PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS SATU


__ADS_3

Pintu rumah itu dibuka menampilkan sesosok orang berambut putih dengan janggutnya yang juga berwarna putih.


"Kakek Shi!" pekik pangeran Zhan dan Xuan Lan bersamaan.


•••


Kakek Shi hanya tersenyum. Ia lalu mempersilahkan dua orang dihadapannya untuk masuk ke dalam.


"Duduklah, aku akan membuatkan kalian minuman" ucap kakek Shi ramah.


Xuan Lan dan pangeran Zhan menuruti apa yang dikatakan kakek Shi. Mereka berdua duduk di lantai karena tidak ada kursi di rumah ini. Tak lama kemudian kakek Shi sudah membawa nampan yang berisi gelas bambu di atasnya.


"Minumlah, kalian pasti haus" ucap kakek Shi lagi.


Xuan Lan dan pangeran Zhan segera meminum air itu. Mereka berdua merasa langsung segar dan tidak letih lagi.


"Jadi apa tujuan kalian kemari?" tanya kakek Shi.


"Apakah kakek orang yang dibicarakan di dalam buku itu?" tanya Xuan Lan.


"Buku apa?" tanya kakek Shi tidak paham.


"A-aku tidak mengetahui judulnya tetapi tujuanku kesini adalah untuk membuka segel yang berada di dalam dantianku" ucap Xuan Lan.


Kakek Shi hanya tertawa menanggapi ucapan Xuan Lan. Ia tidak mengucapkan apapun yang membuat Xuan Lan merasa bingung.


"Bagaimana kek?" tanya Xuan Lan.


"Ya, tujuanmu sudah tepat karena datang kemari dan menemuiku" ucap kakek Shi.


"Apakah segel di lengan mu sudah hilang?" tanya kakek Shi lagi.


"Sudah kek" ucap Xuan Lan.


"Sekarang kalian perlu beristirahat. Xuan Lan kau tidur di dalam sana dan Zhan kau akan tidur disini" ucap kakek Shi kemudian pergi bergitu saja.


"Apa maksudnya ini Xuan Lan?" tanya pangeran Zhan.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin kita memang perlu beristirahat terlebih dahulu baru menanyakannya lagi" ucap Xuan Lan kemudian memasuki kamar yang dimaksud oleh kakek Shi. Mereka kemudian masuk ke alam mimpinya masing-masing.


Keesokan paginya Xuan Lan membuka matanya. Ia berjalan keluar kamarnya ternyata pangeran Zhan sudah ada di luar bersama kakek Shi. Mereka terlihat sedang berbicara, Xuan Lan lalu menghampiri mereka berdua.


"Apakah kau siap untuk membuka segel di dantianmu?" tanya kakek Shi langsung kepada Xuan Lan.


"Tentu, kek" ujar Xuan Lan mantap.


"Baiklah, sekarang duduklah di atas batu itu" ucap kakek Shi sambil menunjuk batu yang ada berada di dekat air terjun dekat rumah kakek Shi.


Xuan Lan hanya menurutinya. Ia mulai berjalan kesana. Sesampainya disana ia mulai mendudukkaan dirinya dalam posisi lotus. Kakek Shi kemudian menyusul Xuan Lan, pangeran Zhan hanya melihat dari kejauhan karena kakek Shi sudah berpesan padanya agar tidak mendekat saat Xuan Lan dan kakek Shi akan mencoba membuka segel dantian milik Xuan Lan karena kakek Shi tidak ingin pangeran Zhan mengganggu mereka.


"Apa kau siap?" tanya kakek Shi yang dibalas anggukan kepala oleh Xuan Lan.


Kakek Shi mulai menempelkan kedua tangannya ke pundak milik Xuan Lan.


"Tahanlah" ucap kakek Shi dengan nada yang sedikit bergetar.


Xuan Lan memejamkan matanya. Saat kakek Shi mulai menempelkan tangannya, Xuan Lan merasa hangat dan tidak merasakan hal lain selain itu. Setelah agak lama ia mulai merasa ada aliran yang mencengkeram pundaknya dengan kuat tetapi ia masih bisa menahan untuk level sakit ini. Lama kelamaan tubuh sampai kepalanya yang merasa sakit.


Xuan Lan masih menutup mulutnya dengan rapat. Ia merasa tubuhnya seperti dipasangi bom yang bisa meledak kapan saja. Pangeran Zhan melihat Xuan Lan yang kesakitan menjadi tidak tega. Ia sekarang tau alasan kakek Shi melarangnya mendekat karena jika ia berada di dekat mereka maka pangeran Zhan akan langsung melepaskan tangan kakek Shi dari tubuh Xuan Lan. Pangeran Zhan memilih membalik tubuhnya agar tidak melihat Xuan Lan yang sedang menahan sakit.


Waktu sudah berlalu selama beberapa jam namun kegiatan yang dilakukan oleh kakek Shi dan Xuan Lan belum selesai. Pangeran Zhan menjadi sangat cemas. Ia hanya mondar-mandir kesana kemari untuk menghilangkan kecemasannya tetapi itu tidak berhasil. Ia kemudian melirik sedikit ke arah Xuan Lan dan kakek Shi, mereka berdua sama-sama bergetar dengan wajah yang terlihat sama pucatnya.


Kakek Shi kemudian mengangkat kedua tangannya lalu ia menepuk punggung Xuan Lan pada akhirnya. Jika dilihat tepukan itu memang tidak keras tetapi Xuan Lan merasa seperti punggungnya sedang dilempar batu yang sangat besar dan tajam dan ia harus menahannya.


"Ahh" teriak Xuan Lan pada akhirnya.


"Uhukk" kakek Shi terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia lalu mengelap darah itu dan berbicara kepada Xuan Lan.


"Sudah, kau bisa membuka matamu" ucap kakek Shi sambil mengatur nafasnya.


Xuan Lan membuka matanya. Badannya terasa hancur dan tidak memiliki kekuatan sedikitpun, ia akhirnya pingsan karena tidak kuasa menahan rasa sakit di tubuhnya. Kakek Shi lalu memanggil pangeran Zhan untuk mendekat.


"Adikku kenapa?" tanya pangeran Zhan panik saat mendapati Xuan Lan pingsan.


"Dia hanya kelelahan, cepat bawa dia masuk ke dalam" ucap kakek Shi kepada pangeran Zhan.

__ADS_1


Pangeran Zhan kemudian mengangguk dan menggendong Xuan Lan menuju ke rumah milik kakek Shi.


___


"Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya pangeran Zhan untuk yang kesekian kalinya terhadap kakek Shi.


"Kau tenang saja, sebentar lagi ia akan sadar" ucap kakek Shi dengan sangat santai.


"Kakek selalu mengatakan hal itu tetapi sejak tujuh hari yang lalu ia masih belum sadar" omel pangeran Zhan yang merasa putus asa dengan jawaban kakek Shi.


Xuan Lan mengerjabkan matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia kemudian melihat sekelilingnya, disana terdapat pangeran Zhan yang sedang berdebat dengan kakek Shi namun kakek Shi tidak menanggapinya.


"Air" lirih Xuan Lan.


Pangeran Zhan langsung membalikkan tubuhbya. Ia kemudian mengambilkan air dan membantu Xuan Lan untuk minum air itu.


"Aku sudah mengatakan jika ia akan bangun sebentar lagi" ucap kakek Shi sambil menyesap sesuatu seperti rokok.


"Kau baik-baik saja? Apakah kau ingin makan? Apa tubuhmu terasa lemas? Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya pangeran Zhan beruntun disertai rasa khawatirnya yang membuncah.


"Aku baik-baik saja" lirih Xuan Lan.


Pangeran Zhan merasa lega. Ia kemudian mengambilkan makanan dan menyuapkannya kepada Xuan Lan. Setelah selesai, kakek Shi kembali bersuara.


"Zhan, biarkan adikmu istirahat. Kita keluar terlebih dulu"


"Ia kan sudah beristirahat selama seminggu apakah masih kurang?" tanya pangeran Zhan bodoh.


"Menurut atau adikmu tidak akan lebih baik lagi dari sekarang" ancam kakek Shi yang kemudian pergi begitu saja.


Pangeran Zhan dengan ketidakrelaan hatinya akhirnya meninggalkan Xuan Lan sendiri di kamarnya. Ia keluar dengan langkah kaki yang perlahan. Xuan Lan kemudian kembali memejamkan matanya. Ia merasa masih sangat lemas setelah sadar.


•••


**jangan lupa vote komen rate dan like.


siapa yang kaget sama covernya? sama ko aku juga kaget hehe**

__ADS_1


__ADS_2