Puteri Bungsu Sang Duke

Puteri Bungsu Sang Duke
70. Tak harus mengambil selir bukan?


__ADS_3

Pamella akhirnya kembali ke kamarnya ditemani oleh Yudha, “Kakak..”


Yudha yang sedari tadi melamun kini langsung fokus pada sang adik, “Iya Pamella.. ada apa?.”


Pamella pun berhenti sejenak dan menatap kakaknya, “Kak.. kenapa kakak melamun dari tadi?.”


“Kakak hanya berfikir tentang satu kasus yang akan ditangani oleh kakak.”


“Tunggu, itu berarti kakak akan pergi lagi? Tak bisakah kakak disini dulu? Aku baru sadar loh” Pamella membalas dengan cepat.


“Maaf, tapi ini memang tugasnya kakak pamella” sahut Yudha ikut berhenti dan mengelus kepala adiknya dengan sayang.


“Adikku sudah besar sekarang, ia bahkan sudah menikah dengan yang mulia. Rasanya aku masih tidak terima jika kau menjadi milik yang mulia” Yudha berucap, Pamella pun menerbitkan senyum manisnya. Ia juga tahu bahwa ini pasti bentuk kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya.


Yudha hanya khawatir jika Pamella masih belum siap untuk menghadapi dunia persaingan bangsawan, padahal sedari dulu pamella mengenal area politik dengan baik.


Yah jangan lupa bahwa ia juga sering berurusan dengan hal-hal beginian, so.. ia jelas sudah berpengalaman.


Jadi tak perlu mengkhawatirkan Pamella, khawatirkan saja lawan debat Pamella nanti. Takutnya tu orang malah jadi stres.


“Kakak tidak perlu mengkhawatirkan apapun, aku bisa menghadapi semuanya sendirian” Pamella bermaksud untuk menenangkan Yudha.


“Yah, sepertinya begitu, namun untuk sekarang kamu harus tau bahwa kamu memiliki banyak orang yang bersedia membantumu.”

__ADS_1


***


Hari sudah menjelang malam dan Pamella sekarang sudah duduk cantik di tepi ranjangnya, ia sesekali menatap ke arah pintu berharap bahwa pria yang terikat pernikahan dengannya muncul dari sana.


Namun yah Pamella kemudian menghela nafasnya sebab kaisar memiliki banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, maklum negeri alpensha ini besar.


Inilah resiko menjadi pendamping penguasa tak banyak waktu yang tersisa untuk mereka berdua.


Pamella mengetatkan rahangnya ketika ia berfikir, ‘Jika kaisar memiliki Harem pasti waktuku dengannya makin sedikit.’


‘Oh no! Aku tidak akan membiarkan Harem itu tercipta, lagian negeri ini sudah besar lantas kenapa yang mulia harus memilih Harem? Tidak akan ada yang berani menyerang negeri ini apalagi elvareta itu permaisuri juga yah walau orang lain tak tahu’ batin Pamella bermonolog.


‘Aku tahu ini egois namun kaisar tak harus memiliki Harem! Dan Harem itu tak akan pernah tercipta’ batin Pamella melanjutkan.


Bagaimana tidak? Pamella nyatanya memiliki kepribadian yang sama sepertinya, walau bertengkar namun mereka tetap demo agar pasangan mereka masing-masing tidak memiliki Harem.


Jangankan harem, memiliki satu selir saja mereka tak Sudi.


Elvareta acapkali mengancam George jikalau pejabat kekaisaran disana mengajukan permintaan untuk mengambil selir.


‘Kalau kau mengambil selir satu saja maka jangan harap kau bisa melihatku di istana ini! Aku akan memilih untuk menjadi Puteri mahkota saja. Meskipun kau tidak akan menceraikan ku namun aku tak akan membiarkanmu menemuiku.’


Kalau Pamella tahu ia pasti akan belajar mengancam penguasa dari elvareta, sayangnya gadis bersurai ungu itu sama sekali tak mengetahui apapun tentang ini.

__ADS_1


“Apa yang kau fikirkan Pamella?.”


Suara dingin itu mampu membuat Pamella tersadar dari lamunannya, ia menatap kaisar yang nyatanya berdiri di ujung pintu.


Ia bangkit lalu.. “Kesejahteraan menyertai kaisar negeri alpensha.”


Pamella mengerutkan keningnya ketika mendengar helaan nafas lelah dari kaisar, “Kau tak perlu memberiku salam seperti itu.”


Meskipun lirih namun kaisar memastikan suaranya cukup agar Pamella bisa mendengarnya, Pamella pun melirik kaisar dan tersenyum.


“Baiklah yang mulia, sesuai perkataan anda.”


Pamella lalu memandang kaisar yang mendekat ke arahnya, pria dingin itu lalu mengacak-acak rambut ungu Pamella sepertinya kaisar sangat lelah hari ini.


Ren yang dibelakang sana hanya diam sambil tersenyum tipis, tentu saja.. kaisar lelah sebab dia memaksa agar pekerjaannya selesai saat sore menjelang malam padahal biasanya pria itu akan begadang semalaman.


Akhirnya waktu bertemu dengan para bangsawan (pertemuan yang dianggap kaisar tidak penting), waktu makan kaisar dan waktu para laporan pejabat kekaisaran pun harus dilewati. Walau begitu kaisar tetap berhadapan dengan dokumentasi kekaisaran yang menumpuk bagaikan gunung.


Untuk laporan bangsawan kaisar memilih agar ren yang mendengar dan menerima lalu besoknya dia akan menceritakan secara singkat tentang laporan para pejabat tersebut.


Kecuali jika laporannya penting maka kaisar yang akan mendengar secara langsung. Yah seperti itulah perjuangan kaisar agar bisa menghabiskan waktu dengan isteri kecilnya.


“Selamat beristirahat, yang mulia.. permaisuri” gumam ren dengan lirih, ia lalu menutup pintu yang sebelumnya belum sempat ditutup oleh kaisar.

__ADS_1


_________________________________


__ADS_2