
“Elvareta... Kau yakin arahnya kemari?” Pamella bertanya dengan lirih seraya melirik kesana-kemari.
Namun tiba-tiba elvareta berhenti mendadak, “Kak.. aku mau bertanya, sunnie bilang kakak berubah? Dan.. kakak seperti lupa segalanya apa itu benar?.”
GLUK
Pamella menelan ludahnya kasar, ‘Mana bisa aku bilang yang sejujurnya? Apa aku bilang kalau aku emang lupa? Tapi.. kalau dia tanya ‘Kenapa kakak bisa lupa’ bagaimana? Elvareta kan pintar mana bisa dibodohi.’
Ia hanya berfikir, sengaja ia tidak berbatin agar elvareta tidak bisa membaca hal ini.
“Kak?” wanita berlian itu lagi-lagi memanggil Pamella dengan nada penasarannya.
“Aku—” baru saja Pamella ingin beralasan sebuah suara teriakan menggema di sekitar mereka.
Pamella dan elvareta pun berpandangan sejenak, saat pamella ingin berlari elvareta meraih tangan kakak iparnya eh ralat! Calon kakak iparnya.
“Kak.. itu bukan suara kaisar ataupun George, itu suara orang lain” Pamella memperhatikan mata elvareta yang mulai menajam ketika menjelaskan kepadanya.
“Jadi maksud mu.. ada orang lain selain kita berempat disini?” tanya Pamella memegang erat tangan elvareta.
“Iya.. dan ini seperti.. suara orang yang mencoba mencelakai George tadi” Pamella pun membelalakkan matanya terkejut, orang yang mencelakai George? Itu berarti orang yang membuat elvareta celaka?.
Maksudnya..? Jangan bilang kalau kaisar dan George sedang ehm gimana ya..?
__ADS_1
“Elvareta, kita pulang saja yuk? Nanti juga yang mulia kaisar dan yang mulia eh—” Pamella perlahan bingung dengan perkataannya sendiri.
Sontak elvareta terkekeh lirih melihat kebingungan Pamella, “Kak bukankah akan lebih baik jika kakak memanggil George dengan namanya?.”
Pamella menggeleng keras, “Tidak! Aku akan memanggil suamimu ‘Yang mulia’ sedangkan kaisar alpensha ‘Yang mulia kaisar’ (kalau mereka berdua berada di tempat yang sama) yah begitu saja.”
Elvareta ikut menggeleng melihat tingkah keras kepala Pamella, padahal ini juga demi dirinya agar dia tidak bingung dalam memanggil kedua kaisar tersebut.
Yahh walau sedikit tidak sopan kalau hanya menyebut George dengan nama, namun.. Pamella itu calparnya elvareta kan?.
Yang artinya,George juga termasuk keluarga Pamella.
“Terserah kakak.”
Pamella lalu memandang langit yang berwarna merah itu, seketika sebuah pemikiran terlintas di kepalanya “Elvareta.. apakah yang mulia tidak bisa merasakan kehadiran orang lain di dimensinya?.”
Elvareta menjelaskan dengan santainya seolah-olah wanita itu sudah menduga akan jadi begini.
“Tapi kau masih tetap santai?” tanya Pamella sedikit kesal pada adik angkat calon suaminya itu.
“Karena.. tidak ada gunanya kabur dari sini, dia pasti sudah merasakannya. Kita hanya tinggal menunggu kakak dan George kemari” Pamella kembali dibuat terkejut dengan prediksi elvareta.
“Apa kita tidak akan dimarahi nantinya? Tunggu! Jadi maksudmu yang mulia dan yang mulia kaisar akan kemari?” tak habis fikir sudah Pamella dengan pemikiran santai elvareta.
__ADS_1
“Iya kak, memangnya kenapa? Biarkan saja mereka kemari harusnya kita yang memarahi mereka, mereka menghilang tanpa memberi kabar ke kita! Lantas mengapa mereka yang akan marah?.”
Pamella menatap wajah elvareta, wanita hamil itu terlihat kosong, mata biru berliannya itu seolah-olah memikirkan sesuatu dengan tingkat level tidak terhingga.
Tapi.. memangnya ada ya hal yang memiliki tingkat kesulitan seperti itu?.
TAK TAK TAK
“Lihat kak? Aku benar kan?” elvareta bertanya seraya menatap datar pada dua orang pria yang sedang berjalan menuju mereka.
‘Oh my God! Apakah aku harus lari dari sini sekarang?’ Pamella berbatin ketika ia melihat mata tajam kaisar yang menuju padanya.
“Tidak ada gunanya kak.. lebih baik kita disini saja.”
Sy*alan! Kenapa elvareta begitu santai dalam menghadapi situasi macam ini?.
_________________________________
Yah ini cuman alur tambahan agar cerita ini tidak langsung melompat ke penobatan Pamella.
So, tentu ini begitu garing :).
Okelah, mari kita berjumpa lagi di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Thank u~
-Nadira