
Pamella lagi-lagi membuka matanya, susah sekali susah banget malah! Ia semalaman tak bisa tidur itu sebabnya ia selalu panik dengan keadaannya yang masih hamil muda.
Siapa yang menjamin bahwa begadang itu baik bagi ibu hamil?.
‘Apakah bayiku akan baik-baik saja jika aku seperti ini? jika aku sendirian pasti aku tak akan masalah, namun sekarang aku sedang mengandung’ batin Pamella mengelus perutnya yang masih rata.
Berada di trimester awal kehamilan membuat Pamella acapkali merasa cemas, apalagi suasana di sekitarnya juga tak mendukung bagi mentalnya.
Karena itu juga Pamella berucap, ‘hari sudah larut, aku harus tidur’ padahal realitanya hari kini sudah pagi, matahari sudah mulai terbit. Seharusnya saat inilah para manusia baru bangun namun pamella malah kebalikan dari mereka.
Pamella pun kembali mengeluh saat ia tak mendapati keberadaan elvareta, jika dia ada disini pasti elvareta bisa membuatnya tertidur kan?.
Namun, apa gadis bersurai berlian itu berada di pihaknya? Secara dia itu adiknya kaisar.
“Huh” akhirnya Pamella hanya bisa mengeluh, ia pun bangkit dan membuka pintu kamarnya pelan.
Mengintip dari sela-sela pintu yang terbuka, mencoba mencari pelayan yang bisa meminta resep obat tidur pada tabib.
Namun..
DEG
“L—loh, kenapa mereka bisa...?” lirih Pamella lalu menutup pintu kembali, dadanya naik turun, nafasnya pun juga tak beraturan.
Tangannya memegang erat kepalanya yang terus memutar kejadian tersebut, kepalanya juga menggeleng keras mencoba untuk menghilangkan rekaman kejadian tersebut.
‘Katakan, apa yang terjadi di istana ini?!’ batin Pamella mulai khawatir. Masalahnya, kaisar tak ada di istana ini sekarang!.
***
George menghela nafasnya dan melirik ke elvareta, permaisurinya itu lebih sering diam daripada berbicara.
Sangat berbanding terbalik saat elvareta berada di negeri alpensha, benar.. bukankah istana ini sekarang bukan rumahnya? Elvareta pasti menganggap istana ini sebagai neraka.
Atau.. hubungan mereka yang kini sudah menjelma menjadi tali semu yang mengikat elvareta?.
__ADS_1
“Elvareta..”
Elvareta menoleh ketika mendengar bisikan lirih ini, namun wajah datar George membuat elvareta berfikir bahwa pria itu tak memikirkan dirinya, dengan kata lain itu bukan suara George.
Hanya saja, elvareta tak pernah tau mengapa George selalu menginginkannya, bahkan pria itu sampai mati-matian mempertahankan dirinya, padahal permaisuri itu bisa diperoleh dengan mudah.
Wajah datar elvareta pun berubah menjadi sinis, sebab hanya karena george ia tak bisa menemani sang kakak. Padahal jelas sekali bahwa kehadirannya diperlukan di negeri alpensha itu, lebih tepatnya di istananya.
‘Bagaimana nasib kak Pamella disana sekarang? Aku harap kakak kaisar bisa menjelaskan sesuatu pada kak Pamella, aku jelas tak mau jika hubungan keduanya berakhir seperti hubunganku dan George yang tak bisa diperbaiki.’ batin elvareta.
‘Walau ditambal pun pasti masih ada bekasnya. Dan bekas tak semudah itu dihilangkan apalagi jika ini berhubungan dengan yang namanya perasaan’ batin elvareta melanjutkan.
Matanya memejam sejenak membiarkan seluruh pemikiran positif merasuki fikirannya, tetapi ia langsung menolak segala kemungkinan yang terjadi mengingat sifat dingin kakak kaisarnya itu.
Kakaknya lebih suka mengekang daripada menjelaskan, dan itu sudah sangat elvareta pahami. Namun akankah Pamella mengerti mengapa kaisar sampai bertindak begitu?.
Itulah inti masalah yang difikirkan elvareta!.
Kini elvareta hanya bisa berharap bahwa kakak kaisarnya bisa mengambil keputusan yang tepat terkait situasi mereka berdua.
Lagi dan lagi, George memalingkan pandangannya ke arah lain. Menolak menatap keindahan permaisurinya yang sudah lama tak ia rekam.
Batinan elvareta menohok dirinya, semua orang baik elvareta maupun kaisar sama-sama mengira bahwa georgelah yang memb*nuh anggota kerajaan beram alias keluarga elvareta.
Padahal tak begitu, namun George pun tak berniat menjelaskan apapun. Itu hanya akan membuka luka baru di hati elvareta, terlebih saat ini elvareta pun sudah sangat terluka.
Biarlah elvareta membencinya, namun dia tak akan membiarkan elvareta pergi darinya.
Yah, sebuah ucapan tersirat di dalam diri George yang nyaris mirip dengan ucapan kaisar.
Elvareta yang masih tak tau kalau kekuatan George sudah jauh melampaui batas kekuatan pun tak pernah tau pula jika batinannya sudah di ‘bajak’ oleh George.
Jika elvareta tau, maka ia pasti akan memilih untuk pergi dari sana, menolak untuk menatap ataupun membalas George. George sudah tau isi hatinya, itu pasti membuka luka lama George.
“Kenapa kau sangat ingin membalas surat gadis itu? Kau bahkan sangat ingin menemaninya sedangkan aku? kau bahkan tak ingin menemaniku sama sekali. Mengapa?” elvareta membuka matanya dan menoleh ke arah George.
__ADS_1
“Karena dia berharga. Dia juga yang selalu mengerti akan perasaan hamba, dia pula yang berbaik hati mendengar cerita hamba, dia pula yang selalu menemani hamba. Lantas apakah salah jika hamba ingin mendukungnya di saat seperti ini? Apalagi, hamba juga terlibat dalam masalah ini. Yang mulia.”
Mata elvareta menjadi sendu ketika mengatakan ini, sebab sedari dulu elvareta tak pernah memiliki teman untuk berbagi. Pamella adalah yang pertama bagi elvareta, oleh karenanya elvareta sangat memperhatikan Pamella.
Elvareta pun sengaja tak menjawab pertanyaan mengapa dirinya lebih nyaman bersama Pamella daripada George, tentunya.. George bisa berfikir sendiri mengapa elvareta lebih nyaman bersama Pamella.
Terutama saat masalah yang dulu dihadapinya juga dihadapi oleh Pamella.
Mereka senasib bukan?.
Oleh karena ini, elvareta cenderung lebih akrab pada Pamella daripada kakak lelakinya. Ia bahkan selalu teringat George ketika kakak lelakinya itu bertindak pada Pamella.
Sikap itulah yang terkadang membuat elvareta agak tak suka bila berada di negeri alpensha, untuk SAAT INI.
Di sisi Pamella..
“Apakah mataku salah melihat tadi? Tak mungkin hal itu terjadi” gumaman demi gumaman selalu menemani gadis itu.
Pantas! Pantas bianca bisa masuk, seluruh pengawal di depan sudah luruh di atas tanah! Siapa yang melakukannya? Pamella juga tak tau! Jangan tanya padanya.
‘Tidak mungkin bianca kan?’ batin Pamella, pemikiran dan dugaannya kini mulai meliar.
Apa di zaman ini ada beberapa orang yang memiliki dua muka? Seperti di masa depan saja!.
“Ketika kau berjanji, maka kau harus menepati. Itu benar kan? Zelion?” suara mendengung nyaris tak jelas itu terdengar dari luar.
Mendengar nama asing yang hadir di telinganya membuat Pamella makin panik dan menyentuh perut datarnya.
Dimana kaisar? Apa pria itu yang menyewa pemb*nuh untuk datang kemari?.
Apakah pria itu ingin dirinya benar-benar hilang dari dunia ini? apa ini akhir dari hidupnya?.
Pertanyaan itu memasuki otak Pamella dalam waktu yang bersamaan, akhirnya Pamella pun terus menangis tanpa tertahan.
‘Ayah! Tolong aku!’ batin Pamella berteriak miris.
__ADS_1
_________________________________