Puteri Bungsu Sang Duke

Puteri Bungsu Sang Duke
05. Jepit apa sih? #2 (REVISI)


__ADS_3

Pamella terdiam di kamarnya dengan waktu yang cukup lama setelah mendengar penjelasan ayahnya yang masih terngiang-ngiang di telinganya.


' Pamella, ini jepit turun temurun di kekaisaran.. semua calon permaisuri akan mendapat jepit ini sebagai tanda kalau gadis yang memakai jepit ini itu gadis milik yang mulia'.


' T—tapi yah.. aku bahkan tidak pernah bertemu dengan yang mulia akhir-akhir ini, kenapa yang mulia memberi jepit itu kepadaku?'.


' itu seharusnya kamu yang tahu bukan pamella?, bagaimana bisa kamu mendapat jepit ini?'.


'Ayah.. sudah berapa kali aku berbicara tentang ini? Aku tidak tahu!'.


Nb: yang bertuliskan miring penjelasan ayah Pamella, yang tebal plus miring itu ucapan Pamella.


Oh astaga! Apa coba dendam kaisar itu padanya? Orang ia saja tak pernah tuh ketemu sama si kaisar kaisar itu, Yah ia akui saat itu ia agak sedikit salah maksudnya saat berada di sekitar kediaman kaisar, ia dengan lancangnya mempertanyakan kaisar.


Namun hal yang seperti ini jelas tidak bisa diterima oleh nalar Pamella. Jika pangeran yang ditemui Pamella saat itu mengadu pada kaisar setidaknya kaisar harus mengambil jalur balas dendam yang normal kan? Paling ringan deh! Setidaknya Pamella diasingkan saja, jangan dibuat mengemban status seperti ini.


Eh, lalu... kapan jepit itu diletakkan di kepalanya?.


^^^(Edit: kalau penasaran flashback tentang ini ada di chapter terakhir cerita ini di judul ‘flashback’.)^^^


"Nona," panggil sunnie yang baru kembali membawa gaun yang tentunya diantar oleh pegawai toko jelas mengagetkan Pamella yang masih merenung.


“Saya izin masuk non,” kata sunnie, Pamella pun mengangguk mengizinkan pelayan pribadinya itu untuk masuk ke kamarnya.


Setelahnya, sunnie pun menyimpan gaun Pamella di almari, ia meletakkan gaun nonanya sesuai warna jadi terlihat teratur dan indah.


"Ada apa nona? Kenapa anda murung begitu?" Tanya sunnie heran sebab tak biasanya sang nona murung begini.


"Bagaimana aku tidak murung? Yang mulia s*nting itu tiba-tiba memasangkan jepit yang turun-temurun padaku! Padahal ketemu saja tidak pernah!" jawab Pamella menggerutu sebal.


"Lalu belum nanti kalau ada orang yang berniat membunuhku! Belum mengurus Harem kekaisaran, aku lebih memilih mati berdiri daripada mengurusi itu semua," gerutu Pamella lagi.


"Nona... Anda berfikir sejauh itu?" Tanya sunnie yang tak habis fikir biasanya nonanya akan bilang 'apapun itu jalani saja yang sekarang masa depan ya masa depan.'

__ADS_1


Itu bahkan sudah seperti slogan yang selalu dipakai nonanya dimana mana namun sekarang.. Apa yang berlaku saat ini?.


"Tentu saja! Kita juga harus tetap memikirkan sebab dan akibat dari kelakuan kita. Kelakuan kita di masa sekarang pasti akan berpengaruh di masa depan," jawab Pamella lebih gusar.


"Anda tenang saja nona... Yang mulia tidak akan memaksa anda-" baru saja sunnie berucap begitu kakaknya nyelonong masuk tanpa permisi.


"Kak! Ketuk dulu itu pintu bukan untuk pajangan!" Tegur Pamella, namun saat ia melihat kehadiran kakaknya seperti ada sesuatu yang... agak janggal.


"Pamella, yang mulia ada di depan katanya mau menjemput mu" ucap Yudha tanpa memperdulikan teguran pamella.


"H-hah?!"


Kali ini bukan hanya Pamella yang terkejut, sunnie pun ikut terkejut mendengar ucapan Yudha hingga ia tersadar lalu membuka almari Pamella lagi.


"Nona.. mana gaun yang anda suka? Nona harus bersiap siap dahulu sebelum pergi dengan yang mulia," ucap sunnie mulai mencari dan mengambil gaun.


"Tunggu sunnie mungkin kakak hanya bercanda, iya bercanda hahaha! Kak candaan kakak tidak lucu sama sekali," balas Pamella tertawa garing.


Yudha menarik nafas pelan menghadapi sang adik "Pamella, kakak tidak bercanda! Yang mulia ada di depan sebaiknya cepat bersiap, kakak pergi dulu."


"Sunnie! Ah yang itu saja, eh jangan yang itu saja! Aduh mana ya yang bagus? Yang ini bagus," ucap Pamella berbicara sendiri sedangkan sunnie tidak berbicara apapun karena ia sendiri sama paniknya dengan sang nona.


"Nona tenang dulu, kita pilih pelan-pelan saja," balas sunnie menenangkan Pamella.


"Yang ini bagus nona?" Tanya sunnie menunjukkan gaun berwarna putih yang akan membuat Pamella terlihat seperti bidadari.


"Iya! Itu bagus, ayo pakai yang itu saja!" Ucap Pamella sedikit lega.


________________________


Pamella sekarang berada di dalam kereta kuda, entah kemana kaisar tirani ini akan membawanya.


Semoga.. kaisar ini tidak akan berniat menceburkan pamella ke sumur atau bahkan lebih parah ke laut.

__ADS_1


Apakah kalian tau? Pamella hampir terkena serangan jantung ketika ia mengetahui bahwa orang yang ia kira sebagai pangeran itu kaisarnya! Atau, mereka memang mirip hingga Pamella salah menduga?


"Kau tidak punya mulut?" Tanya kaisar itu karena memang sedari tadi Pamella maupun dirinya tidak berbicara.


"Maaf yang mulia.. saya hanya tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan yang mulia," jawab Pamella se-sopan mungkin padahal hatinya berkata lain.


' apa ? Tidak punya mulut katanya? Gila memang! Dasar pucek you sudah jelas-jelas bahwa aku memiliki mulut, matanya buta apa?!' batin Pamella sudah menyiapkan kata mutiara yang sangat sangat luar biasa cantik. Sayang sekali, kata-kata mutiara itu hanya bisa ia keluarkan di dalam batinannya.


Bertanya tentang jepit pun Pamella jelas tak berani, nyalinya seketika menciut tatakala aura kaisar ternyata lebih menyeramkan dari abang-abangnya di masa modern.


"Ren, buat kami tertawa," titah kaisar dingin seraya menatap ke arah ren yang juga duduk di sampingnya.


Karena memang.. ren itu pengawal pribadi kaisar, ia disuruh kaisar disini karena kaisar sudah menduga kalau suasananya akan jadi canggung seperti ini. Istilahnya, ren itu hanyalah seseorang yang akan dibawa jika kaisar membutuhkannya saja.


"Eh, h—hamba? Maaf yang mulia namun hamba tidak bisa membuat perkataan yang lucu," balas ren yang Pura-pura tidak melihat tatapan tajam dari kaisar.


"Ren?"


Mendengar suara itu Pamella dan ren bergidik ngeri melihat kaisar yang sepertinya sudah siap meledak.


"A-ah iya.. hahaha nona anda tahu ikan ikan apa yang tidak punya duri?" Tanya ren ke arah Pamella yang terlihat sama pucatnya dengan dirinya. Bukannya malah rileks kaisar malah membuat Pamella lebih takut lagi.


"Sa—saya tidak tahu tuan," jawab Pamella berusaha tidak menatap mata tajam kaisar, ia berusaha fokus untuk menatap mata ren.


"Ikan tahu, ikan tempe hahaha, oh iya nona. Nona bisa memanggil saya ren," sahut ren.


"Baik ren, ucapanmu tadi lumayan lucu juga," balas Pamella yang pusing sendiri ingin bicara apa.


"Sampai," ucap kaisar tanpa hujan tanpa angin hingga Pamella terjingkat sendiri beruntung ren memegangi Pamella jadi dirinya tidak sampai terbentuk atap di dalam kereta itu.


‘ Ck, apa sih masalah kaisar ini?’ batin Pamella bersuara kembali dengan begitu kesalnya. Miris namun nyata, Pamella memendam banyak dendam kesumat pada kaisar.


Akan tetapi, Pamella juga tahu bahwa dirinya tak bisa menentang kekuasaan tertinggi di negeri yang ia tempati saat ini.

__ADS_1


________________________


__ADS_2