
Elvareta, gadis bersurai biru berlian itu memandang jauh ke arah langit dari menara istananya, yah istana kekaisaran beram.
“Kenapa kau ada disini?” pertanyaan dingin itu menyapa pendengaran elvareta, nyatanya mereka bahkan belum berbaikan hingga saat ini.
Nyata atau tidak, kesakitan batin yang elvareta alami selama ini...
“Hamba hanya berfikir mengapa yang mulia hanya membiarkan hamba dua jam disana? Kakak pasti memerlukan hamba disana, hamba juga tidak tau bagaimana perasaan kakak permaisuri saat ini.”
Entah bermaksud menyindir atau apa, yang jelas inilah kondisi mereka saat ini. George akhirnya selalu mengekang permaisurinya.
“Hanya karena itu?” sahutan dari George hampir membuat elvareta mencekik leher pria itu.
“Benar yang mulia.”
“Hah! Entah sampai kapan panggilan formal mu itu akan bertahan.. elvareta?” sejujurnya setiap orang memiliki perasaan begitu pula dengan George.
Hanya saja.. kondisinya bahkan lebih parah dari pamella-kaisar, “Mungkin selamanya.. yang mulia?.”
Setelah balasan yang dilontarkan elvareta terdengar, keheningan melanda mereka berdua. Keadaan yang sudah tak sama seperti dahulu seringkali membuat elvareta maupun George terlihat seperti orang asing padahal mereka ini sudah terikat hubungan suci.
Alur kehidupan yang hampir mirip dengan lagu ‘lily (Alan Walker)’ membuat elvareta bertambah ngenes. Sudah masa kecilnya dikurung di istananya dulu walau itu demi kebaikannya dan syukurnya ia masih dapat kasih sayang saat itu.
Ehh ternyata sampai besar masih ada aja cobaan, seperti.. terbunuhnya seluruh anggota keluarga elvareta dalam waktu singkat untuk melindunginya, serta.. kekecewaannya pada George saat ini. Hal ini tentunya membuat kegelapan senantiasa tumbuh di dalam hatinya.
Tak ada yang tau, kegelapan itu perlahan mulai membesar.
***
Tak jauh berbeda dari keadaan elvareta, Pamella pun ikut-ikutan memandang bintang di langit.
Bintang itu terlalu tinggi untuk digapai oleh seorang Pamella, untuk saat ini.. Pamella memperumpamakan si bintang sebagai kebahagiannya.
“Kapan aku bisa menggapainya?” meskipun Pamella ingin mencari sang ayah.. bagaimana caranya? Kaisar jelas tak akan membiarkan Pamella lari. Selain itu, jika ayahnya benar-benar berada di penjara maka.. hati mungilnya pasti akan terluka.
Tapi mau bagaimana lagi? Jika diambil dari sudut pandang netral ayahnya terlihat bersalah, hanya saja.. Pamella itu anak yang berusaha dibangkitkannya! Jelas pandangannya berbeda.
Tanpa menjadi cenayang pun Pamella tahu bahwa saat ini gosip tentang dirinya, ayahnya dan kakaknya pasti sudah tersebar ke seluruh penjuru negeri.
__ADS_1
Begitu mudahnya orang-orang berasumsi tanpa memandang kesalahan yang mereka lakukan, disebut apa hal ini? Kegilaan kah?.
‘Seandainya, seandainya saja aku tidak mencintai kaisar.. apakah semuanya akan berubah?’ sebenarnya ini hanya fikiran Pamella saja.
Sebab dari awal, ayahnya memang akan ditangkap karena tak mengutarakan langsung pelaku sihir hitam tersebut.
Perkiraannya adalah, ayahnya memang tahu bahwa ada penyihir sihir hitam! Namun dia tak pernah mau mengungkapkannya, jadi.. kekaisaran menggunakan Pamella sebagai umpan.
S*alan! Dibicarakan beribu-ribu kali pun masih akan tetap menyakitkan bagi Pamella.
“Pada akhirnya, semuanya akan berakhir begini saja” gumam pamella. Ia rasa, hidup pun sudah menjadi kehambaran saat ini.
SRAK, TOK TOK TOK
Pamella menatap pintu ruangan dengan pandangan horor, siapa yang berani bertindak demikian di kamar kaisar ini?.
“Pamella, ini aku.”
DEG
“Iya ini aku” balasan dari luar itu sukses membuat pamella berlari menuju pintu.
“Kenapa kau ada disini ca? Jika yang mulia tau tamat riwayatmu” Pamella mengingatkan Caca alias Bianca yang bertindak nekat dengan menemuinya.
“Tak peduli! Yang penting aku bisa bertemu denganmu, buka pintunya pamella” Pamella tersenyum tipis mendengar balasan bianca. Sudah lama sekali sejak Pamella dan Bianca berbincang.
KRIET
Pamella membuka pintu secara perlahan, lalu menarik tangan mulus Bianca dan langsung menutup kembali pintunya.
“Bagaimana kabarmu ca? Sudah lama kau tidak membalas suratku” Pamella bertanya pada Bianca, padahal kondisinya sekarang lebih mengenaskan daripada Bianca.
“Pamella! Lihatlah keadaan di sekitarmu, kau bahkan lebih sengsara dariku. Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa kau terluka? Apa yang mulia menyakitimu tadi?” balas Bianca menatap penuh kekhawatiran pada Pamella.
“Aku.. aku baik-baik saja, caca” sahut Pamella yang memilih untuk menyembunyikan keadaannya takut jikalau Bianca juga akan menjauhinya nanti.
“Pamella, sejak kapan kau bisa berbohong padaku? Aku sudah tau apa yang terjadi.. aku tak akan menjauhi mu Pamella” Bianca menggoyang-goyangkan bahu Pamella, agar Pamella tau bahwa Bianca tidak menganggap Pamella sebagai permaisuri melainkan sahabatnya.
__ADS_1
Mata berkaca-kaca Pamella pun kembali hadir ketika mendengar ucapan Bianca, “Hiks.. aku tidak tau kalau akhirnya akan jadi seperti ini ca, kalau tau pun aku akan memilih untuk membawa keluargaku pergi dari sini!.”
Bianca menarik Pamella dan memeluk wanita itu, Pamella pun menangis sejadi-jadinya di dekapan Bianca. Pamella bahkan tak terfikir, bagaimana bisa Bianca masuk? Lalu.. kenapa para pengawal maupun pelayan tak datang saat mendengar suara tangisannya?.
Yah, terlalu intens jika kau menyebutnya sebagai kebetulan. Tentunya ada back scene di dalam kejadian ini.
“Pamella, tenanglah! Aku selalu berada di pihakmu. Aku yakin paman Thomson memiliki alasan untuk menyembunyikan kebenaran tersebut!” Bianca mengelus punggung Pamella pelan berharap Pamella lebih tenang, yah walau Bianca tau itu tak akan membuat Pamella tenang.
Namun ia hanya bisa mencoba yang terbaik.
“Hiks lalu bagaimana ca? Kau kan hiks pasti mendengar pembicaraan di luar sana? Apa mereka tau siapa penyihir itu?” tak urung Pamella merasa bahwa si penyihir ada kaitannya dengan dirinya.
“Yang mulia belum memberi informasi tentang ini, namun.. mereka menduga bahwa pelakunya adalah.. Hery Morgen, tuan muda bangsawan keluarga morgen.”
DEG
“Jadi..” Pamella menggantung kalimatnya, kepalanya memutar memori dimana ia dan Hery terakhir bertemu. Ini maksudnya hery?.
“Jadi kenapa Pamella? Kau mengenal tuan Hery Morgen?” tanya Bianca memegang lengan Pamella dan membuat Pamella menatap mata Bianca.
Bianca nyaris berdecak saat ia melihat jejak air mata Pamella, rasanya Bianca ingin berhadapan langsung dengan kaisar ini.
“Aku.. mengenalnya.”
Melihat mata sendu Pamella, Bianca menutup mulutnya rapat menolak untuk membahas tentang Hery Morgen lagi.
“Pamella, aku harus menghadap kaisar sekarang! Seharusnya kalau dia tak niat menikahimu jangan dinikahin!.”
Pamella tersenyum tipis ketika mendengar ucapan berani Bianca, “Tidak perlu ca.. kehadiranmu disini sudah cukup untukku agar aku bisa bertahan.”
Bianca membulatkan bola matanya ketika menangkap maksud lain dari perkataan Pamella.
“Maksudmu apa? Kau tadi berniat untuk menghilangkan diri dari dunia ini?” pekikan Bianca terendam ketika ia mengingat kondisi Pamella saat ini.
“Emmh, aku..” Pamella kelihatan bingung untuk mencari alasan, namun yang pasti. Tebakan Bianca saat ini sudah sangat tepat.
_________________________________
__ADS_1