
...Happy reading guys!...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunnie menatap heran kepada dua orang yang berada di hadapannya, yang satu orang yang paling dekat dengannya dan yang satu lagi.. entahlah sunnie tidak terlalu dekat dengannya. Mungkin?
"Nona, ini ada apa?" Tanya sunnie, ketika Pamella membawanya keluar dari kediaman menuju suatu tempat ia tidak komplain sama sekali, namun ketika melihat nona dari keluarga lain ada di tempat yang sama ia merasa ada sesuatu yang tak beres.
"Tenanglah sunnie, sekarang beritahu tentang ciri-ciri gadis yang kamu lihat bersama kaisar," jawaban Pamella nyaris membuat sunnie dan satu orang lagi terjengkang kaget.
"Pamella, kamu gila? Mau kamu apakan lukisannya nanti? Apa kamu akan mencari gadis itu?" Tanya orang itu, Bianca yah Pamella mengundang Bianca dan sunnie hanya mereka berdua.
"Begini, aku rasa kaisar hanya salah faham kalau gadis itu adalah aku! Jadi aku mau menemukan gadis itu," jawab Pamella, alasan yang cukup tepat padahal alasan yang sebenarnya..
' tentu karena aku tidak mau jadi permaisuri! Enak aja nanti jika kaisar itu playboy cap kuda tengil gimana?' batin Pamella mendengus kesal.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu malah berdampak bagus? Kamu kan suka dengan kaisar? Lantas apa yang salah?" Tanya Bianca tak mengerti.
"E-eh.. malah karena aku suka padanya maka aku akan membiarkan dia meraih kebahagiaan yang sebenarnya," jawab pamella gugup beruntung ia masih sempat melihat status media sosial di kehidupannya yang dulu.
Katanya ‘ Lebih baik mengorbankan daripada dirinya yang terluka’ cih! Ucapan seperti itu dulu tidak pernah ada di hidup Pamella, maka dari itu Pamella tidak percaya karena ia belum merasakan hal itu sendiri.
Bianca sendiri terdiam dengan segala pemikiran buruk yang mungkin terjadi pada Pamella, kaisar bahagia tapi Pamella terus menangis dan menangis setiap hari lalu kaisar punya keturunan tapi Pamella?
Seketika khayalan itu buyar ia menatap sendu pada Pamella.
"Tidak bisakah kamu egois untuk hal ini Pamella?" tanya Bianca menatap intens pamella.
"Tidak! Menurutmu kan aku menyukai yang mulia, maka aku harus melakukan hal yang terbaik untuknya," jawab Pamella tegas.
"Tapi Pamella, rambutmu dan gadis itu jelas-jelas berbeda! Mana mungkin kaisar salah membedakan?" balas Bianca tak mengerti.
"Siapa tau kan ca? Lagipula, sepertinya aku melihat bulir-bulir cinta saat mereka bertatapan."
"Jadi sunnie seperti apa gadis itu?" Tanya Pamella menatap sunnie. Pamella segera bertanya untuk menghindari pertanyaan lain dari Bianca.
"Nona..." Sedari tadi sunnie memang diam namun ia juga merasakan sakit atas perasaan Pamella, apalagi ia yang mengurus Pamella beberapa tahun ini.
"Tidak papa sunnie, katakan saja biar aku yang melukiskan gadis itu," balas Pamella, beruntung ia sempat kuliah jurusan pelukis jadi ia agak mengerti tentang lukisan.
Kenapa ada kata agak mengerti? Yah karena Pamella belum sempat lulus kuliah, ia sengaja masuk jurusan pelukis karena ia suka melukis, untuk uang? Bukan masalah ia sudah terlahir dari keluarga kaya.
"Rambutnya berwarna biru berkilau seperti berlian matanya berwarna sama seperti rambutnya lalu hidungnya mancung bibir merah ranum wajah bulat, dan dia sangat cantik. Hanya itu yang saya ingat nona," jelas sunnie entah ia berbohong atau tidak.
Namun Pamella tetap melukis berdasarkan penjelasan sunnie.
Tapi setah bermenit-menit terdiam, Bianca berbicara lagi.
"Mungkin kaisar bahagia, tapi bagaimana dengan dirimu Pamella?"
DEG
Pamella seketika berhenti, bukan! Bukan perasaannya yang ia pikirkan namun perasaan orang-orang di dekatnya, seperti sang kakak, ayah.
Semua orang terdekatnya tahunya Pamella menyukai si kaisar lalu jika Pamella membawa si gadis biru itu apakah mereka akan baik-baik saja?
Akankah ayah dan kakaknya ikut terluka? Meski hanya beberapa hari mengenal namun ia sudah tahu jika keluarganya adalah orang yang sangat menyayangi dirinya dan jelas tidak bisa melihat dirinya terluka.
"Bagaimana Pamella? Apa kamu memikirkan dirimu?" Tanya Bianca lagi.
' mungkin aku bisa membujuk mereka nanti' batin Pamella menatap Bianca.
"Aku juga tidak bisa memperoleh kebahagiaan dengan merebut kebahagiaan milik orang lain ca," jawab Pamella.
"Pamella..." Akhirnya Bianca menyerah apapun itu Bianca akan mendukung sahabatnya, Pamella.
Pamella melanjutkan lukisannya ia harus membuat lukisan ini se perfect mungkin agar ia bisa melihat dan mencari gadis itu.
"Selesai!" Teriak Pamella girang setelah melukis berjam-jam tentunya di temani Bianca dan sunnie yang masih tetap setia berada di sampingnya. Meskipun pikiran dua orang itu sepertinya sedang melalang buana.
' aku hanya bisa mendukungmu Pamella, namun aku akan jadi orang pertama yang menghadang kaisar jika dia berani menyakiti mu kau bahkan mengorbankan perasaanmu demi dia, namun dia? hanya saja, bukankah Pamella sepertinya salah paham?' batin Bianca.
Oh my God! Bianca dan sunnie masih menyangka jika Pamella masih menyimpan perasaan, padahal Pamella ini raganya sama namun jiwanya berbeda.
' Bianca dan sunnie pasti khawatir... Maafkan aku tapi ini demi kebaikan kita semuanya, jika kaisar itu mendapat gadis yang ia sukai setidaknya ia tidak akan menghancurkan segalanya' batin Pamella.
Menghancurkan segalanya? Entah kenapa Pamella merasa jika nanti gadis itu menolak atau bahkan tidak bersama kaisar maka negeri ini akan hancur.
Melihat seberapa arrogant dan angkuh nya kaisar, maka.. pasti ia akan melakukan segalanya demi kepentingannya sendiri.
Orang itu memang memimpin negerinya dengan baik, hanya saja orang seperti itu biasanya akan sangat berbahaya jika tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Layaknya sang Abang, bahkan calon kakak iparnya tak bisa melarang apapun yang ingin abangnya lakukan.
Termasuk, berhubungan sebelum menikah. Itu karena, sosok angkuh abangnya akan selalu memaksa sang kakak ipar.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan langkah yang kamu ambil pamella? Ini terakhir kalinya aku bertanya padamu tentang hal ini," tanya Bianca lagi hanya untuk memastikan keputusan yang di ambil oleh Pamella, memastikan apa gadis itu akan menyesal? Atau.. tidak?
"Aku yakin seribu persen ah tidak aku yakin satu juta persen!" Jawab Pamella tegas dengan penuh keyakinan, terdengar helaan nafas kasar dari Bianca.
"Baik, coba aku lihat lukisan mu? Siapa tahu aku mengenal gadis yang ada di lukisan mu itu," balas Bianca mencoba menerima keputusan Pamella.
"Terima kasih!" Sahut pamella memberikan lukisannya.
"Wah.. gadisnya sangat cantik," ujar Bianca terus memandang lukisan Pamella.
' yah.. tentu saja orang orang yang berada di sekitar kaisar itu pasti beautiful!' batin Pamella mulai insecure.
Tunggu kenapa dia insecure? Ya bukannya dia punya rasa pada kaisar namun, Pamella ini terbiasa menjadi prioritas.
Sedikit egois namun.. memang begitu ia selalu di jadikan prioritas di mana dan kapanpun ia berada.
Saat ia berjalan pun semua manik mata akan tertuju padanya tanpa basa-basi busuk, ia akui wajahnya saat ini cantik bahkan sangat cantik karena tidak terkena polusi.
Namun.. gadis itu malah lebih beautiful.
“Iya ca, gadisnya memang cantik tak heran jika kaisar sayang atau bahkan cinta padanya,” sahut Pamella mengangguk setuju.
“Sunnie, Caca apa di antara kalian kenal dengan gadis itu?” tanya Pamella pada sunnie dan Bianca.
“Nona.. saya memang pernah melihatnya namun ‘sepertinya’ saya tidak mengenalnya,” jawab sunnie.
Entah apa arti kata ‘sepertinya’ yang di ucapkan sunnie pada kedua nona di hadapannya ini.
“Bagaimana denganmu ca? Apa kamu mengenal gadis itu?” tanya Pamella pada Bianca yang melihat lukisan itu dengan lekat.
“Aku merasa pernah melihat gadis ini namun aku tidak ingat dimana,” jawab Bianca seolah memberi titik terang pada Pamella.
“Coba kamu ingat-ingat lagi ca, kamu melihat gadis ini di negeri Alpensha atau di kerajaan tetangga?” tanya Pamella mulai semangat.
“Sepertinya di kerajaan tetangga, saat aku belajar di akademi,” jawab Bianca mengingat-ingat.
“Kamu belajar di kerajaan mana?” tanya Pamella penasaran.
“Pamella... Bukankah aku sudah pernah bilang ke kamu kalau aku akan pergi ke akademi kerajaan langit? Aku juga udah bilang saat kamu bertanya kemarin kan!” jawab Bianca ia merasa aneh biasanya Pamella ini tidak mudah melupakan sesuatu namun sekarang?
“Oh iya! Aku lupa maaf ya ca,” sahut Pamella.
“Yasudah lah, tunggu dulu memangnya kamu ingin pergi ke kerajaan langit hanya demi ini? Lagipula aku hanya merasa bahwa aku pernah melihat gadis ini namun tidak secara langsung,” balas Bianca.
Memangnya di zaman ini ada sesuatu seperti handphone yang bisa dilakukan untuk hubungan virtual?
“Mana aku tahu! Aku lupa,” jawab Bianca menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal.
“Astaga, coba kamu ingat-ingat lagi siapa tahu kamu tiba-tiba mengingatnya!” usul Pamella.
“Sudah pamella! Sedari tadi juga aku sudah mencoba sekeras mungkin agar aku mengingatnya tapi hasilnya sama saja aku tidak ingat,” balas Bianca.
“Huft, yasudah tapi kalau kamu mengingatnya beritahu aku,” desah Pamella sambil menghela nafas pelan.
Tak mungkin kan ia bertanya secara langsung dengan ren ataupun kaisar tentang gadis cantik yang tengah ia lukis ini? Mau di taruh dimana mukanya nanti? Ia bahkan tidak berani mengusap rambut atau wajah gadis itu.
Tentu karena lukisan itu baru saja di lukis, dan cat airnya itu masih basah ia jelas tidak mau gadis yang ada di lukisannya rusak.
“Sunnie, ayo pulang bawakan lukisannya ya, Bianca ayo ikut aku akan menyuruh seorang pengawal untuk mengantarmu pulang,” ajak Pamella yang langsung di turuti oleh sunnie.
________________________
Pamella menyuruh sunnie untuk memasang lukisan itu di ruang rahasianya.
Pamella tahu dari sunnie jika ia dulu biasanya suka menyendiri hingga meminta untuk dibuatkan ruangan rahasia.
Kata sunnie, dulu Pamella suka memasang lukisan kaisar di ruangan itu, namun Pamella sudah menyuruh sunnie membereskan lukisannya terlebih dahulu sebelum Pamella masuk.
Pamella tadi juga mendengar cerita dari sunnie awal mula dirinya menyukai kaisar dan begitu terobsesi pada tahta.
Dulu Pamella pernah mendengar kisah kaisar dengan seksama, hingga entah bagaimana dan entah ada angin apa Pamella tiba-tiba sangat suka menempel kepada lukisan kaisar, bahkan Pamella sangat ingin bertemu kaisar.
Sunnie bahkan tidak tahu kapan Pamella mulai mencintai kaisar, padahal nyatanya Pamella bahkan hampir tidak pernah keluar, dan yah hal ini sedikit membingungkan.
Masa Pamella yang dulu langsung suka tanpa pdkt? Yang benar saja!
“Nona, ayo makan malam tuan Duke dan tuan Yudha menunggu anda,” ujar sunnie mengetuk pintu kamar Pamella pelan.
“Iya, sebentar lagi aku keluar buka saja pintunya,” balas Pamella dari dalam kamarnya.
“Baik non, saya masuk ya,” ujar sunnie lalu membuka pintu kamar sang nona pelan.
Dapat ia lihat nonanya itu sedang menata rambutnya, “Tunggu.. non, rambut nona kenapa?”
__ADS_1
“Itu sunnie, aku tadi tidak sengaja merusak tatanan rambut yang kamu buat,” jawab Pamella terus mencoba membenarkan rambutnya.
“Kenapa nona tidak memanggil saya saja? Nona tidak perlu repot-repot seperti ini,” ujar sunnie lalu mendekat ke arah Pamella.
“Kamu kan sedang sibuk menyiapkan makan malam,” balas Pamella.
“Tapi saya ini pelayan pribadi anda non, jika anda yang meminta saya kemari maka saya akan langsung kesini, lagipula disana juga ada banyak pelayan lain sedangkan tugas utama saya adalah menjaga dan menuruti perintah nona,” jelas sunnie.
“Nona, ayo duduk dulu biar saya yang menata rambut anda,” ucap sunnie, pamella pun langsung duduk di kursi di depan meja riasnya.
Sunnie pun dengan sigap merapikan rambut Pamella kembali dengan sederhana, nonanya memang tak suka tatanan yang terlalu rumit.
“Sudah selesai non, sekarang nona harus makan malam,” ucap sunnie lalu membuka pintu kamar Pamella.
“Baiklah, ayo kita turun,” balas Pamella lalu menuju ruang makan.
Ketika sampai disana dapat ia lihat jika kakaknya, dan ayahnya sudah duduk menunggunya.
“Pamella, kenapa kamu lama sekali? Apa ada sesuatu yang membuatmu kesusahan?” tanya ayahnya dengan nada khawatir.
“Benar Pamella! Kamu tidak biasanya lama seperti ini,” ujar Yudha mendukung ayahnya.
“Maaf ayah, kakak tadi tatanan rambutku rusak jadi aku meminta sunnie untuk memperbaikinya dulu,” jawab Pamella lalu duduk tenang di kursinya.
Baru saja ia duduk namun..
“Pamella, bagaimana hubunganmu dengan kaisar? Apa kamu bahagia?”
Pertanyaan yang lolos dari mulut ayahnya nyaris membuat Pamella terjingkat.
Ujian apa lagi yang di hadirkan yang maha kuasa untuknya saat ini?
“Maksud ayah apa? Ayah benar-benar ingin menyerahkan aku kepada kaisar?” tanya Pamella tak percaya.
“Kalau dia bisa menjaga dan membahagiakan dirimu kenapa tidak?” tanya balik ayah menatap putri bungsunya.
“Kakak.. menurut kakak bagaimana?” tanya Pamella ke kakaknya.
“Kalau kakak tidak masalah, namun sama seperti yang dikatakan ayah jika kaisar bisa menjaga dan membahagiakan kamu maka kamu akan benar-benar menikah dengan kaisar, dan kakak sudah sepakat dengan ayah tentang ini,” jawab Yudha.
“Tapi.. emm lalu aku bagaimana?” tanya pamella, ia merasa jika keluarganya tidak menanyakan pendapatnya.
“Bukannya kamu sudah menyukai kaisar, Pamella? Bahkan seluruh orang di negeri alpensha tahu itu,” jawab kakaknya.
Lah seluruh orang? Apa yang di perbuat oleh Pamella dulu hingga bisa seperti ini? Wah Pamella pasti gila ketika melakukan hal itu.
Berapa persen level kegilaan Pamella hingga ia berani melakukan hal seperti ini? Apa ada yang bisa menghitungnya?
Satu jawaban yang pasti level kegilaan Pamella dulu benar-benar tak terhingga, bagaimana bisa ia mengungkapkan hal seperti itu hingga semua orang tahu tentang ini?
Tunggu, memangnya dirinya segila ini kah? Pamella di zaman ini kan kehidupan pertamanya, jadi.. bagaimana bisa dia menjadi agak gila seperti ini?
“Pamella, kenapa kamu diam saja? Jawab kakak dan ayah!” ujar ayahnya membuat lamunan Pamella buyar.
Pamella memajukan bibirnya seolah olah menyiapkan kata-kata yang sesuai, bagaimana caranya ia bisa menyampaikan jika kaisar itu dekat dengan seorang gadis? Dan bahkan kaisar menyukai gadis itu?
Oh ini akan jadi penjelasan yang cukup panjang, lagipula apa kakak dan ayahnya bisa percaya pada nya jika ia mengatakan itu? Apalagi kaisar kan kabarnya anti wanita.
Waduh!
‘ Gara gara kaisar s*alan itu! semuanya jadi rumit kan, pingin deh rambutnya ku pindahin di tong sampah dekat kediaman!’ batin Pamella memandang sulit ke arah kakak lelaki dan ayahnya yang benar benar menyayangi nya bahkan lebih dari diri mereka sendiri.
‘ alamak! tolong!!’ batin Pamella bersuara dengan sangat mengenaskan karena suara hatinya yang benar-benar bingung untuk menjawab apa.
“Pamella! kenapa kamu diam?” kali ini ayahnya bertanya dengan menatap wajah cantik Pamella dengan intens.
Dan itu jelas semakin membuat Pamella gugup setengah mati menghadapi keduanya, ia ingin membalas namun ia bimbang pada akhirnya dia memutuskan untuk diam sejenak memikirkan jawaban yang dirasa masuk akal bagi keduanya.
Ayo Pamella fikir kan jawaban yang tepat!
________________________
Ternyata author beneran ngga bisa up selama seminggu saat author ujian seperti janji author, author bakal up tiga eps yang jumlah katanya lebih dari dua ribu di hari Senin.
Saat hari Senin langsung tiga tidak di cicil lagi.
Jangan lupa letakkan jempol di tempatnya dan berikan saran maupun kritik yang pastinya bersifat membangun.
Kalau suka ceritanya silahkan tekan tombol favorit ya.
Terima kasih!
- Nadira
__ADS_1