
Ia lalu keluar dari ruang pustakaan itu. Saat sampai di luar tiba-tiba ada tangan yang menariknya entah menuju kemana.
"Kau kenapa?" tanya si pemilik tangan tadi setelah mereka berada di sebuah lorong yang berada di istana kekaisaran Xiao.
•••
"Yaya kau membuatku terkejut!" ucap Xuan Lan.
"Jawab aku kenapa kau terlihat sama sekali tidak bersemangat" tanya Wang Yu Yan mendesak.
"Aku sudah menceritakan semuanya kepada paman dan bibi" ucap Xuan Lan lesu.
"Menjelaskan apa? Jangan bilang kalau kau menjelaskan siapa dirimu yang sebenarnya" tanya Wang Yu Yan menyelidik.
Xuan Lan hanya menganggukkan kepalanya.
"Bahkan aku sudah membicarakan hal ini kepada kaisar Xiao tetapi ia tidak percaya. Saat aku mengatakan hal ini pada paman dan bibi, arwah Xiao Lan datang mengungkapkan kebenarannya" ucap Xuan Lan sedikit berbisik.
"Astaga kau ini benar-benar, mana ada orang yang mau percaya padamu selain aku" ucap Wang Yu Yan frustasi.
"Lalu apakah paman dan bibi mempercayaimu?" tanya Wang Yu Yan lagi.
"Entahlah aku tidak tau, aku rasa mereka memerlukan waktu untuk menerima semua ini sehingga kemarin aku tidur di markas" jawab Xuan Lan.
"Kau sudah menemui mereka?" tanya Yu Yan dan dibalas gelengan oleh Xuan Lan.
"Kau harus menemui mereka sekarang juga, pergilah ke kediamanmu" ucap Wang Yu Yan memberi arahan.
"Tapi aku" ucap Xuan Lan ragu.
Wang Yu Yan kemudian menekan bahu Xuan Lan dengan keras. Ia menatap mata Xuan Lan yang terlihat kosong itu.
"Dengarkan aku, semuanya akan baik-baik saja. Mereka pasti akan menerimamu, mungkin mereka memerlukan sedikit waktu untuk ini tetapi mereka tidak akan pernah meninggalkanmu, ingat itu" ucap Yu Yan.
"Tunjukkanlah kepadaku Xuan Lan yang tidak pernah takut pada hal apapun. Lihatlah pada dirrimu, kau begitu menyedihkan Xuan Lan. Jika kau tidak menemui mereka sekarang, kau tidak akan pernah tau apa yang sedang mereka pikirkan tentangmu. Pergilah" imbuhnya.
Xuan Lan memandang manik mata milik Wang Yu Yan. Ia sebenarnya masih belum siap jika orang yang berada di dekatnya selama dua tahun terakhir ini akan menjauhinya, mereka yang merawat raga Xuan Lan dengan sepenuh hati di dunia ini.
Xuan Lan kemudian memantapkan hatinya. Ia kemudian berlalu menuju ke kediaman jasmine dengan langkah tegasnya. Orang yang melihatnya tidak akan tau dibalik langkah tegas itu Xuan Lan sedang menahan gejolak ketakutan di dalam hatinya.
__ADS_1
Ia sudah melangkah jauh. Kurang beberapa langkah lagi ia akan memasuki kediaman jasmine. Ia melihat agak lama pada kediaman itu sebelum memasukinya.
Ia membuka pintu di kediaman jasmine perlahan. Kepalanya lalu mengintip apa yang ada di dalam ternyata tidak ada seorang pun di dalam sana. Ia kemudian memasuki kediaman itu.
"Xuan Lan" panggil seorang pria.
Xuan Lan membalikkan tubuhnya menghadap pria tadi, ternyata ia adalah paman Tae. Xuan Lan menjadi agak canggung setelah kejadian kemarin namun paman Tae masih terlihat sama seperti sebelumnya.
Paman Tae lalu merentangkan tangannya dan mendekat ke arah Xuan Lan. Ia lalu memeluk Xuan Lan dengan erat dan berbisik.
"Aku tidak peduli kau itu Xiao Lan atau Xuan Lan yang jelas kau tetaplah tuan putri kecilku"
Xuan Lan terharu mendengar ucapan paman Tae. Ia lalu membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Ia membenamkan kepalanya di dada paman Tae yang menurutnya sangat nyaman itu.
Paman Tao dan bibi Fu sudah melihat mereka dari tadi tapi mereka belum menyadarinya sampai akhirnya lengkingan bibi Fu keluar dan memisahkan pelukan mereka.
"Memang hanya kau saja yang ingin memeluk tuan putri kecil kita hah?" tanya bibi Fu dari ujung pintu.
Paman Tae dan Xuan Lan segera membalik posisi mereka untuk melihat bibi Fu yang sepertinya sudah kesal itu tetapi mereka tidak melepaskan pelukannya membuat bibi Fu semakin kesal.
Bibi Fu kemudian berjalan mendekati mereka berdua dan memisahkan pelukan mereka lalu bibi Fu memeluk Xuan Lan tak kalah eratnya.
Xuan Lan heran kenapa bibinya meminta maaf kepadanya ia lalu bertanya.
"Kenapa bibi meminta maaf kepadaku?"
"Seharusnya kemarin aku melarangmu pergi, pasti kau mengira kami tidak akan menerimamu lagi kan?" ucap bibi Fu.
"Kami akan selalu menerimamu, Xuan Lan hanya kemarin kami membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini jadi maafkan bibi ya" imbuh bibi Fu sambil mengelus kepala Xuan Lan dengan lembut.
"Aku memahaminya bibi" ucap Xuan Lan.
Sekarang giliran paman Tao yang memisahkan pelukan bibi Fu dan Xuan Lan. Bibi Fu yang kesal langsung menjitak kepala paman Tao.
"Aduh, sakit!" ucap paman Tao mengaduh.
"Siapa suruh kau sembarangan melepaskan pelukan orang lain? Dasar tidak sopan!" dengus bibi Fu kesal.
"Lalu apa bedanya aku dengamu? Kau tadi juga melepas pelukan Xuan Lan dan Tae dengan paksa" ucap paman Tao tak kalah sewot.
__ADS_1
Bibi Fu terdiam. Ia termakan kata-katanya sendiri.
"Senjata makan tuan ini namanya" batinnya dalam hati.
Sedangkan Xuan Lan dan paman Tae hanya terkekeh melihat pertengkaran kecil antara bibi Fu dan paman Tao.
Paman Tao sebenarnya juga mengatakan hal yang sama seperti yang paman Tae dan bibi Fu katakan. Mereka akhirnya berpelukan bersama-sama seperti biasanya.
Xuan Lan kemudian menuju ke aula utama meninggalkan paman dan bibinya di kediaman jasmine.
Saat berjalan kesana ia bertemu dengan Jiang Yuan yang juga ingin menuju ke aula utama. Mereka lalu berjalan bersama-sama.
"Putri Xuan Lan dan putri Jiang Yuan memasuki aula" teriak kasim sambil membukakan pintu aula untu Xuan Lan dan Jiang Yuan.
Xuan Lan dan Jiang Yuan memasuki aula dengan langkah tegas tetapi masih terlihat keanggunan di dalam langkah mereka itu. Semua orang menatap kagum pada mereka berdua tak terkecuali para wanita.
Mereka kemudian duduk di kursi masing-masing. Tak lama kemudian, putra mahkota dari kekaisaran Tang angkat suara, ia sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya kepada Xuan Lan.
"Maaf, kaisar Xiao. Bolehkah hamba berbicara sebentar?" tanya pangeran Tang Hao.
"Silakan, kali ini kita semua akan berbicara secara santai disini" ucap kaisar Xiao.
"Putri Xuan Lan" panggil pangeran Hao kepada Xuan Lan.
Xuan Lan yang merasa namanya dipanggil lalu menoleh ke arah pangeran Hao.
"Ya?" tanya Xuan Lan singkat.
"Aku ingin putri Xuan Lan menjadi ratu di kekaisaran Tang" ucap pangeran Hao lantang.
Semua orang memandang tak percaya pada pangeran Hao. Mereka merasa kalah cepat dari pangeran Hao.
"Kau melamarku?" tanya Xuan Lan.
"Ya, kurang lebih seperti itu" ucap pangeran Hao sambil tersenyum.
•••
happy weekend, jangan lupa jaga kesehatan tetep dirumah aja ya
__ADS_1