Puteri Bungsu Sang Duke

Puteri Bungsu Sang Duke
57. Apakah kita pernah bertemu?


__ADS_3

L yang gerah dengan keadaan mereka pun berucap, “Kita masuk saja” S lalu menarik rambut L kasar saat ucapan gadis beku itu mencapai telinganya.


“Jangan gila, kau pasti juga tahu kalau lady Thomson itu akan mengenalimu” S menjawab dengan datar.


“Tapi kita harus membantu permaisuri!” L berucap dengan dingin.


Mereka memang seringkali berbeda pendapat namun elvareta selalu bisa membuat mereka berdamai lagi, sejujurnya L dan S sama-sama tidak pernah berdebat dengan emosi. Elvareta bahkan sampai bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka berdebat tanpa emosi alias nadanya datar-datar aja kek jalan tol.


“Kalau tidak begini, terus bagaimana cara kita membantu permaisuri? Kau tahu kan? Kita bertanggung jawab untuk menjaga permaisuri” sambung L nyaris masuk kesana.


Namun tangannya dicekal lagi oleh S, “Kau tahu? Apa yang akan ditindak oleh permaisuri jika kita bertengkar begini?.”


L termenung ketika mendengar ucapan datar bin ubin milik S, “Permaisuri akan mencari jalan tengah dari perdebatan kita.”


L seketika menyeringai ketika ia mengerti maksud dari si S ini.


“Maksudmu... kita menyamar menjadi tabib begitu?” tanya L, ia agak ngeh kalo tentang penyamaran.


“Lebih tepatnya bawahan tabib, lady Thomson pasti tahu kalau kita tabib atau tidak sebab tadi para tabib senior itu membantu permaisuri pulih, tapi lain halnya kalau kita menyamar jadi bawahan mereka?” S menatap datar pada ruangan permaisuri mereka.


“Kau benar.”


***

__ADS_1


“Permisi lady, blues” seorang bawahan tabib mengetuk pintu ruangan elvareta, sontak Pamella dan blues yang awalnya berbincang tentang elvareta pun menatap ke pintu.


“Maaf, siapa di luar?” blues bertanya, sedangkan Pamella menuju ke arah pintu.


“Kami para bawahan tabib, tabib-tabib tadi menyuruh kami untuk memasukkan sebuah ramuan ke tubuh permaisuri” salah seorang dari mereka menjawab.


Pamella bertanya lewat bahasa isyarat pada blues, membuka pintu atau tidak?. Blues pun mengangguk pertanda bahwa ia setuju kalau pintunya dibuka.


Pamella pun membuka pintunya perlahan, “Salam hormat lady. Perkenalkan kami bawahan tabib yang merawat permaisuri.”


Pamella lalu beruvap seraya tersenyum manis, “Tidak usah sampai begini, mari masuk.”


Gadis pirang berambut ini sempat menengok ke halaman, George dan kaisar menghilang entah kemana.. apa mereka akan bertengkar lagi? Pamella diam-diam mendengus di hatinya.


‘Kayak ngga punya kerjaan aja kalo semisal mereka emang bertengkar! Elvareta belum sadar loh ini tapi mereka malah bertengkar? Sini ku getok palanya’ batin Pamella yang tak bisa menahan kekesalannya lagi sebab sejak awal kesabaran gadis bungsu ini memang di bawah rata-rata.


Elvareta memberikan mereka kartu sihir yang sekali-kali dapat berguna NAMUN WAKTU PENGGUNAANNYA TERBATAS.


Para penjaga tadi pun menyangka bahwa Pamella hanya melihat apakah kaisar dan George masih ada disana? Padahal ia membuka pintu untuk L dan S.


“Permisi lady, blues kami akan memasukkan ini ke permaisuri” waktu L dan S tidak banyak itu sebabnya mereka terburu-buru namun tetap hati-hati.


“Silahkan” balas Pamella dan blues kompak, L dan S pun langsung memasukkan ramuan itu pada elvareta sesekali Pamella mengernyit ketika melihat mereka.

__ADS_1


Ia seperti pernah melihat mereka di suatu tempat.. tapi.. dimana ya?.


Pamella mengusap tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, ia kebingungan atau.. ia tanya saja?.


“Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?” Pamella bertanya pada L dan S.


“Maksud lady?” tanya L santai, L maupun S memang sudah diajarkan elvareta untuk tetap santai dan tenang di segala keadaan.


“Aku seperti mengenal kalian.. apakah kita pernah bertemu?” tanya Pamella lebih jelas lagi, blues yang mendengar pun menatap ke L dan S.


Pamella baru kesini sekali! Itupun dengan blues lah terus kenal mereka darimana? Janggal kan?.


S yang sudah selesai memasukkan ramuan ke tubuh elvareta pun mendongak menatap Pamella, “Lady mungkin salah mengira sebab kami tidak pernah keluar dari area istana.”


S terpaksa berbohong, bagaimanapun identitas mereka tak boleh sampai terbongkar.


“Ya.. sepertinya begitu.”


‘Namun sepertinya juga tidak’ batin Pamella yang tetap bingung, berapa banyak misteri sih disini? Yang cahaya gelap itu..?


Apakah dunia masa lalu sefantasi ini? Atau jangan-jangan kehidupan yang tengah ia jalani ini memang di dunia pernovelan? Lalu ia m*ti disini karena suatu hal dan bereinkarnasi ke masa depan? Seperti dugaannya dahulu?.


Pamella tiba-tiba tertawa hambar ketika haluannya sungguh mengagumkan.

__ADS_1


“Baiklah lady blues.. kami permisi dahulu” Pamella dan blues hanya mengangguk ketika mendengar salam perpisahan dari L dan S.


_________________________________


__ADS_2