
...Huaa, maaf readers. Author baru sadar bahwa ada satu bab yang tertinggal, maka dari itu banyak yang seperti loncat-loncat....
...Karena author baru sadar saat novelnya sudah tamat dan tak memungkinkan untuk author menghapus semua bab setelah ini, maka author gabungkan saja dua bab, sehingga ini menjadi sedikit panjang, maafkan author 😫....
...***...
Sunnie terlihat ngos-ngosan sambil memandang nona pamellanya dari belakang, entah sejak kapan nonanya bisa berlari secepat ini.
Bukannya sunnie tidak bisa berlari namun.. ia sudah cukup berlari kemarin maupun sekarang karena itulah ia agak segan jika diajak berlari.
Namun siapa sih yang bisa menolak Pamella jika gadis itu sudah memasang wajah imutnya?
Terlihat cukup gemas Dimata sunnie karena ia sudah memiliki sesuatu yang lebih gemas dari nonanya.
"Sunnie! Ayo sini, tidak mungkin kalau kamu tidak kuat! Pasti kuat ayo!" Teriak Pamella dari depan sana sejenak sunnie terhenyak ketika melihat Pamella yang berlarian kesana kemari.
Eh tunggu, sejak kapan sang nona suka berlari?
Namun daripada memikirkan sesuatu yang lebih dalam lagi sunnie berlari mendekati nonanya tanpa suara.
"Eh astaga! Tau-tau kamu sudah berada disini saja! Tapi kenapa tadi aku tidak mendengar suara langkah kakimu sunnie?" Tanya Pamella heran sebab tiba-tiba saja gadis itu sudah berada di sampingnya.
Masa sih tanpa proses? Yang namanya berpindah tempat pasti dilakukan dengan berjalan maupun berlari dan sebagainya bukan?
"Maaf non, tapi mungkin anda terlalu fokus dengan bunga hingga anda tidak mendengar langkah kaki saya," jawab sunnie dengan tenang, tak terdapat raut panik sama sekali di wajahnya.
"Lagipula, tidak mungkin kan jika saya berjalan atau pun berlari tanpa suara?" Tanya sunnie mengedarkan pandangannya melihat bunga bunga lavender yang mulai bermekaran seraya memberikan jawaban yang cukup kompeten bagi Pamella.
"Benar juga, kamu kan manusia! Jadi kalau berjalan pasti ada suara," jawab pamella menganggukkan kepalanya mengerti.
Setelah melakukan sarapan bersama keluarganya, Pamella berada di kediamannya sendirian kakak dan ayahnya dipanggil untuk ke istana entah urusan pengadilan tinggi atau urusan dirinya yang tiba-tiba memperoleh jepit legendaris.
Ayah maupun kakaknya jelas tak akan membiarkan Pamella ikut campur dalam urusan politik.
"Nona anda kenapa?" Tanya sunnie ketika melihat wajah murung Pamella.
"Sunnie.. apa Harem kekaisaran itu sangat menyeramkan? Apa aku akan masuk di Harem itu menjadi permaisuri atau menjadi selir?" Tanya balik Pamella.
Ia sudah sangat kacau hari ini hingga ia tak memperhatikan tatapan sunnie yang tiba tiba menjadi sendu.
"Nona.. anda tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti ini, tuan yudha dan tuan besar pasti memberikan yang terbaik untuk nona," jawab sunnie.
Ah benar, harusnya Pamella ingat jika ia mempunyai ayah dan kakak yang sangat menyayanginya.
Benar.. setidaknya untuk saat ini Pamella bisa berfikir begitu.
"Kamu benar sunnie, mereka pasti akan memberikan keputusan terbaik untukku" balas pamella.
Ia harap ia tidak akan bucin kepada kaisar seperti tokoh tokoh novel yang sering ia baca dulu.
Dengan begitu jika kaisar memutuskan untuk mengambil isteri kedua Pamella tak akan sakit hati.
Ia harap begitu, entah apa alur yang diciptakan oleh orang-orang akan berfungsi padanya atau ia yang akan membuat takdir baru.
"Kesejahteraan menyertai kaisar negeri alpensha," ucap sunnie tiba tiba seraya menundukkan kepalanya.
"Hah?" Beo Pamella, saat ini otak antik Pamella sedang mogok.
"Bangun."
Satu kata di belakang Pamella membuat interaksi antara gadis itu dan sunnie berhenti dengan mendadak.
Loh.. dia kesini hanya berdua dengan sunnie.
Lalu siapa yang ada di belakangnya ini? Pamella panik tak karuan ia bahkan sampai lupa dengan salam dari sunnie yang memperlihatkan jelas siapa yang berada di belakang Pamella.
Pamella membuang bunganya secara acak dan berniat berlari hingga saat ia berbalik hidungnya menubruk di dada seseorang yang cukup yah cukup bidang.
Eh tunggu?
__ADS_1
Pamella mendongakkan kepalanya melihat kaisar yang saat ini tengah menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Entah apa yang difikirkan sunnie setelah melihat ini!
Sadar Pamella bergerak meminta dilepaskan dan yah permintaannya terkabulkan bersyukur saja.
"Kesejahteraan menyertai kaisar negeri alpensha," ucap Pamella menunduk dan menarik sedikit ujung gaunnya dengan anggun.
"Bangun, kamu tidak perlu sesopan itu padaku" balas kaisar dengan datar, entah apa yang dialami pria itu hingga ia sudah seperti tidak memiliki ekspresi.
Jujur saja Pamella bergidik ngeri sendiri, orang yang biasanya menyendiri, orang yang biasanya datar dan dingin itu pasti memiliki masa lalu yang menyakitkan.
Karena tidak mungkin kan jika wajah dan ekspresi datar itu hadir tanpa sebab? Setiap peristiwa di dunia ini jelas memiliki proses.
Pertanyaannya... Kenapa bisa wajah itu hadir? Seharusnya kaisar ini bahagia ia bisa menikahi banyak orang, orang orang juga pasti melayaninya tanpa diminta.
"Anda kepala negeri ini yang mulia, saya harus menghormati anda," sahut Pamella mendongakkan kepalanya.
Pamella ingin melihat sunnie namun naasnya saat ia menoleh ia sudah tidak melihat sunnie yang tadinya berdiri disana.
Kenapa Pamella sama sekali tidak mendengar langkah kaki dari sunnie? Apalagi jika sunnie berlari harusnya suara gesekan antara rumput dan alas kaki sunnie akan menimbulkan suara kan?
"Dia sudah pergi," ucap kaisar ketika melihat Pamella yang seperti mencari seseorang.
Gadis ini memiliki banyak ekspresi karena itu mimik wajahnya sangat mudah untuk ditebak.
"Eh.. mohon maaf yang mulia, tapi apa anda melihat pelayan saya?" Tanya Pamella yang tak mengerti ucapan kaisar.
Namun.. hanya mereka berdua yang berdiri di tengah tengah hamparan bunga lavender bahkan ren tidak ada disitu.
"Dia pergi," jawab kaisar atas pertanyaan Pamella.
Setelah memutar otaknya sebentar Pamella akhirnya mengerti sunnie pergi namun.. seperti pertanyaan Pamella tadi.
Kemana suara langkah kaki sunnie? Tak mungkin kan jika di zaman ini ada sesuatu yang kedap suara? Ah melantur!.
Batin dan otak Pamella berdebat memikirkan ini.
"Begitu ya, yang mulia ren ke-" tanya Pamella karena ia tak ada topik dan masih canggung, ia berniat menanyakan ren hanya untuk topik namun naas nya pertanyaannya harus melambung di udara.
________________________
Aktivitas jalan-jalan sepertinya bukan hal yang baik untuk seorang Pamella Thomson.
Ia sekarang berada di aula pengadilan tinggi.
Saat ia ingin bertanya posisi ren malah ada salah satu pejabat yang menyeretnya ke masalah di pengadilan tinggi.
Pamella menjadi salah satu terdakwa karena dituduh meracuni salah satu Puteri bangsawan lainnya yang bahkan memiliki posisi yang lebih rendah darinya.
Katanya kemarin ia meracuni gadis itu, padahal kemarin ia menghabiskan hari bersama kaisar negeri Alpensha!
Oh my God! Siapa sih yang menuduh Pamella?
Bahkan kaisar terus memandang tajam ke arah pejabat yang menyeretnya secara paksa.
"Nona Pamella, anda meracuni Puteri saya kan?! Apa salah Puteri saya? Saya tahu posisi saya lebih rendah dari tuan Duke tapi saya tetap tidak terima dengan perlakuan anda!" Ucap bangsawan yang menuduhnya.
"Mohon maaf tuan?! Jangan lupa posisi mu, jangan meninggikan suara mu di depan Pamella," ujar ayahnya dingin.
Eh.. darimana Duke belajar seperti ini?
"Bagaimana saya tidak?!-"
"Maaf tuan! Hormati ayah saya, dan lagi.. saya tidak meracuni siapapun lagi pula atas alasan apa saya meracuni Puteri anda yang bahkan saya tidak kenal itu siapa?" Balas Pamella sarkas.
"Anda dengar tuan? Adik saya tidak meracuni siapapun!" Bela Yudha.
"Mana ada penjahat yang berani mengaku!" Balas bangsawan yang membuat ayah, Yudha dan kaisar naik darah.
__ADS_1
"Jaga sopan santun anda pada calon permaisuri saya!" Ucap kaisar penuh penekanan.
"M-mohon maaf yang mulia! Tapi bagaimana bisa orang ini jadi permaisuri jika kelakuan nya dengan Raisa, putri saya saja begitu?" Balas orang itu tetap Keukeh namun nada bicaranya menurun.
‘Oh ternyata namanya Raisa?’ batin Pamella.
"Hiks, ayah biarkan saja hiks. Saya tidak apa-apa," Isak tangis gadis bangsawan memenuhi telinga Pamella. Pamella bahkan melihat dengan jelas bahwa simpati para bangsawan mengarah ke Raisa.
Pamella yang panas karena ayahnya sedikit dibentak pun menatap tajam gadis yang berada di samping penuduhnya apalagi ada kata 'ayah' keluar dari mulut gadis itu.
"Nona? Katanya saya meracuni anda? Lalu racun apa yang bisa hilang dalam kurun waktu satu hari? Bisa anda jelaskan? Selain itu.. kapan tepatnya! Saat saya meracuni anda? Dimana? Dan dengan cara seperti apa?"
Tanya Pamella mencoba mengontrol emosinya dan mendekat ke nona bangsawan yang berani menuduhnya.
Sang ayah dan kakak sontak terkejut melihat perubahan Pamella namun mereka tetap diam.
"T-tentu itu karena tabib yang hiks mengobati saya cukup tanggap.. lagipula hiks tabib jendura tabib yang cerdas, b-bukankah ayah hiks saya sudah bilang kalau hiks nona meracuni saya kemarin?" Jawab gadis itu, Raisa cerra.
"Nona Cerra! Puteri saya sudah bilang kan? Ceritakan dengan detail," balas ayahnya.
"Kenapa Puteri saya harus menjelaskan jika semuanya sudah terlihat jelas tuan?" Tanya bangsawan itu lagi.
Setelah ber menit menit lamanya, perdebatan masih kental di aula pengadilan tinggi.
Hingga Pamella jengah sendiri mendengarnya.
"Tuan, anda pasti tahu konsekuensinya jika seorang bangsawan berani berbohong dengan menuduh bangsawan lain yang lebih tinggi darinya?" Pamella kembali angkat bicara.
Tuduhan seperti ini.. ia sudah berpengalaman! Sama saja seperti zamannya dulu.
"Dan anda pasti tahu konsekuensi jika anda berani berbohong di hadapan yang mulia?" Sambung Pamella ketika melihat bangsawan dan anaknya ini mau membalas.
Sontak semua pejabat, ayah, termasuk Yudha melihat ke kaisar yang duduk di kursi tahta.
Sedangkan Pandangan Pamella masih terfokus ke nona bangsawan ini.
Oh iya.. bukankah tadi kata ayahnya nona ini berasal dari bangsawan cerra?
"Nona Cerra.. apa anda tertarik dengan penjara bawah tanah?" Tanya Pamella makin menekan Raisa.
"Maaf nona hiks saya hanya berkata hiks yang sebenarnya," balas si nona cerra masih terisak.
Pamella yang geram langsung menatap tajam pada kaisar dan ren, dan hal itu tentu membuat seluruh orang yang berada di aula terkejut.
Tidak ada yang berani menatap tajam kaisar negeri ini, bahkan mereka tadi setengah menunduk saat menatap kaisar.
"Yang mulia, tolong Panggil tabib jendura yang paling cepat tanggap di negeri ini," ucap Pamella tetap menatap nyalang pada kaisar.
Kaisar menatap ren yang mengangguk dan pergi.
Bukankah nona cerra bilang jika tabib yang menanganinya cepat tanggap hingga bisa membuat racun yang katanya berbahaya dalam waktu satu hari? Bukankah ini mustahil?
Jika racun ini berbahaya maka racun ini pasti sudah memb*nuh nona cerra setelah ia mengkonsumsinya.
"U-untuk apa anda memanggil tabib nona?" Tanya si tuan besar bangsawan cerra tersebut.
"Kenapa anda gugup tuan? Jika Anda benar maka biarkan saya bertanya pada tabib itu dan jika anda berbohong.. maka seperti yang saya tanyakan anda pasti tahu konsekuensinya," jawab Pamella tegas.
Sontak semuanya terkejut lagi melihat ketegasan Pamella, beberapa rumor mengatakan jika Pamella hanya gadis bungsu Duke Thomson yang manja.
Jadi banyak yang tidak menyangka jika gadis ini bisa berteriak dengan lantang dan tegas.
Tak berselang lama ren kembali masuk ke aula ditemani oleh seorang yang cukup tua.
"Kesejahteraan menyertai kaisar negeri alpensha," salam ren dan orang itu terlebih dahulu setelahnya ren baru memperkenalkan orang di sampingnya.
"Yang mulia, nona saya membawa tabib jendura yang paling cepat tanggap, terkenal dan paling dekat dengan kediaman bangsawan andera" ucap ren.
"Terima kasih ren, dan anda tuan? Apakah anda mengobati nona Raisa cerra yang katanya pernah terkena racun berbahaya? Racun jenis apa? Bagaimana anda bisa menyembuhkannya dalam waktu sehari?" Tanya Pamella beruntutan hingga menimbulkan tanda tanya di benak tabib itu.
__ADS_1
________________________