Rina melampiaskan kebencian padaku. Rasanya aku hanya memberi bukti bahwa dia bohong pada papa lalu kenapa dia sampai memiliki dendam kesumat padaku. Aku benar benar ingin meluruskan semuanya dengan cepat, selain karena penasaran juga karena aku merasa tidak melakukan keburukan yang dahsyat sampai membuat seseorang begitu mendendam.


__ADS_2