PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
DELAPAN PULUH SATU


__ADS_3

Ibu suri sudah jatuh pingsan. Ia tidak menyangka Xuan Lan akan membunuh orang di hadapannya. Ia juga tidak menyangka jika Xiao Xi bukanlah cucunya.


•••


Xuan Lan telah selesai membersihkan tubuhnya dari darah Xiao Xi dan darah permaisuri Juan, ia juga sudah membuang hanfu yang ia gunakan tadi. Sekarang ia sedang merenung di kamarnya lalu tabib Bao masuk ke dalam.


"Apakah hatimu sudah lega?" tanya tabib Bao lembut.


"Ya, setelah ini tubuh Xiao Lan akan seutuhnya menjadi milikku" ucap Xuan Lan.


"Bagaimana paman dan bibi?" tanya Xuan Lan kepada tabib Bao.


"Mereka sudah berada disini sejak tadi, mungkin sebelum kita menghabisi empat orang tadi" jawab tabib Bao.


"Sekarang apa rencanamu?" tanya tabib Bao.


"Entahlah, mungkin aku akan menetap disini dan menjadi reine yang bertanggung jawab" ucap Xuan Lan sambil terkekeh.


"Ya, kau memang harus bertanggung jawab aku lelah menjadi vice-reine mu jika kau saja tidak pernah ada disini" gerutu tabib Bao yang membuat Xuan Lan kembali tertawa.


"Sudahlah aku ingin tidur" ucap Xuan Lan mengusir halus tabib Bao.


Ia lalu menempatkan dirinya di posisi ternyamannya. Tabib Bao kemudian menyelimuti tubuh Xuan Lan dan mengecup singkat pucuk kepalanya. Tabib Bao sangat menyayangi Xuan Lan sebagaimana ia menyayangi adiknya. Ia lalu mematikan beberapa lilin dan keluar.


"Selamat malam Lan'er" bisik tabib Bao.


"Selamat malam gege" ucap Xuan Lan kemudian memejamkan matanya.


Di lain tempat semua orang bisa bernapas lega setelah Xuan Lan dan Gold Tiger sudah keluar dari aula. Mereka kemudian ikut keluar untuk mencari udara segar karena indera penciuman mereka terasa sudah rusak karena hanya tercium bau darah disana.


Tubuh Xiao Xi dan tubuh mantan permaisuri Xiu Juan juga belum dibersihkan dari situ. Darah juga masih mengalir dimana-mana bahkan ada darah yang sudah mengering di beberapa titik. Pangeran Gui kemudian memberi perintah kepada pelayan untuk membersihkan semua kekacauan ini. Para pelayan sebenarnya tidak mau terkena darah mantan permaisuri Juan dan Xiao Xi karena kejahatan yang sudah mereka lakukan. Mereka meminta pada pangeran Gui agar pelayan Xiao Xi dan pelayan Xiu Juan saja yang membersihkan seluruh kekacauan ini dan pangeran Gui mengizinkan.


Pelayan Xiao Xi dan pelayan Xiu Juan menangis saat membereskan tubuh tak berbentuk yang dimiliki oleh Xiao Xi dan Xiu Juan. Mereka tidak menyangka junjungan mereka akan berakhir dengan sadis seperti ini. Mereka juga membereskan tempat dimana kasim An dan Fei Hong tadi disiksa.


Mereka mengelap darah yang masih encer dan mengepel bagian-bagian dimana darah siapa saja sudah mengering disana. Mereka melakukan acara bersih-bersih itu sampai pagi. Setelah mereka pastikan semuanya sudah bersih, mereka lalu membawa tubuh junjungan mereka keluar dari aula utama.


Esok hari keadaan aula sudah kembali seperti semula. Meskipun bau anyir masih ada tetapi bau itu sudah cukup berkurang daripada kemarin malam. Kaisar Xiao meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh tamu undangan yang merasa terganggu dan tidak nyaman atas kejadian semalam. Ia juga tidak tau jika kejadian ini akan terjadi.

__ADS_1


Rakyat kekaisaran Xiao juga sudah mengetahui berita kematian mantan permaisuri Xiu Juan dan putri Xiao Xi, ada yang senang ada juga yang sedih. Namun setelah mereka mendengar penyebab meninggalnya dua orang itu mereka semua malah menjadi senang karena akhirnya dalang pembunuhan dari permaisuri Fang Yin telah terungkap.


Permaisuri Fang Yin bagaikan seorang dewi bagi rakyat kekaisaran Xiao karena kerendahan hati dan kedermawanannya. Berbeda dengan Xiu Juan yang sangat angkuh dan selalu memandang rendah rakyat di bawahnya. Ia terkadang beramal hanya jika disuruh oleh kaisar Xiao, selain itu ia malah memeras para rakyat.


Para pelayan dari Xiu Juan dan Xiao Xi mulai meletakkan tubuh junjungan mereka di atas kayu. Tidak ada seorangpun yang menghadiri acara kremasi itu kecuali mereka sendiri.


Xuan Lan sudah sampai disana. Ia menggunakan cadarnya dan melihat dari balik pohon semua kegiatan yang berlangsung di istana kekaisaran Xiao. Ia kemudian melihat pada para pelayan yang menangis sambil membakar kayu di depan mereka.


"Aku akan membalaskan dendam kalian" ucap salah satu pelayan itu sambil menangis sesenggukan.


"Siapa yang akan kau balaskan dendamnya?" tanya Xuan Lan dengan dingin.


Pelayan tadi langsung menatap ke atas dan Ia melihat Xuan Lan yang sudah berdiri di atas pohon kemudian Xuan Lan turun tepat di hadapannya.


Pelayan tadi mulai gemetar. Tanpa sadar ia memundurkan tubuhnya.


"Mana yang katamu balas dendam? Aku melangkah saja kau sudah takut" ucap Xuan Lan angkuh.


Ia lalu menjentikkan jarinya ke arah pelayan tadi. Pelayan tadi langsung kejang-kejang di tempatnya dan tubuhnya menjadi gosong, ia masih belum mati dan ia hanya berada dalam ambang kematian. Xuan Lan tidak mau mengambil resiko, jika pelayan tadi benar-benar berniat membalaskan dendamnya ia akan melakukan apa saja untuk hal itu sekaligus ini adalah peringatan untuk para pelayan yang lain agar tidak bertindak kurangajar seperti pelayan tadi.


"Jika ada yang mengucapkan hal seperti itu lagi, aku tidak akan segan-segan membuat kalian seperti dia. Ingat, mataku ada dimana-mana" ucap Xuan Lan kemudian pergi begitu saja tak lupa ia menjentikkan lagi jarinya agar pelayan itu segera mati.


Xuan Lan memilih pergi ke kediaman jasmine. Ia ingin mengambil barang-barang paman dan bibinya yang masih tertinggal disana. Ia memasuki kediaman itu dengan langkah perlahan kemudian mengambil berbagai barang yang paman dan bibinya pesankan kepadanya tadi.


Ia tak sengaja melihat lukisan Xiao Lan saat masih kecil yang terpampang disana. Ia menyentuh lukisan itu dengan lembut.


"Xiao Lan" lirihnya.


"Terimakasih, Xuan Lan" ucap Xiao Lan yang sudah berada di belakangnya.


Xuan Lan kemudian membalikkan tubuhnya. Ia melihat Xiao Lan yang sedang tersenyum secerah mentari pagi.


"Ya, sama-sama" balas Xuan Lan.


"Seperti janjiku, tubuhku sudah sepenuhnya menjadi milikmu. Ibuku juga mengucapkan terimakasih padamu, sekarang kami bisa hidup dengan tenang disana" ucap Xiao Lan lagi.


"Xiao Lan" ucap Xuan Lan saat Xiao Lan sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Xuan Lan" panggil Wang Yu Yan yang entah sudah datang dari kapan.


"Kau berbicara dengan siapa?" tanyanya penasaran.


"Xiao Lan" ucap Xuan Lan.


"Mana Xiao Lan?" tanya Wang Yu Yan antusias.


"Jangan berlebihan seperti itu, dia sudah pergi" ucap Xuan Lan.


"Yahh, padahal aku ingin melihatnya dan berterimakasih padanya karenanya aku bisa bersama sahabatku yang satu ini" ucap Wang Yu Yan sambil memeluk Xuan Lan erat.


"Xuan Lan apa kau tau?" tanya Wang Yu Yan.


"Tidak" ucap Xuan Lan datar.


"Aku belum selesai bicara, Xuan Lan!" ucap Wang Yu Yan kesal yang membuat Xuan Lan terkekeh.


"Kemarin malam kau sangat keren saat mengatakan 'akulah sang reine yang kalian cari' apalagi saat kau memakai topengmu" ucap Wang Yu Yan sambil menirukan gaya bicara Xuan Lan.


"Tidak perlu berlebihan" cibir Xuan Lan.


"Bagaimana kau bisa tau kalau aku berada disini?" tanya Xuan Lan bingung.


"Aku tadi ingin melihat proses kremasi Xiao Xi dan ibunya dan aku tidak sengaja melihatmu jadi aku mengikutimu kesini" jelas Wang Yu Yan.


"Oh, lalu bagaimana dengan Jiang Yuan? Eh, aku harus memanggilnya apa? Jiang Yuan atau Wang Yuan?" tanya Xuan Lan.


"Entahlah, kami juga masih bingung. Yuyu masih belum mau ikut bersama kami" ucap Wang Yu Yan agak sedih.


"Tenanglah, dia perlu waktu untuk menerima semua ini" ucap Xuan Lan menenangkan Wang Yu Yan sedangkan Yu Yan hanya mengangguk saja. Mereka lalu berjalan keluar.


Saat mereka sudah melangkahkan kakinya keluar dari pintu mereka bertemu dengan kaisar Xiao yang sedang menatap kediaman jasmine dengan perasaan bersalahnya.


"Lan'er" ucapnya sendu.


•••

__ADS_1


jangan lupa like vote komen dan subscribe


__ADS_2