Puteri Bungsu Sang Duke

Puteri Bungsu Sang Duke
38. Kecurigaan yang muncul kembali (REVISI)


__ADS_3

Sama persis seperti yang dikatakan oleh ren, elvareta saat ini memiliki pertanyaan lain.


Pamella mengangkat alisnya ke arah ren, ia meminta jawaban mengapa wanita lembut seperti elvareta sampai bisa marah sampai seseram ini? Apa yang diperbuat ren?


Namun hanya gelengan kepala yang Pamella dapatkan dari ren.


Pamella pun mulai memutar otaknya, kalau tentang ren yang merahasiakan tentang kaisar itu pasti karena perintah kaisar sendiri, dan elvareta sudah tentu tahu akan hal itu.


Lalu, apa lagi kesalahan yang dibuat ren kali ini?


“Kau memberi tahu ke kakak kalau tuan Morgen menemui kak Pamella ya?” tuduh elvareta dengan menuding kan telunjuknya pada ren.


Pamella pun membelalakkan matanya, ren memberi tahu kaisar? Tapi untuk apa?


‘Eh tapi.. emang hal ini berpengaruh sama kaisar kulkas itu? Ini bukan seperti orang yang disayangi kaisar di ganggu hingga kaisar akan marah’ batin Pamella.


Elvareta yang tak sengaja membaca batinan Pamella karena sihirnya yang sudah meluap-luap pun akhirnya tahu bahwa baik kakaknya maupun kak pamellanya hanyalah dua insan yang tak mengerti perasaan satu sama lain.


Sihir elvareta meluap, hal ini karena emosi elvareta tak terkontrol.


Akhir-akhir ini elvareta sangat emosional.


“Apa m-maksud tuan Puteri?” tanya ren, ia sudah berusaha santai namun ia tetap tergagap.


“Sudah gagap begitu masih tidak mau mengaku, kau kira aku orang bodoh yang tak bisa membaca situasi?! Kau sangat meremehkan ku karena aku seorang gadis ya?” balas elvareta, mata gadis itu mulai berubah.


Dari sebiru berlian menjadi Semerah darah.


Pamella yang melihatnya pun merinding, “Elvareta.. tenanglah, jangan sampai kau dikendalikan oleh amarah.”


Pamella berucap dengan begitu lembut seraya mengelus punggung elvareta, sedetik kemudian mata elvareta kembali normal.


Mata biru berlian yang indah itu sudah kembali.


“Terima kasih kak,” ujar elvareta memandang lembut Pamella.

__ADS_1


Pamella pun mengangguk mengiyakan sedangkan ren sendiri menghela nafasnya lega, ia berharap karena kejadian ini elvareta tak akan menginterogasinya lagi layaknya tersangka.


“Kau fikir aku melupakan pembicaraanku denganmu tadi ren? Jangan berharap!” ucap elvareta sinis.


“Kak, kakak pulang saja ke kediaman kakak. Aku ingin bertanya pada ren dahulu,” sambung elvareta, Pamella pun mengangguk.


“Baiklah, aku pergi dulu.”


Setelah kepergian gadis ungu yang tak lain adalah Pamella, elvareta mulai menatap tajam ren kembali.


“Ceritakan atau aku akan memberi tahu George kalau kau menyakitiku,” ancam elvareta dengan wajah garangnya.


‘Ini tak adil! Jika aku memberitahu tuan Puteri maka aku akan dihabisi oleh yang mulia, jika aku tak memberitahu tuan Puteri aku akan di habisi oleh kaisar George, suami dari tuan Puteri!’ batin ren.


Kedua jalur yang menjadi pilihan ren sama-sama berhujung kematian.


‘Bukankah ini tak adil bagiku?! Dan lagi.. mengapa harus aku yang mengalami ini semua?!’ batin ren kembali bersuara.


***


Bedanya arah mereka berlawanan, jika pamella menebak maka kaisar pasti pergi ke istananya.


“Kesejahteraan menyertai kaisar negeri alpensha,” salam Pamella sambil menunduk anggun.


Kaisar sendiri hanya melirik sebentar.


“Berdiri.”


Setelah berucap seperti itu kaisar tanpa berbicara apapun lagi pergi meninggalkan Pamella.


Pamella pun membalikkan setengah badannya untuk memandang kaisar yang sudah berada di belakangnya.


‘Dia kira aku tidak bisa cuek padanya seperti dia yang cuek padaku? Ck memang ya kekuasaan itu yang paling utama!’ batin Pamella.


Benar sekali, Pamella hanya takut kalau kepalanya terlepas karena itu ia memberi salam pada kaisar, kalau menurut kata hati, Pamella pasti akan memilih untuk menendang kaisar sebab sedari tadi kaisar sudah mendiamkan Pamella.

__ADS_1


Namun Pamella masih berfikir seratus kali untuk memperlakukan kaisar seperti itu.


Sebab, siapapun termasuk Pamella tahu bahwa kepala maupun bagian tubuh yang lain itu tak bisa di copot pasang seperti puzzle.


“Pamella!”


Teriakan itu membuat Pamella menoleh, dan matanya mendapati kakak lelakinya, Yudha tengah berlari menuju padanya.


“Ah, kakak sudah pulang dari pengadilan? Itu artinya ayah juga sudah pulang?” Tanya pamella ketika Yudha berhasil mencapai dirinya.


“Kakak sudah pulang dari tadi! Kakak mencarimu pamella, sedangkan ayah masih berada di pengadilan, dia masih berdiskusi dengan para bangsawan lain,” jawab Yudha panjang seraya mengelus lembut rambut sang adik.


“Ah begitu rupanya,” balas Pamella mengangguk.


“Kak ayo kita pulang!” ajak Pamella menarik tangan Yudha.


Yudha pun hanya mengikuti tarikan tangan adiknya, “Pamella, jangan berlari.”


“Aduh, lagipula aku tidak akan jatuh! Kan ada kakak,” balas Pamella tetap berlari kecil menuju kediamannya.


Pamella pun mendapati cubitan kecil di pinggang rampingnya.


“Auch, Kak!” kesal Pamella mendengus.


“Hahaha, iya-iya maaf. Kakak tidak sengaja,” balas Yudha terkekeh sedangkan Pamella memasang wajah cemberutnya.


“Oh iya, sebentar lagi adalah hari lahir negeri alpensha,” ucap Yudha membuat Pamella melirik ke mata hijau lentik kakaknya.


“Tepatnya kapan kak?” tanya Pamella lagi.


“Kau seolah tak tahu apapun tentang negeri ini, padahal kau selalu bersemangat apabila ada acara seperti ini. Apa yang terjadi padamu? Beberapa saat yang lalu pun kamu seperti tidak tahu siapa dirimu?” tanya Yudha.


Kecurigaan yang sempat menghilang akhirnya muncul kembali.


_______________________________

__ADS_1


__ADS_2