PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
TUJUH PULUH TIGA


__ADS_3

"Menduga apa hah? Kau ingin menuduh adikku melakukan yang tidak-tidak hah?" bentak pangeran Zhan sambil menggebrak mejanya yang lagi-lagi membuat orang terkejut.


"Maksudmu ber***ta?" tanya Xuan Lan datar.


•••


Pipi para gadis memerah malu mendengar perkataan Xuan Lan yang sangat vulgar itu. Bahkan ada beberapa pria yang juga menahan malu mendengar ucapan Xuan Lan yang terkesan frontal dan vulgar itu.


Xiao Xi menatap Xuan Lan dengan pipinya yang memerah.


"Lihat, bahkan kau saja mau menyebutkannya secara lantang" ucap Xiao Xi sedikit gugup.


"Memangnya ada apa dengan kata ber***ta?" tanya Xuan Lan heran, bukankah ia hanya mengucapkan kata-kata itu? Hal itu bukan berarti dia melakukannya kan?


Pipi para gadis semakin memerah seperti tomat. Mereka menjadi malu sendiri karena ucapan Xuan Lan itu. Mereka berpikir apakah putri Xuan Lan tidak malu mengatakan hal itu di hadapan para lelaki?


Xuan Lan kemudian melihat sekelilingnya yang terasa hening. Aneh sekali pikirnya ketika para gadis menundukkan pandangannya dengan wajah yang memerah. Para pria juga hanya diam saja dari tadi. Ia lalu menyadari kenapa mereka diam seperti itu. Kata-kata yang diucapkannya memang tabu bagi orang-orang disini maka dari itu mereka semua bersikap seperti itu.


"Perkataanku membuat kalian malu ya?" tanya Xuan Lan kepada mereka semua.


Mereka lalu mendongakkan kepalanya menatap Xuan Lan yang sedang berbicara itu.


"Santai saja, anggaplah ucapanku hanya sebagai angin lalu jangan terlalu tegang seperti itu, nanti jika menikah kalian akan merasakannya" ucapnya cengengesan.


"Aku berbicara seperti ini saja kalian semua sudah gugup apalagi jika aku menceritakan prosesnya" batin Xuan Lan dalam hati.


"Jaga ucapanmu putri Xiao Lan!" ucap ibu suri.


Xuan Lan menatap malas pada ibu suri. Apakah ia lupa bahwa yang berada di hadapannya sekarang bukanlah Xiao Lan tetapi Xuan Lan. Ingat ya Xuan Lan.


"Siapa yang kau panggil Xiao Lan nenek tua?" tanya Xuan Lan datar.


Berani sekali putri Xuan Lan memanggil ibu suri dengan panggilan nenek tua batin seluruh orang disana.


"Apaa? Siapa yang kau panggil nenek tua?" tanya ibu suri mulai kesal.


Xuan Lan mendecakkan lidahnya kesal. Sudah jelas jika ia berbicara pada orang ini kenapa ia masih menanyakan hal itu.


"Memang disini ada nenek tua selain kau?" ucapnya sambil mengerutkan alis.


"Kau! Dasar tidak sopan! Siapa yang mengajarimu seperti ini hah?" tanya ibu suri.


"Aku tanya memangnya ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Xuan Lan balik.

__ADS_1


"Ya, karena kau memanggilku nenek tua!" ucap ibu suri.


"Bukankah kau memang sudah menjadi nenek dan usiamu tidak muda lagi alias kau itu tuaaa sekali" ucap Xuan Lan memanjangkan kata 'tua'.


"Tidak ada yang salah pada ucapanku, kau saja yang terlalu sensitif" ucap Xuan Lan sambil memutar bola matanya malas.


skakmat


Ibu suri menjadi diam. Memang perkataan Xuan Lan benar, ia sudah tua dan tidak muda lagi.


"Bahkan kau lupa siapa aku, kau itu sudah tua dan pikun" ucap Xuan Lan sambil mengangkat dagunya lebih tinggi lagi.


Ibu suri menjadi kesal lagi padahal saat ter-skakmat tadi ia sudah agak menurunkan rasa kesalnya. Ia menatap Xuan Lan penuh emosi.


"Lupa dari mananya? Jika aku lupa bahkan namamu saja aku tidak ingat" ucap ibu suri tajam.


"Berarti kau mengakui jika dirimu sudah pikun, nenek tuaa. Ingatlah namaku sekarang adalah Xuan Lan bukan Xiao Lan lagi dan aku tekankan kepada kalian semua kalau Xiao Lan itu sudah mati" ucap Xuan Lan kesal.


Ibu suri kembali terdiam. Ia menatap Xuan Lan dengan pandangan tak terbaca. Ia lalu kembali duduk di kursinya tanpa sepatah kata pun.


"Oh, ya kau tadi menanyakan siapa yang mengajariku berbuat seperti ini kan? Jawabannya adalah permaisuri Juan" ucapnya sambil tersenyum menyeringai.


Semua mata kemudian menatap permaisuri Juan penuh selidik. Permaisuri Juan yang merasa tak nyaman ditatap seperti itu akhirnya angkat suara.


"Tidak! Dia bohong, aku bahkan tidak pernah mengajarinya apapun dekat saja kami tidak pernah" bantah permaisuri Juan.


"Wah, wah kau ini sebenarnya niat tidak sih menjadi ibu sambungku? Apa kau hanya ingin harta kaisar saja hm?" tanya Xuan Lan sambil menaik turunkan alisnya.


"Bagaimana kau ini kaisar Xiao? Saat anakmu membutuhkan kasih sayang sesosok ibu kau malah memberikan ibu sambung yang tidak perhatian pada anakmu" ucap Xuan Lan sambil tersenyum sinis.


"Aku hanya menyimpulkan ucapannya saja" ucapnya lagi.


Kaisar Xiao hanya terdiam. Ternyata Xuan Lan masih dendam kepadanya sampai melakukan hal ini di depan umum. Sedangkan permaisuri Juan menjadi gelagapan sendiri karena ucapannya. Ucapannya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri di depan umum.


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" ucap Xiao Xi yang kesal karena ibunya dipermalukan.


"Pembicaraan yang mana?" tanya Xuan Lan pura-pura tidak tau.


"Kau!" geram Xiao Xi.


"Kau pasti mengalihkan pembicaraan karena kau memang sudah pernah melakukannya bersama orang yang kau cintai itu kan!" ucap Xiao Xi lagi.


"Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu? Kumpulkan lima ratus orang yang mempercayai ucapanmu besok. Jika kau bisa mengajak seratus orang untuk mempercayai omong kosongmu maka aku dengan sukarela akan menerima hukuman yang diberikan untukku" ucap Xiao Lan datar.

__ADS_1


"I-itu terlalu banyak" ucap Xiao Xi spontan.


"Hah? Memang kau benar-benar mau mencari lima ratus orang untuk menghukumku? ckckck memalukan. Bahkan kau tidak pernah melihatku melakukannya" ucap Xuan Lan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita taruhan saja. Siapa yang bisa mengumpulkan lima ratus orang yang bisa mempercayai ucapannya maka yang kalah harus dihukum dan kita tidak boleh meminta bantuan kepada prajurit dan pelayan" ucap Xuan Lan.


"Apa kau setuju?" tanya Xuan Lan lagi.


Xiao Xi menatap orang di sekitarnya. Jika ia menolak maka ia berarti membantah ucapannya sendiri tetapi jika ia menerima maka ia akan kesulitan mencari lima ratus orang itu. Tapi ia ingat, ia akan mengandalkan kekasih gelapnya yang tidak pernah diketahui orang. Ia kembali tersenyum dan dengan angkuhnya ia mengiyakan taruhan Xuan Lan.


"Tetapi ada syarat disini, Zhan gege akan mengawasimu agar kau tidak mengambil pelayan dan prajurit di istana ini" peringat Xuan Lan yang disetujui oleh Xiao Xi.


"Aku akan meminta pangeran kedua, pangeran Xiao Bai untuk mengawasimu" ucap Xiao Xi dan tentu saja hal itu disetujui oleh Xuan Lan.


"Baik, sekarang aku ingin bertanya pada kalian semua disini. Siapa diantara kalian yang percaya pada ucapan Xiao Xi?" tanya Xuan Lan namun tidak ada yang mengacungkan jarinya.


"Berdirilah di belakang Xiao Xi jika kalian percaya ucapannya" ucap Xuan Lan sambil tersenyum sinis.


Tiba-tiba permaisuri Juan berdiri dan menempatkan dirinya di belakang Xiao Xi. Mereka berdua terlihat sangat menjijikkan lalu terlihat sekitar lima orang meyusul permaisuri Juan berdiri di belakang Xiao Xi.


"Lalu, siapa yang meragukan dan tidak percaya atas tuduhan Xiao Xi kepadaku?" tanya Xuan Lan lagi.


Pangeran Zhan dan Pangeran Xian lalu berjalan di belakang Xuan Lan diikuti oleh seluruh anggota kekaisaran Li. Wang Yu Yan dan Jiang Yuan juga ikut berdiri di belakang Xuan Lan kemudian diikuti oleh jenderal Jiang dan keluarga kekaisaran Wang bahkan kaisar Wang sendiri juga ikut berdiri di belakang Xuan Lan.


Separuh orang dari kekaisaran Tang kemudian ikut berdiri di belakang Xuan Lan dan tiga per empat orang dari kekaisaran Zhong juga ikut berdiri di belakang Xuan Lan.


Xuan Lan tersenyum puas saat melihat banyaknya orang yang berdiri di belakangnya. Jika dihitung orang-orang disana mungkin sudah ada tujuh puluhan orang sedangkan Xiao Xi hanya mendapat dua puluh dukungan.


Kaisar Zhong, kaisar Xiao dan kaisar Tang masih diam di tempatnya. Mereka tidak berniat memihak pihak manapun.


"Apakah tidak ada lagi yang ingin berdiri di belakangku dan di belakang Xiao Xi? Jika tidak ada maka kalian besok tidak bisa mendukung salah satu dari kami lagi" ucap Xuan Lan.


Ternyata masih ada beberapa orang yang ikut berdiri di belakang Xuan Lan tetapi tidak ada yang ingin berdiri lagi di belakang Xiao Xi.


"Apakah sudah cukup, putri Xiao Xi?" tanya Xuan Lan.


"Ya" ucap Xiao Xi singkat sambil menahan emosinya, di awal start saja ia sudah kalah.


Hari sudah sore. Xuan Lan sebenarnya masih ingin menahan ini semua sampai petang tiba tetapi ia bingung harus berkata apalagi. Secara tidak langsung ia sadar jika ia ingin bermain curang dengan Xiao Xi dan ia mengurungkan niatnya itu. Ia lalu meminta kaisar Xiao menyudahi acara ini dengan alasan agar semua orang bisa membersihkan dirinya.


Xiao Xi bergegas menuju kediamannya dengan terburu-buru. Ia celingukan kesana kemari memastikan pangeran Zhan tidak mengikutinya. Ia lalu berjalan entah kemana untuk menemui orang kepercayaannya tetapi saat sampai disana ia tidak menemukan seorang pun yang ada disana. Ia bahkan menunggu sampai malam tiba tetapi orang yang dicarinya belum muncul juga.


"Sial, jika begini aku bisa kalah" geramnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


•••


yang lupa sama Zhao, bisa cek ke part 25 yaa.


__ADS_2