
Pamella akhirnya pergi ke kamarnya, ia lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Perlahan ia membuka sepucuk surat dari elvareta yang sedari tadi ada di genggamannya.
Untuk kakak pamellaku tersayang.
Maaf ya kak, aku harus pergi tanpa izin kakak. Aku memiliki urusan yang penting di kekaisaran ku, sebab sebagai permaisuri tentu aku memiliki tanggung jawab disana.
Tapi aku janji akan segera menyelesaikan semuanya, setelahnya aku akan menemui kakak lagi. Namun yah.. tentu terkadang kita harus berpisah dan tidak bertemu agak lama.
Tetapi aku pasti hadir di acara pernikahan kakak dan kaisar, tunggu aku ya kak. Untuk masalah kakak.. aku tahu kakak itu kesepian kan? Maka dari itu kakak bisa mengirimkan surat lewat burung biru milikku.
Kakak tinggal menaruh surat di jendela kakak saat pagi hari, lalu pada siang harinya burungku akan mengambil dan menyerahkannya padaku.
Aku tunggu Suratmu ya kak!
-Elvareta.
Pamella pun mendengus saat nyatanya ia memang merasa sangat kesepian, hmm katanya burung itu akan kesini siang?
Memikirkan itu Pamella tiba-tiba membentuk senyum lebar, tak masalah setidaknya ia masih bisa bersurat-suratan dengan elvareta kan?
Ia segera bangkit lalu meraih kertas dan penanya, ia membalas seluruh isi surat elvareta yang dikirimkan padanya.
Setelahnya Pamella melipat dan membungkus surat itu rapi lalu menaruhnya di jendela, seperti yang dikatakan elvareta.
Kini, ia hanya tinggal menunggu burung elvareta datang dan mengambilnya.
Lama Pamella memandangi surat itu hingga matahari mulai naik ke atas.
SRAK SRAK SRAK
Bunyi kepakan itu membuat Pamella yang awalnya terkantuk-kantuk menjadi terjaga, benar saja burung biru yang menyilaukan datang.
Kenapa cahaya bulunya sangat terang? Tunggu..! Jangan bilang kalau burung ini itu burung khusus kekaisaran?
An*ir! Elvareta benar-benar tidak dapat ditebak!
__ADS_1
“Kwak kwak.” burung itu seolah berbicara, Pamella pun mendekatinya namun ia sama sekali tidak mengerti ucapan si burung sama sekali.
“Kamu bicara apa? Aku tidak mengerti.” Pamella mengira bahwa burung itu juga memiliki sihir, soalnya elvareta kan permaisuri yang pandai sihir! Dan itu sudah jadi ciri khas di tempat tinggal elvareta.
Jadi.. akan memungkinkan jika hewannya juga begitu, apalagi burung yang ini kan burungnya elvareta?
“Ah maaf, saya lupa kalau lady tidak bisa berbahasa burung seperti permaisuri.” ucapan burung itu membuat Pamella terjingkat.
Benar kan? Dunia yang ia tempati saat ini memang sangat ajaib.
“Hahaha, apa elvareta baik-baik saja disana?” Pamella pun tertawa garing setelahnya gadis itu bertanya pada burung biru.
“Permaisuri baik-baik saja, lady tak perlu khawatir. Apakah ini surat dari lady untuk permaisuri?” tanya burung itu melirik ke sepucuk surat yang terlihat rapi.
“Benar.”
“Baik lady, saya akan membawanya. Saya permisi.” setelah Pamella mengangguk burung itu kembali mengepakkan sayapnya dan membuka pintu portal dimensi.
Seketika Pamella melongo, benar kan? Disini banyak sekali kejadian di luar nalar, benarkah ini di masa kerajaan di dunia nyata?
Atau.. hanya novel fantasi semata?
Mana ada hal fantasi seperti itu!
‘Tapi.. bukankah aku sendiri mengalami time travel? Kejadian yang aku anggap hanya terjadi di pernovelan saja’ batin Pamella membuat otaknya berfikir.
Seketika gadis itu lupa kalau sunnie dan bianca menghilang (elvareta ada keterangannya jadi tak dihitung menghilang tiba-tiba sedangkan sunnie kan tidak pamit ke pamellanya sendiri.) Yah untuk saat ini hal seperti itu sangat baik, Pamella memang harus tidak memikirkan itu demi kesehatannya sendiri.
“Memangnya ada ya? Aku dengar di kerajaan-kerajaan Eropa dulu itu ngga ada sihir-sihiran! Lalu.. kenapa di sini ada? Ada sih cuma rumor-rumor yang menuduh seseorang jadi penyihir sama ilmu Kayak s*ntet dan sejenisnya, lah ini? kayak dunia pernovelan aja!” Pamella pun mengomel tak jelas.
Kalau ada yang mendengar maka tamatlah riwayat gadis bungsu itu, pasalnya orang-orang akan lebih mencurigainya nanti.
Pamella akhirnya menghela napasnya kesal ketika ia tak menemukan jalan keluar dari pemikirannya yang sedikit mengganggu fikiran gadis itu.
Kalau soal bertanya.. memangnya Pamella harus bertanya pada siapa? Yang ada nantinya malah dicurigai!
TOK TOK TOK
__ADS_1
Suara ketukan terdengar, hal ini membuat Pamella menoleh. Ah ini sudah siang? Mungkin salah satu pelayan kediaman yang memanggilnya.
“Iya, siapa ya?” balas Pamella dari dalam dan berjalan menuju pintu.
“Pamella, ini kakak. Ayo kita turun untuk makan siang ayah sudah menunggu,” sahut Yudha, hal ini membuat Pamella terserentak kakaknya yang memanggilnya sendiri?
Wah! Ayahnya juga ada! Padahal jarang-jarang Duke makan siang disini, lebih sering makan pagi tapi yah masih bisa dihitung dengan jari.
KRIET
Pamella pun membuka pintunya dan menatap sang kakak, “Ayo kak.”
***
Pamella mengerucutkan bibirnya kesal saat kaisar memanggilnya, bagaimana tidak? Kaisar itu memanggil dirinya tepat saat ia selesai makan siang, rencananya ia mau menghabiskan waktu bersama ayah dan kakaknya.
Namun calon suaminya ini malah memanggilnya.
“Kesejahteraan menyertai kaisar negeri alpensha.” Pamella pun mengucap salam dengan separuh hati.
Walau kesal ia juga penasaran sih, kenapa kaisar memanggilnya padahal ia tadi sudah kemari? Ada apa gerangan?
“Berdiri.”
Pamella akhirnya menatap kaisar yang tetap sama, sibuk dengan dokumennya, sejenak ia bertanya pada dirinya sendiri ‘Apakah kaisar sudah makan?’
“Mohon maaf yang mulia, apakah yang mulia memanggil hamba?” tanya pamella sedikit kesal.
Sejenak kaisar mengerutkan keningnya lalu menatap Pamella, ia bahkan sampai meletakkan penanya kembali, “Kapan aku memanggilmu?”
Seketika Pamella menjadi bingung sendiri. Kemudian pamella memutar otaknya, ren tadi memanggil dirinya. Katanya ‘Nona anda dipanggil kaisar.’
“Tunggu, jangan-jangan yang mulia belum makan ya?” akhirnya Pamella mengutarakan dugaannya, jika ren membuatnya kemari untuk hal ini ia bisa menduganya.
Kaisar lalu menggelengkan kepalanya, sepertinya kaisar sendiri tak sadar bahwa saat ini sudah masuk waktu makan siang.
Benar-benar kaisar yang super duper sibuk.
__ADS_1
_______________________________