
Bahkan pamella tidak menemukan jawaban setelah tiga jam berfikir, sekarang ia tengah di rias oleh sunnie.
Tak heran jika Pamella harus selalu di rias sebab Pamella itu memiliki status bangsawan yang tinggi.
Dengan kata lain, Pamella harus menjaga imagenya sebagai Puteri bungsu dari Duke Thomson.
“Nona, tolong tunggu sebentar, saya akan meminta resep obat pada tabib istana. Nona jangan pergi kemana-mana,” ujar sunnie setelah selesai menyisir dan membuat model lucu di rambutnya.
BRAK
Karena terkejut Pamella langsung terjingkat dari kursi di depan meja riasnya tempat ia duduk.
“Apa?! Kenapa kamu perlu meresepkan obat?” tanya Pamella menoleh secepat kilat pada sunnie.
“Nona terlalu lama di kamar mandi, saya takut nona terkena flu,” jawab sunnie menunduk.
Sekedar kesopanan.
“H-hah? Ahahah ku kira kenapa, sudahlah sunnie tidak perlu sampai meminta obat seperti itu, aku baik-baik saja,” balas Pamella, bagaimanapun ia masih tahu bagaimana rasanya obat di zaman modern.
Kalau di zaman modern saja pahit lalu bagaimana dengan disini?
Huft! Sungguh Pamella benar-benar tak ingin mencobanya.
“T-tapi nona,” sahut sunnie ragu namun ...
TOK
TOK
TOK
Ketukan terdengar dari pintu kamar Pamella, “Pamella ini kakak.”
Mendengar suara hangat itu wajah Pamella menjadi ceria dan sangat berseri-seri.
Pamella segera berlari membuka pintu kamarnya.
KRIET
__ADS_1
“Kakak! Aku merindukan kakak,” ujar Pamella memeluk erat kakak tunggalnya.
“Kamu juga tidak merindukan ayah?” pertanyaan itu muncul dari seorang pria yang sudah berkepala empat.
Pamella menoleh secepat kilat, matanya mendapati mata lain yang hangat saat menatapnya.
BRUK
Pamella dengan cepat memeluk pria itu, “Tentu saja aku merindukanmu ayah!”
Pria itu, ayahnya mengelus lembut kepala Pamella “Jadi kamu makan dengan teratur kan?”
Pamella mengeratkan pelukannya dan mendongak menatap ayahnya, “Tentu saja! Aku itu anak ayan jadi harus selalu makan dengan teratur.”
Ayahnya terlihat tersenyum kecil, Pamella pun ikut tersenyum.
“Urusan ayah dan kakak sudah selesai?” tanya Pamella lalu melepaskan pelukannya menatap pada kedua pria yang berbeda generasi di sampingnya.
“Sebenarnya belum, tapi yang mulia membolehkan kami untuk beristirahat sejenak untuk beberapa hari sebelum melanjutkan penyelidikan,” jawab Yudha, Pamella pun mengangguk mengerti dengan penjelasan kakak lelaki tampannya itu.
Sungguh jika Pamella tak terbiasa dengan cogan maka ia pasti akan menjadi penggemar nomor 1 kakaknya itu.
Yah, sayangnya Pamella sudah terbiasa sebab kedua abangnya dulu juga sangat tampan.
“Itu ... rahasia Pamella, namun yang hanya bisa kami sampaikan adalah kekaisaran memerlukan tuan Puteri elvareta agar beliau bergerak di balik layar,” jawab ayahnya memberi pengertian.
Memang benar, bergerak di balik layar ini bisa melindungi elvareta.
“Apa itu artinya aku tidak akan bertemu dengan elvareta lagi?” tanya Pamella mendadak murung.
Bianca juga sudah raib dari sisinya, apa elvareta juga?
Lagi-lagi ia harus berpisah dengan orang yang ia sayangi, apakah ... takdirnya akan begini terus?
***
Keesokan harinya..
Pamella kini tengah jalan-jalan keluar, matanya menangkap sosok pria kekar tengah bersama seorang gadis cantik.
__ADS_1
Itu adalah kaisar dan elvareta.
Pamella juga dapat melihat jika elvareta terlihat marah-marah dengan kaisar, sedangkan pria kekar itu malah bersikap santai seolah celotehan elvareta itu hanya angin lalu.
Elvareta pun menoleh ke belakang, ia merasa bahwa ada orang yang tengah mengawasi mereka dari belakang.
“Kak pamella?” panggil elvareta mengernyit, seolah-olah gadis itu bertanya mengapa Pamella berada di sini?
“Ah, kesejahteraan menyertai kaisar dan tuan Puteri negeri alpensha,” hormat Pamella seraya menunduk anggun.
Salah satu etika kebangsawanan.
“Oh astaga! Kakak aku sudah bilang panggil aku ‘elvareta’ jangan tuan puteri,” ujar elvareta dengan kesal.
Pamella pun mendekat ke arah elvareta disertai cengiran kudanya.
Kaisar sendiri hanya diam dan melirik Pamella dingin, entah apa yang ada di fikiran kaisar itu.
Pamella pun merasakan aura canggung disini, ia melirik elvareta yang tengah memberi tatapan tajam pada kaisar.
Seolah-olah elvareta memperingatkan kaisar akan suatu hal.
Kemudian tanpa permisi kaisar langsung pergi, tanpa menyapa Pamella dan tanpa berpamitan pada elvareta.
“Tunggu, kak kembali!” teriakan keras terdengar dari elvareta dengan tangan yang mengepal menahan amarah.
“Sudahlah elvareta,” ucap Pamella mengelus punggung elvareta agar gadis itu tenang.
Akhirnya elvareta hanya bisa menghela nafasnya kasar.
“Kak, apa kakak mengetahui sesuatu tentang kaisar?” tanya elvareta pada Pamella.
Pamella pun sontak menggelengkan kepalanya, ia tak tahu apapun, bahkan ini pertama kalinya ia bertemu kaisar setelah pria itu pergi.
“Memangnya ada apa?” tanya Pamella penasaran.
“Entahlah, ada sesuatu yang membuat suasana hati kakak kacau, bahkan aku tadi memarahinya karena kakak seenaknya saja menghukum salah satu prajurit padahal prajurit itu tak melakukan kesalahan yang fatal.”
“Saat melakukan itu kakak seperti melampiaskan kemarahannya pada prajurit itu,” jelas elvareta panjang.
__ADS_1
‘Ada apa ini?’ batin Pamella semakin heran, apa ia harus jadi jelmaan detektif c*nan sekarang?
_______________________________