
Pamella hanya memperhatikan saat sunnie membereskan tempat di sekitarnya, kakak ipar tak sahnya itu terlihat sangat lihai dalam membereskan sesuatu.
Lama tak bersuara, Pamella pun mulai bertanya pada sunnie “Sunnie, kau tahu dimana yang mulia dan kakak sekarang?” Pamella memutuskan untuk bertanya demikian, sunnie pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Pamella.
“Hamba tadi melihat, tuan Thomson, tuan yudha, dan yang mulia di taman permaisuri.”
Pamella pun mengernyit heran, ‘Kenapa ayahku berada di sana juga? Ada konspirasi apa ini?.’
Sebenarnya, banyak sekali ketakutan di dalam hatinya. Kata Kasim tadi hanya ada kakaknya kan? Lantas.. bagaimana bisa ayahnya tiba-tiba berada disana?.
“Emm, baiklah.. sunnie bisakah kau membuat suatu camilan untukku?” Pamella memutuskan untuk pergi ke sana diam-diam sebab Pamella yakin bahwa sunnie akan mengekang jika Pamella berkata bahwa dirinya ingin pergi kesana.
“Camilan? Camilan apa yang diinginkan oleh Permaisuri?” sunnie memutuskan untuk bertanya dengan alis yang mengernyit.
Sunnie pun sepertinya harus memberi perhatian extra pada Pamella, sebab kemarin malam saat Pamella hanya bersama kaisar..
Pamella tiba-tiba tak sadarkan diri, akhirnya istana pengobatan kalang kabut karena tekanan kaisar terlebih yang tidak sadarkan diri itu permaisuri loh!.
Kemudian para tabib meminta maaf sebesar-besarnya kepada kaisar dan mengatakan bahwa mereka tak bisa mengobati Pamella, mengapa? Sebab Pamella sedang mengandung. Usia kandungannya ternyata sudah seminggu.
Tanpa diketahui oleh siapapun, bahkan kaisar sendiri. Bisakah kalian menduga bagaimana reaksi kaisar saat itu? Wah bayangkan sendiri saja.
Dan si bumil ini kecapekan, maka dari itu sunnie pun harus mengeluarkan tenaga extra untuk Pamella.
“Aku ingin makanan yang manis jadi bisakah kau membuat terang bulan untukku?” Pamella bertanya dengan sengaja, sejenak senyum licik tersibak di wajah cantik Pamella.
Pamella jelas tahu bahwa sunnie tak tahu apa sih yang dimaksud ‘terang bulan’ ini?.
“Apa itu permaisuri? Bagaimana cara membuatnya?” tanya sunnie dengan penasaran.
“Hiks, padahal aku sangat ingin memakannya karena aku sudah lupa tentang makanan itu. Huaa” Pamella mulai mengeluarkan air mata buayanya.
Sebenarnya, Pamella ini tak tahu dengan bahan apa saja makanan itu dibuat tetapi Pamella benar-benar menyukai makanan tersebut. Nasib! Pamella kan biasanya dimasakkan oleh para pembantunya.
“E—eh tunggu, baiklah hamba akan membuatnya permaisuri. Anda tidak boleh menangis, hamba mohon sekali” bagaimanapun kebahagiaan Pamella adalah prioritas kaisar.
Jika kaisar tanpa hati itu mengetahui bahwa Pamella menangis karena sunnie.. tamat sudah riwayat sunnie kalau saja hal seperti itu terjadi.
“Hiks, baiklah. Aku akan hiks menunggumu disini” Pamella tetap saja bersandiwara sambil menyeka air matanya dramatis, padahal batinnya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
‘Panggil aku sensei dalam urusan mudah bak kacang seperti ini! Hahaha aku sudah berpengalaman dalam hal seperti ini di kehidupanku yang dulu!’ batin Pamella percaya diri.
“Baik permaisuri, hamba permisi.”
‘Maaf sunnie, namun firasatku serasa tak tenang setelah mendengar pernyataan darimu. Terlebih tiba-tiba mimpi yang dihadiahkan elvareta muncul di dalam fikiranku. Jadi, terpaksa aku harus membohongimu’ batin Pamella bersuara.
Pamella sungguh sangat tak mau membohongi sunnie yang telah bersedia menemaninya saat suka dan duka.
Pada akhirnya ketika telah sampai di taman yang dimaksud, mata Pamella terbelalak melihat pemandangan mengejutkan di depannya.
“Hey, coba bilang padaku.. kenapa taman ini seperti tak ada bentuknya? Bagaimana bisa bunga lavender ini terpisah dengan sendirinya dari tangkainya padahal tidak ada orang di sekitar sini?.”
Pamella berucap dengan nada yang bergetar, katanya.. suami, kakak dan ayahnya berada disini kan? Lalu kenapa pemandangan taman ini seperti ini?.
Pamella lalu berlarian kesana kemari, ketika ia nyaris berteriak memanggil nama orang-orang yang memiliki hubungan dengannya matanya menjadi beku. Nafasnya memburu akibat rasa terkejut yang menjulang tinggi di dalam dirinya.
Baru saja Pamella ingin berteriak, suaranya serasa hilang saat mendengar suatu pernyataan.
“Mengapa anda menggunakan sihir hitam untuk membangkitkan Pamella, tuan Thomson? Anda tahu kan.. sihir hitam dilarang disini, akibatnya sekarang selubung sihir kekaisaran hampir pecah.”
“Hamba hanya tak bisa melihat mayat Puteri hamba sendiri, yang mulia” ayah Pamella terlihat tegar walau tubuhnya dan tubuh Yudha sama-sama bersimbah darah.
Dan yang paling mengejutkan, wajah Yudha tak berseri-seri, wajahnya itu bagai es. Apakah, kakaknya itu...
Assasinnya kaisar? Kalau begitu, kakaknya hanya berdasar pada perintah kaisar? Benarkah ini?.
“Seharusnya hamba yang bertanya, kenapa yang mulia tak menghentikan Pamella padahal yang mulia tahu bahwa Pamella akan terjun ke tebing saat itu?.”
DEG
Hati Pamella serasa tercabik ketika mendengar hal itu.
“Yang mulia, kakak, ayah apa yang terjadi disini?! Maksud kalian itu apa?.”
Hanya karena suara cempreng Pamella, perhatian tiga lelaki disana terpusat pada Pamella.
“Pamella..” Yudha menatap sendu adiknya yang terlihat mengeluarkan kepulan asap hitam, inilah akibat dari sihir hitam.
CLING
__ADS_1
Kaisar menatap lekat pada Pamella yang terlihat berbeda, setelahnya pandangan kaisar alihkan para seorang wanita yang baru datang.
“Aku.. muncul di saat yang tepat bukan?.”
“Elvareta.. jangan-jangan kau juga merahasiakan ini semua dariku? jadi.. sejak awal aku hanya alat bagi kalian semua?” balasan Pamella membuat mata elvareta yang baru muncul menjadi sendu.
“Aku sudah memberi petunjuk kak” sahut elvareta nyaris memalingkan wajahnya, namun gadis bersurai biru itu ingat jika Pamella dibiarkan dengan kepulan asap seperti itu akan bahaya bagi negeri ini maupun Pamella sendiri.
Tangan Pamella langsung melirik ke sebuah jurang yang membentang di samping mereka, apakah disini tempat yang dimaksud oleh mereka tadi?.
Mata Pamella yang berkabut menatap ke arah kaisar yang nyatanya menolak untuk menatapnya, jadi.. perkataannya itu benar?.
“Elvareta..” Pamella hanya menatap kaisar yang terlihat memberi kode pada elvareta.
“Baik kak!” elvareta langsung bertindak saat kepulan asap itu bertambah tebal plus ketika sudah mendengar aba-aba dari kakak lelakinya, ia meraih tangan elvareta membuat Pamella tiba-tiba merasakan sesuatu yang menggerogoti tubuhnya.
Tapi, dibanding merasa kesakitan Pamella merasa bahwa dirinya mengantuk, perlahan matanya menutup sebelum itu ia melirik ke arah sang ayah yang sudah dibekuk oleh Yudha.
Bagaimana ini bisa terjadi? dan mengapa?.
“Semuanya akan berjalan dengan baik, Pamella hingga kau tak akan sadar bahwa hal seperti ini pernah terjadi padamu.”
Bibir ayahnya berseru tanpa suara yang mana membuat air mata Pamella luruh untuk kesekian kalinya.
Kenyataan telah terbentang di hadapannya, terlebih dari segalanya.. apakah ia bisa menghadapi kaisar nanti?.
_________________________________
Sorry nih, dilihat dari segi waktu sepertinya author tak bisa up lagi di hari ini.
Lanjut besok saja ya? Rasanya mata author sudah sangat lelah, selain itu.. otak author agak macet :). Ah sedikit info, ini itu.. permasalahan menuju konflik utama.
Sepertinya ni novel tak akan tamat dengan mudah jika mengingat bahwa identitas L dan S belum terungkap, lalu.. siapakah orang yang mengawasi Pamella di bab-bab yang lalu?.
Nah, teruntuk para kakak readers yang selalu mensupport author, author sampaikan terima kasih banyak!.
See you again in new chapter!.
-Nadira
__ADS_1